
Pagi ini Kang In Joo berencana untuk mengunjungi Hong Moo Ne. Dirinya tidak bisa menutup mata atas kehamilan Hong Moo Ne, mau tidak mau, suka tidak suka, bayi yang di dalam kandungan Hong Moo Ne adalah anaknya. Beberapa hari yang lalu Kang In Joo sudah berdiskusi dengan ibu dan kakaknya, jika dia akan membesarkan anaknya dari Hong Moo Ne tapi tidak bisa menikahi wanita itu.
Pelan-pelan Kang In Joo ingin menata hidupnya, prioritas utamanya sekarang adalah mencari Aluna kemudian membujuknya untuk pulang.
Surat cerai yang dibawa Aluna ke rumah ibunya pada hari itu juga sudah dibakar oleh Kang In Joo. Sampai matipun dia tidak akan menceraikan Aluna, dia yakin jika suatu hari nanti Aluna pasti akan kembali kepelukannya. Kang In Joo menganggap jika Aluna sedang liburan. Jika sudah lelah dan bosan Aluna pasti akan pulang, maka Kang In Joo dengan senang hati akan menerimanya kembali. Sepenuhnya Kang In Joo percaya jika Aluna tidak akan menghianatinya.
Mobil sport hitam terparkir rapi di basement apartement Hong Moo Ne. Tangan Kang In Joo membawa beberapa plastik berisi susu dan peralatan ibu hamil, itupun saran dari kakaknya, Kang In Na. Tidak mungkin Kang In Joo sendiri yang berinisiatif untuk membawakan macam-macam untuk Hong Moo Ne.
Kaki Kang In Joo melangkah pasti menuju apartement nomor 0818, apartement Hong Moo Ne. Matanya menyipit ketika melihat pintu apartement itu terbuka lebar. Kang In Joo mengintip kedalam, kakinya ia pelankan untuk melangkah.
“Aku sudah sehat Joan.. aku tidak perlu lagi perawatan..” Suara perempuan menggelegar memenuhi semua ruangan.
Kang In Joo berjalan mendekati sumber suara. Itu suara Hong Moo Ne, Kang In Joo mencoba membaca situasi. Saat ini Hong Moo Ne sedang berdebat dengan seoarang laki-laki yang tidak asing di mata Kang In Joo.
“Kamu jangan keras kepala Moo Ne.. operasi rahim itu sangat membahayakan kata dr. Ichida.. kamu ingin nyawamu terancam?” Laki-laki yang berdebat itu tak mau kalah.
Operasi rahim? Kang In Joo semakin penasaran. Bukankah Hong Moo Ne sedang mengandung? Lalu apa maksud dari oprasi rahim?
“Joan! Jangan ingatkan lagi jika aku sudah tidak punya rahim! Kamu menyakitiku!” Wanita itu berteriak sambil menangis.
“Aku hanya khawatir akan kesehatanmu Moo Ne.. sel kanker itu cepat sekali menyebar. Jika kamu tidak menyelesaikan perawatanmu, aku takut jika sel kanker itu masih hidup..” Laki-laki yang bernama Joan itu menurunkan nada suaranya. Perlahan tangannya memeluk wanita yang sedang menangis didepannya.
Tidak punya rahim? Kanker?
Jleb.
Hati Kang In Joo terasa ditusuk pisau kala mendengarnya. “Jadi Hong Moo Ne membohonginya soal kehamilannya?” Gumam Kang In Joo dalam hati “Wanita sialan!” Umpatnya.
Oh ya.. Kang In Joo ingat dengan laki-laki yang bersama Hong Moo Ne sekarang, dia adalah Joan George, teman satu jurusan Hong Moo Ne ketika kuliah S2 di Jerman. Dan Kang In Joo tahu betul jika laki-laki itu sangat menyukai Hong Moo Ne. Karena sudah keduluan Kang In Joo, Joan tetap dekat sebagai teman Hong Moo Ne. Kang In Joo tidak menyangka jika dia akan bertemu Joan dalam keadaan yang seperti ini. Padahal Joan adalah laki-laki yang sangat baik. Memang Hong Moo Ne yang keterlaluan, memperlakukan orang sebaik Joan dengan sesuka hatinya.
Plok plok plok
“Pintar sekali kau bersandiwara Neya..” Kang In Joo buka suara.
Hong Moo Ne yang mendengar suara Kang In Joo sontak melepas pelukan Joan.
“Joo.. aku bisa jelaskan ini..” Ucap Hong Moo Ne gemetar.
“Tidak perlu. Aku sudah tahu semuanya..” Jawab Kang In Joo “Cintamu padaku bukan lagi cinta namanya, itu adalah obsesi Neya.. kamu telah menghancurkan kehidupanku.. istriku pergi dari ku karena kebohonganmu.. aku sungguh tidak mengira kamu berubah menjadi orang yang sejahat ini...” Tutur Kang In Joo dengan senyum getir.
“Tidak Joo.. aku bisa jelaskan.. aku mencintaimu..”
“Ada orang lebih mencintaimu tapi kamu tidak sadar Neya.. lupakan aku.. bukalah hatimu untuknya..” Jelas Kang In Joo menunjuk Joan dibelakang Hong Moo Ne.
“Joo jangan tinggalkan aku.. aku minta maaf.. aku salah..” Pinta Hong Moo Ne sambil menangis.
Kang In Joo tak bergeming, dia kecewa dengan sikap Hong Moo Ne.
“Lupakan aku Neya.. aku sangat mencintai Aluna..” Ucap Kang In Joo “Joan.. tolong jaga Moo Ne, aku percayakan dia padamu..” Lanjut Kang In Joo menatap lurus mata Joan George.
Joan mengangguk mendengar titah Kang In Joo.
“Aku pergi..” Pamit Kang In Joo.
“Joo tunggu.. jangan tinggalkan aku Joo...” Teriak Hong Moo Ne sambil menangis.
Kaki Kang In Joo terus saja berjalan keluar dari apartement Moo Ne, sama sekali dia tidak menoleh walaupun telinganya mendengar wanita yang dulu ia cintai menangis dan menjerit. Pikiran Kang In Joo sekarang dipenuhi oleh Aluna, istrinya.
Bersambung...