
Mansion Blair London
Alaric langsung meletakkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Kamar yang sudah ditempatinya sejak kecil yang merupakan kamar milik opanya Duncan dulu saat masih bocil. Alalric sendiri sempat menemukan foto Omanya Rhea yang sedang bermain piano terselip saat meja belajar milik Duncan dikeluarkan.
Beberapa barang milik Duncan disimpan dengan rapi oleh Alaric dalam satu kotak membuat pria itu tersenyum saat memandangnya. Ada foto Duncan, Ghani dan Gozali saat mengunjungi London, ada foto Rhea bersama dengan Javier dan Valora serta Neil dan Nadya.
Pria tampan itu pun bangun dan menuju walk in closetnya lalu mengambil kotak bewarna coklat. Alaric membawanya ke atas tempat tidur dan mulai membukanya. Alaric melihat catatan di belakang foto-foto itu yang menunjukkan foto itu dibuat saat Omanya Rhea mengunjungi London waktu kecil. Omaku memang cantik dari kecil, nggak heran kalau Opa Duncan rela nunggu sampai dewasa.
"Kamu ngapain Al?" tanya Aidan melihat putranya sibuk melihat-lihat beberapa foto di kotak.
"Ini lihat foto-foto Opa Duncan yang ketinggalan pas kamar ini jadi kamarku." Alaric menunjukkan foto Rhea kecil saat memakai mantel putih. "Oma cantik ya Dad."
Aidan tersenyum melihat foto sang mami. "Oma kan memang cantik dari kecil." Pria berusia akhir empat puluhan itu pun duduk di tempat tidur putranya. "Nemu dimana saja ini Al?"
"Dad ingat nggak waktu aku SMP ditanya mau di kamar mana karena kamarku yang lama bocor dan mau direnovasi, aku bilang di kamar Opa waktu kecil dan Daddy ijinkan? Ya udah, kamar Opa kan tidak ada yang pakai, aku bersih-bersih. Nemu banyak barangnya Opa disana dan sebagian aku simpan di gudang tapi kalau foto-foto, aku simpan disini."
Aidan melihat foto Ogannya dan Opanya yang saling menatap judes dan tersenyum. Entah siapa yang memotret pose candid keduanya tapi tampak jelas dua-duanya sama-sama julid.
"Musuh abadi benar deh nih Ogan dan Opa" kekeh Aidan sambil mengelus foto itu.
"Ogan dan Opa tidak pernah akur ya?" tanya Alaric.
"Macam Hoshi dan Bima gitu tapi meskipun tampaknya mereka seperti musuhan, Ogan dan Opa itu sayang satu sama lain. Saat Oganmu meninggal, Opa lah orang kedua yang paling terpukul setelah Necan Dara." Mata Aidan pun berkaca-kaca. "Daddy ingat saat pemakaman Ogan, Daddy mendengar Opa bergumam 'Bi, kok kamu pergi duluan sih? Aku kan jadi tidak ada teman debat. Tega kamu Bi! Harusnya gue duluan yang ninggalin elu!' tapi Opa ngomong gitu sambil nangis."
Alaric melongo. "Astaghfirullah! Mereka berdua itu ya!"
Aidan tertawa. "Ya gitu lah Al, hubungan mereka tidak pernah mulus tapi mereka saling sayang satu sama lain."
"Menurut Daddy, apa mas Hoshi dan mas Bima juga sama?"
Aidan mengangguk. "Mas Hoshimu itu selalu punya cara tersendiri untuk menunjukkan sayangnya ke semua anggota keluarganya. Hanya saja sejak awal perkenalan dengan Bima memang tidak dengan jalan yang benar" gelak Aidan. "Buktinya dengan Aji baik-baik saja padahal saat itu Aji hampir mati."
"Keluarga dari pihak Daddy memang kacau tralala" kekeh Alaric.
"Kalau kata Oma buyut Nabila, no rusuh no life dan kalau Opa Duncan, we're not perfect but we're family."
Alaric memeluk Aidan. "Aku bersyukur lahir di keluarga kalian, keluarga yang selalu ada di saat susah tidak hanya di saat senang terus hanya saja cara mengekspresikan itu berbeda."
"Jadi Daddy minta, kamu berubah Al. Jadilah pria yang jauh lebih dewasa pola pikirnya. Daddy seumuran kamu sudah memegang RR's Meal separo dunia lho. Masa kamu kalah sama Daddy? Buktikan sama Daddy, Ogan dan Opa kalau kamu itu adalah keturunan Giandra dan Blair yang tidak ada kata menyerah. Buktikan kalau kamu juga keturunan Al Azzam yang selalu semangat dalam menghadapi semuanya."
Alaric terisak di pelukan Aidan. Sudah lama dirinya dan Daddynya jarang mengobrol berdua layaknya father and son. Kesempatan ini membuat Alaric terharu karena Aidan nyaris tidak pernah memarahinya dengan nada keras tapi dengan nada yang lembut dan hangat malah membuat Alaric merasa bersalah karena terlalu lama bermain-main.
"Buktikan pada Benben bahwa calon imamnya adalah pria yang patut dibanggakan. Oke Al?" Aidan mencium pucuk kepala putranya.
"Yes Dad."
"Itu baru anak Daddy dan Mommy."
Thara yang tadinya hendak masuk mengajak makan siang membatalkan kakinya masuk dengan memilih berdiri di dekat pintu. Air matanya pun mengalir mendengar ucapan Aidan ke putra bontotnya yang sedikit keras kepala tapi bisa luluh saat diajak bicara hati ke hati oleh daddynya.
***
Kazuo's Bed and Breakfast Silverstone Northamptonshire Inggris
Malam ini para pengunjung penginapan milik Georgina tampak ramai apalagi mendengar Enzo berada disana membuat para tamu yang belum mendengar cerita pembalap Ferrari itu tampak antusias.
Enzo sendiri meminta agar mereka berkumpul dulu sambil memesan makanan penginapan dan dirinya tidak mau mengulang cerita beberapa kali.
Georgina dan Paradina bersama dengan pegawainya pun tampak antusias memasak bagi para pengunjung. Dan wanita Jawa Belanda itu memutuskan membuat menu khas Indonesia apalagi melihat stok bahan baku yang dimiliki Georgina tidak terlalu banyak.
"Ladies and Gentlemen, menghormati ibu Mr Enzo Al Jordan, malam ini menunya agak berbeda karena yang memiliki resep adalah Mrs Al Jordan" ucap Georgina manis. "Menu malam ini adalah nasi capcay dan cumi saus Padang. Karena Mrs Al Jordan adalah keturunan Indonesia, jadi malam ini adalah menu negara Indonesia."
Tamu yang berjumlah 50 orang itu pun langsung penasaran dengan masakan yang dimasak oleh ibu Enzo Al Jordan.
"Waaahhh Georgina, ini berbeda dengan nasi kari ala Jepang yang pernah kamu buat dulu ya?" ucap salah seorang tamu.
"Beda lah! Itu kan khas Jepang, ini masakan Indonesia." Georgina menjawab sambil tersenyum dan tetap meletakkan piring - piring di atas meja.
"Yuk kita makan dulu baru nanti Enzo bercerita...lagi" senyum Reyhan Al Jordan ke arah para tamu penginapan.
Acara makan malam itu berlangsung ramai karena banyak dari mereka yang belum pernah makanan macam itu.
Tidak sedikit tamu wanita bertanya resep ke Georgina dan Paradina yang dengan ramah menjawabnya bahkan Paradina bersedia menuliskan resep di papan tempat Georgina meletakkan memo.
Usai makan malam dan sembari menikmati dessert puding coklat yang diberi Fla susu vanila, Enzo pun mulai bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Para tamu tampak antusias bagaimana baju balap Enzo lah yang menyelamatkan dirinya dari luka bakar yang serius.
Reyhan dan Paradina duduk berdua sambil menikmati bagaimana Enzo menghadapi berbagai banyak orang dan pertanyaan dengan tenang. Wajah pria itu pun tidak ada rasa lelah atau tidak suka, yang ada hanyalah kesan sahabat lama yang bercerita dengan orang banyak.
"Tampaknya Enzo sudah pantas menjadi pengganti dirimu nanti mas. Lihat bagaimana dia bisa menguasai keadaan" bisik Paradina.
"Kita lihat saja nanti, sayang. Aku tidak akan memaksa Enzo segera kembali ke Dubai. Biarkan dia menikmati hidupnya dulu, menikmati masa mudanya. Kalau sudah puas kan dia pasti akan kembali ke Dubai." Reyhan menatap lembut istrinya.
"Dan semoga segera menghalalkan Georgi. Aku suka anak itu. Polosnya minta ampun!" kekeh Paradina.
***
Yuhuuuu Up Siang
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️