The Four Emirs

The Four Emirs
Kepergok



"Al-al? Benben? Astaga, kalian itu!" kekeh Joey.


"Nggak usah iri bang. Kan Abang juga punya panggilan khusus ke Mbak Gina" pendelik Alaric judes.


"Dih, bontot nya keluarga Blair tuh ya!" Joey menatap Nura yang tertunduk tidak enak dengan konsulennya. "Dokter Jaziri, apa hari ini ada jadwal operasi lagi?"


"Ada dokter Bianchi." Nura menatap Joey sambil menyerahkan ipadnya. "Operasi pengangkatan tumor."


Joey melihat kondisi pasien termasuk dengan hasil USG, Rontgen lengkap.


"Tumornya tempatnya sangat riskan dan sulit. Nanti saya minta anda melakukan prosedur..." Joey dan Nura langsung berdiskusi teknik operasinya meninggalkan Alaric yang menikmati pemandangan gadisnya yang tampak serius.


Ucapan Direndra benar, dirinya jangan terlalu panik mendengar Nura dimarahi Joey karena dia bisa melihat sendiri bagaimana seriusnya Joey jika bekerja dan tidak heran dia dikenal dokter bedah yang kompeten.


"Al, aku dan dokter Jaziri sebentar lagi akan melakukan operasi. Kamu mau nunggu disini atau mau pulang?" tanya Joey setelah mereka selesai berdiskusi.


"Aku pulang saja ke rumah mas Rama."


"Kamu berapa hari disini?" tanya Nura.


"Aku cuma dua hari disini, Benben. Soalnya harus persiapan untuk pertandingan polo besok Sabtu."


"Oh, acara gabungan semua Emir ya?" Nura menatap Alaric.


"Bukannya Direndra yang harusnya ikut?" tanya Joey.


"Mas Rendra ikut kok. Bang Ayrton juga kalau bisa datang setelah kena tahanan kota dari polisi Singapura."


"Lho Ayrton kenapa ditahan?" tanya Nura bingung.


"Berantem sama menantunya salah satu pejabat Singapura" jawab Joey.


"Astaghfirullah."


***


Alaric datang kembali ke rumah sakit dan menunggu disana sampai operasi yang dilakukan Joey dan Nura selesai. Tadi Joey mengatakan bahwa estimasi operasi nya sekitar tiga jam jadi Alaric memutuskan untuk pulang dulu.


Kini pangeran tampan itu tampak menikmati jalan-jalan di rumah sakit dan banyak kaum hawa disana yang memperhatikan dirinya namun Alaric tampak cuek dengan sekitarnya. Dua pengawal bayangannya yang ikut tinggal bersamanya di rumah Rama pun tampak mengikuti dirinya seperti biasa.


Ketika sedang mengambil camilan dari vending machine dekat ruangan Joey, ponsel Alaric berbunyi dan saat melihat nomor asing, dirinya hanya mengernyitkan dahinya.


Siapa ini? Tapi kode negaranya Dubai. Alaric pun menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum" sapa Alaric datar.


"Wa'alaikum salam pangeran Alaric." Sebuah suara wanita membuat Alaric terkejut.


"Maaf, siapa ini?"


"Pangeran, apakah anda lupa. Saya Naadhira dari kebun kurma Al Baraka."


"Dari mana anda mendapatkan nomor ponsel saya?" tanya Alaric bingung karena hanya keluarganya saja yang tahu nomor ponselnya yang pribadi sedangkan nomor ponsel untuk bisnis dan urusan resmi, dipegang oleh salah seorang asistennya. Dan ponsel itu di Dubai.


"Anggap saja saya memiliki koneksi, pangeran. Bagaimana jika kita ngopi bareng? Dubai sekarang sudah berbeda, kita bisa lebih bebas mengobrol."


Alaric terkejut mendengar ucapan Naadhira yang terdengar sangat berani. Aku lebih suka mengejar daripada dikejar.


"Maaf nona Naadhira tapi saya sekarang sedang berada di Amerika Serikat karena ada urusan keluarga..."


"Kapan anda pulang?"


Oh my God! Ini cewek kenapa sih?


"Kenapa anda menanyakan itu?" balas Alaric dingin.


"Oh ya Allah, saya cuma menanyakan hal yang sepele, pangeran."


"Saya yang tidak suka. Maaf tapi saya harus pergi." Alaric mematikan ponselnya dan langsung memblokir nomor Naadhira. Bagi Alaric dan saudara-saudaranya, nomor tidak penting, lebih baik diblok.


"Al!" panggil Joey dengan masih mengenakan pakaian operasi. Wajah pria satu putri itu langsung merasakan ada sesuatu melihat adiknya berwajah jutek. "Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa. Benben mana?" tanya Alaric.


"Namanya Benazir, Al, bukan Benben" gelak Joey.


"Suka-suka aku lah!" sungutnya.


"Dokter Jaziri sedang menemui keluarga pasien."


"Kok bukan kamu, bang?"


"Bang Joey ngerjain Benben?" pendelik Alaric.


"Abang memberikan kehormatan buat dokter Jaziri untuk membuktikan ucapannya tadi saat diskusi karena dia memilih teknik oeprasi yang berbeda dengan Abang. Dan ternyata dia mampu membuktikan, Al. Jadi, kamu itu jangan emosional lah. Abang tahu kamu suka dia tapi jangan terlalu posesif..."


"Abang posesif dengan mbak Gina, begitu juga semua pria di keluarga kita."


"Posesif itu ada batasannya, Al. Ada kalanya kaum wanita ingin diberikan space untuk dirinya sendiri. Kalau saban Abang tegur Dokter Jaziri, kamu tahu terus kamu main kabur kesini, kebangetan lah! Benazir itu artinya 'tak tertandingi atau tidak bisa dibandingkan' berarti dia memang tidak ada duanya. Jadi Al, berikan kepercayaan pada Dokter Jaziri. Kadang-kadang pola pikirmu masih seperti anak ABG kalau soal cinta-cintaan begini" kekeh Joey.


"Habis, aku menunggu enam tahun untuk bisa mengungkapkan perasaan aku pada Benben."


"Kamu baru enam tahun, apa kabar Opa Duncan dan Oma Rhea, Al? Apa kamu beneran serius sama dokter Jaziri?" goda Joey.


"Serius. Bahkan aku akan menikahinya dua tahun lagi." Alaric menatap Joey dengan wajah serius.


"Kenapa nunggu dua tahun lagi?"


"Karena pada saat itu dia sudah selesai mengambil spesialis nya dan begitu dia wisuda, aku akan melamarnya."


Joey tersenyum smirk. "Kamu dengar itu kan dokter Jaziri" ucap Joey ke arah belakang Alaric yang membuat adiknya menoleh. Tampak Nura berdiri dengan wajah memerah.


"Benben..." bisik Alaric dengan wajah memucat.


***


Singapura, Singapore


Ayrton bahagia ketika diberitahu bahwa tahanan kotanya berakhir setelah semua keluarga Wong dan Dennis Sanders menjadi tersangka dan penghuni hotel prodeo.


Namun Mariana malah lebih kasihan kepada Ricky Sanders, putra Dennis dan Inka yang harus dititipkan ke keluarga jauh keluarga Wong.


"Kamu kok malah kasihan sama anak itu?" omel Ayrton tidak suka.


"Kasihan lah Ton, anak sekecil itu seumuran Zee harus dipisahkan dari orangtuanya."


"Itu kan salah orangtuanya, May. Orangtuanya nggak punya otak!" sungut Ayrton.


Mariana hanya tersenyum. "Sabar Ton. Melihat Ricky jadi ingat Zinnia dulu. Apa kamu lupa Zee hadir karena keegoisan kedua orangtuanya dan aku tidak menganggap Zee adalah kesalahan tapi memang almarhum kakakku dan si Indrawan yang salah."


Ayrton menatap wajah cantik di hadapannya. Malam ini Emir Al Jordan Schumacher itu mengajak gadisnya untuk dinner di sebuah restauran romantis. Ayrton ingin berduaan bersama Mariana sebelum esok kembali ke Dubai. Zinnia sendiri meminta untuk menginap bersama Senna dan Fatimah.


"Kamu benar... Anak itu bukan kesalahan. Yang salah adalah orang tuanya." Ayrton tersenyum.


"Ton..."


"Ya?"


"Apa benar kamu serius sama kami?"


Ayrton melongo. "Astaghfirullah Mariana! Apa perlu aku on bended knee sekarang dan melamar kamu sekarang?"


"Oh nggak perlu Ton. Aku hanya...ingin meyakinkan diriku..." Mariana menunduk.


"May, lihat aku." Mariana mendongakkan wajahnya. "Aku sudah mantap bersamamu dan aku akan memboyong kamu dan Zee ke Dubai tapi tunggulah sampai proyek keluarga kami selesai kurang dari lima bulan lagi."


"Iya Ton."


"Lagipula, Opa ku satu itu sudah main klaim Zee sebagai cicitnya. Kalau aku tidak serius padamu, bisa-bisa aku digantung di atas tiang yacht nya." Ayrton pun manyun.


Mariana terbahak. "Aku suka keluargamu."


"Semua orang yang masuk ke keluarga kami pasti akan mengatakan demikian" senyum Ayrton. "Meskipun nantinya kamu akan tahu bagaimana durjananya keluarga aku."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Bonus visual anaknya Luca Bianchi dan Emi Takara Bianchi, si kembar dobel L



Bonus visual Blaze O'Grady Bianchi, putrinya Joey Bianchi dan pasangannya. Kalau ditanya kapan realisasinya... wait and see saja