The Four Emirs

The Four Emirs
Mariana dan Zinnia ke Dubai



Alaric tersenyum kecut saat membaca pesan yang dikirimkan Nura kepadanya. Ayrton yang melihat adiknya manyun hanya tersenyum simpul.


"Nura?"


Alaric menghembuskan nafas panjang. "Siapa lagi."


"Apa katanya."


"Al-al, kamu tuh sudah Gedhe kok masih ngambekan sih?" Alaric membaca pesan yang dikirimkan Nura.


"Al-al?" Ayrton menaikkan sebelah alisnya.


"Sama saja kan? Bang Ayrton manggil Mariana 'May'."


"Kita memang punya cara tersendiri untuk memanggil pasangan masing-masing" senyum Ayrton.


"Bang Ay serius sama Mariana?" tanya Alaric.


"Apakah kamu serius dengan Nura?" balas Ayrton.


Keduanya saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak.


"Kita memang payah ya bang..."


"Sekalinya jatuh cinta, LDR langsung deh emosi cepat naik." Ayrton tersenyum.


Suara ketukan di pintu ruang VIP terdengar dan tak lama asisten Ayrton datang membawakan ponselnya.


Ayrton hanya manyun membaca pesan yang dikirimkan Mariana.


"You know Al, nggak cuman kamu yang kena semprot." Ayrton menunjukkan pesan Mariana ke Alaric. Sontak pria tampan itu tertawa terbahak-bahak.


***


Gosip tentang dua Emir bersaudara saling berkelahi lumayan ramai di dunia Maya dan gosip. Bryan dan Benji berusaha menurunkan berita itu sebisa mungkin namun banyak yang sudah tersimpan di berbagai sosial media pribadi seperti TikTok, Instagram, Facebook, Snapchat dan lain sebagainya.


Alaric dan Ayrton memutuskan tidak perduli dengan gosip itu karena fokus keduanya adalah pekerjaan berat di depan mata, proses pemindahan tahap pertama.


Senna dan Kai sendiri tidak terlalu memusingkan berita soal gegeran cucunya karena bagi mereka yang penting Ayrton dan Alaric sudah berbaikan, itu sudah cukup.


***


Desember, Dubai.


Ayrton menunggu dengan gelisah di pintu kedatangan VIP Dubai International Airport karena hari ini adalah hari kedatangan Mariana dan Zinnia. Seusai dengan janjinya jika raportnya mendapatkan bintang lima semua, Zinnia akan ke Dubai dan gadis cilik itu membuktikannya. Mariana antara bangga dan tepok jidat karena Zinnia merengek setiap saat demi kepergian mereka ke Dubai.


Akhirnya yang ditunggu datang juga dan wajah Ayrton pun langsung sumringah melihat calon istri dan anaknya datang.


"Oom Ayrtoooonnn" teriak Zinnia sambil berlari menuju Ayrton yang melebarkan tangannya. Zinnia pun langsung masuk dalam pelukan calon ayahnya.


"Capek?" tanya Ayrton yang dijawab gelengan gadis cilik itu.


"Halo Ton" sapa Mariana sambil tersenyum. Ayrton langsung menggandeng Mariana dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggendong Zinnia.


"Halo May" balas Ayrton sambil mencium kening gadis itu. "Lama ya? Kamu disuruh pakai pesawat Al Jordan tidak mau."


"Enak naik komersil, Ton. Lebih seru!" senyum Mariana yang memang menolak mentah-mentah tawaran Ayrton untuk menjemputnya di Singapura.


"Yang mulia" panggil salah seorang pengawalnya.


"Ada apa?" tanya Ayrton.


"Ada banyak paparazi berkumpul di ruang VIP hendak mencari tahu wanita apa yang dijemput oleh anda."


Ayrton mendengus kesal lalu dia menatap Mariana dan Zinnia.


"Zee, pakai tudung jaket kamu lalu sembunyikan wajah Zee di leher Oom ya" pinta Ayrton.


"Kenapa Oom?"


"Nanti Zee difoto banyak orang."


Zinnia menatap Ayrton ketakutan. "Zee Ndak mau, Oom."


"Makanya tudungnya dipakai ya?" Zinnia mengangguk patuh lalu menutup kepalanya dengan tudung dari jaketnya dan segera menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ayrton.


"Aku pakai tudung dan kacamata hitam saja Ton" senyum Mariana.


"Iya sayang. Maaf ya, ternyata seperti ini sambutannya." Ayrton menatap Mariana dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa, Ton. Resiko bersama dengan Emir yang ternyata the most eligible bachelor " kekeh Mariana.


"Emirnya sudah ada pawangnya" kekeh Ayrton.


"Oom..."


"Ya Zee?"


"Oom baunya kok enak?"


Ayrton dan Mariana hanya melongo.



Yang jemput pawangnya



Pawangnya



***


Para pengawal Ayrton tampak sigap melindungi pangerannya karena banyak paparazi disana yang berusaha mengambil gambar wanita yang menjadi kekasih salah satu Emir yang terkenal itu.


Ayrton tetap dengan erat menggendong Zinnia yang menyembunyikan wajahnya di leher pria tinggi tegap itu sedangkan Mariana memilih untuk menunduk sambil menggenggam erat tangan Ayrton. Mereka keluar dari pintu kedatangan VIP.


Di luar sudah banyak paparazi yang berkumpul dan saling bersaing mengambil gambar Ayrton, Mariana dan Zinnia. Gadis cilik itu memeluk erat leher Ayrton tanpa mau menampakkan wajahnya disimpan di ceruk leher pria berdarah Jerman yang erat menggendongnya.


"Pangeran! Pangeran! Apakah itu calon istri anda?"


"Apakah dia sudah pernah menikah?"


"Itu anak kalian ya?"


Teriakan dari para paparazi dengan berbagai bahasa membuat Mariana sedikit pusing sampai akhirnya ketiganya masuk ke dalam mobil Range Rover dan bergegas pergi meninggalkan bandara. Semua barang bawaan Mariana akan diurus asisten Ayrton.


***


"Zee, sudah di mobil. Katanya mau lihat Dubai" bujuk Ayrton yang merasakan gadis cilik itu masih ketakutan.


"Zee, mau lihat Burj Khalifa nggak? Kan kita tadi nonton di pesawat film mission Impossible yang Tom Cruise loncat" bujuk Mariana.


Pelan-pelan gadis cilik itu menampakkan wajahnya dari ceruk leher Ayrton.


"Ma...na?" tanya Zinnia.


"Omar, kita pulang dilewatkan ke Burj Khalifa ya" perintah Ayrton kepada sopirnya dengan bahasa Arab.


"Baik yang mulia."


"Kamu bilang apa?" tanya Mariana bingung.


"Melewati Burj Khalifa sebelum ke rumah. Sekalian. Besok kalau sudah tidak jetlag, kita jalan-jalan ke sana" senyum Ayrton.



Burj Khalifa


***


Istana Al Jordan


Mariana melongo melihat 'rumah' milik keluarga Al Jordan yang benar-benar istana. Mereka sudah tiba di kediaman keluarga Al Jordan setelah tadi Zinnia menatap bangunan tertinggi di dunia dengan penuh kagum.


"Ayo turun, May" ajak Ayrton yang melihat Mariana terbengong-bengong.


"Ton, ini nggak salah rumah kan?" bisik Mariana.


"Hah?" Ayrton menatap bingung. "Benar kok ini rumah aku."


Mariana memukul bahu Ayrton. "Kamu bilang ini rumah? Bahkan istana merdeka saja kalah!"


Makanya aku kan sudah bilang kamu bakalan bengong " kekeh Ayrton. "Sudah, ayo masuk. Pak tua itu sudah tak sabar bertemu dengan cicitnya."


Zinnia yang masih dalam gendongan Ayrton tampak tercengang seperti halnya Mariana.


"Waaaahhhh rumah Oom Ayrton besar ya" gumam Zinnia.


"Pak tua itu Opamu juga Ton!" desis Mariana yang akhirnya turun dengan sedikit gemetar dan gugup. Bagiamana tidak, kalau ini dirinya baru percaya bahwa Ayrton memang seorang pangeran.


"Ah dia nggak bakalan dengar" kekeh Ayrton. "Yuk masuk."


Ketiganya masuk pintu depan baru menuju pintu utama dan sepanjang itu Mariana dan Zinnia terbengong-bengong melihat interior dan penataan yang semuanya sangat mewah.


"Assalamualaikum" sapa Ayrton dan Mariana bersamaan ketika mereka sampai di ruang tengah.


Tampak disana Senna dan Fatimah duduk bersama dengan Kai dan Tamara.


"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah sampai juga kalian" sambut Fatimah. "Ayo ayo duduk. Zee pasti capek ya?"


Zinnia langsung meminta turun dari Ayrton dan mencium punggung tangan Opa dan Omanya. "Capek Oma" adunya.


"Zee, kenalkan ini Opa Kai dan Oma Tamara. Opa Kai itu adiknya Opa Senna" Fatimah membawa gadis cilik itu bersalaman dengan seorang pria yang mirip dengan Senna tapi janggutnya masih sedikit ada warna hitamnya dibandingkan Senna.


Zinnia mencium punggung tangan Kai dan Tamara.


"Aduh, pintarnya anak kamu, Mariana" puji Tamara.


Mariana yang sedang mencium punggung tangan Senna, hanya tersenyum manis. "Matur nuwun Oma Tamara."


"Waaaahhhh sudah lama tidak ada yang berbahasa Jawa disini!" seru Tamara senang. "Mariana, selama disini sering-sering pakai bahasa Jawa ya biar Oma tidak lupa."


Mariana tersenyum manis. "Njih Oma."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️