
Benji datang ke istana Al Azzam dengan muka bantal dan para pengawal nyaris tidak mengenali nya karena pria imut itu memakai kacamata hitam.
"Bang Aaaaaalllll!" teriaknya di dalam istana dan semua pelayan disana sudah hapal jika ada anggota keluarga pangeran datang, pasti akan rusuh.
"Ya Allah Beeeennn! Sini bukan hutaaaaannn!" balas Alaric sambil berteriak juga membuat Joey dan Direndra menutup telinga mereka.
"Bontot ketemu bontot itu Bubrah!" sungut Joey.
"Lagian rumah Segede Gaban!" sahut Benji sambil menuju ruang makan.
"Ini namanya istana, cumiii!" balas Alaric.
Benji... Benji.... istana ya Gedhe dik!
"Apa hal kamu pagi-pagi kemari? Ayrton mana?" tanya Joey.
"Noh, si pangeran galau ribut minta dicariin aib orang" jawab Benji sambil mengambil toast bread dan selai strawberry. "Bang Ayrton kerja lah bang Joey. Emang kayak duo pangeran nggak jelas ini?"
"Enak saja pangeran nggak jelas!" sahut Direndra. "Apa yang kamu dapat?"
"Wani Piro?" jawab Benji cuek yang membuat ketiga kakaknya melotot.
"Kamu minta apa?" tanya Alaric.
"Lamborghini Aventador!"
"Ngelunjak!" seru ketiga kakaknya.
"Diiihhh... kompak deh kalau soal keluar pelitnya!" kekeh Benji sambil memakan rotinya.
"Vespa? Kawasaki? Ducati?" tawar Alaric.
"Deal Ducati ! Kirim ke New York ya!" cengir Benji.
"Deal!" Alaric bersalaman dengan Benji. "Sekarang mana aibnya?"
Benji menyerahkan sebuah flashdisk dan Alaric langsung mengambil MacBook nya. Ketiga pria tampan itu langsung membaca laporan Benji yang santai sarapan dan minum kopi.
"Rumah sakit jiwa?" teriak mereka bertiga.
"Aduh, jangan kencang-kencang saudara-saudara. Aku masih waras kupingnya" sahut Benji.
"Serius nih?" tanya Joey.
"Serius! Itu aku buka pakai jalan haram. Makanya untung elu kagak kepincut bang Al... Bisa mampus lu!" kekeh Benji.
"Direndra..." sebuah suara merdu membuat keempat pria itu menoleh.
"Lho kok keluar kamar? Kenapa?" Direndra langsung menghampiri Raana yang masih pucat.
"Tadi siapa yang teriak - teriak?" tanya Raana dan Direndra langsung menatap dua adiknya dengan judes.
***
Joey akhirnya mendapatkan ijin Raana untuk memeriksa dirinya dan tetap Raana harus masih istirahat seminggu lagi.
"Harusnya kamu tuh bedrest ya cuma gara-gara duo cumi kadut ini makanya jadi bangun" omel Joey ke arah Alaric dan Benji yang manyun.
"Nggak papa, bang Joey. Aku bosan di kamar soalnya... Salam kenal Benji" senyum Raana yang membuat Benji memerah wajahnya.
"Duh, mas Rendra... pintar ih cari cewek" ucap Benji sambil tersenyum gokil.
"Udah, Raana punya aku, jangan main tikung kayak mas Hoshi!" cebik Direndra.
"Yeeee, wong mbak Raana nya juga nggak mau sama aku. Ya kan mbak?" goda Benji yang membuat Raana tertawa.
"Kalian sibuk apa? Boleh aku tahu?" tanya gadis cantik itu dengan lembut.
"Boleh banget soalnya ini soal hidup mati bang Al" kekeh Benji.
"Kupret lu Ben!" balas Alaric judes.
"Raana, apa kamu pernah dengar perkebunan kurma milik keluarga Al Baraka?" tanya Direndra yang duduk di sebelah Raana.
Raana menggeleng. "Aku tidak tahu, Direndra. Memangnya kenapa?"
"Cucu si pemilik ngadi-ngadi bilang calon istri aku!" jawab Alaric kesal. "Dan ternyata dia punya schizophrenia dan bipolar juga."
"Kematian kedua orangtuanya juga karena ulah dia juga" ucap Benji.
"Kok tidak ditahan?" tanya Raana.
"Neneknya menjamin akan membawa kontrol rutin tapi tidak juga. Jadi seperti dimanjakan karena dia adalah keturunannya satu-satunya" jawab Benji.
"Tapi saat aku ketemu, cukup normal meskipun aku merasa ada yang aneh hanya saja saat itu aku tidak tahu si cewek gila itu beneran gila! Neneknya berarti punya andil atas sembuh atau tidaknya si cucu dong ya?" gumam Alaric .
"Ya iyalah bambaaannggg! Gini kok bisa cumlaude di Cambridge sih?" sungut Direndra gemas.
"Lalu Alaric mau apa? Apakah akan menemui gadis itu?" tanya Raana yang entah kenapa dirinya merasa nyaman bersama dengan para sepupu Direndra, padahal baru kali ini dia bertemu dengan Joey dan Benji.
"Tentu saja aku akan kesana sambil membawa bukti-bukti! Aku tidak mau acara besok Sabtu menjadi drama yang akan mempermalukan Al Azzam!" geram Alaric.
"Kalau kesana, hati - hati bang. Soalnya orang seperti itu bisa nekad" sahut Benji.
"Tenang saja, aku akan berhati hati."
***
Alaric datang ke perkebunan kurma milik Al Baraka bersama dengan kedua pengawal setianya dan Joey Bianchi. Entah kenapa, Joey juga penasaran dengan gadis yang mengalami sakit jiwa seperti itu.
Harusnya bisa ditekan dengan obat-obatan tapi ini malah dibiarkan! Joey merasa kesal dengan orang yang menyepelekan penyakit kejiwaan seperti ini karena tidak hanya membahayakan dirinya sendiri tapi juga orang lain.
Mobil Range Rover itu pun tiba di pintu gerbang rumah itu dan melihat siapa yang datang, penjaga pun mengijinkan mobil milik istana Al Azzam pun masuk.
Mendengar Alaric datang, Naadhira pun langsung berdandan cantik demi menyambut pria itu.
***
Alaric dan Joey pun duduk di ruang tamu rumah khas meditarina itu dan kucing British cat milik Raina langsung naik ke pangkuan Alaric.
"Kok bisa kucing itu main nempel sama elu?" bisik Joey.
"Aku pun tak tahu. Sejak aku pertama kesini, Theodore langsung nempel."
"Theodore?"
"Nama kucing ini bang" jawab Alaric.
"Pangeran Alaric" suara Naadhira membuat kedua sepupu itu menoleh dan tampak gadis itu tampil dengan dandanan cantik. "Aku rindu..."
"Stop! Bukan mahram!" potong Alaric tegas.
Naadhira cemberut. "Sebentar lagi kan halal."
Alaric menatap judes. "Siapa yang halal?"
"Kita lah Pangeran Alaric."
Alaric tersenyum smirk. "Kita tidak akan pernah halal karena aku sudah memiliki calon istri."
"Pangeran Alaric! Kita sudah dijodohkan!"
"Siapa yang bilang? Yang ada nenekmu yang minta untuk menjodohkan kamu dengan aku atau kakakku tapi kedua eyangku tidak menerima. Jika kamu tidak percaya, tanya sama nenekmu!"
"Kamu bohong!"
"Buat apa aku bohong ? Ini buktinya kalau tidak percaya!" Alaric lalu menyetel rekaman percakapan dirinya dan eyangnya hanya pada bagian Hasyim mengatakan tidak ada perjanjian antara dirinya dan Raina.
"Kamu bohong! Kamu bohong!" teriak Naadhira.
"Panggil nenek kamu! Biar kamu percaya bahwa setelah bertemu aku, nenekmu membuat cerita bahwa kita dijodohkan padahal kedua eyangku sudah menolak, kakakku sudah menolak dan aku pun sekarang menolak dijodohkan sama kamu!" balas Alaric dengan nada sedikit tinggi.
"Pangeran itu berbohong!" ucap Raina dingin.
"Berbohong? Berbohong? Untuk apa saya berbohong, nyonya Al Baraka. Saya tidak tertarik dengan perjodohan dan maksud saya datang kemari untuk meminta anda jangan mengganggu hidup saya dengan membuat drama bahwa seolah-olah kami dijodohkan padahal tidak ada itu yang namanya perjodohan!" Alaric menatap tajam ke arah Raina. "Bahkan tanpa anda seperti ini pun, saya tidak tertarik dengan cucu anda karena saya sudah punya calon istri."
"Kamu harus menikah dengan cucu saya!" balas Raina.
"Saya tidak mungkin menikahi cucu anda. Pertama, saya tidak mencintainya. Kedua, saya tidak mau memiliki pasangan yang mengalami sakit mental."
"Apa maksud anda pangeran Alaric?" Raina menatap tajam ke arah pria itu.
"Cucu anda menderita schizophrenia dan bipolar serta dia juga memiliki andil dalam kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya."
Wajah Raina memucat.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️