The Four Emirs

The Four Emirs
Kepergian Nura dan Kedatangan Fatimah



"Mas! Mau sampai kapan lihatinnya sampai kayak gitu?" ledek Alaric melihat kakaknya seperti di dunianya sendiri.



"Direndra! Rendra!" panggil Aisyah geli melihat cucunya terpaku dengan kecantikan Raana. "Ya Allah Raana, kamu dandan pakai make up apa sih bikin cucu Eyang seperti itu?"


Raana hanya menunduk dengan wajah memerah.


"Eh? Apa? Rendra nggak dandan kok eyang" jawab Direndra bingung.


Alaric terbahak sedangkan Hasyim tersenyum simpul.


"Lho memang ada apa sih?" tanya Direndra lagi.


"Owalaahhh, Thara dulu ngidam apa sih keluar anaknya koplak begini" kekeh Aisyah.


Direndra hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apaan sih?" gerutunya.


***


Pagi ini Direndra dan Raana kembali ke dusun Al Shiba menggunakan helikopter kerajaan dengan dua pengawal sedangkan Alaric tetap berada di istana Al Azzam untuk bekerja bersama dengan Reyhan Al Jordan, Oomnya.


"Gara-gara mas Ayrton kabur ke Singapura, aku deh yang harus mengurus sama Oom Reyhan. Lagian si tukang ngebut itu kok ya nggak kelar-kelar ngebutnya?"


"Tidak baik lho ngomong sendiri."


Alaric menoleh ke arah suara yang terdengar di belakangnya.


"Pagi Benben" sapa Alaric sambil tersenyum.


"Pagi Al-Al" balas Nura cuek.


"Kamu mau kemana? Kan hari ini tidak ada jadwal kontrol kemari." Alaric mengurungkan niatnya untuk ke garasi.


"Mau menemui yang Mulia dan yang Mulia Permaisuri" jawab Nura.


"Dalam rangka?"


"Ada deh!" Nura tersenyum. Gadis berdarah Arab campur Jawa itu berjalan dengan santainya menuju ruang kerja kedua eyang Alaric.




"Dih, gaya rahasiaan!" cebik Alaric.


Nura hanya tersenyum. Gadis berhijab kuning dan berbaju coklat itu tetap berjalan dan meminta ijin pada Fadh untuk menemui kedua suami istri penguasa Al Azzam.


"Nura, tumben pagi sudah kemari. Lho, aku kan tidak ada jadwal kontrol hari ini." Aisyah menerima ciuman dari gadis cantik yang sudah menjadi dokter pribadinya selama setahun terakhir ini dan sudah dianggap seperti cucunya sendiri karena dia tidak memiliki cucu perempuan.


Persahabatannya dengan Direndra memang benar-benar murni sahabat. Aisyah pernah bertanya apakah Nura pernah naksir Direndra dan dijawab gelengan kepala.


"No eyang, aku dan Rendra itu tidak ada perasaan apa-apa karena kami memang bersahabat. Lagipula, aku tahu selera Rendra itu cewek yang menggemaskan" gelak Nura waktu itu. "Sedangkan aku bukan tipenya dia."


Aisyah akhirnya melihat sendiri bagaimana keduanya berinteraksi dan seperti saudara memang. Hanya Alaric yang sering bikin ulah ke Nura hingga gadis itu sering ngomel-ngomel.


Dan kini Aisyah merasakan ada sesuatu yang hendak disampaikan gadis cantik berhijab itu.


"Iya eyang, Nura mau pamit" jawab Nura yang sukses membuat semua orang disana tanpa terkecuali Alaric pun terkejut.


"Kamu mau kemana?" tanya Alaric sedikit keras.


"Aku mendapatkan bea siswa di Harvard lagi, mau kuliah ambil spesialis" jawab Nura kalem.


"Harvard?" beo Alaric.


"Iya Al, aplikasi aku diterima jadi aku lolos masuk tahun ajaran baru spesialis bedah di Harvard. Dan aku masuk dengan bea siswa."


Wajah Alaric tampak mendung.


"Wah, hebat kamu Nura. Kapan kamu berangkat ke Harvard?" tanya Hasyim yang sangat kagum dengan kecerdasan gadis cantik di hadapannya.


"Lusa saya berangkat. Karena saya baru dapat pemberitahuan via email semalam dan lusa Senin besok saya sudah harus di Cambridge untuk pendaftaran ulang." Nura tersenyum bahagia bisa lolos Harvard lagi dengan beasiswa pula.


"Sono pergi yang jauh!" hardik Alaric yang langsung berbalik dengan wajah marah.


Nura hanya melongo melihat Alaric main pergi begitu saja tanpa pamit ke eyang-eyangnya. "Al kenapa Eyang?"


"Biasa, ngambek nggak ada yang diajak berantem" kekeh Aisyah.


"Ih, sudah Gedhe masih ngambekan." Nura cuek.


Hasyim dan Aisyah serta Fahd hanya tersenyum simpul.


***


Bagi Alaric, mengganggu Nura itu adalah mood booster nya karena selama ini dirinya sendirian karena kakaknya sibuk dengan kegiatan emirnya.


Brengseeekkk Benben!


***


Singapura


Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu kedatangan VIP bandara Changi dengan dikawal enam orang wanita tangguh berdarah Arab.


"Yang Mulia" sapa Murad yang menyambut wanita cantik berhijab itu.


"Dimana suamiku, Murad?" tanya wanita cantik dengan wajah kesal.


"Oma, Opa di Marina Bay" senyum Ayrton.


"Cucuku yang nakal!" Fatimah memukul bahu cucunya. "Dimana Opa mu yang mbeling itu?"


"Ada kok. Yuk Oma." Ayrton menggandeng omanya dengan sayang. "Aku tidak sabar melihat kekacauan antara Oma dan Opa."


"Dasar cucu durhakim! Oma sumpahi bakalan nikah cepat, baru tahu rasa kamu!" kekeh Fatimah.


"Alhamdulillah!" seru Ayrton.


***


Marina Bay, Presidential Suite


Senna terkejut melihat kedatangan Fatimah bersama dengan Ayrton dan Murad. Istrinya yang sudah memberikan putri bar-bar bernama Sabine itu memasang wajah kesal.


"Senna!" bentak Fatimah.


"Eh, Fatimah kekasih hatiku. Ada apa datang kemari?" tanya Senna dengan wajah dibuat biasa saja.


"Kamu kenapa tidak pulang, hah? Takut gara-gara kamu beli yacht seenaknya? Takut aku bakalan jewer kamu? Iya?" bentak Fatimah.


Senna menatap kesemua pengawal yang berdiri di belakang istri dan cucunya dan memberikan kode agar mereka semua pergi meninggalkan dirinya hanya dengan Fatimah dan Ayrton.


Akhirnya semua orang pergi menuju kamar masing-masing yang sudah dibooking oleh Ayrton.


Senna hanya tersenyum kikuk melihat wajah cemberut Fatimah.


"Sayang..." rayunya membuat Ayrton cekikikan melihat bagaimana Opanya yang garang bagaikan singa gurun bisa berubah menjadi anak kucing di depan omanya.


"Sayang, sayang. Kamu tuh!" Fatimah pun cemberut.


"Aku kesini kan karena mengurus cucu kita yang ditahan kepolisian Singapura. Jadi kamu jangan marah dong! Yang tahu permasalahannya kan aku dan Benji" ucap Senna lembut.


"Kamu kira aku tidak tahu alasan sebenarnya kamu main kabur saja kesini! Sudah, aku tidak mau tahu ya Senna, kamu jual itu dua yacht tidak berguna itu! Cukup satu saja kamu pakai! Lihat Duncan. Yacht nya saja dia serahkan ke Kaia!"


"Lho tapi itu kan yacht dari Oom Abi almarhum ke Oom Edward almarhum jadi wajar dong kalau masih dipakai."


"Nah tuh tahu! Itu karena warisan. Sedangkan kamu? Buat apa beli tiga yacht bersama Kai? Buat apa? Karl dan Sabine saja tidak pernah pergi dengan kapal! Ayrton? Dia lebih memilih beli mobil daripada yacht!"


Ayrton hanya duduk sebagai penonton sembari mengemil kurma yang dibawa oleh omanya.


"Tunggu sayang, bagaimana kamu bisa kesini?" Senna melirik tajam ke cucunya.


"Jangan salahkan Ayrton! Bukan dia yang laporan!" hardik Fatimah.


"Lalu siapa?"


"Benji!"


***


"Haaattssyiingg!" Benji mengusap hidungnya yang tiba-tiba gatal.


"Oom Benji tak apa?" tanya Zinnia.


"Tidak apa-apa. Yuk, ke tempat mama." Benji lalu menggandeng tangan Zinnia yang sengaja dijemputnya dari sekolahnya.


Gawat! Sepertinya ada yang ngomongin gue deh!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️