The Four Emirs

The Four Emirs
Kedatangan Senna Al Jordan



Duh si pak janggut datang! Alamat aku kena jewer deh! Kenapa nggak Daddy aja yang datang sih! Kalau Opa... beeeeuuu. Bisa diceramahi!


Ayrton menurunkan tubuhnya dari kursi seolah ingin menghilang dari hadapan opanya.


"Maaf, saya main masuk saja. Saya adalah Senna Al Jordan, kakek bocah yang sedang anda interogasi." Senna mengangguk sopan meskipun dirinya boleh dibilang punya kuasa tapi cukup memiliki adab bahwa sedang di ruang interogasi kepolisian Singapura.


"Maaf Emir Al Jordan, jika kami menginterogasi cucu anda" ucap salah seorang penyidik yang berdarah India.


"Tuanku Emir Al Jordan" sapa kepala polisi Singapura, Kapten Raja Bachchan ( nggak ada hubungannya dengan Amitabh Bachchan ) yang berdarah India datang tergopoh-gopoh.


"Ah, Raja. Apa kabar" sapa Senna ramah yang membuat dua bawahannya melongo.


"Maafkan kami Emir tapi kami menjalankan tugas karena cucu anda menghajar orang sampai babak belur" ucap Kapten Raja.


Senna menatap cucunya dengan tatapan menyelidik. "Kamu pukul berapa kali Ay?"


"Tiga kali, Opa."


" Kurang!"


Dan kali ini semua orang melongo. "Astagaaa, Oom Senna!" sungut James Blair. Ya benar anggota keluarganya kacau tapi ini sudah parah!


"Harusnya kamu itu hajar sampai tidak bisa melihat matahari besok pagi! Orang seperti itu tidak pantas hidup, bikin susah orang lain saja! Harusnya menemani Dajjal di neraka!"


"Astaghfirullah! Opaaaa!" rengek Ayrton. "Jangan ketularan Opa Eiji dan Hoshi kenapa!"


"Ehem! Raja, apa kamu tahu alasan cucu aku melalukan penganiayaan?" Senna menatap tajam Kapten Raja dan bawahannya. "Kalian sudah memeriksa CCTV? Latar belakang kenapa si banci itu memulai terlebih dahulu?"


"Kami memang sudah memeriksa CCTV dan kesalahan pada Mr Sanders" jawab penyidik yang berdarah Melayu.


"Lalu? Kenapa cucu saya ditahan?" tanya Senna tenang.


"Ya karena memukul Mr Sanders."


"Membela diri itu termasuk pasal penganiayaan gitu? Cucu saya membela dirinya karena hampir dibunuh! Apa kalian tidak menemukan pisau - pisau yang dibawa oleh para cecunguknya? Apa barang buktinya hilang?" selidik Senna.


Kapten Raja dan dua penyidik itu hanya diam saja.


"Ckckck... ini yang kena cucu saya yang kebetulan memiliki power. Lalu bagaimana dengan orang biasa yang membela dirinya tapi menjadi tersangka? Very very unfair. Kalian dibayar berapa?" tembak Senna. "Sebab setahu saya, kepolisian Singapura termasuk bersih dari acara suap menyuap. Apa karena dia masih ada kaitannya dengan Hendery Wong?"


"Benji! Kamu bawa itu berkas!" panggil Senna dan dari pintu tampak sepupu Ayrton dengan wajah tengilnya.


"Yes Opa. Ini sudah ready" sahut Benji.


"Oom Senna suruh Benji?" tanya James yang merasa kecolongan.


"Kamu kan sibuk, James, aku kan pengangguran sama Benji. Jadi begitu tahu Ayrton terburu-buru terbang ke Singapura, aku dan Benji langsung menyelidiki." Senna langsung duduk manis di kursi yang diberikan oleh Travis. "Ben, kasih lihat semua hasil penyelidikan kamu! Oh perkenalkan ini cucu ku Benjiro Smith, lulusan MIT, hacker dan ayahnya adalah konsultan FBI dan NSA. Benji sih sebenarnya mau direkrut sekalian hanya saja dia masih ingin bebas."


Benji pun memberikan berkas kepada kapten Raja Bachchan.


"Astaga, Emir. Anda benar - benar ..." Kapten Raja kehilangan kata-kata ketika membaca berkas yang diberikan Benji.


"Pintar kan aku" cengir Senna durjana yang membuat The Blair dan Ayrton melengos.


"Apakah ini valid Sir?" tanya Kapten Raja.


"Kamu meragukan kemampuan cucuku? Silahkan kalian membuat penyelidikan independen."


Benji menatap ke James dan Travis. "Aku sudah kirim ke kalian."


James dan Travis lalu membuka iPad masing-masing dan melongo.


"Serius ini Ben?" tanya Travis.


"Serius lah abangku."


Kapten Raja menatap keluarga Sultan itu. "Emir Al Jordan, jika saya memakai whistleblower untuk membangun kasus ini?"


"Terserah! Yang penting kalian segera urus dan bagaimana nasib cucu saya?" Senna menatap ke ketiga orang anggota kepolisian itu.


"Sementara saya berikan tahanan kota sampai saya bisa membangun kasus terhadap Hendery Wong dan keluarganya termasuk Dennis Sanders." Kapten Raja menatap Senna serius.


"Tolonglah, jangan sia-siakan nama baik kepolisian Singapura hanya karena kalian merasa tidak mampu melawan. Jika perlu, kalian meminta bantuan white hat hacker untuk membongkar semua kebusukan oknum parlemen. Kalian bisa meminta bantuan cucuku ini. Dia punya banyak teman disini." Senna menepuk lengan Benji yang berdiri di sebelahnya.


***


"Korupsi?" tanya Ayrton setelah mereka semua terbebas dari tahanan termasuk semua pengawal pribadi pangeran itu.


"Keluarga brengsek semua!" kekeh Senna. "Bisnis kotor tapi gayanya sok suci." Mereka semua sedang berada di presidential suite Marina Bay. Ayrton tampak sudah rapi dan segar.


"Keluarga munafikun" umpat Ayrton.



"Murad ada sama mereka. Kenapa Opa?" tanya Ayrton.


"Opa jadi penasaran sama wanita yang kamu bela-belain sampai terbang ke Singapura gara-gara anaknya bertengkar."


James dan Travis melirik dengan tatapan menggoda ke Ayrton.


"Suruh Murad kesini bawa Mariana dan Zinnia malam ini. Kita makan malam disini." Senna mengucapkan dengan nada tegas.


***


Zinnia melongo melihat seorang kakek dengan jenggot putih yang panjang, tampak ramah menyapanya.


"Halo Zinnia atau Opa panggil Zee saja?" sapa Senna.


"Zee saja Opa." Zinnia lalu menarik celana panjang Ayrton. "Oom, kok seperti papanya pangeran Philip di Sleeping Beauty ya Opanya?" bisik Zinnia di telinga pria itu ketika Ayrton membungkukkan badannya.



King Hubert and Prince Philip


Ayrton terbahak. "Kok bisa-bisanya kebayang itu sih?"


"Apa boy?" tanya Senna.


"Kata Zee, Opa seperti papanya pangeran Philip di Sleeping Beauty."


"Hah? Memang seperti apa?" tanya Senna.


Zinnia menunjukkan di iPad milik Mariana. Senna lalu tertawa terbahak-bahak.


"Cicit Opa lucu sekali! FYI, Opa tidak sependek dan segendut ini." Senna menatap Mariana yang masih berdiri dengan wajah tersenyum manis. "Kamu pasti Mariana, sepupunya Bagas."


"Iya tuan..."


"Panggil Opa Senna, Mariana. Kamu bukan pelayan aku" ucap Senna dengan wajah jenaka.


"Iya Opa Senna" jawab Mariana.


"Pilihanmu bagus juga Ay daripada mantan-mantan mu jaman sekolah!" sindir Senna dengan wajah menyebalkan.


Ayrton hanya manyun.


"Zee, Opa mau tanya, kenapa bisa bilang Opa mirip itu?" Senna menunjukkan gambar di iPad.


"Habis, mirip sih!" gelak Zinnia.


Mariana yang melihat bagaimana Opa Ayrton tampak senang melihat ucapan Zinnia, merasa hatinya menghangat.


"Mariana, ayo duduk disini" ajak Travis.


"Bang, Ayrton beneran jadi tahanan kota?" tanya Mariana.


"Sementara sampai pihak kepolisian bisa membangun kasus terhadap Hendery Wong."


"Memang ayahnya si Inka kenapa bang?" tanya Mariana sambil duduk bersama Travis dan James. Ayrton pun duduk di sebelah gadis itu.


"Korupsi, May" jawab Ayrton.


"Astaghfirullah! Kok bisa parlemen Singapura kecolongan?"


"Karena mainnya rapi tapi aku lebih cerdas!" seringai Benji.


"Eh Ay!" panggil Senna.


"Ya Opa?"


"Kapan kamu boyong Mariana dan Zee ke Dubai biar Opa bisa main sama cicit tiap hari?"


Ayrton dan Mariana melongo.


"Opaaaa!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️