The Four Emirs

The Four Emirs
Direndra dan Alaric



Istana Al Azzam, Dubai UAE


Raana disambut hangat oleh kedua eyang Direndra dan langsung eyang Aisyah menarik gadis itu untuk bercengkrama. Direndra hanya tersenyum melihat eyang putrinya lebih heboh bersama Raana dibandingkan dengan dirinya.


"Assalamualaikum" sapa Alaric yang baru datang.


"Wa'alaikum salam" balas semua orang disana.


"Lho ada Raana. Kapan datang?" tanya Alaric setelah mencium eyangnya.


"Barusan datang, tadi dijemput Direndra" senyum Raana.


"Enak ya yang pacarannya dekat. Lha aku apa kabar?" sungut Alaric manyun.


"Salah siapa suka Nura? Sudah tahu Nura ingin jadi dokter bedah ya sudah resiko kamu memilih Nura dan Nura memilih kamu. Yang penting kalian berdua saling setia dan menjaga hati satu sama lain" ucap Direndra.


"Iyess kakak ku tersayang." Alaric merangkul bahu kakaknya. Alaric selalu sayang dengan Direndra apalagi saat mereka kecil. Direndra lahir dengan kondisi prematur 8 bulan lebih sedikit yang membuat fisiknya lemah.


Disaat sekolah SD, Direndra selalu jadi bulan-bulanan teman-temannya karena fisiknya lemah dan gampang lelah. Alaric lah yang selalu membela kakaknya apalagi fisik Al lebih kuat dari Direndra.


Aidan dan Thara yang mengetahui hal itu, langsung melaporkan ke kepala sekolah yang langsung menegur dan memberikan hukuman kepada anak-anak yang membully Direndra.


Direndra tidak mau dicap sebagai anak manja memutuskan ikut bela diri pencak silat yang makin naik daun di Inggris. Keputusan ikut itu yang berbeda dari adiknya, pencak silat lebih halus gerakannya daripada karate yang dipilih Alaric.


Perlahan-lahan fisik Direndra mulai kuat dan membuat kedua orangtuanya bersyukur putra mereka bukan orang yang gampang menyerah. Direndra mulai ikut menembak seperti para sepupunya yang lain. Ketika masuk senior, Direndra mulai mengambil krav maga untuk memperkuat basic pencak silatnya.


Dan kini putra sulung Aidan Blair tumbuh jadi pria yang memiliki fisik kuat dan mental tangguh. Alalric banyak belajar dari sang kakak yang bukan tipe mudah menyerah bahkan tak jarang kakaknya yang lebih membelanya ketika Alaric berkelahi. Tapi jika Alaric ketahuan yang salah, Direndra tidak segan untuk menghajarnya.


Rama McCloud adalah kakak yang tahu seluk-beluk kehidupan kedua kakak beradik itu selama tinggal di London. Tak jarang Rama mengajar keduanya berbagai macam teknik berkelahi dan membela diri hingga sang kakak kuliah ke Harvard.


"Raana menginap kan?" tanya Aisyah membuyarkan lamunan Alaric.


"Insyaallah Eyang tadi mas Rendra sudah bilang begitu."


BRUGH!


Alaric terjatuh dari kursi.


"Kamu kenapa dik?" tanya Direndra bingung melihat adiknya jatuh.


"Kamu manggil apa Raana?" tanya Alaric mengacuhkan pertanyaan kakaknya.


"Mas. Memang kenapa?" jawab Raana bingung.


"Belajar dari mana?" tanya Alaric yang sudah kembali duduk di sofanya.


"Belajar dari Tante Sekar dan mbak Reana. Mereka memanggil suami masing-masing dengan sebutan 'mas' lalu aku bertanya dan mereka menjelaskan. Aku pikir itu panggilan yang manis dan mesra jadi aku panggil Direndra, mas seperti kamu kan Al?" Raana tersenyum manis ke calon adik iparnya.


"Oh Astagaaa." Alaric memegang pelipisnya.


"Nggak usah heboh kenapa dik. Biasa saja" kekeh Direndra.


"Kamu tuh kayak apa saja Al. Lha buktinya kamu manggil kita juga eyang... Eh tapi itu eyang yang minta sih biar beda dari panggilan kalian ke Opa dan Oma dari keluarga Aidan" kekeh Hasyim.


Alaric hanya tersenyum kikuk. "Yang penting kalian berdua sampai nanti pas ijab qobul nya lancar. Aamiin."


"Aamiin."


***


Benji dan Abi tiba di RR's Meal Hell's Kitchen dan disambut oleh Rajendra dengan senyum khasnya.


"Yuk masuk. Katanya ada yang kebingungan minta dibantuin buatin skripsi" goda Rajendra.


"Dih, mas Jendra gitu! Kasihanilah adikmu yang imut tapi paripurna ini lah. Mbok ya dikasih ide ngunu lho..." sungut Benji yang membuat Abi dan Rajendra terbahak sebab Benji kalau sudah hopeless, yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Indonesia campur Jawa.


"Benji tuh mirip Oma Rhea deh. Kalau sudah ngomel bahasanya campur aduk!" kekeh Rajendra.


"Ingat pas aku ceritain Bima dan Hoshi gelut? Nah tuh Oma ngomel panjang lebar pakai tiga bahasa, Indonesia, Inggris dan Jawa. Kacau kan? Gitu pun sempat pula si Bima koreksi karena salah ucap. Hasilnya ya kena jewer lagi" gelak Abi. Kini ketiganya masuk ke dalam ruang VVIP.


"Omamu itu memang bar-bar deh Bi. Lupa kalau sudah sepuh."


"Hah, Opa sama Oma mana ingat umur kalau sudah urus cucunya. Mana kalau jewer, makin pedas tuh Oma ku." Abi meringis kala dirinya sempat dijewer Rhea gara-gara cincin pertunangannya dengan Gandari gelinding saking gugupnya.


"Kasus elu tunangan kan?" gelak Rajendra. "Payah lu Bi!"


Abi hanya meringis. Ketiganya pun duduk dan langsung membuka laptop masing-masing.


"Kalian urus skripsi, aku urus kerjaan aku" ucap Rajendra yang sudah meminta makan siang untuk para sepupunya disiapkan.


Sambil makan siang, Abi dan Benji pun asyik berdiskusi tentang judul skripsi yang pas lalu pria itu membantu si bontot untuk membuat bab 1 nya setelah judul yang diajukan Benji diterima oleh dosen pembimbingnya melalu panggilan video.


Melihat Abi, sebagai salah satu alumni dan mantan mahasiswanya, dosen pembimbing Benji meminta agar Abi membantu adiknya karena jadwal ujian akan berlangsung tiga bulan lagi. Jika Benji hendak ikut ujian, dia harus segera menyelesaikan sebelum tiga bulan.


Abi pun menyanggupi permintaan mantan dosennya itu karena dia juga mau agar adiknya segera lulus agar tidak kena amuk oleh Bryan, sang papa.


***


Indramayu Jawa Barat Dua Bulan Kemudian...


Travis, Hoshi dan Haris mengunjungi sawah milik Zinnia yang selama gadis cilik itu belum berusia 25 tahun, semuanya masih diwakilkan melalui kantor pengacara Travis dengan pengawasan Ayrton, Benji, Haris dan Hoshi yang ada di Jakarta.


Ketiga hot Daddy itu lalu bertemu dengan pihak pengawas dan Haris mulai memeriksa pembukuan dengan teliti. Pria itu memang diminta Javier untuk membantu memeriksa semua pembukuan meskipun disana sudah ada akuntannya sendiri yang ditunjuk oleh Travis.


Semua susunan manajemen di perusahaan produsen beras itu dirombak habis oleh Ayrton dan Travis. Orang - orang yang tidak kompeten diganti semua dengan orang - orang lama tapi memiliki loyalitas tinggi dan kompeten. Pemberian upah sudah tidak pernah terlambat maupun dikorupsi hingga membuat para buruh tani merasa nyaman dan kinerja mereka dihargai.


"Gimana Ris?" tanya Travis dan Hoshi setelah mereka memeriksa stok gudang dan mesin - mesin penggiling padi. Mesin-mesin lama mereka ganti yang baru agar cepat dan memang membutuhkan peremajaan.


"So far aku periksa semuanya oke. Tidak ada hal yang aneh-aneh. Tidak seperti awal aku mendapat tugas dari Pak Javier untuk merombak pembukuan. Hadddeeehhh, berantakan!" ucap Haris. "Sebenarnya sudah benar Vis, hanya saja akuntan sini pak Jaja pintar. Dia membuat dua pembukuan. Satu yang murni, satu yang dananya sudah dikentit sama si Irwan. Dari situ aku bisa menghitung berapa yang sudah diambil Irwan diam - diam."


"Kalau orang yang memang serakah, satu sen pun ditilep tanpa memikirkan itu uang hak para pegawainya. Heran aku! Kurang apalagi sih?" omel Hoshi.


"Ya, orang kalau tidak bisa bersyukur dengan keberkahan yang sudah diberikan, akan kurang terus, Hosh" ucap Travis bijak.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️