The Four Emirs

The Four Emirs
Demi Dunia Persilatan



Istana Al Jordan Dubai UAE


"Opa, kenapa bawa-bawa Georgi?" tanya Enzo tidak suka. Gadis itu hanya sekedar kenalan dia saja selama di Silverstone, tidak lebih meskipun sangat menarik.


"Mommy mu yang cerita kalau kamu memilih pindah hotel Kazuo's Bed and Breakfast daripada hotel biasanya di Silverstone yang kamu tempati."


Enzo mendengus. "Siapa juga yang betah di kamar yang besarnya hanya separuh kamar mandi aku disini? Sudah tahu aku punya claustrophobia kamar sempit, masih tidak becus carinya! Mereka tidak sebulan dua bulan kenal aku, Opa! Mereka ikut dengan aku sudah empat tahun! Masa tidak hapal- hapal!"


Zinnia yang masih dalam gendongan Enzo membuka matanya. "Oom, jangan marah-marah. Nanti cepat tua lho!"


Enzo mengerjap-ngerjap matanya lupa kalau keponakannya masih menempel macam koala dengannya. "Oom masih muda Zee."


"Tapi kalau marah-marah, cepat tua lho" cengir Zinnia yang kemudian merebahkan kepalanya di ceruk leher Enzo yang harum parfum Jo Malone.


"Nah lho Zo. Dibilang tua sama Zee" kekeh Senna. "Marcello sudah tahu kasusmu? Kalau belum, biar Opa turun gunung." Senna adalah mantan pembalap formula satu dari tim Ferrari, tim yang sama dengan Enzo.


"Gak usah Opa. Enzo bisa menghandle sendiri."


***


New Dusun Al Shiba Dubai UAE


Thara, Sabine dan Ayu membantu para ibu-ibu disana untuk mempersiapkan acara pernikahan Direndra dan Raana. Hampir mirip dengan tatanan adat Jawa yang banyak aturannya, adat Arab pun sama.


Thara sendiri tidak membebani biaya pernikahan yang mahal kepada Raana dan Ammar Badawi kakeknya karena tahu sebagaimana di tanah Jawa, semua biaya pernikahan ditanggung oleh pihak wanita.


"Dulu waktu menikah dengan Aidan, ayah Direndra dan Alaric, memang ditanggung bersama sih biayanya Raana. Tapi mommy tidak mau membebani kamu dan Pak Ammar" ucap Thara.


"Kamu kan dulu nikah terpaksa kan Thara, gara-gara cupid kecil Rajendra" kekeh Sabine.


"Ah iya ya. Apalagi kita menikah itu sama-sama kena hukuman ya Bine" gelak Thara.


"Hukuman apa mom?" tanya Raana yang bersyukur mendapatkan calon mertua yang baik.


"Tradisi di keluarga kami, setiap yang menikah pasti akan diganggu pada malam pertama. Dan pas Thara menikah dengan Aidan, para pria hang out di Dubai dan diajak taruhan balapan. Lalu pada saat aku menikah dengan Karl, pada balapan di sirkuit Autodrome. Tapi yang Thara tidak tahu, para pria dilarang balapan oleh orang tua kami. Dan akhirnya semuanya dihukum dengan dimarahi dan dijewer oleh para mommy kami" gelak Sabine.


"Tapi yang parah pas kamu ya Bine. Dihukum membersihkan istana Al Jordan..." Thara cekikikan.


"Wah itu parah!" gelak Sabine. ( Bisa dibaca di My Cold Chef chapter Hukuman Keduakalinya )


"Aku harap besok nggak ada kejadian gitu ya mom" celetuk Raana.


"Itu yang mommy tidak yakin, Raana. Mengingat sepupunya Direndra benar-benar durjana dengan berbagai macam akal licik dan siasat menggagalkan malam pertama kalian" cengir Thara.


"Lagipula, ini sudah tradisi keluarga jadi siap-siap kamu besok darting menghadapi para sepupu ipar pria Direndra. Tapi tenang, yang cewek-cewek baik kok" timpal Sabine.


Raana hanya menatap cemas ke calon mertua dan Tantenya.


***


New York


Chris lagi-lagi hanya menghela nafas panjang melihat beberapa paparazi masih penasaran berdiri di luar gedung kepolisian Manhattan tempat dirinya bekerja.


Pria itu langsung masuk ke ruang loker untuk meletakkan jaketnya dan tas selempangnya di dalam lokernya.


"Itu paparazi masih saja cari-cari kamu, Chris" ucap Trey. "Kurang kerjaan !"


Chris hanya mengacuhkan ucapan Trey. "Yuk kita patroli!" ajaknya yang sudah memakai jaket NYPD nya.



Trey mengangguk. "Yuk, kita tangkap penjahat hari ini. Sebelum kamu pindah ke divisi SVU dua Minggu lagi."


Chris mengangguk. Diam - diam dia mengirimkan pesan ke Alea.


📩 Chris Bradford : Aku patroli dulu, Lea


📩 My Humaira : Hati - hati Chris.


Chris tersenyum. My Humaira, kenapa daddymu julid ya?


"Ini lihat ada corgi lucu" elak Chris.


"Sayang kamu tidak bisa pelihara anjing atau kucing ya karena Bu Aminah alergi bulu" kekeh Trey.


"Iya padahal Umi suka kucing tapi karena alergi jadi tidak bisa pelihara hewan berbulu meskipun kelinci sekalipun." Chris menyelipkan glocknya di pinggangnya.


"Kalau sudah alergi memang susah."


***


Hamilton Group Building Manhattan


Ezra menatap pemandangan gedung - gedung pencakar langit area Manhattan dengan wajah galau. Sudah beberapa malam ini dia tidur berpelukan bantal. Biasanya ada guling hidup berbau harum yang membuat hatinya ayem, eh hanya gara-gara seorang polisi dari antah berantah hadir membuat istri dan anaknya kompak melawan dirinya.


Bukannya di Islam istri harus manut suami ya? Ya wassalam kalau istrinya model Keia yang keturunan bar-bar dari Oma Shanum. Ezra mengacak-acak rambutnya kesal.


"Iiissshhh rasanya punya anak perempuan tuh gini ya? Pantas Nathan sempat ga ikhlas si Safira sama Bagas. Tapi kok Fuji bisa santai saja sih Faranisa sama Patrick? Haaaaahhh! Menyebalkan!" umpat Ezra berulang kali.


Pria itu melihat ponselnya yang sepi pesan dari istrinya. Biasanya Keia mengajak makan siang bersama tapi ini kok sepi, anyep dan garing.


Padahal besok kita ke Dubai. Apa kata dunia persilatan kalau Keia lebih memilih tidur bersama Alea ?! Bisa jadi bahan olok-olok sepupu durjana minus akhlak dan perikemanusiaan serta perisepupuan! Ezra tambah manyun menatap pemandangan disana.


Apa aku harus mengalah ya? Lagian kata Bry, bocah itu bersih. Ezra menghela nafas panjang. Ya Wis lah! Mau gimana? Keia sendiri tampaknya welcome dengan anak itu.


Ezra menekan sebuah nomor di ponselnya.


"Kamu jam lima sore saya tunggu di Hamilton Building Group Manhattan. Bilang ditunggu saya! Jangan sampai terlambat satu detik pun!"


***


Ruang Kerja Ezra Hamilton, Hamilton Building Group Manhattan


Ezra menatap pria yang duduk di hadapannya dengan tatapan menyelidiki sedangkan yang ditatap hanya membalas dengan wajah tenang dan mata biru yang teduh.



"So, apa paparazi masih mengejar dirimu?" tanya Ezra tanpa basa basi.


"Masih Mr Hamilton tapi saya cuek saja."


"Apa kamu menyukai Alea?" tanya Ezra.


"Yes Sir. Alea gadis yang baik, cerdas dan menggemaskan. Saya tidak menyangka dia bisa bela diri."


"Apa kamu mencintai putriku?"


Chris terdiam. "Saya bukan pria gegabah yang langsung bilang cinta tapi saya ingin Alea nyaman dengan hubungan kami. Saya dan Alea masih proses penjajagan Sir. Saya tahu Alea masih dibawah umur, belum 20 tahun dan karena itulah saya berusaha menjaga Alea. Saya yang adult tahu batasannya, Sir. Jika kami berjodoh itu Alhamdulillah tapi jika tidak, saya bersyukur bisa berkenalan dengan gadis seperti Alea."


Ezra menatap mata biru Chris mencari kebohongan disana tapi yang ada adalah mata yang polos dan jujur.


"Saya ijinkan kamu penjajagan dengan putri saya tapi dengan syarat, jika memang kamu seorang gentleman, bersikaplah yang sesuai! Sebab jika saya mendengar kamu menyakiti Alea, saya sendiri yang akan menghabisi kamu!" ucap Ezra tegas.


"Yes Sir. Saya tahu itu." Chris mengangguk yakin. "Errr, maaf Sir, apa yang membuat anda berubah pikiran?"


"Kedamaian dunia persilatan yang harus saya peroleh!" jawab Ezra asal.


Chris hanya melongo. Apalagi itu?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️