The Four Emirs

The Four Emirs
Ditangkap dan Ditahan



Ayrton lalu menghela Mariana dan Zinnia untuk berdiri di belakangnya. Tubuhnya yang tinggi proposional membuat tubuh Mariana tertutup. Melihat pangerannya dalam mode hendak bertarung, satu pengawal mengajak Mariana untuk menyingkir.


"Ikut Murad, May. Biar aku yang hadapi si banci" seringai Ayrton. "Tanganku gatal ini!" ucapnya sambil melemaskan jari jemarinya hingga berbunyi krek krek krek.


"Mari nyonya, ikut saya" ucap Murad mengajak Mariana dan Zinnia yang masih ketakutan.


"Zee, ikut Oom Murad yuk" ajak Mariana.


"Tapi Papa... eh Oom Ayrton?" Zinnia melirik ke arah Ayrton yang berdiri dengan gaya menantang Dennis.


"Oom Ayrton akan baik-baik saja, dia jago berkelahi" ucap Mariana meskipun tidak yakin.


Murad membawa Mariana dan Zinnia ke sebuah tempat duduk yang agak jauh dari Ayrton dan Dennis. Dan dirinya baru mengetahui ternyata tidak hanya ada tiga pengawal yang bersama Ayrton tapi masih ada tiga lagi yang berdiri di belakang mereka.


Mariana menghela nafas panjang. Benar-benar pangeran yang kudu dikawal kemanapun.


***


"Apa maumu Dennis l?" tanya Ayrton santai. Dilihatnya ada sekitar delapan orang yang berdiri di belakang Dennis.


"Keluarga kamu memang brengsek!" umpat Dennis dengan emosi tinggi bahkan dari jarak beberapa meter saja Ayrton bisa mencium bau alkohol.


Mabok lagi ini? Gak seru! Kurang syahdu menghajarnya.


"Keluarga aku brengsek? Ga ngaca kamu? Sebrengsek-brengseknya keluarga aku, tidak ada yang main selingkuh, nipu kepemilikan aset istri dan punya anak haram dimana - mana. Sekarang siapa yang punya anak haram? Hah? Apa perlu aku panggil semua wanita yang punya anak dari kamu?" seringai Ayrton.


"Brengsek! Kamu memang kebanyakan ba*cot!" Dennis memberi kode untuk semua anak buahnya untuk mengeroyok Ayrton tapi dua pengawalnya pun datang membantu pangerannya.


Terjadi perkelahian antara tiga orang dan delapan orang. Ayrton sendiri tampak santai menghadapi dua orang yang membawa pisau. Mengeluarkan baton dari balik pinggangnya, Ayrton menghajar mereka satu per satu dengan tongkat yang bisa memanjang itu, begitu juga dengan pengawalnya yang memakai senjata yang sama.


Melihat delapan anak buahnya terkapar, Dennis pun bersiap-siap untuk melarikan diri tapi berhasil dicekal kerah lehernya oleh Ayrton.


"Sekali pecundang tetap saja pecundang!"


BUGH!


Ayrton melayangkan bogemnya ke wajah Dennis.


"Ini buat Zee!"


BUGH !


"Ini buat Mariana!"


BUGH!


"Dan ini buat aku yang sudah jengkel dari tadi!"


Dennis pun terkapar setelah mendapatkan tiga bogem dari Ayrton. Pria itu lalu membetulkan jas Armani nya dan hanya meringis ketika kepolisian Singapura datang.


"Ditangkap deh gue" ucapnya sambil manyun dan melihat Mariana dan Zinnia yang heboh bertepuk tangan melihat calon papanya berantem.


***


"Ditahan?" seru Mariana ke arah Travis yang hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Mertuanya mengajukan tuntutan ke Ayrton karena penganiayaan dan kepolisian Singapura lebih memihak si mertua. Kalau begini harus Daddy yang urus" cengir Travis.


"Astaghfirullah! Terus gimana? Apa Ayrton digabung sama napi-napi lain?" Mariana tidak bisa membayangkan seorang pangeran satu sel sama penjahat.


"Nggak lah, bisa gegeran internasional. Ayrton sama pengawalnya yang ikut ditahan kok."


Mariana langsung lega. Setidaknya bersama pengawal nya sendiri masih aman lah.


Sedangkan Travis menghubungi sang Daddy, James Blair yang sedang berada di Kuala Lumpur untuk membantu dirinya.


Dulu Hoshi, sekarang Ayrton, besok siapa lagi yang berurusan dengan polisi? Heran, generasiku hobinya berurusan dengan hukum deh.


***


Sabine hanya bisa memandang suaminya dengan wajah judes. Hatinya kesal melihat eskpresi Karl yang tampak santai padahal anak mereka ditahan kepolisian Singapura karena membuat menantu anggota parlemen negara itu masuk rumah sakit.


"Karl! Kamu atau kita nggak pergi ke Singapura gitu? Anak kita ditahan tahu!" omel Sabine kesal.


"Biarkan saja, sudah besar juga" jawab Karl kalem.


"Astaghfirullah! Ini bapak satu ya!" Sabine menghentakan kakinya tanda dia kesal.


"Lagian kalau kita kesana, sama saja main geruduk. Sudah, serahkan saja pada James dan Travis." Karl terdiam saat ponselnya berbunyi dan tampak nama 'Daddy Senna' di layar. "Assalamualaikum Dad."


"Kenapa Dad?" tanya Karl sambil menatap Sabine.


"Biar Daddy yang kesana."


***


Mariana dan Zinnia akhirnya diantarkan pulang oleh Murad, salah satu pengawal Ayrton ke apartemen.


"Nyonya, jangan khawatir, tuanku pangeran sudah menyiapkan saya dan rekan saya untuk mengawal anda." Murad membungkukkan tubuhnya saat tiba di pintu apartemen Mariana.


"Kalian tidur mana nanti?" tanya Mariana bingung.


"Tenang saja nyonya. Anda tidak perlu mengkhawatirkan kami. Yang penting sekarang nyonya dan nona muda beristirahat saja."


Mariana pun mengangguk.


***


Keesokan harinya


Ayrton dengan didampingi James dan Travis menatap dua orang penyidik yang akan menginterogasi Emir Dubai itu.


Mata hazelnya tampak tenang dan tidak ada rasa panik atau apapun karena bukan dia yang memulai.


"Mr Schumacher, bisa anda jelaskan mengapa bisa terjadi pemukulan seperti itu?" tanya salah seorang penyidik.


"Karena saya jengkel!" jawab Ayrton cuek yang membuat James dan Travis melongo.


Astagaaa! Hoshi kedua ini!


"Seriously?" ucap salah seorang penyidik yang berkulit hitam berdarah India.


"Siapa yang tidak jengkel? Sudah tahu si Dennis banci itu salah, masih ngeyel! Orang seperti itu harusnya langsung dikasih tanda mata biar kapok!" jawab Ayrton sambil bersedekap tanpa mengurangi aura pangerannya meskipun wajahnya mulai tampak brewok karena belum bercukur dan kemeja Armaninya kusut.


"Ay, jaga emosi kamu" bisik James Blair yang gemas dengan keponakannya satu itu. James heran dengan generasi anaknya yang bar-bar bahkan generasinya tidak semua bar-bar... sepertinya.


Damn aku lupa Kaia, Aidan dan Arjuna juga bunuh orang! ( Kaia baca : Bonchap My Rey, Aidan dan Arjuna baca : My Cold Chef )


James memegang pelipisnya.


"Apa tuntutan yang diajukan keluarga Wong? Apakah keluarga Sanders mengajukan tuntutan juga?" tanya Travis.


"Tuan Hendery Wong memang mengajukan tuntutan penganiayaan..."


"Kalau begitu kami juga melakukan penuntutan balik. Karena menantu kesayangan Hendery Wong yang pecundang itu hendak membunuh Pangeran Al Jordan."


Suara bariton terdengar di pintu ruang interogasi dan tampak Senna Al Jordan datang lengkap dengan baju Emirnya.



Senna Al Jordan


Ayrton hanya memegang pelipisnya. Berabe kalau Opa sudah datang.


***


Mariana tampak tidak nyaman melihat Murad dan rekannya tampak berjaga di dalam butiknya namun karena permintaan Ayrton dan dirinya harus terbiasa jika nanti jadi menikah dengan pria itu, mau tidak mau harus dinikmati.


Kedua pengawal berdarah timur tengah itu pun menjadi perhatian para pengunjung butik karena memang keduanya tampan khas Arab.


"Mariana, itu berdua siapa?" tanya salah seorang pelanggan.


"Oh pengawas butik" jawab Mariana asal.


"Kalau pengawasnya ganteng gitu, aku mau tiap hari kemari."


Mariana hanya tersenyum.


***


Yuhuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️