
DI BAWAH SINAR BULAN DAN SUARA OMBAK
"Perlu bantuan?" Tanya Will.
Will melihat Lyla yang kesusahan melepas stiletto yang dikenakannya. Dengan hati-hati Will memegang salah satu tangan Lyla, sedangkan tangan Lyla yang lain melepas tali yang mengikat stiletto.
"Thanks.." Ucap Lyla lirih setelah berhasil melepas kedua stilettonya.
Di bawah sinar bulan dan ditemani suara deburan ombak, mereka berdua berjalan menyusuri pantai indah Jeju yang berpasir seputih susu. Keheningan malam menemani setiap langkah mereka berdua. Mereka lupa dengan jarak mereka saat ini karena masing-masing sedang berperang batin, bagimana caranya mencairkan suasana yang canggung ini.
"Ehem.. apa kau kedinginan?" Suara Will mecairkan suasana.
Lyla menggeleng pelan. Berkat jas milik Will yang dia kenakan, Lyla tak merasa kedinginan sama sekali. Betapa bersyukurnya dia dengan jas yang Will berikan, setidaknya punggung yang awalnya terekspos menjadi tertutup.
"Duduklah.. bukankah laut malam ini indah sekali?" Titah Will seraya duduk di pasir.
Lyla mengikuti Will begitu saja.
Beberapa waktu lalu Lyla masih merasa takut dengan Will, namun setelah dekat dengan Will rasa itu menguap begitu saja. Apalagi malam ini Will terlihat tampan dan keren sekali. Kemeja dan tuxedo senada yang di gunakan menambah kadar ketampanan Willem Alexander. Lyla bahkan sempat terpanah dengan aura yang dikeluarkan oleh Will. Ketika melihat Will tersenyum atau tak sengaja bertemu pandang, jantung Lyla akan berdetak tak karuan. Padahal selama ini Lyla tak punya riwayat penyakit jantung.
"Aku kira kamu tidak bisa berbahasa Korea.." Will membuka pembicaraan.
"Aku bisa, hanya saja aku takut pengucapanku salah.." Lyla tersenyum tipis.
Will mengangguk dua kali. Awal pertemuaan mereka Will sempat mengira Lyla tak bisa berbahasa Korea, makanya dia meminta bantuan pada member Fantastic Four agar diajari berbahasa Jepang atau Indonesia. Melihat percakapan dirinya dengan Lyla tadi pagi, Lyla menjawab dengan bahasa Korea walaupun sedikit terbata.
"Setidaknya untuk pemula kamu termasuk berhasil.."
"Syukurlah.. aku kira kamu bukan orang Korea, kalau dilihat dari wajahmu.."
"Kakek ku orang Inggris, dan kami berdua menuruni gen dari ayahku.." Kami yang dimaksud Will adalah dia dan Thomas. Walaupun ibunya orang Korea, mereka berdua memang mirip ayahnya, Louis Alexander.
"Iya aku juga mendengar cerita itu dari Jiya. Keluargamu dengan tante Aluna sangat dekat ya? Bahkan ayahku juga kenal dengan ibumu.. kata ayah dulu ketika masih muda, ayah dan tante Luna pernah tinggal dirumah ibumu sebelum ayah kuliah di Australia dan tente Luna menikah dengan paman Joo.." Jelas Lyla.
Hal itulah yang diceritakan oleh Jiya beberapa waktu lalu ketika Lyla bertanya tentang Will. Ternyata hubungan keluarga mereka sungguh unik. Seperti takdir Tuhan yang berputar ditempat. Buktinya adalah Jiya yang menikah dengan Thomas. Dulunya ayah ibu mereka adalah teman. Memang jodoh takkan kemana ^-^
"Aku malah baru tahu sekarang. Aku tak menyangka orang tua kita sangat dekat.." Ucap Will tersenyum pada Lyla.
Senyuman itu berbahaya untuk kesehatan jantung Lyla saat ini. Ketika Will tersenyum, detak jantung Lyla akan melonjak tak karuan. Lyla bahkan harus menekan dadanya kuat takut jika Will bisa mendengar detak jantung yang berbunyi keras tersebut.
"Oh ya... soal malam itu..." Lyla ragu sejenak. "Aku minta maaf..." Lanjutnya. Bagi Lyla saat inilah waktu yang tepat untuk meluruskan segala ketakutannya.
"Kenapa meminta maaf? Bukan kamu yang salah.." Jawab Will.
"Dan terimakasih karena kamu sudah menolongku.. seharusnya aku tidak menerima gelas dari pria itu.."
"Setiap manusia tak luput dari kesalahan.."
"Aku sedikit bersyukur orang yang menolongku adalah kamu.. aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku kalau tidak ada kamu.. aku memang melakukan kesalahan, sekali lagi maafkan aku.."
"Iya iya aku maafkan.. mau berapa kali kamu meminta maaf.."
"Boleh aku meminta satu hal lagi padamu?"
"Apa?"
"Tolong lupakan kejadian malam itu.. aku tak ingin mengingat hal buruk itu lagi.." Pinta Lyla sepenuh hati. Jika Will bersedia Lyla akan sangat berterima kasih.
"Kenapa?"
"Karena itu adalah sebuah kesalahan. Sudah sepantasnya kesalahan tak diingat lagi.. walaupun aku tidak bisa memperbaikinya, aku mohon lupakan itu. Kita punya masa depan masing-masing.. aku tak ingin Tuan Alexander terbebani dengan ingatan itu. Aku pun akan melupakan itu.."
"Apa maksudmu? Memang itu adalah sebuah kesalahan, tapi kenapa aku harus melupakannya? Aku sudah merusak dirimu. Tahukah kamu jika selama ini aku dihantui rasa bersalah dan ingin bertanggung jawab?"
"Tanggung jawab?"
"Iya tanggung jawab. Sebagai seorang laki-laki dewasa yang melakukan kesalahan besar telah merusak seorang gadis.."
Lyla tertegun dengan ucapan Will. Sekalipun dia tak mengira jika Will juga merasa bersalah dan terbebani dengan apa yang mereka sebut dengan 'kesalahan'.
"Tapi aku tak pernah meminta tanggung jawab mu. Aku hanya ingin kamu melupakannya sehingga aku bisa hidup tenang tanpa ingatan buruk itu.."
"Tapi aku---"
Ucapan Will terpotong dengan gerakan cepat Lyla yang sudah berdiri disampingnya.
"Aku tidak perlu dikasihani Tuan Alexander. Cukup anda melupakan kesalahan itu. Tanggung jawab seperti apa yang akan anda berikan? Kita saja tak saling mengenal. Anggap itu hanya kesalahan kecil oke.."
Otak Will masih mencerna ucapan Lyla. Setelah beberapa saat berfikir, Will bisa menyimpulkan jika Lyla menolak pertanggung jawabannya, bahkan Will belum sempat mengungkapkan caranya bertanggung jawab. Secepat inilah penolakan Lyla. Penolakan kedua yang diterima Will. Oh poor Will.
"Mari kembali ke tempat pesta. Kita sudah lama diluar, aku takut mereka mencari kita.." Ajak Lyla tersenyum tipis. Rambutnya yang terkena hempasan angin sedikit berantakan, namun semua itu tak mengurangi kecantikannya.
"Aku ingin kita tetap seperti semula, tak saling mengenal. Aku tak ingin bersikap canggung ketika bertemu denganmu.. aku mohon lupakan semuanya.. anda bersedia kan Tuan Alexander?"
Dibawah sinar bulan ini, dimata Will Lyla adalah wanita yang sangat cantik. Sayang seribu sayang, niat baik Will dihempaskan begitu saja oleh Lyla.
Lyla tak sadar jika Will menyukainya.
-----
Mau bagaimana lagi jika lisan telah mendahului hati.
Maksud hati ingin mengungkapkan rasa apa daya keinginan tak sesuai dengan kenyataan. Penolakan Lyla masih tertancap kuat dihati Will. Cinta yang belum sempat diutarakn telah ditolak terlebih dahulu. Sakit tapi tidak berdarah.
"Lyla menolakmu?" Suara Ryu terdengar mengejek.
Melihat betapa kacaunya penampilan Will saat ini, Ryu dan Thomas tak percaya. Keadaan Will lebih parah dari sakit hatinya pada Jiya dulu. Mata kuyu dengan kantong hitam, badan kurus dan wajah pucat karena kebanyakan minum alkohol dan kurang tidur.
"My brother.. kenapa nasibmu jelek sekali.." Timpal Thomas dengan suara yang menahan tawa.
Seorang Will harus patah hati dua kali setelah menemukan orang yang dia cintai. Pertama adalah Kang In Ji, yang kedua Alyla.
"Kalau tujuan kalian kesini untuk menertawakanku sebaiknya kalian pergi.." Usir Will dengan suara lemah.
"Hei ayolah.. kami kesini karena care sama kamu.. mau aku tips mendekati Lyla lagi?" Tawar Thomas.
"Brengsek kamu Thom.. kamu sengaja meledekku kan?"
"Mana mungkin aku meledek adikku sendiri.. adik yang tak bisa memenangkan satu gadis polos sekalipun.." Tutur Thomas. Suara tawa Thomas yang disusul Ryu memenuhi kamar di apartement milik Will.
Siksaan apa lagi ini? Belum cukup kah Will patah hati dua kali, ditambah dengan hinaan dari Thomas dan Ryu?
Will memijat kedua keningnya pelan. Suara tawa Thomas dan Ryu membuat kepalanya sakit. Dengan susah payah Will bangkit dari tidurnya kemudian berjalan keluar kamar.
Bruk
Will menjatuhkan tubuhnya di sofa. Langkahnya diikuti oleh Thomas dan Ryu.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Thomas.
Tak ada jawaban dari Will, matanya menatap kosong.
"Kenapa tidak kamu kejar Lyla ke Jepang? Aku yakin sepupuku itu juga menyukaimu Will tapi dia belum sadar akan perasaannya.." Sambung Ryu.
"Tidak. Dia sudah dengan jelas memintaku untuk melupakannya. Aku mengemis padanya pun percuma. Kenapa cinta sesakit ini? Kalau tahu begini aku tak ingin mencintai lagi.."
Thomas dan Ryu saling pandang mendengar ucapan Will barusan. Mereka tidak salah dengar kan? Memang benar kata orang, siapapun bisa jadi penyair jika sedang patah hati. Mereka menghela nafas dalam. Tak ada yang bisa mereka lakukan, masalah hati tak bisa dipaksakan. Baik Ryu juga tak berhak ikut campur atas perasaan Lyla pada Will. Begitupun dengan Thomas yang tak mungkin mencegah perasaan Will pada Lyla.
"Tenangkanlah dirimu Will.. wanita didunia ini bukan hanya Lyla seorang.. semangat.." Ucap Thomas dengan gelora semangat menggebu.
"Aku berencana ke Inggris dalam waktu dekat ini Thom. Aku butuh tempat pelarian.. lagian sudah lama aku tidak mengunjungi keluarga kita di Inggris.."
"Itu ide bagus.. carilah suasana baru.."
"Aku setuju dengan Thomas, semoga kali ini kamu beruntung.. lupakan perasaanmu pada Lyla jika itu terasa berat Will.. jangan lama-lama di Inggris, kami akan merindukanmu.. good luck.." Sahut Ryu setuju dengan ide Will dan Thomas.
Melupakan perasaan? Jika itu semudah membalikkan telapak tangan, pasti tidak ada kata patah hati di dunia ini.
Bisakah Will melupakan Lyla?
Bersambung.....