The Four Emirs

The Four Emirs
Di Starbucks



Starbucks Manhattan


Chris Bradford menatap Alea tanpa berkedip yang membuat gadis itu menunduk dengan wajah memerah sambil memegang jaket Joey.


"Chris! Kamu bikin adikku takut, tahu nggak?" tegur Alaric yang melihat Alea beringsut di belakang Joey.


"Oh... eh maaf. Maafkan saya, Miss Hamilton" ucap Chris.


"Tidak... apa-apa" cicit Alea yang merasa gugup karena baru kali ini ada pria yang berani menatapnya di depan kedua kakak sepupunya. Gadis itu tahu semua sepupu prianya panasan semua darahnya jika menyangkut saudara perempuannya.


"Ayo duduk" ajak Joey sambil melirik ke arah Alea yang masih memegang jaketnya. "Lea, kamu mau sampai kapan pegang jaket Abang?"


Alea mendongakkan wajahnya ke arah Joey. "Eh?" cengirnya. Kelima orang itu pun duduk di meja sudut dan Alaric bersama Nura pun pergi memesan minuman.


"Alea... Ayo ngobrol sama Chris" goda Joey melihat adiknya malu-malu.


"Abang aja" bisik Alea sambil menempelkan wajahnya di bahu Joey.


"Lho kok malah Abang?" Joey bergantian menatap Alea dan Chris. "Alea memang pemalu Chris. Harap maklum ya, masih 19 tahun tapi sudah bergelar sarjana desain interior."


"Hebat Miss Hamilton. Saya salut dengan anda yang masih muda tapi sudah selesai sekolahnya." Chris menatap lembut ke Alea yang masih melirik dari bahu Joey.



Chris Bradford



Alea Al Jordan Hamilton


Duh imutnya.


"Katanya...kamu mau...jadi detektif?" bisik Alea.


Chris mengangguk. Alea mulai memberanikan diri menatap pria itu. "Bagian apa? Soalnya Opa ku dulu bagian pembunuhan."


"Ohya? Siapa namanya?" tanya Chris sambil tersenyum.


"Opa Ghani Giandra dan Opa Raymond Ruiz." Alea menoleh ke arah Joey. "Bang, Opa dulu di NYPD area mana ya?"


"Manhattan sama Bronx kayaknya, Abang nggak hapal."


Chris menatap cara Alea memandang kakak sepupunya. Gadis ini berbeda dengan saudaranya yang lain.


"Ini kopinya" ucap Alaric sambil membawakan minumannya lalu dia duduk di sebelah Chris sedang kan Nura duduk di sebelah Alea.


"Lea, kopimu" Nura menyerahkan kopi machiato pesanan Alea.


"Terimakasih mbak" senyum Alea yang membuat Chris terpana.


"Lihatnya biasa saja Chris" tegur Alaric sambil minum kopinya.



Alaric Al Azzam Blair


"Eh?" Chris menoleh ke arah Alaric.


"Alea, gimana desain di kantor Patrick Rogers ?" tanya Alaric berusaha membuka casing Alea agar tidak pemalu seperti itu.


"Mas Patrick masih ada perubahan, bang. Desain aku sudah oke tapi yang kamar mandi ada desain yang minta diganti ulang." Alea tampak bersemangat menceritakan pekerjaannya. "Tapi benar kata mbak Nisa, mas Patrick rewel orangnya" gelaknya. "Rasanya pengen getok kepalanya kalau mulai kumat cerewet nya! Heran kok mbak Nisa betah ya sama cowok menyebalkan itu?"


"Patrick Rogers anak senator New York yang pemilik perusahaan game RogGamers. Pernah dengar?" Alaric menatap Chris.


"Pernah tapi aku bukan gamer jadi tidak tahu gamenya apa saja" senyum Chris.


"Don't worry, kita pun. Harusnya Benji tahu, kan dia anak game." Joey menatap Alaric.


"Ngomong-ngomong, anak itu dibantuin mas Abi bikin skripsinya ya?" ujar Alaric.


"Lho? Benji tuh belum lulus?" tanya Nura.


"Belum. Lebih asyik malakin kakak-kakaknya" sungut Alaric yang membuat Joey dan Alea tertawa. "Oh, Benji dan Mas Abi adalah sepupu kami, Chris. Adikku Benji kuliah di MIT tapi tinggal skripsi saja tidak dibuat-buat padahal Alea yang lebih muda dari benji saja sudah wisuda."


"Parah ya Chris waktu itu" ucap Joey.


"Iya dok, saya sampai tidak tidur hampir 72 jam dan rasanya seperti minum tequila tiga botol. Beneran seperti orang mabuk padahal saya sudah menghindari alkohol sejak tinggal dengan Bu Aminah."


"Tapi aku kok tidak melihat kamu ya Chris saat kekacauan itu?" komentar Nura.


"Mungkin saking banyaknya polisi disana dokter Benazir" senyum Chris.


"Oh panggil Nura saja, Chris."


Chris hanya mengangguk.


"Orangtua kamu kemana?" tanya Alea.


"Mereka meninggal saat perjalanan untuk lomba triatlon ke Vancouver. Aku saat itu masih SMA dan yeah, sejak saat itu aku tinggal sendirian dengan warisan tidak seberapa. Aku harus menguburkan keinginan aku untuk kuliah dan memilih masuk ke kepolisian karena saat itu hanya ada dua pilihan polisi atau tentara yang langsung kerja. Dan aku memilih menjadi polisi."


"Bagaimana kamu bisa menjadi anak angkat Bu Aminah?" tanya Alea lagi. Joey melirik ke arah Alaric sambil tersenyum mendengar keberanian si bontot di kalangan sepupu perempuan.


"Aku membantu Bu Aminah dari upaya perampokan dan sejak itu kami sering bertemu apalagi sektor tempat aku berpatroli dekat area apartemen beliau. Dan mengetahui aku yatim piatu, Bu Aminah mengajak aku tinggal bersama karena aku mengingatkan pada anaknya yang gugur saat berdinas di angkatan darat." Chris menatap Alea sambil tersenyum.


Akhirnya kamu berani juga menatap mataku, Alea. Matamu ternyata indah warnanya, hijau abu-abu tidak jelas.


"Orang baik pasti dapat berkahnya" komentar Alea.


Joey menepuk kepala adiknya lembut.


***


Usai acara minum kopi di Starbucks, Chris dan Alea saling bertukar nomor ponsel yang membuat kedua kakaknya hanya menatap penuh arti melihat adiknya ada kemajuan dari sifat pemalunya.


Alea memang sulit jika bertemu dengan orang baru diluar pekerjaan. Kalau Ezra bilang, putrinya seperti dua sisi mata uang. Alea jika berhubungan dengan pekerjaan, dia bisa tampak berwibawa, profesional dan sangat menguasai materi tapi jika diluar itu, Alea menjadi gadis super pemalu, hanya dengan para sepupunya dia bisa hangat.


Keempatnya pun berpisah dengan Chris yang harus masuk shift malam dan sekarang mereka pergi menuju rumah Hamilton yang terletak di The Hamptons yang merupakan area mewah para miliuner dan pesohor lainnya.


***


"Bagaimana menurutmu tentang Chris?" tanya Joey ke Alea yang duduk di sebelahnya sedangkan Alaric dan Nura menyimak percakapan keduanya.


"Dia baik" jawab Alea pendek.


"Tapi?"


"Tidak ada tapi, bang Joey. Kan aku baru bertemu dia hari ini" kekeh Alea.


"Anggap saja kamu mendapatkan teman baru, Lea. Jadi jangan kamu terbebani harus bersama Chris karena yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan" sahut Alaric.


"Iya bang." Alea menoleh ke arah Alaric yang saling bergenggaman tangan dengan Nura. "Kalian kapan menikah?"


"Nunggu Benben selesai pendidikan nya. Lagian juga mas Rendra kan mau menikah bulan depan. Kamu datang kan Lea?"


"Insyaallah bang. Lagipula aku kangen Dubai. Apa kalian akan balapan lagi? Kata mas Bima, ke Dubai tanpa balapan itu tidak seru."


Alalric mendengus. "Bah, mas Bima mah maunya pamer ke mas Hoshi pakai Maserati nya bang Ayrton. Tahu sendiri kan mas Hoshi maniak Maserati?"


Alea tertawa. "Mas Hoshi dan mas Bima itu tidak pernah akur ya?"


"Gak bakalan!" seru Joey dan Alaric bersamaan.


Alea dan Nura tertawa.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️