
Barcelona Spanyol
Menjelang malam, pesawat Gulfstream milik keluarga McCloud pun tiba di Josep Tarradellas Barcelona–El Prat Airport. Rombongan pun keluar dari pintu VIP setelah pengecekan imigrasi selesai dan sudah ada satu mobil Mercedes V class di depan penjemputan.
"Ayo masuk" ajak Rama ke Georgina yang dijawab anggukan gadis itu.
Georgina langsung menatap pemandangan kota Barcelona dengan wajah kagum. Dirinya sendiri paling banter untuk jalan-jalan ke Wales atau Skotlandia tapi di luar Inggris Raya, Georgina belum pernah meskipun dia selalu memperpanjang pasport nya karena berharap suatu saat bisa jalan-jalan keluar negeri. Tapi ya bukan begini juga!
"Kamu sudah pernah kemari, G?" tanya Rama ketika mereka berada di dalam mobil. Mereka duduk berhadapan hingga memudahkan untuk mengobrol.
Interior Mercedes V class
"Be...belum Mr McCloud" jawab Georgina apa adanya.
"Panggil Rama saja atau ikut Enzo, mas Rama dan mbak Tuti biar gampang. Mr McCloud itu seperti mendengar nama Opa dan Papaku saja" kekeh Rama yang membuat Georgina terpesona.
Pantas Enzo cakep, wong kakak sepupunya ganteng kayak gitu. Eh, lalu apa kabar sepupunya yang lain? Pasti bibit unggul semua secara mereka keluarga Sultan.
"Kamu sudah berapa lama sama Enzo?" tanya Astuti.
"Saya dan Enzo hampir sebulan sih berteman tapi kalau ketemu baru dua kali. Sisanya via telepon atau FaceTime" jawab Georgina jujur.
"Apa yang kamu suka dari Enzo?" tanya Rama dengan wajah jahil.
Ini aku diinterogasi apa ya? "Enzo itu humble. Saya tahu dia pembalap sukses dan kaya tapi melihat dia mau membantu saya di penginapan dan bergaul dengan siapa saja tanpa melihat mereka apa, membuat saya suka." Georgina lalu menunduk.
"Kamu ada yang ingin ditanyakan?" Astuti menatap wajah khas Jepang itu dengan tatapan intens.
"Eeerrr maaf kalau saya lancang. Saya tahu Enzo Emir di Dubai tapi saya tidak tahu seberapa kayanya dia dan keluarganya. Dan saya tadi sempat berpikir bagaimana ke Barcelona nya mengingat penerbangan kemari kan mendadak dan saya takut tidak mendapatkan tiket..."
Rama dan Astuti tertawa geli. "G, kamu itu lucu dan polos. Kami itu punya pesawat pribadi jadi buat apa tiket? Kalau kamu mau tahu seberapa kayanya Enzo, bisa kamu lihat sendiri nanti."
Wajah Georgina semakin melongo. "Duh...kok saya jadi tidak pede ya?"
Astuti memegang lutut Georgina. "Pede lah! Karena Enzo sudah memilih kamu. Yang penting, jangan berubah, tetaplah menjadi Georgina yang Enzo lihat selama ini."
Gadis itu menatap ke wanita ayu di hadapannya lalu mengangguk.
***
Hospital de Barcelona
"Ini si Georgi kemana sih? Mas Rama udah jemput belum?" omel Enzo yang masih harus istirahat di tempat tidur karena untuk menunggu hasil pemeriksaan luka di tangan dan kaki pria itu.
Travis Blair yang sedang ada pekerjaan di Barcelona pun datang membesuk dan menunggui adiknya yang rewel. Semua anggota tim Ferrari sudah pulang kecuali dokter tim sedang berdiskusi dengan tim dokter rumah sakit.
"Kamu tuh rewel banget sih! Apa kata dunia pembalap sok cool, cuek tapi aslinya bayi kalau sudah urusan cewek yang disukai!" balas Travis judes karena risih mendengar rengekan Enzo.
Tadi saat penerimaan piala di podium, diwakili oleh Marcello Ferrari karena Enzo masih mendapatkan perawatan intensif.
"Iisshh kayak bang Travis nggak pernah gitu sama mbak Ajeng!" sahut Enzo sambil manyun. "Lagian kan aku rewel sama keluarga aku juga!"
"Sabar kenapa? Lu kira perjalanan kemari itu cepat apa? Kagak ada pintu kemana saja Doraemon, cumiii !" sarkasme Travis.
"Eh kalau ada pintu itu kan enak ya bang?" cengir Enzo.
"Yang ada rusuh tahu! Yakin dah kamu, Alaric dan Benji bakalan menyalahgunakan pintu itu!" cebik Travis.
"Aaahhh kayak bang Travis ga bakalan begitu?" goda Enzo sambil mengerling usil.
Travis hanya terdiam namun mata birunya menatap ke arah pintu membuat Enzo pun ikut menoleh. Tampak disana Rama, Astuti dan Georgina berdiri dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
"Georgi!" senyum Enzo.
"Kamu tuh! Gak tahu apa semua di penginapan pada cemas melihat kamu tidak berdaya keluar dari mobilmu! Jimmy sampai bingung takut tidak dapat £1,000 nya! Kamu disini malah heboh sendiri!" omel Georgina sambil terus memukul bahu Enzo.
Travis, Rama dan Astuti hanya duduk di sofa sambil menonton keributan dua anak manusia disana.
"Eh! Georgi! Aduh! Sakit sayang!"
Georgina langsung menghentikan keplakannya. "Kamu panggil apa?"
"Sayang. Kenapa?" Enzo menatap gadis itu mesra.
Tak disangka Georgina tiba-tiba menangis dan langsung memeluk Enzo. "Aku kira kamu bakalan mati! Kita nggak jadi kencan!" rengeknya sambil sesenggukan membuat Enzo melongo.
Ketiga kakaknya hanya memasang wajah menyebalkan.
"Nah lho! Kamu bikin anak orang nangis Zo" sindir Rama.
"Tanggung jawab!" sambung Travis.
"Ternyata Georgina lucu juga ya mas" ucap Astuti ke Rama.
Enzo hanya memeluk Georgina sambil mengusap punggung gadis itu dengan tangannya yang masih diperban. "Udah dong Georgi, jangan menangis. Lagian... aku tidak bisa nafas kamu cekek begini!"
Georgina melepaskan pelukannya. "Maaf, maaf."
"Kayaknya Enzo ketemu jodohnya" ucap Travis.
"Tambah lagi calon anggota absurd ke keluarga kita" timpal Rama.
"Jadi maksud mas Rama, aku termasuk absurd?" pendelik Astuti.
Rama mencium kening istrinya. "Kadang - kadang" cengir Rama yang mendapatkan remasan gemas di wajahnya yang tampan dari Astuti.
Georgina mengusap matanya dan Enzo menatap gadis itu antara geli, bahagia dan mesra.
"Ternyata kamu benar-benar mengkhawatirkan aku ya Georgi?" cengir Enzo.
"Mochiron! Baka! ( Tentu saja! Bodoh! )" jawab Georgina sengit.
"Omo, kamu bilang aku 'Baka'?" gelak Enzo.
"Karena kamu memang Baka, Zo!"
"Oh kalian berempat itu! Membuat aku iri saja!" sungut Travis kesal melihat keuwuan saudaranya ke pasangan masing-masing. Pria itu berdiri hendak menelpon istrinya di luar.
"Bang Travis, kenalkan ini Georgina Kazuo. Georgi, ini kakak sepupuku yang lain, Travis Blair." Enzo memanggil Travis yang hendak melangkah keluar kamar.
Georgina menjabat tangan Travis. "Dengar G, Enzo sekarang urusanmu. Aku sudah capek mendengar rengekannya macam bayi. Dan asal kamu tahu, Enzo itu tidak cool - cool banget! Justru dia itu childish puol! Apa kamu yakin mau sama anak ini? Fisik pria tapi dalemnya anak kecil?" goda Travis yang membuat Enzo manyun.
"Selamat malam semuanya" sapa seorang dokter yang sudah berdiri di depan pintu ruang rawat inap Enzo. "Wah, Signor Al Jordan, sudah ditunggui sang kekasih jadi lebih bisa cepat sembuh."
Georgina tidak paham bahasa Spanyol hanya menatap ke Enzo. "Dia bilang apa Zo?"
"Dia bilang aku sudah ditemani oleh kekasihku jadi aku akan cepat sembuh."
Wajah Georgina memerah.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️