The Four Emirs

The Four Emirs
Benji Yang Gembeng



Istana Al Jordan


Ayrton dan Mariana bersiap-siap di hari Senin ini untuk kembali bekerja. Hari Minggu kemarin mereka berdua memilih ngumpet di kamar dan untungnya Paradina beserta Ayu, Fatimah dan Tamara paham situasi pengantin baru itu. Akhirnya Zinnia diajak jalan-jalan oleh Reyhan Paradina dan Ayu keliling Dubai.


"Sudah jadi ande-ande lumut nya? Sampai lumutan macam Swamp Thing kalian berdua. Ngendon aja di kamar!" omel Senna judes. Mereka semua ada di meja makan untuk sarapan.


"Lha aku sama Mariana berjuang demi cicit Opa. Bagaimana sih?" sahut Ayrton cuek yang mendapat keplakan dari Mariana dengan wajah memerah.


"Ayrton!" desis Mariana malu.


"Mariana, ini Oma mau bicara. Selama ini kan ibumu sendirian di rumah Jakarta, bagaimana kalau Ayu tinggal bersama kita disini?" tawar Fatimah.


"Tante Fatimah?" Ayu menatap wanita berhijab itu.


"Nggak papa kalau aku sih. Ya nggak Kai?" Senna menatap adiknya.


"Malah lebih ramai istana, lebih seru. Lagipula Zee ada neneknya juga lebih senang. Zee, kalau nenek Ayu tinggal disini gimana?" Kai menatap Zinnia.


"Maaaauuuu! Tapi kucing nenek gimana?" Zinnia menatap Ayu dan Mariana.


"Nanti biar papa urus biar bisa dikirim ke Dubai" ucap Ayrton.


Semenjak resmi menikah, Ayrton membahasakan panggilannya ke Zinnia, papa. Dan gadis cilik itu tampak senang karena ada orang tua lengkap.


"Oom Benji kok nggak disini ya?" tanya Zinnia dengan wajah polos.


"Oom Benji harus menyelesaikan kuliahnya, sayang" jawab Mariana.


Ayrton tersenyum smirk. Benji habis dimarahi Brianna gara - gara kuliahnya keteteran dan sekarang dibawah pengawasan ketat kedua orang tuanya. Dasar bontot! Tinggal skripsi saja malah ditinggal main game online dan heboh bantuin kakak-kakaknya cari aib demi cuan hasil malak.


"Padahal Zee pengen diantar Oom Benji sekolahnya."


"Diantar Oom Enzo saja, Zee." Sebuah suara membuat semua orang yang di meja makan menoleh.



"Lho anak Lanang kok pulang?" tanya Paradina bingung karena setahunya masih ada jadwal balapan.


"Libur mom seminggu buat hormati seniornya Mercedes yang meninggal. Ya sudah aku pulang saja" jawab Enzo sambil menghampiri meja makan. "Zee, mau nggak dianterin Oom Enzo?"


Zinnia menatap Mariana yang memberikan senyuman dan anggukan.


"Mau. Nanti Zee masih lihat taman bermain di sekolah Zee."


"Oke. Tapi Oom makan dulu ya, nanti pingsan. Masa Zee yang nyetir mobilnya Oom Enzo?"


Zinnia cekikikan mendengar ucapan Oomnya.


***


RR's Meal Dubai the next day


Alaric menatap malas wajah adiknya yang memasang wajah drama.


"Ben, itu skripsi kamu, ya harusnya kamu yang buat bukan minta tolong bang Al buatin!"


"Tapi bang Al..." rengek Benji. "Otak Benji mampet, nggak bisa mikir."


"Ben, bang Al itu ambil kuliah jurusan bisnis, kamu jurusan IT. Ya ga nyambung cumiii!"


"Bang Aaaaaalllll... bantuin Benji" rengeknya lebih drama.


"Kenapa nggak minta bantuan Oom Bryan?"


"Daddy lagi mode galak. Yang ada aku disukur - sukuri!"


"Coba minta tolong mas Hoshi? Mas Abi gimana?"


"Jangan mas Hoshi! Pokoknya jangan! Capek hati aku!"


Alaric terbahak. "Ya udah minta bantuan mas Abi atau bang Luca. Kan mereka jago IT. Bang Al yakin mereka berdua itu mau bantuin kamu deh."


***


PRC Group Building New York


"Apaaa? Minta tolong ide bikin skripsi?" tanya Abi ketika mendengar rengekan Benji yang hampir menangis.


"Iya maaaasss... tulungi Benji" rengeknya.


Abi tertawa terbahak-bahak. Adik bontotnya itu memang menggemaskan. "Ya sudah, jam makan siang kamu kemari. Mas Abi bantuin."


"Yay! Makasih mas Abi!"


"Kenapa kamu nggak minta tolong Hoshi? Atau Aji?"


Abi tertawa terbahak-bahak.


***


Jakarta Indonesia


"Haaattssyiingg!" Hoshi merasa tiba-tiba hidungnya gatal saat melaksanakan sholat isya membuat Rina langsung menatap horor ke suaminya.


"Kamu nggak boleh dekat - dekat sama V ya Hosh! Nanti nular-nularin!" ancam Rina galak.


"Aku tuh nggak flu, mama macan. Ini kayaknya aku kena ghibah!" alibi Hoshi.


"Siapa yang ghibah kamu malam-malam begini?" tanya Rina.


"Entahlah tapi yang jelas salah satu sepupu aku!"


***


PRC Group Building


Benji datang ke gedung milik keluarga besarnya dengan percaya diri dan semua orang disana sudah hapal dengan remaja yang sudah menjadi pria dewasa itu.


"Mr Smith, sudah ditunggu Mr O'Grady" ucap Jerry asisten Abi.


"Thanks J" ucap Benji yang berjalan masuk ke dalam ruangan Abi.


"Mas Abi" sapa Benji.


"Hei! Sudah datang. Yuk ke RR's Meal, kita makan disana, ditunggu Rajendra juga." Abi mengambil jasnya.


"Lhaaaa katanya mau bantuin aku bikin skripsi?"


"Sekalian, Ben. Ayo!"



Abiyasa O'Grady



Benjiro Smith


***


New Dusun Al Shiba Dubai UAE


Direndra datang ke dusun Al Shiba yang baru untuk menjemput kekasihnya Raana karena eyangnya kangen dengan gadis cantik itu. Semenjak Nura mengambil profesi bedah, Eyang Aisyah dan Eyang Hasyim kehilangan anak perempuan yang biasa ada di istana Al Azzam.


Para mantan murid - muridnya yang melihat 'Guru Abi' datang langsung mengerubungi Direndra dan menodong untuk didongengkan. Akhirnya Emir Al Azzam itu pun mulai mendongeng salah satu kisah Ramayana tentang Hanoman.


Akibatnya bukan hanya mantan muridnya tapi beberapa penduduk dusun itu ikut terhanyut dengan cerita Emir tampan yang pandai merangkai bahasa hingga membuat orang-orang disana bisa membayangkan isi cerita.


Raana yang sudah siap hanya tersenyum melihat kekasihnya masih asyik dengan para penduduk dusun yang termasuk rakyat kerajaan Al Azzam.


"Insyaallah saya lanjutkan lagi kalau sempat kemari" senyum Direndra tidak mau Raana dan eyangnya menunggu terlalu lama.


"Yaaaaaa padahal penasaran dengan keributan Sugriwa dan Subali" keluh beberapa orang disana.


"Insyaallah jika ada libur nasional, saya akan lanjutkan dongengnya" senyum Direndra.


Anak-anak dan para orang dewasa yang penasaran dengan ceritanya itu pun bersorak. Penduduk Al Shiba sangat menyukai dua Emir cucu Hasyim Al Azzam itu. Direndra dan Alaric adalah pria muda yang tahu tata krama. Mereka benar-benar bisa menempatkan diri jadi siapapun yang akan menjadi pemimpin Al Azzam di kemudian hari, semua orang tidak mempermasalahkan baik Direndra ataupun Alaric yang berkuasa karena mereka tahu, dua kakak beradik itu bukan tipe orang-orang yang haus kekuasaan.


Direndra menatap wajah cantik tunangannya.


"Sudah siap?" tanyanya sambil menghampiri Raana yang sudah memakai gamis navy.


"Alhamdulillah sudah."


"Aku pamit dulu dengan kakekmu dulu baru kita ke istana." Direndra mendatangi rumah Raana untuk berpamitan.


Raana bersyukur mendapatkan calon suami seperti Direndra yang meskipun salah satu orang penguasa Dubai, tapi dia tidak malu berbaur dengan siapa saja bahkan selalu berpamitan meminta ijin kepada kakeknya setiap hendak membawa Raana pergi baik ke istana ataupun jalan-jalan.


Pola asuh dan pola didik orangtua mempengaruhi bagaimana pribadi dan pola pikir seseorang hingga dewasa.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️