The Four Emirs

The Four Emirs
Ketahuan



Direndra terkejut ketika Raana datang ke rumah sewanya dengan membawakan kuali kecil berisikan kare kambing.


"Nona Raana. Ada hal apa kemari?" tanya Direndra.


"Ini kakek mendapatkan kiriman daging kambing dari salah seorang bekas anak didiknya dulu. Dan saya ingin membagikan dengan guru Abi karena pasti belum masak."


"Maksud anda, saya tidak bisa memasak gitu?" Direndra menaikkan sebelah alisnya. Pelanggaran! Masa anaknya Aidan Blair dan Thara Azalea Al Azzam tidak bisa masak!


Raana tertawa kecil. "Bukan, saya tahu guru Abi bisa memasak tapi pasti belum sempat memasak kan?"


Direndra tersenyum. "Iya, saya belum sempat memasak karena sedang menilai hasil test anak-anak." Padahal aku sudah makan Indomie.


"Siapa itu Abi?" tanya Iqbal dari dalam rumah. Pria itu sudah tahu siapa yang datang tapi berpura-pura tidak tahu.


"Nona Raana Badawi, paman" jawab Direndra.


"Oh kok tidak diajak masuk?" Iqbal pun keluar menemui Raana.


"Tidak usah paman" ucap Raana sambil menunduk. "Saya hanya hendak mengantarkan ini saja. Semoga enak."


"Terima kasih ya nona Raana" ucap Direndra sambil menerima kuali tembikar itu.


"Saya permisi dulu, paman, guru Abi." Raana mengangguk.


"Hati-hati nona Raana. Apa perlu diantar Abi?" tawar Iqbal sedikit melirik ke arah pangerannya.


"Tidak usah paman. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Direndra menatap judes ke Iqbal. "Oh please paman" sungutnya usai Raana pulang.


"Kamu tuh kalah sama pangeran Ayrton, pangeran" ledek Iqbal setelah mereka menutup pintu rumah.


"Memang kenapa paman?" tanya Direndra sambil meletakkan kuali kecil berisikan kare kambing.



"Pangeran Ayrton terbang ke Singapura demi Zinnia yang berantem sama temannya."


Direndra melongo. "Anak TK berantem? Zinnia kan cewek. Kok berantem?"


"Zinnia dihina sebagai anak haram."


Direndra terkejut. "Astaghfirullah! Orang tua mana yang mengajarkan anaknya berkata demikian? Kurang ajar!"


"Makanya pangeran Ayrton langsung kesana, pangeran. Jadi sekarang giliran anda yang take action. Dekati nona Raana jika anda memang menyukai dirinya. Masa kalah dengan pangeran Ayrton padahal belum tentu nona Mariana mau menerima dia karena pasti banyaknya pertimbangan." Iqbal terus memanasi Direndra.


Wajah pria tampan itu tampak berpikir. Masa kalah sama Ayrton? Bisa diketawakan ayam Kate Serama peliharaan eyang nanti!



Direndra menatap kare kambing di hadapannya. Besok akan semakin gencar pendekatan aku! Bodo amat soal si Veer!


***


Direndra datang ke sekolah dengan semangat penuh tekad demi bisa pedekate dengan Raana lebih gencar lagi. Namun harapan tinggal harapan... Dilihatnya Raana sedang berduaan dengan Veer. Merasa bukan ranahnya, Direndra pun berjalan melewati mereka dengan agak menjauh.


"Maaf tapi kakekku tidak merestui hubungan kita, Veer." Raana menatap pria itu sendu.


"Tapi apa alasannya? Karena aku orang India?" wajah Veer tampak kesal.


"Bukan itu saja tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan kakek sendirian disini sedangkan aku harus mengikuti dirimu ke India."


"Iya dong! Kamu sebagai istri itu harus ikut suami! Persetan soal kakekmu!" ucap Veer kesal hingga berkata kasar.


PLAK!


Raana menampar Veer. "Tega kamu ya! Dia itu kakekku! Kamu semakin tidak mendapatkan restu jika beliau tahu ucapan kasarmu seperti ini!" bentak Raana. "Akhirnya aku tahu bahwa kenapa Kakek tidak setuju padamu! Karena kamu aslinya kasar! Kita putus!"


Raana berjalan meninggalkan Veer namun pria itu mencekal lengan ramping gadis itu.


"Enak saja kita putus! Kamu itu tidak bisa apa-apa tanpa aku! Apa kamu tidak ingat, berapa sumbangan yang aku kasih padamu agar sekolah kamu bisa berjalan?"


"Aku kan tidak minta! Kamu sendiri yang menawarkan! Dan sekarang kamu mau memintanya kembali? Dasar pria tidak tahu malu!" umpat Raana marah.


Veer hendak memukul Raana dengan tangan kirinya namun sebuah tangan kekar menahannya.


Wajah Direndra sangat dingin saat menatap Veer dan entah kenapa pria itu tampak terintimidasi dengan aura yang dikeluarkan oleh pria tinggi itu.



Sabar bang, nanti ditangkap kayak sepupu lu


"Berapa sih uang yang kamu keluarkan?" tanya Direndra tanpa ekspresi. "$1000? $10,000? $25,000? $50,000?"


"$100,000!" ucap Veer yang membuat Raana terkejut.


"Tidak ada segitu guru Abi! Veer hanya mengeluarkan tidak sampai $10,000!" teriak Raana.


"Aku akan bayar kamu $100,000! Tunai! Hari ini! Asal kamu keluar dari Dubai hari ini juga! Oh, lepaskan tanganmu dari guru Raana!" ucap Direndra dingin.


Veer melepaskan cengkeramannya dan tertawa mengejek ke Direndra. "Memang siapa kamu? Beraninya membual!"


Direndra hanya tersenyum smirk lalu mengambil ponselnya. "Paman Iqbal, suruh paman Fahd datang ke Al Shiba dan bawa uang $100,000 cash! Sekalian bawa dua pengawal karena mereka harus mengawal warga negara India bernama Veer Durmad untuk kembali ke negaranya karena visa yang dipakainya disini adalah visa mahasiswa tapi dia melakukan bisnis dan bekerja sebagai guru. Jangan lupa hubungi pihak kedutaan India, kalau tidak salah duta besarnya adalah itu si Rahul Chander, kakak kelasku di Harvard. Oh pakai helikopter ya!"


Veer dan Raana terbengong-bengong mendengar ucapan Direndra.


"Guru Abi... Siapa anda sebenarnya?" tanya Raana bingung.


"Oh, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya adalah Direndra Giandra Al Azzam Blair. Saya adalah pewaris Al Azzam."


Raana pun langsung pingsan.


***


Raana mendengar sayup-sayup suara pria memanggil namanya namun matanya tampak keberatan untuk membuka.


"Raana? Raana? Ayo bangun, sayang" panggilnya.


Perlahan mata coklat Raana pun terbuka dan tampak di hadapannya Direndra dengan wajah penuh kelegaan melihat dirinya sadar.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar." Direndra tersenyum menatap Raana.


Raana melihat bahwa dirinya sedang tidak berada di rumahnya atau di ruang guru. Ini dimana? Gadis itu tampak terkejut berada di sebuah kamar mewah dengan nuansa hijau dan emas. Ini kamar siapa?


"Ini kamar tamu, Raana. Jangan khawatir" ucap Direndra seolah tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.


Raana masih menatap Direndra bingung. Beneran dia seorang pangeran?



"Alhamdulillah sudah sadar" sebuah suara wanita bernada lembut membuat Raana menoleh. Tampak seorang wanita berhijab dengan wajah teduh dan tidak tampak seperti wanita Arab menatap dirinya dengan lembut.


"Boleh nenek duduk disini?" ucapnya sambil duduk di pinggir tempat tidur. "Bagaimana kepalamu? Maaf tadi cucuku terlambat menahan badanmu jadi kemungkinan agak memar-memar."


Cucu? Mata coklat Raana terbelalak.


"Astaghfirullah! Yang Mulia Permaisuri Aisyah Al Azzam?" bisik Raana.


"Iya sayang. Apakah kamu masih pusing?" tanya Aisyah.


"Saya... Apa benar guru Abi itu adalah pangeran Direndra?" bisik Raana bingung.


"Guru Abi? Direndra? Apa maksudnya?" Aisyah menatap Direndra yang hanya melengos.


"Oh, ini cewek yang bikin kamu main menyamar ke Al Shiba?" sebuah suara pria membuat Raana menoleh ke arah pintu.


Tampak seorang pria tampan dengan kemeja jeans bersandar di pintu.



Siapa lagi itu?


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️