The Four Emirs

The Four Emirs
Rencana Benji dan Travis



Masih di Indramayu, Jawa Barat


"Ben, kamu punya tabungan berapa?" tanya Travis ke Benji usai mereka berghibah dengan ibu pemilik warung.


"Banyak sih bang..." jawab Benji yang sekarang giliran dia yang menyetir.


"1 juta, ada?" tanya Travis.


"Ada lah bang. Di dompet juga ada sejuta."


"Ben... Dollar, bukan rupiah."


Benji pun nyengir. "Bang Travis kan tahu berapa sih duit kita semua?"


"Iya sih Abang juga tahu duit lu banyak tapi kan Abang tanya dulu. Kalau sawah si nenek gayung kita ambil gimana?"


"Ternyata otak gue sama elu sama ya bang?" seringai Benji.


"Bagi dia kan uang segitu udah banyak tuh. Memang dia punya berapa hektar yang tersisa?"


"Ambil saja iPad ku bang, buka file 'nenek gayung' dan semua data ada disana."


Travis pun mengambil iPad Benji. "Password?"


"Benjiganteng digabung B nya huruf besar."


Travis melirik. "Narsis amat lu!"


"Kan aku memang ganteng" kekeh Benji.


Travis pun membuka folder nenek gayung dan mulai mempelajari semuanya.


"Pasaran tanahnya berapa ya?" tanya Travis. "Coba aku telpon si Jenny, broker area Jawa Barat." Travis pun menelpon teman brokernya dan mulai menghitung-hitung jika diambil sekian hektar berapa harganya.


"Ben, duitmu kalau jadi ambil separo dari ini pas tuh $1 juta. Lu mau nggak jadi juragan beras?" goda Travis.


"Kenapa nggak elu aja bang yang ambil?"


"Eh kenapa nggak Ayrton aja yang ambil ya... Buat Zee?" Travis menepuk jidatnya. "Tapi jangan sampai mereka tahu."


"Naaaahhhh itu! Bisa saja sih nanti ambil pakai duit aku terus mas Ayrton tinggal ganti."


"Tapi sawah itu dikelola dulu sama Ayrton baru dikasih saat Zee dewasa dan nanti separo lagi kita ambil buat Sinta, adiknya si nenek gayung atau anak cucunya. Itu pun kalau mau sih..."


"Bang, mending ambil separo dulu terus langsung dibalik nama ke Zee dengan wali mas Ayrton."


Travis dan Benji saling nyengir satu sama lain. "Kita licik juga ya?"


"Nggak licik, bukan cucu dan murid Opa Javier" gelak Benji.


***


Benji dan Travis tiba di sawah milik Santi Priyatna dan bertemu dengan pengawas disana dan mereka membenarkan bahwa sawah itu memang awalnya hendak dijual tapi Santi berubah pikiran karena hendak mendapatkan uang dari orang Dubai.


"Jadi mereka berharap dari uang kompensasi Zee, Ben" senyum Travis.


"Berapa pak penawarannya?" tanya Benji.


Pak pengawas itu menyebutkan nominalnya dan Travis hanya tersenyum. Ngemplangnya banyak banget! Dikira kita nggak tahu harga apa ya.


"Baik pak. Kalau memang mau dijual, bisa hubungi saya." Travis memberikan kartu namanya yang biasa bukan Blair anda Blair agar tidak menjadi asas Pemanfaatan.


"Baik pak Travis."


Keduanya pun berpamitan dan menuju mobil Innova milik kantor Travis ketika sebuah mobil Range Rover masuk ke area rumah pengawas. Dari mobil itu turunlah seorang pemuda yang usianya sepantaran dengan Ayrton dengan wajah songong.


"Bule mana lu? Bisa bahasa Indonesia kagak?"


"Lha situ bisa bahasa Inggris kagak?" balas Benji dengan bahasa Indonesia.


"Ben..." Travis memberi kode ke Benji.


"Pak Yahya! Itu siapa sih ? Bule main kesini?"


"Kagak pernah diajarin sopan santun bener deh tuh anak!" sungut Benji tertahan.


"Oh itu mas Travis mau cari sawah buat bossnya" jawab pak Yahya.


"Oh nggak dijual chuy! Sudah kalian pulang saja!" usir pria itu.


"Pak Irwan, tidak boleh gitu sama tamu" tegur pak Yahya.


"Suka-suka aku lah! Sawah-sawah gue juga."


"Kalau begitu, kami permisi pak Yahya." Travis pun berpamitan.


"Mangga pak Travis. Pak Benji."


Travis dan Benji pun masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.


"Fix bang, kita harus ambil sawahnya buat Zee!" ucap Benji dengan geram.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Maaf terlambat, nanti lanjut lagi.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️