
11th Street Café
Alea tiba di cafe yang letaknya hanya beda satu blok dari gedung AJ Corp dan gadis itu memilih untuk berjalan kaki. Alea tahu meskipun dirinya seperti sendirian tapi daddynya selalu mengirimkan pengawal bayangan untuk melindunginya.
Alea seperti sepupunya yang lain, bisa bela diri taekwondo dan menembak meskipun dia tidak terlalu menyukainya. Siang ini Alea mengenakan kemeja putih dan celana hitam, sepatu bot serta Coat panjang. Wajahnya yang imut tampak berseri-seri menikmati matahari musim semi. Cuaca di New York tidak seperti di Los Angeles meskipun musim dingin bisa mencapai suhu 10°C tapi karena terkena garis khatulistiwa, California tidak ada salju.
Alea menyeberang ke arah Café yang bernama 11th Street Café karena terletak di jalan 11. Café itu terkenal dengan kopinya yang lebih enak dari Starbucks. Café itu kecil berada di sudut jalan Western Manhattan dan jika jam brunch atau lunch, sudah ramai dikunjungi pengunjung.
Gadis itu masuk ke dalam cafe dan mulai mencari tempat duduk.
"Alea Hamilton" panggil seseorang yang membuat Alea menoleh.
"David?" Alea menatap pria yang memanggilnya. "Kamu... kerja disini?" Alea terkejut melihat teman kuliahnya bekerja di cafe ini.
"Iya aku kerja disini. Kamu mau makan siang?"
Alea mengangguk. "Ada... meja kosong... untuk dua orang? Aku akan makan siang... dengan temanku." Wajah Alea sedikit menunduk seperti biasa jika rasa malunya muncul.
"Ada tapi agak ke dalam. Bagaimana?" David menatap gadis cantik itu.
"Tak apa..."
"Alea!" suara Chris membuat keduanya menoleh dan gadis itu menunduk agar Chris tidak melihat wajahnya yang memerah.
"Apakah dia temanmu yang hendak makan siang bersama?" tanya David dengan tatapan tidak suka.
"I...iya. Ada tempat?" tanya Alea sedikit melirik ke Chris.
David mengangguk lalu menatap tajam ke Chris yang mendatangi keduanya.
"Maaf aku terlambat" ucap Chris ke Alea.
"It's okay. A...aku juga baru ... sampai" ucap Alea sambil tersenyum.
David hanya berjalan mendahului Alea dan Chris ke tempat duduk yang berada di area dalam cafe.
Keduanya pun duduk dan David memberikan menu dengan sedikit kasar ke Chris yang hanya menatap datar ke pria itu sedangkan Alea menegur pelan David.
"Jangan seperti itu, Dave, atau kami batal makan siang disini" ucap Alea pelan tapi terdengar dingin. Chris hanya memandang gadis cantik di hadapannya.
David hanya mendengus pelan lalu meninggalkan mereka berdua..
"Temanmu Alea?" tanya Chris.
"Teman kuliah dulu hanya satu kelas tapi aku tidak terlalu dekat" jawab Alea apa adanya.
"Tampaknya dia suka padamu, Lea."
Alea hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Aku tidak suka saja dengannya. Ada sesuatu yang membuat aku tidak nyaman saja."
Chris tersenyum. Baru kali ini Alea berbicara tanpa ada jeda.
Seorang pelayan lain mendatangi keduanya dan mencatat pesanan mereka lalu mengundurkan diri.
"Apa semalam ... ada kasus?" tanya Alea mengingat semalam dia mendengar suara ramai saat Chris menelponnya.
"Ada upaya membajak mobil" jawab Chris.
"Dimana?"
"Dekat Central Park. Dan kami semalam kejar-kejaran" cengir Chris. "Kamu pasti tidak nonton TV kan?"
"Aku orang yang jarang... nonton TV."
Chris tersenyum. "Sudah kuduga."
Kedatangan pelayan yang membawakan pesanan membuat keduanya menghentikan percakapan mereka.
Alea memesan salad salmon dan es caramel macchiato favoritnya sedangkan Chris memesan sandwich salmon, sebotol air mineral dan Americano coffee.
"Kamu penggemar salmon ya?" tanya Chris ketika melihat Alea makan saladnya dengan nikmat.
"Aku memang penggemar salmon. Kalau disuruh memilih antara salmon atau ayam, aku akan memilih salmon..." Alea terdiam. "Maaf..."
Chris menatap gadis imut itu bingung. "Kenapa minta maaf Alea?"
"Aku...terlalu banyak bicara..." bisik Alea yang membuat Chris melongo.
"Aku suka jika lawan bicaraku banyak bicara karena kita sedang menikmati makan siang kan?" Chris memberikan senyumannya yang manis membuat wajah Alea memerah.
Chris kemudian bercerita tentang pamor Ghani Giandra dan Raymond Ruiz yang dikenal sebagai kapten polisi yang lurus hidupnya dan tidak kenal ampun dengan penjahat.
"Ada cerita bahwa Opamu Raymond Ruiz mendapatkan luka tembak di tempat yang tidak biasa dan jadi bulan - bulanan di divisi major crime Manhattan."
"Di pantat!" kekeh Chris.
"Serius?" Alea tahu kedua Opanya berapa kali terkena luka tembak bahkan Opa Ghani nyaris kehilangan nyawanya beberapa kali.
"Serius dan kata para senior, Opamu sampai harus duduk pakai bantal empuk selama beberapa bulan" ujar Chris.
"Ya Allah." Alea tertawa membayangkan Opanya yang dikenal sok cool itu harus duduk tidak nyaman akibat pantatnya kena tembak.
"Tapi Opamu Ghani, pensiun dini ya?"
Alea mengangguk karena tahu ceritanya. "Waktu itu Oom Bara, anak Opa Ghani hilang di laut selatan dari Bali mau ke Jakarta. Dan Opa Ghani merasa kehilangan hingga tidak mampu bekerja dengan maksimal disini. Akhirnya Opa memutuskan pensiun dini dan kembali ke Jakarta Indonesia."
"Lalu bagaimana Oom kamu?"
"Alhamdulillah Oom Bara masih hidup meskipun sempat amnesia tapi yang penting hidup dan Opa Ghani semangat lagi. Tapi itu yang cerita sepupuku sih yang cucu langsung Opa Ghani."
Chris bisa menilai Alea akan lebih nyaman jika membicarakan soal pekerjaan dan keluarganya. Jika sudah begitu, akan tahu bahwa sebenarnya gadis itu ramai orangnya.
"Alhamdulillah masih diberikan umur" ucap Chris.
"Kamu...apa tidak capek?" tanya Alea yang berpikir jika masuk shift malam harusnya Chris pulang untuk istirahat.
"Habis ini aku pulang dan tidur karena nanti malam Masih shift malam."
"Bulan depan.. jadi detektif?" tanya Alea.
"Iya. Aku masuk special victims unit."
Wajah Alea terkejut. "Itu bukannya divisi kejahatan kekerasan wanita dan anak-anak?"
"Iya."
Wajah Alea tampak cemas. "Kata bang Joey, itu ... divisi paling brutal. Sebab... bang Joey berapa kali menolong korban kekerasan rumah tangga."
"Aku tahu Alea tapi ini kan perintah dari pusat."
"Apakah ... seperti film tv seri klasik Law and Order SVU?"
"Hampir mirip meskipun mungkin jauh lebih parah dari serial tv itu."
Alea masih saja memasang wajah cemas. "Kalau aku... tidak sanggup ..."
"Karena kamu memiliki hati yang lembut, Alea. Kamu tidak tegaan orangnya" senyum Chris yang membuat gadis itu memerah wajahnya.
Ya ampun! Alea itu benar-benar princess Hamilton.
"Alea..."
"Ya?"
"Apakah Alaric seorang Emir?"
Alea menatap bingung. "Bang Al memang seorang Emir di Dubai. Kenapa?"
"Keluarga kalian memang dari berbagai negara ya?" Jujur Chris hanya bisa terdiam ketika tadi usai ditelpon Aminah berusaha mencari tahu keluarga Alea. Keluarga Sultan sebenarnya.
"Kami keluarga kacau memang... Memiliki warga negara beraneka ragam" ucap Alea sambil tertawa.
"Alea... Kalau kamu aku ajak jalan-jalan naik motor, mau?" tanya Chris.
"Kemana?" Wajah Alea tampak sumringah sebab selama ini Ezra dan Keia melarangnya belajar naik motor meskipun Alea tahu mommynya jago menyetir tank. Keia dan Sabine sama-sama suka kegiatan militer bahkan Keia lebih mengijinkan Alea nyetir tank. Alasan Keia, tank rodanya banyak jadi aman, sedangkan motor hanya dua butuh balance dan gampang kecelakaan yang membuat Alea melengos mendengar alasan absurd mommynya.
"Kemana saja kamu inginkan."
"Mau! Tapi kamu ijin kedua orangtuaku dulu ya."
Chris mengangguk. "Tentu saja, my Humaira."
Wajah Alea semakin memerah.
Berani manggil Humaira
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️