The Four Emirs

The Four Emirs
Naadhira Akhirnya Dirawat



Joey mengobrol banyak dengan Naadhira yang saat ini seperti anak kecil yang bertemu dengan papanya. Banyak hal yang didapat oleh Joey untuk dijadikan referensi buat Dokter Farhan Ali Imran, adik kelas Georgina, istrinya yang bekerja sebagai psikiater di rumah sakit Dubai.


Joey tadi di perjalanan menghubungi dokter Farhan setelah Georgina memberikan background Naadhira. Tadi di istana Al Azzam, Joey menghubungi istrinya untuk mengabari rekannya itu.


Dokter Farhan sendiri bersedia membantu Naadhira dan meminta agar secepatnya gadis itu dibawa ke tempat dia berpraktek.


"Dhira, aku tidak setuju jika kamu bersama dengan pangeran Alaric." Joey menatap gadis manis itu dengan tatapan serius.


"Kenapa pa?" tanya Naadhira.


"Karena aku tidak suka dengannya." Joey menepuk tangan Naadhira. "Dia bukan jodoh kamu, princess."


Naadhira menunduk. "Tapi kata nenek, dia yang dijodohkan pada Dhira."


"Dhira, nenek memang ingin menjodohkan kamu ke pangeran Alaric. Pada saat pangeran Laaric datang ke perkebunan pertama kali, nenek kamu memang sudah merencanakan agar kamu dijodohkan dan kamu menelpon pangeran Alaric karena informasi dari nenek kamu kan?"


Naadhira mengangguk. "Nenek berhasil mendapatkan nomor ponsel pangeran Alaric dari seorang pengawal di istana Al Azzam yang bekerja dengan asisten Maliq."


Joey tersenyum tipis. Akhirnya aku tahu darimana Naadhira mendapatkan nomor pribadi si Al.


"Dhira, nanti ikut papa bertemu dengan kak Farhan ya" bujuk Joey.


"Siapa itu pa?" tanya Dhira bingung.


"Teman papa. Nanti biar Dhira rajin minum obat."


"Dhira tidak sakit pa!"


"Tapi apa Dhira sering merasa ada tidak nyaman? Ada yang sering membuat Dhira terganggu?" tanya Joey dengan sabar. Biarlah gadis ini mengira aku papanya yang penting mau berobat karena aku tidak mau semakin parah bipolar nya.


"Dhira suka sedih tapi tidak tahu apa yang membuat sedih. Pangeran Alaric sekarang membuat Dhira sedih..." Tiba-tiba Naadhira meraung menangis sampai tidak bisa terkontrol hingga Joey harus memeluknya agar emosinya bisa kembali tenang.


Alaric dan Raina yang mendengar tangisan Naadhira bergegas ke belakang namun Joey memberikan kode agar keduanya tetap tenang.


"Aku akan siapkan kepergian Dhira menemui dokter Farhan" ucap Joey ke arah Alaric.


"Nyonya Al Baraka?" Alaric menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


"Saya mengikuti perintah anda, pangeran." Raina menatap Alaric.


"Kita harus ke rumah sakit secepatnya karena aku rasa Naadhira mengalami bipolar lagi" ucap Joey.


***


Mobil Range Rover yang membawa rombongan Alaric tiba di rumah sakit Zulekha Dubai dan Dokter Farhan sudah menunggu disana.



Dokter Farhan Ali Imran


"Selamat siang, dokter Bianchi, yang mulia pangeran Al Azzam" sapa dokter yang usianya di bawah Joey.


"Siang Dokter Farhan. Perkenalkan ini nona Naadhira Al Baraka. Dhira, ini dokter Farhan yang akan memeriksa kamu" ucap Joey lembut.


"Yuk masuk ke ruang praktek." Dokter Farhan pun memberi jalan kepada rombongan Al Azzam.


Keempatnya pun tiba di ruang praktek Dokter Farhan dan sedari tadi Naadhira menggenggam tangan Joey dengan wajah bingung.


"Ini siapa pa?" tanya Naadhira.


"Ini dokter Farhan yang akan memeriksa kamu" ucap Joey.


"Naadhira... atau kakak boleh panggil Dhira?" suara lembut dokter Farhan membuat Naadhira menjadi fokus ke dokter tampan itu.


"Ya?" Naadhira menatap dokter Farhan intens.


"Dhira, ikut kakak sebentar. Kita ngobrol yuk, tuh belakang ada taman. Mau?"


Naadhira menatap Joey yang hanya memberikan anggukan dan gadis itu pun mengangguk ke dokter Farhan.


"Dokter Bianchi, saya ajak Naadhira dulu ya." Dokter Farhan mempersilahkan Naadhira berjalan duluan.


"Silahkan dokter Farhan. Dhira, cerita saja sama kakak Farhan ya" bujuk Joey.


Naadhira mengangguk.


Setelah keduanya pergi, Alaric menatap Joey.


"Ada cerita apa dengan dokter Farhan. Kok langsung bilang 'kakak' ke Naadhira?" tanya Alaric penasaran.


"Dokter Farhan dulu mempunyai adik perempuan yang kasusnya sama dengan Naadhira" jawab Joey.


"Lalu apa yang terjadi?"


Alaric terkesiap. "Astaghfirullah."


***


Dari hasil pemeriksaan, Naadhira harus dirawat inap karena tendensi untuk menyakiti orang lain akan bisa terjadi kapan saja karena dirinya dalam kondisi marah kepada neneknya.


"Dia harus menginap dok?" tanya Alaric.


"Terpaksanya karena kondisi saat ini tidak begitu baik jika pulang ke rumahnya. Dia dalam kondisi marah kepada neneknya karena semua omongannya tidak ada yang bisa dipercaya. Dia tidak percaya pada siapapun dan hanya suara yang ada di kepalanya yang dipercaya."


"Padahal seringnya suara-suara yang ada di kepalanya itu yang mengacaukan semuanya" timpal Joey.


Alaric mengangguk. "Yang baiknya saja dokter Farhan."


"Soal biaya, neneknya bersedia menanggung" sambung Joey.


Setelahnya Joey dan Alaric pun meninggalkan rumah sakit. Dokter Farhan sendiri yang akan menghandle Naadhira agar simptom bipolar dan schizophrenia nya bisa dikendalikan.


Secara umum, pasien dengan gangguan jiwa ini sebenarnya bisa sembuh total, asalkan rajin minum obat, terapi, rutin kontrol ke dokter, serta yang tak kalah penting adalah mendapatkan dukungan dari keluarga terdekat.


***


Sabtu, Acara polo dan berkuda di Palm Melia Desert Polo


Alaric sudah bersiap dengan seragam polo dan kudany Gundala putra petir. Hari ini pria itu harus berhadapan dengan kakak sepupunya Ayrton Al Jordan Schumacher.



Direndra sendiri lebih memilih acara berkuda yang melewati aral rintangan dan untuk pertama kalinya, dia membawa seorang gadis. Aidan dan Thara yang datang semalam, langsung menyukai pilihan putranya.


Kondisi Raana yang sudah membaik, diijinkan Joey dan dokter Ghauth mengijinkan untuk menemani Direndra sekalian menunjukkan salah satu Emir yang mendapatkan gelar eligible bachelor sudah memiliki pasangan.


"Jadi, bagaimana rasanya pacaran dengan anak mommy?" tanya Thara ke Raana yang pagi ini mengenakan gaun bewarna broken white model Sabrina. Thara sendiri memakai Coat dress berwarna navy rancangan Carolina Herrera.


"Direndra... baik, nyo ... eh mommy."


"Dia nggak bikin kamu kesal kan?" selidik Thara mengingat putranya agak kaku mirip dengan ayahnya, Aidan.


"Tidak mommy" senyum Raana.


"Syukurlah sebab mommy takut kalau anak mommy itu nakalin kamu."


Raana menggeleng. "No mommy. Direndra sangat gentleman."


"Dia memang gentleman" senyum Thara.


***


"Bagaimana dengan Naadhira?" tanya Aidan ke Joey saat keduanya duduk bersama sambil menyaksikan pertandingan polo. Acara berkuda Direndra masih satu jam lagi jadi mereka menikmati pertandingan antara dua Emir yang bersaudara.


"Sudah mulai membaik dan Naadhira sudah bisa menerima aku bukan papanya. Dokter Farhan benar-benar mengobati dan menerapi Naadhira dengan baik."


Aidan menghembuskan nafas lega. "Gadis itu sudah tidak tertarik dengan Alaric ?"


Joey menggeleng. "Yang dibutuhkan oleh Naadhira adalah terapi, obat dan kontrol rutin. Sementara memang dia belum boleh pulang dulu karena takut neneknya membuka trigger lama jadi akan sia-sia pengobatan Farhan."


"Sebenarnya kalau sudah didiagnosa penyakit itu, segera untuk diterapi, diobati dan kontrol rutin" gumam Aidan.


"Harusnya begitu tapi tampaknya si nenek punya pola pikir berbeda."


"Yang penting Naadhira sudah berada di tangan yang tepat." Aidan menepuk bahu Joey. "Thanks Joey."


"Anytime Oom."


Tiba-tiba terjadi keributan di arena polo dan tampak Alaric berteriak ke Ayrton dan dibalas oleh kakak sepupunya itu.


Aidan dan Joey melongo melihat keduanya saling ribut dan hampir baku hantam kalau tidak dipisah oleh teman satu timnya masing-masing.


"Itu ada apa sih? Kok malah berantem?" tanya Aidan bingung. Joey sendiri memilih memegang pelipisnya.


Payah kalau sudah panasan tuh berdua!


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️