The Four Emirs

The Four Emirs
Alaric



Raina menatap Alaric dengan tatapan tidak percaya. Rahasia yang disimpannya rapat-rapat sekian tahun bisa diketahui oleh pria yang diharapkan menjadi suami cucunya.


"Ba...ba... bagimana...pangeran..."


"Bagaimana saya tahu?" seringai Alaric. "Anda kira keluarga saya tidak melakukan screening kepada setiap orang? Anda kira saya hanya pangeran bodoh yang harus menerima perjodohan? Sorry, I'm not that kind person."


"Nenek... Ini gimana? Kenapa pangeran Alaric bilang kita tidak dijodohkan?" rengek Naadhira sambil menggoyangkan tangan Raina.


"Diamlah Dhira!" bentak Raina yang membuat Naadhira tersentak. Joey yang melihat kilatan mata Naadhira yang marah, cukup paham bahwa gadis itu bisa melakukan hal nekad.


Joey bukanlah seorang psikiater atau psikolog tapi kehidupan pada masa sekolahnya yang bertemu dengan berbagai karakter orang dan dirinya dulu juga pada jaman koas di bidang kejiwaan, cukup hapal karakter orang-orang yang memiliki gangguan kejiwaan.


"Naadhira..." panggil Joey lembut dan gadis itu menoleh ke arah pria dengan kulit olive itu. "Yuk ikut saya."


Naadhira mengerjapkan matanya dan wajahnya tampak terkejut melihat Joey. "Pa...pa?"


Joey dan Alaric saling melirik. Keduanya memang tadi sudah melihat seperti apa kedua orang tuanya Naadhira dan wajah Joey dengan brewok tipis memang mirip dengan ayah Naadhira.


"Iya, ikut papa yuk" ucap Joey sambil mengulurkan tangannya.


"Dia bukan papa kamu! Papa kamu sudah mati!" teriak Raina galak.


"Itu papa Dhira!" balas Naadhira dengan tidak kalah galak nya.


Joey pun menghampiri Naadhira. "Yuk ikut papa ke taman belakang, biar nenek kamu disini dulu."


Naadhira menatap tajam ke arah neneknya yang memasang wajah garang. Alaric hanya bisa beristighfar dalam hati dan bersyukur feelingnya tidak salah saat pertama kali bertemu dengan keluarga ini.


Setelah Joey membawa pergi Naadhira, Alaric menatap tajam ke wanita paruh baya.


"Saya tahu kejadian 15 tahun lalu. Naadhira mengalami tantrum disaat keinginannya tidak dipenuhi oleh ayahnya. Saya melihat rekaman CCTV di jalan raya, frame by frame dan tampak Naadhira berusaha untuk merebut kemudi yang dipegang oleh ayahnya dan sang ibu berusaha menenangkan Naadhira tapi yang terjadi adalah mobil itu menabrak sebuah rumah batu dan putra serta menantu anda meninggal di tempat. Dan apa yang terjadi pada Naadhira? Dia hanya diam saja. Pada awalnya saya mengira karena shock tapi seperti anda tahu, jalan raya di Dubai ini semuanya terpasang CCTV dan saya bisa melihat cucu anda tersenyum. Dia bisa tersenyum saat kedua orang tuanya meregang nyawa."


Raina terdiam.


"Seorang psikolog dan psikiater yang memeriksanya sudah mendiagnosis bahwa Naadhira mengalami schizophrenia dan bipolar yang mampu untuk mencelakai orang lain. Anda sudah diminta untuk rutin melakukan pengobatan namun anda tidak melakukannya secara rutin. Secara awam, tidak ada yang salah dengan Naadhira tapi jika dia mendapatkan trigger yang mampu membuatnya mencelakai orang lain, itu yang bahaya. Anda mengira jika terjadi sesuatu, Naadhira bisa bebas karena dianggap tidak waras. Tapi tidak semudah itu!"


Alaric memberikan beberapa berkas.


"Ini daftar peristiwa yang terjadi di perkebunan anda selama beberapa tahun terakhir ini. Entah sudah berapa pekerja anda yang mendapatkan siksaan dari cucu anda tapi anda dengan luwesnya bisa lolos dari jeratan hukum. Dan disaat anda datang ke acara Emir, anda berencana untuk menjodohkan Naadhira dengan kakak saya namun kakak saya tidak menyetujui begitu juga dengan kedua eyang kami."


Alaric menjeda ucapannya. "Dia menderita itu karena tidak mendapatkan pengobatan yang sesuai. Anda seolah ingin menunjukkan bahwa cucu anda baik-baik saja padahal dia seperti bom waktu. Dia sudah menghilangkan dua nyawa, anak anda dan menantu anda. Sekarang anda masih hidup tapi apa yang akan terjadi pada Naadhira jika anda tiada?"


Raina menitikkan air matanya.


"Buang ambisi anda untuk berbesan dengan eyang saya. Setelah saya membaca keadaan Naadhira, saya tahu alasan anda untuk menjodohkan baik kakak saya atau saya... Anda ingin ada yang mengurus Naadhira. Tapi tidak seperti itu caranya. Atau anda ada alasan lain? Naik kasta atau kehidupan sosialita anda bisa menerima anda?"


Raina pun terduduk. "Pangeran Alaric..."


"Bagaimana nyonya Al Baraka?"


"Maafkan saya... maafkan saya... hanya karena saya tidak ingin ada yang tahu kondisi Naadhira."


Alaric mengambil kursi dan duduk di hadapan Raina.


"Anda harus membawa Naadhira berobat. Bukankah dia sempat dirawat di rumah sakit jiwa saat bipolar nya menjadi parah?"


Raina menatap Alaric dengan sangat terkejut.


"Nyonya Al Baraka, anda terlalu meremehkan keluarga saya. Kami tidak sembarang begitu saja menerima orang baru di keluarga kami tanpa ada screening."


Raina menangis. Keinginannya untuk membawa Naadhira masuk ke kawasan bangsawan agar tidak diketahui kondisi mentalnya, sudah pupus.


Alaric memegang tangan Raina. "Jika anda ingin Naadhira sehat, saya bisa membantu. Kakak sepupu saya tadi, Joey Bianchi, mempunyai kenalan psikiater yang bagus di Dubai. Tapi saya minta, anda jangan sekali-kali lalai dalam upaya pengobatan Naadhira."


Raina mengangguk.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Maaf telat karena aku otw ke solo.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️