
Alaric tiba di istana Al Azzam menjelang tengah malam bersama dengan kedua pengawalnya. Setelah memarkirkan Ducatinya, pria tinggi dan tampan itu pun masuk ke dalam istana dan segera menuju kamarnya. Tak berapa lama, Direndra pun datang sambil mengetuk pintu kamar adiknya yang sedang membuka pakaian hendak mandi.
"Boleh mas Rendra masuk?" tanya Direndra.
"Masuk saja mas" jawab Alaric sambil duduk di kursi dekat meja kopi.
Pakai baju dulu Al ... Masuk angin lho ntar
Direndra pun masuk dan duduk di sofa kamar adiknya.
"Kamu katanya nyasar sampai perkebunan kurma milik Al Baraka ya?" tanya Direndra tanpa basa-basi.
"Iya, aku tadi nyasar kesana" senyum Alaric.
"Bertemu dengan Naadhira?"
Alaric terkejut. "Kok mas kenal?"
"Waktu kamu belum ke Dubai, mas sempat dikenalkan dengan Naadhira di acara pesta para Emir. Tampaknya nenek Naadhira ingin berbesan dengan eyang Hasyim dan eyang Aisyah tapi entah kenapa aku kok tidak tertarik dengan gadis itu."
Alaric terkekeh. "Soalnya dia tidak imut dan tidak secantik Raana."
"Bukan itu saja dik, entah kenapa mas tidak nyaman dengan mereka berdua" ujar Direndra.
Alaric menaikkan sebelah alisnya. "Tidak nyamannya?"
"Mereka menyimpan sesuatu yang menurut mas auranya tidak baik" jawab Direndra.
"Kukira aku saja yang merasakan hal itu" senyum Alaric.
Direndra menoleh ke arah adiknya yang mengambil rokok dan mulai menyalakan batang putih itu. "Kamu menyadarinya juga?"
Alaric mengangguk sambil menghembuskan asap rokoknya. "Mereka memang tampaknya baik tapi tadi aku melihat bagaimana mata mereka seperti berkata sebaliknya."
"Kita harus hati-hati Al. Apalagi kamu paling muda disini karena Benji sedang dicangking Opa Senna untuk menyelesaikan masalah Ayrton."
Alaric mengangguk. "Mas, lusa kan Sabtu. Kita berlayar yuk! Sudah lama kita tidak berlayar."
"Pinjam kapal Opa Kai saja. Kan nganggur tuh" senyum Direndra. "Besok biar mas telpon ke Opa Kai supaya diijinkan pinjam Yacht nya yang kecil.
***
Hari Sabtu di Singapura, Singapore
Benji dan Zinnia mendatangi kamar presidential suite di hotel Raffles. Awalnya undangan dari pihak kerajaan Belgia meminta untuk mereka datang saat sarapan tapi karena Zinnia ada latihan menari di sekolahnya, akhirnya diputuskan saat makan siang.
Benji mengatakan bahwa dia akan membawa Mariana, ibu Zinnia tapi pihak protokoler kerajaan hanya meminta Benji dan Zinnia yang datang. Dengan seijin Mariana dan banyak pertanyaan dari Senna dan Fatimah yang dijawab Benji dua kata 'tidak tahu', akhirnya keduanya datang ke hotel mewah itu.
"Oom, kenapa mama, Oom Ayrton, Opa Senna dan Oma Fatimah tidak boleh ikut ya?" tanya Zinnia ketika mereka tiba di hotel Raffles usai Benji menjemputnya dari sekolah.
"Kayaknya kemarin kan cuma kita yang ada di sana jadi maunya kita saja. Kan kita yang main game, bukan mama bukan Oom Ayrton apalagi opa dan Oma. Bisa-bisa nanti Opa encok lagi kamu ajak main basket" kekeh Benji yang disambut tawa Zinnia membayangkan opa buyutnya kena encok.
"Opa kena encok" gelaknya yang suaranya seperti lonceng natal membuat banyak orang menoleh gemas dengan gadis cilik itu.
"Mr Smith?" sapa seorang wanita berseragam resmi menyapa Benji yang sedang tertawa dengan Zinnia.
"Yes? Zee, udah ah ketawanya. Saya Benji Smith."
"Silahkan ikuti saya. Anda berdua sudah ditunggu yang mulia." Wanita itu pun berjalan terlebih dahulu dan diikuti Benji yang menggandeng Zinnia.
Siang itu Zinnia mengenakan binnie abu-abu dan rok motif daun sedangkan Benji memilih jas dan kaus abu-abu musim panas yang tidak membuatnya gerah di Singapura.
Zinnia Hadiyanto
Anak bontot, Benjiro Smith
Mereka pun masuk ke dalam lift menuju kamar presidential suite tempat para keluarga kerajaan itu menginap.
Ketiganya pun tiba ke presidential suite yang dijaga empat orang pengawal kerajaan dengan seragam bewarna biru tua dengan pin di jas masing-masing.
"Silahkan masuk, Mr Smith, miss Zinnia." Wanita tadi memberikan kode kepada pengawal itu untuk membuka pintu dan tampak raja Belgia Maximilian dan permaisuri Elisabeth.
"Mr Smith, apa kabar?" sapa Raja Belgia itu ramah.
"Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan yang mulia." Benji mengangguk hormat.
Raja Maximilian itu menghampiri Benji. "Aku mengenal ayahmu, Bryan dan Opamu Duncan Blair. Ayahmu dan Mr Blair adalah pria yang mengagumkan."
"Dan ini siapa?" tanya Permaisuri Elisabeth.
"Ini keponakan saya, Zinnia Hadiyanto. Zee, beri hormat kepada yang mulia permaisuri."
Zinnia menekukkan satu kakinya untuk memberikan hormat kepada permaisuri Elisabeth.
"Wah kamu lucu sekali, sangat menggemaskan" ucap permaisuri Elisabeth.
"Du kannst deutsch sprechen ( kamu bisa berbahasa Jerman )?" tanya Permaisuri Elisabeth.
"Ein kleines Bisschen ( sedikit - sedikit )" jawab Zinnia sambil menunjukkan ukuran dengan jari telunjuk dan jempol tangan kanannya.
Raja Maximilian dan Ratu Elisabeth tertawa melihat gaya Zinnia.
"Maafkan kemarin cucuku membuat kalian tidak nyaman. Sean, ayo keluar. Minta maaf pada Uncle Benji dan Zinnia." Raja Maximilian memanggil sang cucu.
Dari dalam kamar muncul seorang bocah berambut pirang dengan wajah sombong.
Sean Alexander Léopold of Belgium
Zinnia langsung menatap tidak suka.
***
Dubai, UAE
Direndra akhirnya mendapatkan ijin dari Kai Al Jordan untuk meminjam Yacht miliknya. Kerajaan Al Azzam tidak memiliki yacht karena memang Hasyim dan Aisyah tidak menyukai perjalanan jalan-jalan ke laut.
Kedua cucunya pun lebih memilih meminjam ke keluarga Al Jordan jika membutuhkan yacht. Dan kini kedua bersaudara itu pun hendak menikmati acara berlayar bersama dengan para pengawal yang menemani mereka.
Sesampainya di dermaga milik keluarga Al Jordan, mereka pun memarkirkan dua Range Rover milik Direndra dan milik kerajaan. Setelahnya mereka pun menaiki yacht dengan layar yang sudah disiapkan.
"Mas, kamu bawa papan surfing?" tanya Alaric melihat barang bawaan kakaknya yang sudah terdapat di yacht.
"Siapa tahu aku mau surfing" jawab Direndra santai.
"Yang mulia, semua sudah siap" ucap kapten kapal.
"Yuk, berangkat Ali!" seru keduanya.
***
Alaric menikmati acara berlayarnya dengan berjemur setelah sebelum mengoleskan semua badannya dengan sunblock.
"Alamat kita bakalan gosong pulang-pulang ini" kekeh Direndra.
"Kan emang kita pengen berlayar" gelak Alaric.
"Iya sih" senyum Direndra yang sudah siap memasang windsurfing dibantu dengan pengawal.
"Jadi windsurfing mas?" tanya Alaric.
"Anginnya bagus, cuaca bagus. Surfing lah!" cengir Direndra.
Gosong lu tar Ndra
"Hati-hati mas" senyum Alaric.
"Oke!" Direndra.
Direndra pun dengan luwesnya memainkan windsurfingnya dengan diawasi oleh pengawal sedangkan Alaric memilih tiduran sembari menikmati matahari. Sudah lama dirinya tidak pergi ke laut dan hanya bersantai.
Ehem... Al, itu bajunya dikancingkan dulu
Suara ponselnya berbunyi membuat dirinya dengan malas-malasan mengangkat nya.
"Halo" sapanya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum Al-Al."
Mata hazel Alaric terbuka sempurna.
"Wa'alaikum salam Benben." Senyum Alaric.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Bonus Alaric ... lagi