
ICU Bellevue Hospital New York
Joey menatap Alea dan Aminah bergantian lalu tersenyum. "Chris sudah melewati masa kritisnya. Sudah sadar tapi masih lemah..."
"Alhamdulillah..." ucap semua orang disana.
Joey langsung mendelik. "Ini ruang ICU ya saudara - saudara. Kenapa jadi tempat rombongan sirkus? Ayo kembali ke habitatnya!"
PLAK !
"Cucu durjana! Enak saja bilang kita itu rombongan sirkus!" protes Eiji sambil mengeplak kepala Joey.
"Aduuuhh Opaku sayang. Mbok kepala Joey dieman tho..." keluh Joey sambil mengusap kepalanya. "Kalau bukan rombongan sirkus, terus apaan?"
"Rombongan keluarga yang baik hati dan tidak sombong" jawab Eiji yakin.
"Keluarga durjana mah bener" gumam Rhett.
"Aku dengar lho Rhett" kerling Eiji.
"Sudah-sudah, malah ribut. Para Oom Tante, sepupu, keponakan yang tidak ada kepentingan, Monggo tunggu di ruang tunggu atau kembali ke gedung perusahaan masing-masing. Chris sudah membaik, nanti kita kasih update ya" ucap Haura agar tidak terjadi kerusuhan. Terkadang para anggota keluarganya sering lupa tempat kalau sudah berkumpul.
Para sepupu Alea pun pada berpamitan untuk kembali bekerja seperti biasanya, begitu juga para Oom dan Tantenya. Hanya tinggal Eiji, Ayame, Keia, Aminah dan Alea yang tinggal.
Joey dan Haura bersama beberapa tim dokter masih memantau Chris dengan intens dan pihak rumah sakit baru mengetahui jika pria itu adalah calon menantu keluarga Hamilton membuat mereka berusaha keras membuat Chris tetap stabil.
Alea dan Aminah belum diijinkan Joey untuk melihat Chris jadi hanya bisa melihat dari kaca saja. Meskipun lemah, Chris tersenyum melihat dua orang wanita yang disayanginya berada disana membuat semangatnya kembali hadir.
"Oom Eiji nggak pulang?" tanya Keia.
"Lho aku tuh mau sekalian general check up tapi kata Nathan sama Fuji suruh kesini dulu. Ya sudah aku kesini lah. Ya kan Diajeng Aya-aya?" Eiji menoleh ke arah istrinya.
"Iya Kei, kan sekalian kita periksa kesehatan disini. Tadi katanya mau diurus sama Fuji. Kita kemari karena dengar pacar Alea kena tembak, dan disinilah kita" ucap Ayame, Oma cantik kesayangan Hoshi.
"Terima kasih lho Mr dan Mrs Reeves mau membesuk Chris." Aminah menangkup kan tangannya di dada.
"Aminah, aku tahu rasanya mendengar bagaimana anak kena tembak karena dulu aku pun merasakan sepupuku sendiri juga ikut baku tembak bahkan nyawanya nyaris melayang. Dia juga mantan kapten NYPD tapi sudah pensiun. Jangan ditanya bekas peluru di badannya dan nyawa kucingnya yang mungkin tinggal dua atau tiga. Memang resiko pekerjaan di NYPD bagian homocide dan SVU." Eiji menatap wanita berhijab itu dengan lembut. "Jangan khawatir, pelakunya pasti akan tertangkap tapi bentukannya entah jadi perkedel atau bubur, itu yang aku tidak bisa menjamin."
Aminah melongo.
***
Apartemen Keluarga Biri-biri
"Ketemu!" seru Benji setelah dirinya nyaris tidak tidur semalaman hanya karena mencari pelaku penembakan.
"Siapa Ben?" tanya Ezra sambil meletakkan cangkir kopinya yang keempat.
"Namanya Randy Peterson, mahasiswa New York University. Dan dia masih ada hubungan dengan keluarga Rochester."
Ezra melongo lalu tertawa durjana. "This is getting better and better. Sudah waktunya keluarga Hamilton menghajar keluarga tidak tahu malu itu!"
"Oom, kejadian mas Rajendra jangan sampai keulang lho" pesan Benji. ( Baca My Cold Chef chapter Family Feud ).
"Biarin saja. Oom nggak takut!" Ezra menelpon seseorang. "Kamu di masih jadi Rektor di NYU? Aku perlu mahasiswa mu yang bernama Randy Peterson. Kalau dia masuk kuliah hari ini, bawa ke ruangan mu. Aku ada perlu dengannya."
Benji dan Bryan melongo. Ini lagi seenaknya sendiri!
***
Ruang Rektor New York University
Randy Peterson, mahasiswa jurusan bisnis, merasa bingung kenapa dia dipanggil rektor. Begitu juga dengan Richard yang merasa aneh dengan tingkah laku kakak sepupunya yang sering tidak terduga.
Tak lama, pintu ruang rektor terbuka dan tampak Ezra bersama dengan Bryan Smith serta Sam Tutuola dan dua orang anggota kepolisian masuk ke dalam ruangan.
"Kunci pintunya" perintah Ezra dingin yang langsung dilaksanakan oleh seorang officer.
Randy langsung keringat dingin dan wajahnya memucat melihat banyaknya polisi di dalam satu ruangan.
"Kamu rupanya yang bernama Randy Peterson? Anak manja dari keluarga Rochester? Sudah jadi jagoan kamu menembak anggota polisi NYPD yang hendak menangkap kamu karena kamu mau memper*kosa seorang gadis remaja?" ucap Ezra dingin.
"Saya... saya tidak... menembak siapa...pun" ucap Randy gemetar.
"Lalu ini apa?" Sam Tutuola memperlihatkan pistol kaliber 9mm yang diambilnya dari loker milik Randy di ruang ganti baju.
Randy melongo. "Kalian tidak berhak mengambil barangku tanpa ijin!"
"Ohya kami berhak karena kamu terbukti menembak detektif Chris Bradford" ucap Sam Tutuola dingin.
"Really? Kalian tidak akan menemukan buktinya!" ejek Randy. "Karena di kamar mandi tidak ada CCTV!"
"Siapa bilang kita ambil dari kamar mandi bar?" sahut Bryan Smith sambil menyeringai. "Lihat ini." Bryan memperlihatkan semua video CCTV yang didapatnya di jalan. "Ini wajah siapa?"
Randy memucat dan tampak disana Chris mengejar dirinya dan dia mengambil pistolnya lalu menembak Chris yang pertama hanya menyerempet kepalanya yang memakai topi, lalu menembak bahunya tapi Chris tidak menyerah dan akhirnya Randy menembak perutnya yang membuat pria itu tersungkur.
Wajah Ezra tampak mengeras saat melihat bagaimana Chris ditembak seperti itu. Tangannya mengepal menahan amarah.
"Randy Peterson, you have right..." Sam Tutuola membacakan Miranda Right ke Randy tapi ditahan Ezra.
"Sam, terserah kamu habis ini mau menahanku atau gimana tapi berikan aku waktu untuk menghajar anak ini!" ucap Ezra dingin.
"Ezra! Jangan bilang pria yang ditembak itu adalah kekasih Alea?" tanya Richard.
"You're right Rich!" ucap Ezra tanpa mengalihkan pandangannya ke Randy. "Asal kamu tahu, polisi itu sedang bertugas menyamar dan kamu berbuat kriminal! Tentu saja dia hendak menangkap kamu! Tapi apa? Kamu berbuat kriminal lebih banyak lagi! Kamu menembak seorang detektif NYPD! Hukuman di penjara jauh lebih berat dan aku pastikan keluarga Rochester tidak ada yang bisa membantu mu karena mereka tidak hanya menghadapi keluarga Hamilton, tapi juga keluarga Blair, Reeves dan McCloud!"
Wajah Randy semakin memucat.
Tanpa basa-basi Ezra langsung menerjang dan menghajar Randy membabi-buta.
"Gara-gara kamu, putriku hampir kehilangan kekasihnya! Gara-gara kamu seorang ibu hampir kehilangan anaknya lagi!" Ezra memukul Randy yang seorang atlet football tanpa ampun tidak peduli badannya kalah besar.
"Ezra! Sudah! Nanti dia mati!" Bryan, Richard dan Sam menarik Ezra yang sudah kesetanan.
Randy tampak babak belur disana dengan darah kemana-mana.
"Sekarang, kamu boleh bacakan Miranda Right nya meskipun aku tidak ikhlas!" ucap Ezra dengan nafas terengah - engah.
Sam Tutuola pun membacakan Miranda Right. "You have the right to remain silent. Anything you say can and will be used against you in a court of law. You have the right to an attorney. If you cannot afford an attorney, one will be provided for you."
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️