The Four Emirs

The Four Emirs
Bonchap - Benji dan Geun-moon Part 2



Setelah acara melihat sunrise di Cadillac Mountain, para pria generasi kelima Pratomo pun melakukan foto ramai - ramai untuk diperlihatkan ke istri masing-masing. Benji tampak bahagia atas perlakuan semua kakak sepupunya yang meskipun sering menistakan dan membuatnya ingin menangis, tapi Benji bisa merasakan bagaimana sayangnya mereka kepadanya.


"Terimakasih membawa ku ke tempat yang indah seperti ini. Dan aku menjadi semakin bersyukur, aku dilahirkan di keluarga durjana, gesrek, Membagongkan, sering tidak jelas maunya apa, suka bikin aku nelangsa..."


"Hei! Hei! Kamu itu memuji atau menghujat kakak-kakakmu Benjiro Smith?" hardik Hoshi tidak terima.


"Ish belum selesai, mas Hoshi! Sabar dulu! Tapi dibalik semua kelakuan minus akhlak kalian, semua pria disini adalah kakak-kakak terbaik aku, dan aku bisa merasakan bagaimana sayangnya kalian padaku apalagi saat aku dikeroyok, aku hampir desperate soal skripsi, serta dukungan kalian aku dan GM sampai kami menikah. Kalian semua selalu ada baik saat senang maupun susah. Aku benar-benar... sangat beruntung..." Air mata Benji mengalir dan membuat semua pria disan terharu.


"Ya ampun Ben... Kamu membuat kami terharu..." Joey mengusap matanya yang basah.


"Kamu tuh sadar nggak sih bikin kita mewek, bontot!" hardik Bima.


Luca memeluk Benji. "Kamu adalah bontot kami yang tersayang. Kamu dan Alea, adalah adik yang kami pikirkan apakah mendapatkan pasangan yang baik atau tidak. Dan kami bersyukur, kamu mendapatkan Geun-moon, Alea mendapatkan Chris yang sayang dengannya. Kami juga beruntung memiliki adik seperti kamu. Kapan lagi bisa menistakan kamu?"


Benji terbahak dalam tangisnya.


Hoshi gantian memeluk Benji. "Biarpun mas Hoshi sering menoyor kamu, tapi kamu tahu kan kami semua sayang kamu? Lagipula, kepada siapa kami butuh mencari aib kalau tidak sama kamu meskipun endingnya kamu malak!"


Benji pun manyun. "Kreatifitas dan energi mencari aib itu harus dihargai!"


"Iya daaahhh" sahut kakak-kakaknya yang lain.


"Udah yuk, kita turun. Pulang ke pasangan masing-masing. Yang jomblo, harap disegerakan mencari pasangan ya?" Abi menoleh ke arah Adrian Ramadhan, Tristan Neville dan Fathir Hassan.


Tiga pria beda karakter itu hanya melengos.


***


The Ritz Carlton Hotel New York


Menjelang sore, bis yang membawa para pria paripurna itu pun tiba di hotel tempat Benji menginap. Beberapa diantara mereka, kembali ke rumah masing-masing bagi yang domisili di New York sedangkan yang lain menuju mansion Blair dan Hamilton tempat mereka menginap selama di New York.


Benji pun naik ke lantai tempat honeymoon suite nya dan langsung memencet bel kamarnya. Geun-moon membuka pintu kamar itu sambil tersenyum manis.


"Capek?" tanya wanita berambut hitam panjang itu.


"Lumayan. Mana aku tahu kita harus hiking, GM. Tahu sendiri aku paling payah naik gunung" keluh Benji sambil masuk ke dalam kamar.


"Mandi dulu Ben, aku sudah siapkan baju ganti. Kamu mau makan di hotel atau kita jalan-jalan?"


Benji menatap horor ke istrinya. "Makan di hotel saja! Dan aku minta tolong padamu yang menjadi istriku..."


"Apa itu?" Geun-moon tertawa geli melihat wajah suaminya yang menurutnya menggemaskan.


"Tolong Pijatkan kakiku..." pinta Benji memelas.


Geun-moon tertawa terbahak-bahak.


***


Malam ini Benji dan Geun-moon memilih makan malam di kamar mereka. Dirinya benar-benar lelah apalagi sebelumnya sibuk mempersiapkan acara pernikahan dengan Geun-moon yang membuat waktu istirahatnya berkurang.


"Enak GM?" tanya Benji saat mereka makan malam.


"Enak. Kalian ngapain saja pas ke gunung?"


"Menyaksikan sunrise. Duh GM, coba kamu disana... Baguuusss banget!" Benji memperlihatkan foto - foto disana.


"Kapan-kapan kita kesana ya Ben. Tapi kamu harus sedia obat gosok supaya kakimu tidak pegal" senyum Geun-moon. "Nanti aku pijatin. Ngomong-ngomong apa kamu jarang berolahraga kah?"


"Iya deh" senyum Geun-moon yang hapal omelan Benji.


"Kamu sudah selesai makannya?" tanya Benji sambil melirik piring makan Geun-moon yang sudah bersih.


"Sudah. Kamu juga sudah kan? Sini, aku bawa keluar biar nggak berantakan disini." Geun-moon pun menata piring-piring kotor itu dan meletakkan di luar kamar mereka lalu menutup pintu kamarnya. Wanita itu pun mencuci tangannya lalu menghampiri suaminya yang sedang melamun di balkon.


"Kamu kenapa Ben?" tanya Geun-moon yang berdiri di sebelahnya.


"Memikirkan semua anggota keluarga aku."


Geun-moon menatap Benji. "Apakah di keluarga kamu lagi ada masalah?"


Benji tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "No, Puji Tuhan. Kami bahkan semakin solid dan sayang satu sama lain meskipun saling menistakan itu seperti wajib hukumnya ..."


Geun-moon mencium pipi Benji. "Aku suka dengan keluarga mu. Semalam saat kalian para pria pergi, aku berkumpul dengan para wanita di keluarga mu. Dan ternyata, para wanita sama rusuhnya" gelak Geun-moon.


"Pada cerita apa?" tanya Benji.


"Well, mbak Gandari cerita bagaimana dirinya sekarang ketularan bar-barnya mas Abi, lalu para istri Emir juga bercerita kehidupan mereka yang menjadi jauh berbeda terutama mbak Georgi yang kadang kangen kehidupannya di Silverstone jadi mas Enzo suka mengajak liburan dua Minggu disana sambil memeriksa penginapan miliknya."


"Mbak Georgi memang orangnya humble. Kamu tahu, waktu mas Enzo kecelakaan di Barcelona, mas Rama yang jemput sama mbak Astuti sampai tepuk jidat saat mendengar mbak Georgi bertanya kok nggak pesan tiket pesawat."


Geun-moon melongo. "Apa mbak Georgi nggak tahu seberapa kaya kalian?"


"Nggak kayaknya. Dikira punya uang tapi tidak sebanyak yang dikiranya. Tante Paradina sampai geli saat dengar ucapan polos mbak Georgi" kekeh Benji.


"Mas Enzo beruntung mendapatkan istri yang tidak silau harta padahal kita sama-sama tahu, mas Enzo kayanya minta ampun dari balapan saja."


"Itulah yang membuat mas Enzo jatuh cinta sama mbak Georgi. Dan sekarang mereka punya dua anak kembar, Ken dan Kalila." Benji menatap wajah Geun-moon. "Dan aku juga merasakan hal yang sama saat tahu kamu juga bukan tipe perempuan matre."


Geun-moon tertawa. "Benjiro Smith, apakah kamu tahu aku sudah kaya dari lahir?"


"Biarpun kamu sudah kaya dari lahir tapi kamu bukanlah perempuan yang belagu. Lagian GM, di keluarga aku, belagu hanya milik mas Hoshi tapi sumbut sih antara mulut, otak dan skill..."


"Mas Hoshi itu memang menyebalkan tapi dia punya cara sendiri untuk menunjukkan sayangnya pada semua saudaranya."


"Iya sih, meskipun awalnya bikin darting..." sungut Benji sambil cemberut.


Geun-moon tertawa kecil.


"Eh, GM. Aku belum unboxing kamu. Sekarang yuk?"


Geun-moon mendelik. "Kamu kok nggak romantis sama sekali sih?"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Sabar unboxing nya gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️