THE WAY OF LOVE

THE WAY OF LOVE
Extra Part (6)



PART : LOOKING FOR YOU


Setelah mandi dan sarapan Ah Reum mengurung dirinya di dalam kamar. Beberapa menit yang lalu kakaknya sudah berangkat kerja. Shin Ah Jung, kakak Ah Reum bekerja di firma hukum ternama di Korea. Untung saja hari ini Ah Reum tidak ada jadwal kuliah, jadi kakaknya tidak curiga jika dia ada dirumah dan mengunci diri dikamar.


Ah Reum meringkuk di atas kasurnya, kakinya terlipat di atas dadanya yang naik turun karena nafas yang tidak teratur. Matanya terus saja meneteskan air mata. Pikirannya memutar kejadian semalam dan pagi tadi seperti rekaman video.


“Hikss hikss.. ayah, ibu, kak Ah Jung maafkan aku..” Gumam Ah Reum pelan.


Betapa terkejutnya ketika dia bangun tidur pagi tadi, dia tidak berada di kamarnya. Melainkan di tempat yang asing dengan seorang pria asing yang telah merenggut mahkota kewanitaannya. Harga dirinya dipaksa hancur oleh pria biadab yang tengah tertidur pulas dengan tangan yang melingkar di perutnya. Ingin sekali Ah Reum melenyapkan pria itu segera namun rasa malu dan rasa sakit hati mencegahnya. Dia bukan orang yang seberani itu untuk melakukan tindak kriminal. Tangannya bergetar ketika menyingkirkan tangan pria asing yang memeluknya erat.


“Tuhan.. jangan pertemukan kami lagi.. aku mohon.. aku sangat hancur hanya dengan melihat wajahnya.. enyahkan mimpi buruk ini..”


Shin Ah Reum membenamkan tubuhnya di balik selimut. Wajah pria asing itu selalu menghatui pikirannya, Ah Reum sangat ingat dengan jelas wajah pria yang merenggut harga berharaga miliknya. Dia berharap ketika dia bangun tidur hari ini, semua kejadian buruk itu hanyalah sebuah mimpi buruk.


­-----


Tumpukan berkas terpampang indah di hadapan Kang Ryu. Tangannya masih saja memijat pelipis, sakit kepala akibat minum semalam sungguh menyiksanya. Dia ingin segera bekerja sesampai di kantor namun niatnya selalu gagal karena nyeri di kepala itu.


“Will sialan..” Umpat Ryu pada sumber penderitaannya itu. Kalau bukan karena Will dia tidak akan mabuk semalam, dan kalau bukan karena Will dia tidak mungkin tidur dengan gadis itu semalam.


“Anda baik-baik saja Tuan?” Joon buka suara. Matanya terus saja memperhatikan bosnya yang memijat pelipis berkali-kali.


“Aku baik-baik saja.. mungkin aku kebanyakan minum semalam..” Jelas Ryu. “Oh iya.. apakah ibuku menelponmu? Aku tidak pulang kerumah semalam, mungkin dia mencariku..” Tanya Ryu pada Joon. Joon pun sudah tahu jika pagi tadi dia menjemput bosnya di depan Liberty Club dalam keadaan yang kusut.


“Nyonya Kang tidak ada menelpon saya Tuan..” Jawab Joon.


“Ok baiklah.. tolong belikan aku obat pereda mabuk.. aku sungguh tidak tahan dengan sakit kepala ini..” Titah Ryu.


“Baik Tuan..”


Beberapa menit sepeninggal Joon, pintu ruang kerja Ryu diketuk dari luar.


Tok tok tok


Kang Ryu sejenak menghentikan aktivitasnya. Kepalanya terangkat menatap asal suara.


“Masuk..” Ucapnya.


Mata Ryu seketika menyipit menatap siapa yang datang.


“Hai man.. selamat pagi..” Suara riang itu membahana memenuhi ruang CEO Kangin Grup.


“Bagaimana kabarmu? Are you ok?” Ucap Will sedikit terkekeh.


Ryu tak merespon sapaan Will, yang ingin dia lakukan sekarang adalah menonjok wajah Will karena kekesalannya.


“Ibumu menelponku tadi pagi..” Tutur Will duduk di sofa ruangan Ryu tanpa dipersilahkan.


Telinga Ryu langsung berdiri mendengar ibunya disebut oleh Will. Sontak saja Ryu bangkit dari kursinya kemudian berjalan mendekati Will yang tengah ongkang-ongkang kaki.


“Apa jawabanmu?” Ryu meninggikan suaranya.


“Kamu tidur di apartementku karena kita berpesta semalam suntuk. Dan ibumu percaya padaku..” Jawab Will datar.


Ryu menghela nafas lega.


Brukkk


Ryu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang kosong.


“Anda bersenang-senang semalam Tuan Kang?” Tanya Will dengan senyuman meledek.


Ryu menatap sinis ke arah Will yang terus saja meledeknya.


“Cih.. jadi kamu semalam bersenang-senang hingga tidak pulang kerumah? Sama siapa? Akhirnya CEO Kangin Grup yang terhormat melepas keperjakaannya juga..” Suara tawa Will kembali memenuhi ruang kerja Ryu yang untungnya kedap suara, jika tidak mungkin seluruh karyawan Kangin Grup bisa serangan jantung mendengarnya.


“Brengsek kamu Will.. gara-gara kamu aku..” Ryu menghentikan ucapannya. Untuk apa juga Ryu cerita kepada Will tentang apa yang terjadi semalam. Bisa-bisa Ryu habis jadi bahan ledekan oleh Will. Will yang tidak waras malah dikasih bahan? Bisa tujuh turunan tidak selesai dia meledek.


“Omaigattttt... omaigattt.. jadi aku benar? Siapa gadis itu? Siapa dia hingga mampu membuat gunung es tumbang juga.. aku harus bertemu dengannya.. akan aku berikan dia hadiah.. gadis itu sungguh hebat..” Ucap Will masih dengan tawanya yang menurut Ryu sangat menjengkelkan.


“Aku tidak tahu siapa dia.. ketika aku bangun dia sudah pergi.. aku bahkan lupa dengan wajahnya.. mungkin karena aku terlalu mabuk..” Jelas Ryu pelan. “Dan itu semua karena dirimu Willem Alexander.. kamu brengsek..” Lanjut Ryu menatap tajan Will.


Will yang di tatap tajam oleh Ryu tidak takut, dia malah terus tertawa sambil membungkam mulutnya. Fakta yang dia dapat hari ini sungguh luar biasa. Akhirnya Kang Ryu yang selama ini dia kenal dingin dan sinis bisa kalah karena seorang wanita.


“Aku rasa dia sangat cantik hingga kamu bisa tergoda Ryu..”


Ryu mengangguk pelan mengiyakan kalimat Will. “Ya.. dia sangat cantik.. yang aku ingat adalah matanya yang teduh dan rambut hitam panjangnya yang mempesona..” Ryu menerawang jauh pada malam itu. Ketika pagi tadi dia bangun, dia sangat tersiksa karena tidak bisa mengingat wajah gadis itu. Ryu menatap nanar pada noda darah di sprei ruangan yang dia gunakan semalam, rasa bersalah tiba-tiba menyusup di hatinya.


“Aku merusak dia Will, sepertinya aku harus meminta maaf padanya..”


“Hai.. kenapa minta maaf? Bukankah kamu yang dirusak olehnya? Dia kan hanya wanita jalang. Bermain dengan para pria adalah pekerjaannya..”


Ryu mengerutkan dahinya. “Aku rasa tidak Will. Itu adalah pengalaman pertama kami, dan dia tidak mengambil sepeserpun uang yang ada di dompetku..” Ryu menjelaskan panjang lebar.


“Omaigat!!!” Will berteriak kemudian menutup mulutnya karena sadar akan aksinya. “Jadi siapa dia? Aku kira kamu bersenang-senang dengan salah satu wanita jalang di Liberty Club..” Lanjutnya masih menutup mulutnya dengan salah satu tangan.


“Sepertinya aku harus mencarinya.. aku terus saja kepikiran dia seharian ini..”


Will mengangkat sebelah alisnya. “Mungkin kamu telah jatuh pada pesona wanita asing itu Tuan Kang..” Will menatap tajam Ryu.


“Jatuh cinta padanya maksudmu?” Ucap Ryu menuntut penjelasan dari Will yang mengatakan jika dia telah jatuh ke pesona gadis itu.


“Ya.. big ya..” Jawab Will menekankan kata ‘big ya’.