
Hari-hari para Emir di Dubai pun disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan dan kegiatan yang harus mereka handle apalagi Direndra juga sedang mempersiapkan acara pernikahannya dengan Raana Lamira Badawi disamping harus mengawasi pembangunan fasilitas listrik tenaga tata Surya bersama dengan perusahaan AJ Corp.
Ayrton yang tahu kakak sepupunya bercabang pikirannya akhirnya meminta agar Direndra cuti dua Minggu sebelum acara pernikahannya.
"Tapi nanti kamu kamu keteteran?" ucap Direndra.
"Ada Alaric, ada Oom Reyhan, ada Opa yang masih mengawasi juga. Sudah, kamu cuti saja dulu kan kalian adatnya berbeda harus pakai adat Arab."
Direndra menggelengkan kepalanya. "Aku dan Raana memutuskan nggak pakai adat apapun. Ijab qobul dan resepsi itu sudah cukup."
"Dasar ya, semua keturunan klan Pratomo tuh paling malas ribet. Ijab qobul sah sudah cukup ya?" kekeh Ayrton.
"Tapi aku kan juga ingin agar Raana mendapatkan resepsi yang indah jadi tetap nanti meriah. Apalagi kamu tahu sendiri kan orang tuaku siapa" senyum Direndra.
"Serba sulit ya, bro. Kita sih pengennya cukup ijab tapi banyaknya rekan bisnis keluarga jadi agak sulit ditambah Eyang Hasyim salah satu Emir. Nasib lu sama ma gue" gelak Ayrton.
Kedua sepupu itu sedang berada di ruang kerja Direndra. Al Azzam memiliki sebuah gedung tiga lantai yang berdekatan dengan AJ Corp Dubai.
"Mana kita sekarang juga digadang-gadang sebagai pengganti eyang dan Oom Reyhan. Padahal kita lebih fokus dengan apa yang kita hadapi sekarang. Pembangunan ini memang menyita banyak waktu dan konsentrasi total." Direndra menatap maket yang berada di ruang kerjanya.
"Insyallah bakalan selesai sesuai dengan jadwal" ucap Ayrton.
Fasilitas penyediaan listrik tata Surya itu direncanakan akan dibangun dalam jangka waktu lima tahun yang tentu saja membuat kedua perusahaan yang menang tender harus melakukan pengawasan.
"Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar Ay" sahut Direndra. "Dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam jangka waktu itu."
"Exactly. Kita sudah berani maju tender dan diterima berarti kita dipercaya. Dan jangan sampai nama kita jadi jelek karena meremen ke perusahaan keluarga kita yang lain."
Direndra menatap sepupunya dan merangkul pria yang baru saja menikah itu.
"I love my family" senyum Direndra.
"Me too, bro. Me too."
***
New York City USA
Nura berkesempatan melakukan magang di rumah sakit Bellevue setelah Joey memintanya untuk ikut menjadi anak didiknya selama mengambil spesialis bedah.
Kasus di Bellevue jauh lebih rumit daripada rumah sakit Harvard. Dan Nura merasakan bagaimana dirinya lebih jatuh bangun dalam melakukan operasi karena rumah sakit ini sering dirujuk sebagai tempat para korban kejahatan diobati.
Nura harus menahan emosi bagaimana melihat anak kecil yang luka parah akibat pembullyan, seorang sopir taksi ditusuk penumpangnya dan banyak kasus disana.
Disaat dia lelah dan sedang bersandar sambil menikmati kopi panas, seorang polisi NYPD menghampirinya.
"Tired?" tanyanya ke Nura.
Nura pun celingukan. "Are you talking to me?"
Tak disangka polisi tampan itu tertawa. "Kamu sedang tidak meniru adegan Robert DeNiro di Taxi Driver kan?"
Nura menggelengkan kepalanya. "Kurang kerjaan banget niru-niru."
"Kamu dokter bedah baru kan? Aku belum pernah lihat. Namaku Chris Bradford btw." Polisi tampan itu mengulurkan tangannya namun Nura hanya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Benazir Jaziri."
"Oh maaf." Chris menarik tangannya dan melihat ada sebuah cincin berlian yang imut melingkar di jari manis Nura.
"Are you married?" tanya Chris.
"No, engagement." Nura tersenyum sambil mengusap cincin yang disematkan oleh Alaric saat Ayrton menikah. Diam - diam pria itu sudah melamarnya langsung ke ibunya tapi untuk resminya, dia memilih nanti setelah Nura lulus.
"Congratulations. Apakah dia disini? Maksud aku tinggal di New York?" tanya Chris.
"Nope. Dia tinggal di Dubai."
Chris bisa melihat bagaimana wajah Nura tampak bahagia seperti membayangkan kekasihnya.
"Chris!" Sebuah suara bariton membuat keduanya menoleh dan tampak Joey Bianchi masih memakai baju operasi.
"Dokter Bianchi" sapa Chris.
"Oh really? I'm sorry, dokter Benazir." Chris mengangguk hormat ke Nura.
"Tidak apa-apa." Nura tersenyum manis.
"Benazir, kamu tolong ke ruangan saya pelajari jadwal operasi besok pagi." Joey mengedikkan dagunya.
"Baik dokter Bianchi. Mari officer Bradford." Nura pun berjalan menuju ruang praktek Joey.
"Chris, what are you doing?" tanya Joey kepada Chris, officer NYPD yang sering berhubungan dengannya jika ada korban kejahatan di jalan.
"Aku hanya ingin mencari calon istri yang seiman, dok" senyum Chris.
Joey terperangah. "Since when Chris?"
"Sejak dua tahun lalu. Empat tahun lalu aku menolong seorang wanita muslim yang hampir dirampok. Dia seorang ibu-ibu yang tinggal sendiri dan aku tidak punya siapa-siapa. Ibu Aminah itulah yang mengajak aku tinggal bersama karena aku mengingatkan pada putranya. Dan kami hidup bagaikan ibu dan anak. Senang rasanya jika pulang kerja ada ibu yang sudah siap dengan masakan di meja makan."
"Lalu apa ibu Aminah meminta kamu pindah?"
Chris menggelengkan kepalanya. "Kamu tahu, saat puasa aku panik karena ibu Aminah tidak makan seharian dan aku takut dia sakit."
Joey terbahak. "Kami tidak akan mati, Chris."
"Kan aku tidak tahu, Dokter Bianchi. Aku bukan orang yang religius bahkan cenderung atheis. Jadi aku bingung kenapa harus puasa dan Bu Aminah menjelaskan padaku. Dan karena mendengar Bu Aminah mengaji setiap habis sholat Maghrib, aku jadi tergerak ingin tahu. Akhirnya aku mendapatkan kedamaian lalu aku mualaf dua tahun lalu."
"Alhamdulillah. Kok aku tidak tahu ya Chris? Padahal kan kamu tahu aku apa agamanya."
"Aku masih dalam proses, dokter Bianchi."
Joey menepuk bahu pria tampan itu. "Semoga tetap istiqamah ya Chris."
"Aamiin. Dok, ada adiknya lagi nggak? Aku serius ingin menikah karena ibu Aminah ingin melihat aku menikah dengan gadis seiman."
Joey hanya tertegun. Siapa adiknya yang masih jomblo? Alea! Joey teringat adiknya putri Ezra Hamilton dan Keia Al Jordan.
"Aku ada adik sepupuku tapi aku hanya mengenalkan kalian berdua saja dan setelahnya terserah kalian."
Chris menatap Joey dengan antusias.
"Siapa dok? Apakah dia cantik?"
Joey menatap judes ke Chris. "Hei! Adik-adikku cantik semua Chris! Enak saja!"
Chris tertawa. "Keluarga Sultan memang berbeda."
"Apakah kamu sanggup berhadapan dengan adikku dan keluarganya?"
Chris mengangguk. "Insyaallah. Memang dari keluarga siapa dok?"
"Hamilton."
Chris melongo. "Hamilton? The Hamilton? Penguasa mall di Amerika Serikat?" Seketika jantung Chris terasa melorot. No way! David dan Goliath bener!
"Berani nggak Chris? Kalau berani, aku kenalkan."
"Berani. Namanya siapa?"
"Alea."
Introducing Alea Al Jordan Hamilton putri Ezra - Keia
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️