The Four Emirs

The Four Emirs
Bonchap - Chris dan Alea



Kediaman Keluarga Hamilton Hamptons New York


Entah sudah berapa lama mereka tertidur hingga suara ketukan terdengar di pintu kamar Alea. Chris yang terbiasa selalu siaga, segera membuka matanya dan dilihatnya Alea masih terlelap. Diciumnya kening istrinya itu sebelum turun dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar Alea.


Setelah membukanya, tampak Ezra di hadapannya dengan wajah judes.


"Mau tidur sampai jam berapa, Chris? Ini sudah mau masuk jam makan siang! Bangunkan Alea, kita makan bersama."


"Baik Mr Ha... eh Daddy."


"Lagian kalian itu malah minggat semalam suntuk!" sungut Ezra sambil meninggalkan kamar putrinya. Chris lalu menutup pintu kamar sambil tersenyum.


Dihampirinya Alea yang masih tidur. Perlahan ditepuknya pipi istrinya.


"Lea, ayo bangun. Ditunggu Daddy untuk makan siang..." bisik Chris lembut.


"Hhhmmm..."


Chris mencium pipi Alea. "Yuk bangun, sudah pada di ruang makan."


Alea membuka mata hijaunya dan tersenyum ke arah suaminya. "Good afternoon."


"Good afternoon. Mau mandi?"


Alea menggelengkan kepalanya. "Aku sudah mandi tadi pagi setelah pulang dari shopping."


"Ya sudah, yuk keluar."


***


Chris dan Alea keluar kamar sambil bergandengan menuju ruang makan keluarga Hamilton yang sudah ramai banyak orang di sana.


"Waaahh pengantin baru" ledek Bima melihat si bontot datang.


"Belum unboxing ya?" goda Luca yang sengaja menginap di sana karena malas pulang ke apartemen.


"Sudah, sudah jangan digodain. Muka Alea sudah merah itu!" tegur Aruna.


"Ayo sarapan merangkap makan siang tapi sudah nggak masuk brunch" kekeh Emi.


Acara makan siang itu berlangsung ramai setelah para pria generasi kelima yang menginap disana bercerita tentang bedanya David dan Chris soal style menembak nya.


Ezra dan Keia menikmati kerusuhan di mansionnya yang biasanya sepi berubah macam pasar malam dengan kericuhan dan keabsurdan disana.


***


Tiga Hari Kemudian


"Beneran kalian pindah ke apartemen?" tanya Ezra yang agak melow ditinggal putrinya.


"Ya ampun Dad. Aku kan sudah punya suami. Ya harus ikut kemana suamiku" kekeh Alea yang kini bersama Chris bersiap pulang ke Manhattan.


Ezra menghadiahkan sebuah apartemen di area Upper East Side yang tidak terlalu jauh dari kantor Alea dan kantor Chris. Sengaja Ezra memberikan hadiah itu karena tahu jika mereka tinggal di Brooklyn, akan jauh jarak untuk ke tempat kerja, apalagi dari Hamptons. Alea dan Chris berjanji tiap weekend akan bergantian menginap di rumah Ezra ataupun rumah Aminah.


"Tapi kan..."


"Ezraaa..." Keia mengusap bahu suaminya. "Ini yang dirasakan Daddy waktu kamu meminta aku."


"Tapi Daddy Mamoru nggak lihatin galaunya" bantah Ezra.


"Karena Daddy sudah biasa menahan emosi tapi aku tahu Daddy galau juga ditinggal anak wedhok."


Ezra lalu memeluk putrinya. "Duh, kamu kok ya pakai acara nikah sih?"


Keia langsung memukul punggung suaminya. "Lebay ih!"


Chris hanya tersenyum simpul mendengar ucapan absurd mertuanya. Mungkin aku akan sama jika besok dikaruniai anak perempuan.


"Daddy, please. Aku cuma ke Manhattan bukan ke Tibet!" sungut Alea kesal Daddynya masih saja lebay.


"Janji ya makan siang bareng" Ezra menatap wajah putrinya.


"Iyaaa. Ya ampun Daddy tuh!"


***


Apartemen Manhattan Upper East Side



Chris dan Alea tiba di apartemen yang diberikan Ezra. Terdapat memo disana.


Dad hanya memberikan furniture secukupnya karena tahu kalian pasti ingin mengisinya dengan style kalian. Happy wedding.


Alea tampak terharu membaca memo dari ayahnya. Meskipun Ezra sering lebay dan absurd tapi dia adalah ayah yang membuat Alea bangga bahwa cinta pertamanya seorang pria yang baik. Dan sekarang, dia mendapatkan cinta keduanya dengan pria yang akan mendampinginya seumur hidup.


"Kenapa sayang?" tanya Chris setelah meletakkan koper-koper mereka di dalam kamar tidur.


Alea menunjukkan memo ke Chris dan pria itu tersenyum. "Daddy mu orang baik, Alea. Dan dari kedua orangtuamu, lahir kamu yang merupakan perpaduan kebaikan keduanya. Aku beruntung mendapatkan dirimu, Humaira ku."


Chris lalu menggendong Alea ala bridal style membuat wanita memekik kaget.


"Aku masih ada cuti dua hari. Kamu?" Chris menatap wajah Alea.


"Sama. Jadi kita dua hari ini ngapain?"


"Now?" Alea menatap sekelilingnya. "Kita belum beli gorden, Chris!" Kini tubuh Alea sudah berada di atas kasur empuk.


"Siapa bilang tidak ada?" Chris memencet sebuah tombol di atas nakas dan otomatis gorden pun turun menutupi jendela besar di kamar tidur itu. "So, nothing to worry kan?"


Alea tersenyum manis. "I love you, my Rohi."


"Love you too my Humaira." Chris mencium bibir Alea lembut. Dan entah siapa yang mengajari, keduanya hanya mengikuti insting dan pelajaran biologi saat sekolah dulu.


Alea yang banyak dikasih wejangan oleh kakak-kakak perempuannya, mencoba ikut aktif dalam kegiatan yang membuat hormon endorfin meningkat.


Chris begitu lembut, membuat Alea merasa dirinya seperti barang mahal dan delicate. Hingga keduanya sama-sama polos dan Alea bisa melihat mata biru Chris mulai berbeda binarnya.


"Bolehkah, Alea?" bisik Chris.


"Bo...Leh.."


Chris pun berusaha memasukkan miliknya ke inti Alea yang tahu akan merasa sakit dan tidak nyaman dari para sepupu perempuannya. Dan kini dirinya merasakan sendiri dan Chris melihat wajah istrinya tidak nyaman.


"Sakit ya? Apa harus berhenti?"


Alea menggelengkan kepalanya. "Katanya memang begini..." bisiknya.


"Oh. Siapa yang bilang?"


"Semua kakak perempuan aku..."


"Jadi... dilanjutkan nih?"


Alea mendelik judes. "Tanggung tahu!"


Chris tertawa kecil lalu mencium bibir istrinya sembari berusaha menembus milik Alea.


Istrinya sempat memekik pelan ketika miliknya ditembus milik Chris dan perlahan mereka mulai menikmati acara unboxing yang sempat tertunda akibat kerusuhan para saudara Alea.


***


Alea meletakkan kepalanya diatas dada Chris yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Keduanya masih harus menetralisir nafas mereka usai melakukan kegiatan unboxing.


"Terima kasih sayang" bisik Chris sambil mencium pucuk kepala istrinya.


"Sama-sama."


"Ternyata lebih enak unboxing tanpa ada gangguan ya. Harus sabar dengan semua kakak-kakak mu deh Alea."


Alea mendongakkan wajahnya dan menatap Chris sambil tersenyum.


"Ya Begitu lah keluargaku."


"Kabarnya Anarghya mau menikah besok February ya?"


"Iya. Apa kamu bisa ikut ke Jakarta?" tanya Alea.


"Tampaknya aku tidak bisa, sayang. Sebab aku kan baru tiga bulan hitungannya di major Crimes. Kalau aku cuti lagi, nggak enak. Ini saja aku kan sudah ambil cuti seminggu. Tak apa kan?"


"Tak apa Chris. Pasti keluarga aku juga bisa mengerti."


Alea mengambil ponselnya dan mulai menyalakannya begitu juga Chris. Suara notifikasi mulai terdengar dari ponsel masing-masing.


"Oh my..." ucap Alea.


"Apa sayang?"


"Benji mau nikah juga! Ini sudah lamaran ke Oom Jang." Alea menunjukkan foto Benji menyematkan cincin di jari manis Geun-moon.


"Apakah February juga?"


"Sepertinya Juni di New York."


Chris tersenyum lalu meletakkan ponselnya diatas nakas dan mengambil ponsel milik Alea. "Kalau di New York, aku bisa datang."



Alea Hamilton



Chris Bradford


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Unboxing Chris and Alea udah ya. Gak berani hot takut ga lolos


Thank you buat pembaca setia.


Nanti ada gilirannya Benji.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️