
Jakarta Indonesia, mansion Blair
Rahajeng menatap dua pria tampan dan imut di hadapannya yang sedang meminta ijin untuk pergi ke Indramayu dan kemungkinan besar akan menginap mengingat sekarang sudah masuk dhuhur.
"Jadi kalian mau mencari bukti kesana dan menginap?" Rahajeng memastikan lagi.
"Iya mbak. Buat Zee soalnya" jawab Benji.
Rahajeng mengangguk. Dia tahu kasus itu saat Travis menceritakan semalam saat pillow talk. Dirinya juga tidak habis pikir kok ada nenek kesannya menjual cucunya demi cuan. Rahajeng bersyukur meskipun ibu mertuanya sudah meninggal, tapi James menyanyanginya seperti putrinya sendiri. Kedua orangtuanya pun sangat menyayangi Travis.
"Mas Travis katanya mau istirahat kasus" goda Rahajeng.
"Ini kan sambil refreshing, sayang" senyum Travis.
"Ya sudah, aku ijinkan nanti aku bilang ke Papa dan Oom Bryan serta Tante Briana."
"Nanti aku bilang ke Daddy dan mommy sendiri mbak" ucap Benji.
***
Travis terpaksa mengambil mobil operasional kantor Blair and Blair Advocate, sebuah Innova Venturer menggantikan mobil Range Rover miliknya. Tadi pada saat mau berangkat, Benji dan Travis bingung melihat garasi.
"Bang, serius lu mau bawa si Rover? Ini garasi nggak ada mobil biasa kab?" Benji melihat-lihat garasi mansion Blair peninggalan Stephen Blair, adik Edward Blair. "Lambo, Rover, Mini Cooper, Porsche, Jaguar... Seriously bang!"
"Terlalu mencolok ya?" cengir Travis.
"Ya iyalah bambaaannggg! Ada mobil normal nggak?" Benji gemas dengan kakaknya satu itu.
"Ada sih mobil kantor, Innova."
"Fix naik itu saja!" ucap Benji.
Dan kini keduanya berada di dalam mobil sejuta umat itu agar tidak terlalu mencolok meskipun fisik mereka sudah mencolok saking bulenya.
"So, cerita sama Abang. Aib apa yang kamu dapat?" tanya Travis.
Travis Blair
Benjiro Smith
"Well, si nenek kebayan Upin Ipin itu ternyata sudah menjual sebagian besar sawahnya dan si kakek melakukan korupsi di tempat dia bekerja" jawab Benji tenang.
"Kok tidak ditangkap KPK?" tanya Travis.
"Korupsi nya tidak gila-gilaan, abangku. Dia terlalu pintar tapi setelah sekian puluh tahun bekerja ya buanyak lah!"
"Gimana caranya Ben?"
"Sehari dia ambil dari 10-20ribu. Kan paling orang mengira segitu salah hitung atau keselip. Tapi dikali 24 hari, 12 bulan, 25 tahun bekerja. Sudah berapa itu?"
Travis tampak berhitung. "Sekitar 144juta. Sedikit Ben."
"Itu yang diambilnya di kantor."
Travis melongo.
"Jabatan Denny Priyatna adalah bagian basah di pemerintah kota Bandung karena semua proyek harus melewati dirinya. Semua kontraktor dan rekan Pemkot harus memberikan fee ke dia dan timnya."
"Berapa kisaran?"
"Tergantung besar kecilnya proyek. Paling tidak rata-rata dia minta minimal 5% maksimal 10%."
"Gila!" Travis melongo.
"Kebayang kan berapa? Dan itu dia jadi jumawa karena proyek tidak akan jalan tanpa ACC tanda tangan dirinya."
"Apa perusahaan keluarga kita ada yang bekerjasama dengan pemerintah kota?" tanya Travis.
"Tidak ada bang."
"Sayang, kan bisa buat pancingan."
"Aku sudah dapat datanya kok bang. Tenang saja."
Travis menoleh ke adik bontotnya. "Good job Ben."
"Benjiiii!" cengir Benji sambil tersenyum lebar.
***
Istana Al Azzam
Alaric baru saja hendak terlelap setelah lelah berkuda dengan Gundala ketika suara ponselnya berbunyi. Wajahnya langsung sumringah saat membaca nama penelponnya.
"Wa'alaikum salam Al-al. Maaf ya aku baru sempat mengcharge ponselku. Ya Allah, aku capek banget hampir 48 jam tidak tidur" ucap Nura di seberang.
"Kamu sama bang Joey kan?"
"Iya, aku sama bang Joey dan Oom Fuji. Untung kamu nggak ke New York, Al. Alamat kamu tidak bisa ketemu aku karena aku terdampar di rumah sakit. Mandi saja seperti The Flash, secepat kilat dan kami sholat saja banyak yang ketinggalan saking tidak sempat dan banyaknya korban" cerita Nura.
"30 kendaraan ya Ben?"
"Habis itu ada kecelakaan lagi Al, di Queens dan Manhattan. Kami semakin sibuk."
"Sudah tahu jalan bersalju, masih saja nyetirnya ceroboh!" omel Alaric.
"Ini aku, bang Joey dan Oom Fuji disuruh istirahat karena tenaga kami sudah habis Al..."
"Kamu dimana sekarang?"
"Di apartemen. Al, aku ngantuk banget tapi aku mau dengar suaramu..."
Alaric tersenyum. "Aku dongengin saja ya. Pada jaman dahulu, hiduplah sepasang anak kembar seiras yang botak..."
"Astagaaa! Al! Bukan Upin Ipin!" hardik Nura kesal.
Alaric tertawa terbahak-bahak. "Aku cerita soal mbak Mariana ya..."
"Calonnya Ayrton ya? Oh, anaknya menggemaskan ya."
"Kok kamu tahu?" tanya Alaric.
"Aku nonton pas mereka tiba di bandara terus bang Joey kasih lihat foto Ayrton ramai-ramai. Ya ampun, anak itu cantik banget."
"Kalau kita nikah, nanti anak kita juga akan lebih cantik dari Zee" sahut Alaric.
"Hah? Eh ayo dongengi lagi..."
Alaric tersenyum. "Semua warga dusun Al Shiba senang di tempat yang baru dan Mas Rendra tampaknya serius dengan Raana dan merencanakan menikah secepatnya. Ground breaking instalasi listrik tenaga Surya pun sudah dimulai disana karena semua bangunan sudah diluluh lantakan... Ben? Benben?" Alaric mendengarkan secara seksama dan terdengar suara dengkuran halus. "Astaghfirullah, kamu capek banget sampai ngorok ya. Ya sudah, selamat mimipi indah, sayang."
Alaric mematikan ponselnya dan tak berapa lama dirinya pun ikut terlelap. Hari Minggu ini dan bertepatan libur akhir tahun, tidak banyak pekerjaan dan kegiatan, membuat Alaric bisa beristirahat.
***
Indramayu, Jawa Barat Indonesia
Travis dan Benji memilih ke sebuah guest house yang terdapat di kota Indramayu untuk memesan kamar. Setelah meletakkan duffle bag mereka, keduanya mulai mencari sawah milik keluarga Santi.
Membutuhkan waktu hampir satu jam ketika mobil Innova hitam itu tiba di lokasi pertama. Travis dan Benji melihat betapa luasnya sawah disana karena tidak lah heran, Indramayu memang salah satu sentra penghasil beras nasional.
"Ini punya keluarga Santi?" tanya Travis sembari melihat-lihat sawah itu.
"Menurut data yang aku dapat sih begitu." Benji membaca iPad nya.
"Assalamualaikum" sebuah suara membuat kedua pria bule itu menoleh.
"Wa'alaikum salam. Eh punten bapak, mau tahu ini sawah punya siapa ya?" tanya Travis dengan bahasa Indonesia.
"Oh yang sebelah sini punya juragan Toha."
"Kalau yang sebelah sana?" Benji menunjuk sawah yang berada di seberang jalan raya tempat mobil mereka terparkir.
"Oh itu punya nyonya Santi Priyatna. Dulu sawah sebelah sini punya juragan Hasan, bapaknya nyonya Santi. Tapi sudah dijual ke juragan Toha."
"Apa sawah di seberang dijual?" tanya Travis.
"Mas bule ini siapa ya?"
"Saya Travis dan ini adik saya Ben. Kami diminta tolong sama boss saya di New York mencari sawah produktif yang mau dijual" senyum Travis.
"Tadinya sawah sebelah memang mau dijual Den, tapi saya dengar tidak jadi."
"Kenapa tidak jadi pak?" tanya Benji penasaran.
"Katanya nyonya Santi mau dapat uang dari orang Arab atau Dubai gitu. Sebab punya sangkutan lumayan ke nyonya Santi."
Travis dan Benji melongo. Sangkutan? Apanya yang disangkut-sangkut bambaaannggg!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️