
Alaric menatap Nura dengan gugup dan untuk pertama kalinya lidahnya menjadi kelu. Tidak ada Alaric yang cerewet, reseh dan rumpi. Keduanya kini berada di taman rumah sakit setelah Joey meminta keduanya menyelesaikan urusannya.
"Apakah itu benar Al?" tanya Nura.
"A...apanya?" tanya Alaric.
"Kamu. Kamu mau melamar aku?" Tak urung wajah Nura pun memerah.
"I...iya. Aku rencananya begitu. Aku... mau melamar kamu setelah kamu lulus. Tapi apa kamu mau bersabar menunggu?"
Nura memegang tangan Alaric. "Terimakasih Al-al."
"Apa ini artinya" Alaric memegang tangan Nura. "Kamu mau menerima aku jadi kekasihmu?"
"Iya Alaric."
Alaric melongo. "Serius?"
Nura mengangguk.
"Alasannya?" Alaric menatap mata coklat itu.
"Aku diberikan petunjuk. Entah kenapa, setiap hari terbayang kamu, mikirin kamu. Lalu aku minta petunjuk ke Allah SWT dan entah kenapa wajahmu yang selalu terbayang. Jadi kemarin...aku memberanikan diri menelpon dirimu karena... aku kangen dengan suara jutekmu..." Nura menunduk dengan wajah memerah.
Alaric langsung tersenyum lebar. "Terima kasih." Reflek pria itu memeluk Nura erat dan Nura pun tidak menolak.
"Aku menunggu enam tahun untuk berani melakukan ini. Terimakasih mau menerima aku, Benben."
Nura menatap Alaric yang menatapnya penuh cinta. "Al, bisa tidak panggilannya diganti? Jangan Benben lah!"
"Nggak bisa! Itu panggilan spesial aku khusus buat kamu!"
"Ya ampun Al..."
"Kamu sendiri manggil aku Al-al."
"Biar kamu ada saingannya !"
"Ya sudah, itu panggilan spesial kita berdua. Setidaknya masih mending daripada keluarga aku yang lain."
"Memang keluarga mu kenapa?" Nura menatap Alaric yang masih tetap memeluknya.
"Well, Opa Eijiku kalau manggil Oma Ayame itu, Diajeng Aya-aya."
Nura melongo. "Serius?"
"Serius! Diajeng Aya-aya dan kakangmas kalau Opa Eiji bahasain. Terus mas Haris sama Mbak Freya itu cumi dan sotong. Mas Hoshi dan mbak Rina, Muka pucat dan cewek Arab."
Nura semakin melongo lalu tertawa geli. "Ya ampun, Al ... Ternyata panggilan kita masih 'normal' ya."
"Parah kan keluarga aku?" cengir Alaric yang hatinya benar-benar bahagia dan lega karena Nura mau bersamanya.
"Ya Allah... kalian keluarga Sultan yang amburadul."
"Begitulah tapi kami tetap saling sayang dan care satu sama lainnya."
"Kamu pasti bangga dengan keluarga mu ya Al?" senyum Nura yang melihat wajah Alaric melembut saat menceritakan keluarga nya.
"Sangat!"
***
Perkebunan kurma Al Baraka
Naadhira membanting ponselnya ketika mencoba menelpon Alaric tapi tidak tersambung.
Kamu mencoba memblokir aku ya Alaric? Jangan harap kamu bisa seenaknya dengan ku!
Naadhira mengambil ponsel lainnya dan mengambil kartu seluler baru. Setelah mensetting, Naadhira mencoba menelpon Alaric.
Cambridge Massachusetts USA
Alaric baru saja terlelap ketika mendengar suara getaran ponselnya. Dengan wajah mengantuk dia mengambil ponselnya dan mengerenyitkan alisnya.
Lagi-lagi nomor Dubai.
Alaric mematikan panggilannya dan segera memblokir nomor itu.
Lama-lama gue ganti nomor lagi deh!
Alaric langsung mensetting ponselnya dengan memblokir nomor yang tidak dikenal dan unknown.
Pria itu pun bangun untuk mengambil minum dan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, Alaric menuju dapur karena dia lupa membawa gelas berisi air ke kamar.
Benben pasti sudah tidur.
Tadi usai menyatakan jadian menjadi sepasang kekasih, Alaric mengajak Nura makan malam di sebuah restauran India. Joey sendiri sudah kembali ke New York menggunakan helikopter milik PRC group.
Alaric benar-benar sangat bahagia dan bersyukur karena jalan mereka berdua lancar serta tidak senjelimet Direndra yang memilih pelan - pelan mendekati Raana.
Usai makan malam, Alaric mengantarkan Nura ke apartemennya dan menyempatkan mencium keningnya. Setelahnya dirinya pulang ke rumah milik Keluarga McCloud.
Ada apa sih Naadhira mengusik aku? Patut dicurigai deh! Benjiiii, pulang dong!
Udah ganteng Al... Yakin!
***
Singapura, Singapore
"Haaattssyiingg!" Benji yang sedang main game online tiba-tiba bersin dan mengusap hidungnya.
"Kamu flu Ben?" tanya Ayrton.
"Cewek kamu kali yang batin" goda Ayrton.
Benji memerah wajahnya.
"Eh serius lu dah punya cewek?" selidik Ayrton.
"Belooommm!" teriak Benji kesal.
Ayrton tertawa. "Kalau udah, baguslah! Berarti elu normal Ben, kagak belok!"
"Ih, lu nyebelin deh bang!" sungut Benji.
***
Istana Al Azzam Dubai UAE
Direndra berjalan menuju istal istana untuk memeriksa keadaan kudanya, Hurricane, yang akan dinaikinya pada saat acara berkuda Sabtu esok.
Para pekerja disana membungkuk hormat kepada pangeran yang dikenal sangat ramah kepada siapa saja.
"Bagaimana Hurricane, Umar?" tanya Direndra ke pawang khusus kudanya.
"Dalam kondisi prima yang mulia." Umar mengantarkan Direndra yang sudah memakai pakaian berkuda lengkap.
"Kita latihan Umar." Direndra menghampiri kudanya. "Halo njanges. Do you miss me boy?"
Hurricane meringkik senang melihat tuannya datang.
Hurricane, kesayangannya Direndra
***
Iqbal sedang memeriksa berkas-berkas yang hendak dibawa ke kantor AJ Corp ketika seorang pengawal datang menghampirinya.
"Tuan Iqbal, ada seseorang mencari yang mulia pangeran Direndra."
Iqbal mengerenyitkan dahinya. "Siapa namanya?"
"Raana Lamira Badawi dari dusun Al Shiba."
Iqbal tersenyum. "Suruh nona itu masuk. Bawa untuk menemui saya."
***
Raana datang menemui Iqbal yang menyapanya dengan ramah. Bagaimana pun ini gadis yang disukai pangerannya.
"Nona Badawi, apa kabar?" senyum Iqbal.
"Alhamdulillah baik paman Iqbal."
"Ada acara apa nona Badawi kemari?"
"Saya mencari Diren... eh pangeran Direndra karena anak-anak rindu dengan guru Abinya." Wajah Raana memerah ketika mengatakan hal itu.
"Anak-anak atau nona sendiri?" goda Iqbal.
Wajah cantik Raana semakin memerah yang membuat Iqbal tertawa kecil. "Pangeran Direndra sedang latihan berkuda karena Sabtu esok akan ada pertandingan berkuda para Emir Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia."
"Oh. Apakah Diren... eh pangeran adalah seorang yang jago berkuda?" tanya Raana penasaran.
"Anda bisa melihatnya sendiri. Mari saya antar nona Badawi."
Iqbal pun berjalan mendahului Raana yang mengikutinya. Dan Raana tertegun melihat sebuah golf car terparkir disana.
"Kita harus naik ini karena jarak dari istana ke istal agak lumayan nona Badawi."
Raana pun mengangguk lalu masuk ke dalam golf car yang disupiri oleh Iqbal. Perjalanan ke lapangan dan istal kuda itu ditempuh dalam waktu lima belas menit.
Iqbal memarkirkan golf car di sebelah golf car milik Direndra.
"Mari nona Badawi." Iqbal mengantarkan Raana ke tempat latihan Direndra.
Gadis itu tercengang melihat bagaimana dengan lincahnya Direndra membawa kuda hitamnya untuk melompat palang - palang rintangan yang dipasang.
Astaghfirullah, dia benar-benar seperti pangeran kalau begitu.
Direndra selesai menyelesaikan semua rintangan dan terkejut melihat Raana berdiri di pinggir pagar.
"Halo sayang" sapanya yang sukses membuat wajah gadis cantik itu memerah.
Iqbal tersenyum melihat ulah pangerannya yang suka membuat gadis cantik itu tersipu.
"Ada apa kamu kemari?" Direndra sudah turun dari Hurricane dan menghampiri Raana sambil menuntun kuda hitamnya.
"Anak-anak rindu guru Abinya" ucap Raana sambil menunduk.
"Anak-anak atau guru Raananya?" goda Direndra.
Wajah Raana semakin memerah membuat Direndra merasa gemas.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️