
Dusun Al Shiba, UAE
Kehadiran Direndra dan Raana di dusun Al Shiba membuat heboh semua orang disana yang akhirnya tahu kalau guru tampan itu adalah Emir Al Azzam. Meskipun banyak orang yang kecewa mengetahui penyamaran Direndra dan Iqbal, namun mereka akhirnya bisa memahami karena sang pangeran ingin mengetahui kehidupan mereka seperti apa. Ammar Badawi pun bisa meredam kericuhan yang sempat terjadi karena tahu mereka akan dipindahkan ke tempat yang lebih baik.
***
"Guru Abi atau kami harus panggil yang mulia?" salah seorang muridnya.
"Panggil guru Abi saja seperti biasanya. Kalian lebih nyaman begitu kan?" senyum Direndra.
"Iyaaa!" seru para muridnya.
"Yuk kita lanjutkan pelajaran kemarin yang belum selesai." Direndra pun memulai acara mengajarnya.
***
Dubai, UAE
Enzo menatap sepupunya yang lebih muda setahun itu dengan tatapan kepo. Tidak seperti biasanya pria slengean itu tidak menyapa para pegawai yang memberikan hormat karena itu bukan gaya mereka semua ke para pegawai.
"Apa yang membuat kamu kusut seperti itu?" Enzo meneliti wajah Alaric yang memakai kacamatanya.
"Bukan urusanmu Zo!"
"Pasti seorang wanita! Benazir Nura Jaziri kan?" tebak Enzo yang membuat Alaric menatap tajam.
"Shut up Zo!"
Enzo tergelak. "Inilah yang membuat aku malas berhubungan dengan wanita. Bikin pusing! Memang Nura mau pergi atau sudah sudah bertemu dengan pria lain?"
"Benben pergi ke Harvard... lagi!"
"Bagus dong! Ambil spesialis apa?" Enzo menatap wajah sepupunya.
"Bedah."
"Astaghfirullah! Apa yang terjadi di keluarga kita? Banyak sekali dokter bedah, obgyn, anak, syaraf, jantung, gigi... Lengkap lah! Apa aku perlu mengompori Oom Nathan dan Oom Fuji membuat khusus rumah sakit dengan para dokter semua keluarga Pratomo? Special charge buat para orang kaya di seluruh dunia?" gelak Enzo durjana.
"Enzo! Otakmu kebanyakan kena asap knalpot jadinya error!" sungut Alaric.
"Oh ngomong-ngomong soal asap knalpot, aku datang memberikan tiket VVIP balapan besok. Datanglah bersama Nura." Enzo memberikan dua tiket itu ke Alaric.
"Kok hanya aku dan Nura? Mas Rendra tidak kamu kasih?" tanya Alaric sambil menerima tiket itu.
"Kamu kira aku tidak tahu kalau mas Rendra lagi sama ma Mas Ayrton, sama-sama mengejar wanita?" kekeh Enzo. "Al, dua tahun itu sebentar kok. Harusnya kamu bangga kalau cewek incaranmu itu pintar dan cerdas. Bersabarlah apalagi kamu baru 22 tahun."
"Umur segini mas Jendra sudah nikah sama mbak Aruna" balas Alaric.
"Lha kalau mereka mah kelamaan pacarannya Al."
"Iya ih tapi tidak ada yang bisa memecahkan rekor Opa Duncan dan Oma Rhea. Dari belum lahir sudah dikeep."
Enzo tersenyum. "Mereka memang benar-benar couple goals."
***
Nura melongo ketika Alaraic berdiri di hadapannya disaat dirinya sedang mengepak barang-barang.
"Ada apa Al?" tanya gadis berhijab itu.
Alaric menunjukkan dua tiket VVIP untuk balapan Enzo besok.
"Waaaahhhh! Enzo balapan ya besok? Aku kok lupa!" seru Nura dengan wajah berbinar yang membuat Alaric sedikit cemburu.
"Kamu suka Enzo ya?" selidik Alaric.
"Enzo itu salah satu pembalap favorit aku, Al! Wah berarti besok kita nonton di front row?"
"Front row dan tempat VVIP dimana kita bakalan berbaur dengan banyak orang termasuk para selebritis dan orang kaya lainnya."
Nura hanya mengangguk. "Sebenarnya aku agak rikuh kumpul dengan kalangan atas, Al."
"Hei, tenang saja. Ada aku, Oom Reyhan dan Tante Dina. Kamu nggak sendirian kok!"
"Tapi... apa aku pantas?"
Alaric melongo. "Benben! Kamu itu sahabat mas Rendra, kamu itu dokter pribadi eyangku! Stop berpikir kamu pantas atau tidak!"
Nura tersenyum. "Iya sih..."
"Sudah kamu tenang saja. Ada yang mengatai kamu, akan aku ikat mulutnya pakai tali rafia!"
Nura terbahak. "Astaghfirullah! Al, kok tali rafia? Kenapa tidak ties tali?"
***
Dubai Autodrome
Hari ini keluarga Al Jordan hadir untuk menyaksikan putra mereka, Enzo Al Jordan untuk balapan Formula satu. Reyhan dan sang istri Paradina hadir lengkap dengan jas dan gaun desainer. Reyhan sengaja memakai baju santai bukan baju Emirnya karena malas ribet.
Alaric sendiri sudah datang bersama dengan Nura yang terpaksa mau digandeng karena dirinya takut hilang.
"Kalau kamu tidak nyaman, aku gandeng kamu nanti biar kamu nggak hilang" ucap Alaric sebelum mereka turun dari mobil Aston Martin milik pria itu.
Dan kin Alaric seolah tidak mau melepaskan gandengan tangannya dengan Nura. Gadis itu mengenakan hijab krem, baju bewarna coklat dilengkapi rompi hitam sedangkan Alaric memilih memakai kaus putih dipadukan dengan jaket kulit dan celana coklat.
Keduanya pun duduk di ruang VVIP sembari menyapa banyak kenalan pria itu. Reyhan dan Paradina pun tampak asyik bersosialisasi dengan para kaum elite dan selebriti yang datang untuk menyaksikan pertandingan balap mobil Formula Satu.
"Al..." panggil Nura.
"Apa Benben?" tanya Alaric sambil meletakkan teropongnya agar bisa melihat sepupunya yang sedang bersiap-siap.
"Apakah Enzo akan menang disini?" tanya Nura sambil menatap tempat pit Ferrari, tim Enzo.
"Kalau sampai dia tidak juara di Dubai, malu-maluin!" cebik Alaric. "Ngomong - ngomong, apa kamu naksir Enzo?"
Nura menoleh ke arah pria tampan yang hari ini tampaknya lupa sisiran karena rambutnya berantakan.
"Aku? Naksir Enzo?" Nura terbahak. "Tidak Al! Enzo itu seperti Direndra, Ayrton dan kamu. Kalian semua itu adalah saudara laki-laki aku."
Wajah Alaric berubah menjadi manyun. "Jadi aku cuma saudara laki-laki kamu?"
"Hah? Oh... Oh astagfirullah! Kamu suka aku Al?" Nura menatap adik Direndra itu dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah itu Al?" bisiknya.
"Kenapa? Karena aku adik Direndra? Karena aku lebih muda? Karena aku seperti anak kecil?"
Nura menggelengkan kepalanya. "Suatu kehormatan bagi saya disukai salah seorang Emir yang terkenal di Dubai tapi Alaric, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang anak yatim yang bersekolah dari beasiswa dengan ibu yang membanting tulang untuk menyekolahkan diriku."
"So? Apa itu masalah?" balas Alaric. "Aku malah suka dengan perempuan yang tangguh dan cerdas."
"Oh come on Al..." Nura terkejut ketika Alaric menariknya dan menuju ke sebuah ruangan yang private dan hanya ada mereka berdua.
"Ini dimana Al?" tanya Nura bingung melihat ruangan yang mewah itu lengkap dengan makanan lezat disana.
"Ruangan khusus Emir Al Jordan dan Al Azzam. Enzo yang minta dan tempat khusus kita bisa melihat start dan finish dengan jelas."
"Al soal tadi ... " Nura menatap Alaric.
"To be continued Benben. Balapan segera dimulai." Alaric menatap sepupunya yang hendak masuk ke mobilnya. Balapan kali ini, Enzo start di posisi kedua.
Acara balapan itu pun dimulai dan Reyhan bersama Dina ikut masuk ke ruang khusus. Nura dan Dina pun tampak asyik mengobrol sedangkan Reyhan lebih banyak berdiskusi dengan keponakannya.
Lomba F1 selesai bila sudah menempuh jarak 305 km. Adapun jumlah lap tergantung panjang-pendek lintasan sirkuit.
Waktu total lomba umumnya sekitar 1,5 jam. Lomba terlama di F1 saat ini adalah GP Singapura yang biasa dijalani sampai dua jam.
Enzo sendiri akhirnya menyelesaikan pertandingan setelah 1,5 jam memutari lintasan dan berhasil menjadi juara pertama membuat semua anggota keluarganya bersorak di ruangan.
Pria berbaju balap warna merah itu memberikan kode ke keluarganya yang ada di ruang VVIP.
Alaric melihat bagaimana antusiasnya Nura saat mengetahui Enzo juara pertama langsung memeluk gadis itu.
"Ana ahibuk" bisiknya sembari mencium pelipis Nura.
Gadis cantik itu melongo mendengar ucapan cinta dari Alaric. Mata coklatnya membulat sempurna dan Alaric tanpa peduli sekitarnya mencium bibir gadis itu.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️