
Dubai UAE Enam Bulan Kemudian...
Alaric datang menjemput sang tunangan yang sudah menyelesaikan tugas dan kontraknya di Kolkata India. Pria jangkung itu bersyukur gadisnya selamat selama disana tanpa ada rintangan yang berarti.
Bagi Alaric, tidak bisa berada di sisi Nura di sebuah negara yang dia tidak ketahui seluk beluknya, sangatlah membuatnya cemas dan khawatir, takut terjadi apa-apa pada Nura. Ditambah gadis itu tidak sejago sepupunya soal bela diri dan hanya bisa memegang scalpel dibandingkan pistol meskipun Direndra sudah mengajarinya sejak mereka kuliah.
Pesawat pribadi milik keluarga Al Azzam sudah mendarat di Dubai International Airport setelah kemarin keduanya sempat berdebat karena Nura tidak mau memanfaatkan kekayaan Al Azzam Blair.
***
Sehari Sebelumnya...
"Ya ampun Al-al, aku tuh bisa pulang pakai pesawat komersial, nggak usah kirim pesawat Blair dong!" protes Nura yang kesal Alaric main kirim pesawat macam kirim parcel.
"Sudah dong! Nurut lah Benben, biar kamu nggak berdesakan di bandara!" balas Alaric kalem ke Nura yang sekarang sudah bersiap hendak ke Netaji Subhash Chandra Bose International Airport.
"Iya tapi aku tidak mau memanfaatkan kekayaan keluarga kamu..." Nura menatap serius ke Alaric karena mereka sedang melakukan panggilan video.
"Siapa yang manfaatin? Wong aku yang pengen kok! Lagian Benben, kamu manfaatin aku juga nggak papa. Coba, selama kita pacaran, mana pernah kamu minta sesuatu sama aku? Yang ada, aku yang selalu memberikan padamu apa saja. Terkadang aku ingin lho kamu minta sesuatu..."
"Lho aku sudah minta ya Al-al. Aku minta kamu nunggu aku, aku minta kamu itu menjadi pribadi yang lebih dewasa, aku minta kamu nggak brewokan..."
Alaric terbahak. "Barang, Benben. Apalah..."
"Aku minta kamu setia sama aku seperti aku setia sama kamu dan itu sudah kamu buktikan... Bagi aku, itu sudah membuat aku terharu, Al." Nura memandangi wajah Alaric yang sudah mulus lagi.
Yang nggak boleh brewokan sama Benben
"Kan aku cintanya sama kamu, Benben. Sepuluh tahun aku menunggu kamu..." Alaric menatap Nura mesra. "Dari aku usia 16 tahun, aku hanya melihat kamu, Benben."
Mata coklat Nura tampak berkaca-kaca mendengar ucapan Alaric yang membuatnya melambung. "Terima kasih Al-al."
"Aku mungkin mirip dengan para sepupuku, kalau sudah suka, akan aku kejar terus. Banyak orang cinta pertama tidak akan bertahan lama tapi rata-rata keluarga aku seperti itu. Kecuali kedua orangtuaku yang nikah gara-gara mas Jendra tapi karena jodoh, Alhamdulillah awet sampai sekarang..." Alaric langsung panik melihat Nura menangis. "Benben, jangan nangis dong!"
"Ini nangis terharu Al!"
"Nangisnya besok aja kalau ketemu biar tambah syahdu..." senyum Alaric.
"Iiissshhh!"
***
Dubai International Airport UAE
Alaric menunggu dengan gelisah kedatangan gadisnya dan tampak mondar-mandir di ruang VIP yang sudah dikosongkan agar tidak ada wartawan atau paparazi yang ingin tahu kehidupan pribadi the last bachelor Emir of Dubai.
Meskipun sudah banyak yang tahu Alaric sudah bertunangan dengan Dokter Benazir Nura Jaziri, tapi tetap saja banyak pihak ingin mengetahui seperti apa gadis yang bisa menaklukkan hati Emir bontot itu.
Alaric memang berusaha untuk menjaga hubungan pribadinya ke ranah publik seperti halnya ketiga kakaknya. Bagi Alaric, cukup Keluarga besarnya yang tahu hubungannya dengan Nura seperti apa.
Tak lama Nura pun masuk bersama dengan kedua pengawalnya Farah dan Parvani. Wajah gadis itu tampak sumringah melihat siapa yang menjemputnya. Tanpa sadar, Nura menghambur ke pelukan Alaric yang langsung memeluknya erat.
"I miss you so much!" ucap Alaric penuh perasaan. "Habis ini kamu bersama aku kan?"
Nura mengangguk. "Aku nggak kemana-mana lagi Al, hanya berada di sampingmu."
"Alhamdulillah."
***
Aidan dan Thara Blair memenuhi janjinya untuk melakukan acara lamaran ke ibu Nura yang meminta acaranya dibuat sederhana agar lebih nyaman. Dan Thara pun meminta agar ibu Nura tidak memikirkan biaya pernikahan yang semuanya akan ditanggung oleh keluarga Blair.
Acara lamaran memang hanya keluarga Blair inti yang datang termasuk Kaia dan Rhett yang mendampingi adik mereka. Aidan memang meminta gerombolan sirkus hanya datang saat akad nikah dan resepsi karena dia tahu entah generasi keempat atau kelima kalau sudah rusuh, benar-benar tidak lihat tempat.
Alaric tersenyum menatap Nura yang pagi ini memakai gamis bewarna peach dengan hijab senada sedangkan dirinya memakai jas bewarna hijau.
Yang mo ngelamar
Wajah Nura tampak manyun melihat Alaric yang sepertinya lupa mencukur brewoknya. Meskipun tipis tapi Nura maunya Alaric tampak mulus seperti biasanya.
"Kok nggak dicukur sih?" tanya Nura sambil mengelus rahang Alaric.
"Lupa! Kamu tuh nggak tahu aku gugupnya kayak apa hari ini. Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya kesampaian juga melamar kamu lengkap dengan keluarga inti aku" jawab Alaric sambil tersenyum.
"Eh kalian berdua! Acara dulu baru mesra mesraan!" tegur Direndra yang datang bersama Raana dan putra mereka Damian.
"Akhirnya ya Nura, kita jadi ipar" senyum Raana sambil cipika cipiki.
"Hampir, kan belum ijab baru lamaran" potong Direndra. "Akhirnya sobat jadi ipar ya Nura. Yang sabar ya hadepin si bontot." Direndra memeluk Nura hangat layaknya seorang sahabat.
"Thanks Rendra, aku udah tabah kok hadapi Alaric" senyum Nura. "Ih Damian kok jadi mirip kamu Ndra?"
"Anaknya siapa juga, Nura. Kamu tuh ya aneh deh!" kekeh Direndra usai melerai pelukannya ke sahabatnya sejak kuliah di Harvard.
"Raana, kamu nggak protes?!" Nura menatap istri Direndra itu.
"Nggak lah. Kan mas Rendra memang ganteng..." gelak Raana.
"Iyalah! Bagi istrinya itu paling ganteng cuma suaminya. Kalau sampai bilang orang lain ganteng, bisa bahaya dunia persilatan!" celetuk Alaric.
"Siapa yang bilang?" Direndra menatap Alaric bingung karena istilah itu memang turun menurun.
"Oom Ezra."
***
Acara lamaran kali ini lebih menjurus rencana pernikahan Alaric dan Nura karena keduanya sendiri sudah bertunangan dua tahun lalu. Para orang tua lebih memilih mengatur acara dan jadwal serta tanggal baiknya. Dan disepakati acara akan dilaksanakan dua Minggu lagi.
Alaric dan Nura sudah meminta untuk tidak terlalu mewah seperti jaman Direndra karena mereka ingin lebih humble.
"Padahal kamu bontotnya kami lho Al. Nura pasti kan ingin pernikahan yang mewah..." Aidan menatap keduanya.
"Papa, aku dan mas Al hanya ingin ijab qobul yang sakral dan khidmat di kelilingi keluarga besar saja sudah cukup. Resepsi tidak perlu semewah Direndra karena bagi kami, sederhana berkesan itu lebih kena..." ucap Nura.
Alaric melongo mendengar panggilan baru Nura membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Al? Kamu kenapa?" tanya Nura ke arah Alaric.
"Kamu tadi bilang apa?"
"Cukup ijab qobul..."
"Bukan yang itu! Sebelumnya! Kamu panggil aku apa?" desak Alaric.
"Mas...Al... Kenapa?" Wajah Nura memerah.
"Aku suka..."
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️