The Four Emirs

The Four Emirs
Mempelajari Situasi



Ayrton dan Mariana kini berada di dalam ruang kerja gadis itu dan Mariana duduk di sofa dengan dipeluk oleh calon suaminya.


"Ada apa May? Siapa yang menelpon kamu?" tanya Ayrton lembut.


"Ibunya si Indrawan."


Ayrton mengerenyitkan dahinya. "Nenek yang tidak mengakui Zee?"


"Iya."


"Mau apa dia? Mengambil Zee?" tanya Ayrton.


"Worst. Dia tahu kamu seorang Emir, keluarga Al Jordan dan meminta kompensasi."


"What the f***! Kompensasi? Memangnya Zee barang?!" amuk Ayrton. "Kemana dia saat Zee lahir? Dia sendiri kan yang tidak mau mengakui Zee anak Indrawan! Setelah tahu Zee hendak kita adopsi resmi, minta kompensasi? Son of the b1tch!"


"Makanya tadi aku ngamuk, Ton. Mentang-mentang kamu kaya raya, mereka berlagak mau melepaskan Zee karena merasa masih ada darah keluarga Priyatna. Padahal mereka sendiri yang tidak mengakui Zee dan aku ada bukti hitam diatas putih termasuk tanda tangan diatas meterai."


"Dimana semua berkas-berkas Zee?" tanya Ayrton.


"Aku bawa dan ada di rumah kamu." Mariana melihat bagaimana rahang Ayrton mengeras pertanda dia marah. Mariana sangat bersyukur mendapatkan calon suami seperti Ayrton yang sangat melindungi dirinya dan Zee disaat semua orang berpaling kecuali ibunya dan keluarga Bagas dan keluarga Sisil.


Soal Bagas, pria itu sangat mendukung hubungannya dengan Ayrton karena pria itu bisa diandalkan dan Mariana membuktikan dengan bagaimana keluarga Ayrton membela dirinya dan Zinnia di depan publik.


"Tapi kamu harus ingat, Na... keluarga Ayrton itu kalau kumpul, nggak ada akhlak! Sama sekali! Mereka kalau sudah meledek itu menjurus menghina, menistakan dan membuat nyesek dada!" ucap Bagas dengan wajah memelas saat mereka bertemu di Singapura karena setiap weekend selalu menemui Safira yang masih kuliah disana.


"Iya mbak. Harus tabah kalau mau masuk ke keluarga aku. Apalagi yang namanya mas Hoshi dan mas Bima. Dua orang itu minus akhlak! Meskipun masih mending mas Bima sih cuma sama-sama nggak ada filter tuh mulut!" timpal Safira.


"Apa hanya mereka berdua?" senyum Mariana karena setahunya Ayrton dan Benji juga sama.


"Well sebenarnya hampir semua sih kalau sudah kumpul kacau, nggak generasi ketiga, keempat sama generasi aku" ucap Safira sambil manyun.


"Yang perempuan, apa sama?" tanya Mariana.


"Paling kacau tuh mbak Freya, yang lain sih kalem-kalem."


"Kalem tapi mematikan Na" timpal Bagas. "Semua wanita di keluarga Clumsy tuh jago tembak dan bela diri semua, kecuali Anadhita ya?" Bagas menoleh ke istrinya.


"Hu um. Dhita tidak pernah mau ikut bela diri soalnya dia mau jadi dokter bedah, takut tangannya kenapa - kenapa kalau cidera. Jadi dia memilih menembak dan memanah."


Mariana melongo. "Apa aku harus belajar menembak?"


"Mbak Mariana nggak usah! Kan pengawalnya mas Ayrton banyak, dan aku yakin anak Jerman itu pasti bakalan ngelindungi mbak" senyum Safira.


Mariana tersenyum mengingat percakapannya dengan Bagas dan Safira. Sisil malah dengan heboh mendukung hubungannya bersama Ayrton.


"Biar aku bisa pedekate dengan Enzo" gelaknya.


"Itu sih mau kamu! Belum tentu Enzo mau sama kamu, Sil" kekeh Mariana.


"Kita lihat saja!"


Diantara keluarga Hadiyanto, hanya keluarga Bagas dan keluarga Sisil yang dekat dengan keluarganya. Apalagi setelah Mareta membuat masalah, semakin menjauh lah keluarga yang lain ditambah Mareta dan Indrawan meninggal serta meninggalkan seorang bayi yang diasuh Mariana dan ibunya, Ayu, semakin menjadi.


Tak heran Bagas dan Sisil sangat melindungi Ayu, Mariana dan Zinnia agar tidak diganggu baik dari keluarga Priyatna maupun keluarganya sendiri.


"May, kamu melamun?" Ayrton mengelus pipi Mariana.


"Aku hanya teringat saat bertemu dengan Bagas dan Safira sebelum aku kemari" senyum Mariana.


"Mereka bilang apa?"


"Safira tepatnya yang bilang kamu akan melindungi aku." Mariana menatap Ayrton.


"Tentu saja aku akan melindungi kamu dan Zee karena kalian berdua adalah segalanya buatku" ucap Ayrton tegas.


Mariana memeluk Ayrton. "Terima kasih."


"Kamu tahu?" Mariana mendongakkan kepalanya.


"Bagas cerita banyak sebelumnya jadi aku bertekad tidak akan ada orang yang akan mengganggumu termasuk keluarga aku sendiri."


"Kalau Hoshi dan Bima mengganggu?" cengir Mariana.


"Gampang! Aku tinggal ngadu ke mas Abi biar mereka berdua disuruh gelut di Dojo" gelak Ayrton.


"Astaghfirullah! Kalian tuh!"


"Sekarang yang penting, nanti malam, kita pelajari semua berkas soal Zee dan kita copy lalu kirim ke bang Travis."


"Setelah itu?" Mariana menatap Ayrton cemas.


"Kita tunggu. Sampai sejauh mana mereka akan bergerak. Ohya, nanti malam ceritakan semua siapa itu keluarga nya si Indrawan."


***


Istana Al Jordan


Jam sembilan malam setelah Zinnia tidur bersama dengan BESTie berbulunya, Chibi, Karupin dan Rag, Mariana berkumpul bersama dengan keluarga besar Ayrton.


Mengambil tempat di ruang tengah, semua orang menunggu cerita Mariana dan bagaimana seorang nenek tanpa malunya meminta kompensasi atas cucunya yang tidak diakui dari lahir.


"Ini surat pernyataan bahwa keluarga Priyatna tidak mengakui Zinnia sebagai anak Indrawan, lalu ini surat pelepasan hak warisan Zee karena bukan cucu keluarga Priyatna..."


"Memange sugihe sak Piro tho?" celetuk Paradina. Siapapun tahu wanita anggun itu masih ada darah ningrat kerajaan Jogjakarta dan memiliki banyak bisnis keluarga disana.


"Kalau dibandingkan bisnis Tante, ya jauh" senyum Mariana.


"Halah, mung sakmono wae Wis kakehan gaya! ( Halah, cuma segitu saja sudah kebanyakan gaya ). Kemaki!" umpat Paradina.


"Jeng, sudah nggak usah ngomel" kekeh Reyhan yang gemas dengan istrinya. Paradina memang dikenal wanita anggun khas priyayi tapi sama seperti dengan ipar-iparnya yang keturunan Pratomo, wanita berwajah khas Jawa ningrat itu bisa bar-bar juga.


"Lha Wis, nganyeli! ( Habis, nyebelin ). Gumun aku Ono Simbah ngedol putune ( Heran aku, ada nenek menjual cucunya )."


Senna, Kai, Fatimah dan Tamara cekikikan mendengar menantunya ngomel-ngomel. Karl dan Sabine hanya menggelengkan kepalanya sebab Dina kalau sudah marah, ngomelnya pakai bahasa Jawa.


"Jadi, mereka itu sebenarnya hanya ngadi-ngadi supaya dapat duit dari kita? Tidak semudah itu Férguso!" cengir Karl.


"Sebenarnya Zee mendapatkan nama Priyatna itu kan dari darah dan gen saja, yang insyaallah nggak ikut bosoknya tuh keluarga sana, tapi hubungannya hanya itu. Mereka yang menolak, mereka yang memutuskan hubungan darah itu jadi sudah tidak ada hak sok ngaku-ngaku" ucap Kai santai.


"Yang penting berkas-berkas ini aku copy dan aku kirim ke Travis buat jaga-jaga kalau mereka nekad. Ngomong-ngomong keluarga Priyatna bisnis nya apa?" Ayrton menoleh ke arah Mariana.


"Oom Denny pegawai pemerintah kota Bandung, Tante Santi anak juragan beras yang sawahnya tersebar dimana-mana tapi gayanya sok sosialita. Maunya serba wah, serba mewah" ucap Mariana.


Ayrton langsung sumringah. "Aku akan mencari tahu keluarga Priyatna itu. Meskipun semua berkas ini sudah kuat, tapi kalau kita memegang kartu As mereka, akan lebih mantap lagi!"


"Memangnya kamu bisa cari Ay?" tanya Sabine.


"Benji lah! Ngapain aku?" jawab Ayrton sambil nyengir.


"Duasar!"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️