The Four Emirs

The Four Emirs
Pangeran Abal-abal



Pinggiran kota UAE


Alaric menggeber Ducatinya hingga ke sebuah area yang termasuk pinggiran kota dan melihat bagaimana banyaknya perkebunan kurma disana. Alaric belum pernah tiba ke daerah ini karena biasanya dia ke arah Abu Dhabi tapi kali ini dia memilih tempat yang agak jauh.


Pria itu melepaskan helmnya dan memarkirkan motornya. Mata hazelnya menatap perkebunan kurma itu dengan tatapan kagum. Kurma-kurma yang bersiap dipanen, tampak menggoda. Pria itu tampak berjalan-jalan mengagumi rapinya perkebunan kurma itu.



Ketika asyik berjalan-jalan, sebuah suara membuatnya menoleh.


"Kamu ngapain? Mau mencuri ya?" hardik seorang gadis mengenakan hijab.


Alaric melongo. Yang benar saja gue mau maling? Tanpa nyolong, ini perkebunan bisa gue beli kaleee!


"Enak saja mau mencuri! Cuma mengagumi perkebunan kurma. Memangnya kamu siapa?" Alaric menantap tajam gadis jutek itu.


"Aku yang punya perkebunan ini! Kalau kamu bukan pencuri, lalu kamu mau apa?" balas gadis itu dengan nada galak.


"Eh neng!" Gadis itu mengernyitkan keningnya. Neng? Bahasa apa itu? "Dengerin ya! Aku tuh habis touring mau istirahat! Tuh motor aku disana dan itu Ducati! Ducati! Jadi ngapain aku curi kurma kau? Aku jual Ducati aku pasti dapat duit! Enak saja bilang aku maling!" omel Alaric kesal.


"Itu bahasa apa 'Neng'?" tanya gadis itu bingung.


"Bahasa planet Namec! Ya sudah kalau tidak boleh lihat-lihat! Dasar pelit!" sungut Alaric. Moodnya masih berantakan, eh dituduh pencuri pula! Pria itu pun berjalan meninggalkan gadis yang masih berdiri terbengong-bengong.


"Hei!" panggil gadis itu.


"Apa?" Alaric berbalik.


"Apa kamu masih ada hubungannya dengan Vegeta? Sebab di Dragon Ball, dia paling menyebalkan!"


Alaric melongo. "Jadi kamu menyamakan aku seperti Vegeta?"


Gadis itu mengangguk.


"Dengar ya neng! Aku bukan Vegeta tapi aku Trunks! Paham!" balas Alaric judes.


"Hhhmmm rambutmu harusnya dicat ungu kalau memang kamu Trunks" kekeh gadis itu. "Ngomong - ngomong kamu siapa? Kalau memang bukan maling, kamu ngapain sampai kesini?"


"Dibilang aku tuh touring, neng!" Alaric menatap gadis yang memiliki tinggi sekitar 170cm.


"Terus kok sendirian?" balas gadis itu.


"Siapa bilang sendirian? Tuh, aku dikawal dua orang!" Alaric menunjukkan dua orang pengawalnya yang masih setia diatas motor masing-masing.


"Pengawal? Memangnya kamu siapa? Selebriti? Emir? CEO?" tanya gadis itu.


"Kalau aku bilang aku Emir Alaric Al Azzam Blair, kamu percaya nggak?"


Gadis itu menatap Alaric yang memakai jaket kulit lalu tertawa terbahak-bahak. "Kamu tuh kalau mau ngebual, jangan ketinggian dong!"


Alaric hanya mendengus kesal. "Ya sudah kalau tidak percaya. Aku pergi! Assalamualaikum."


Ponsel gadis itu berbunyi dan segera menerimanya.


"Assalamualaikum Nenek... Iya, dia bilang begitu... HAAAAHH?" Gadis itu menoleh ke arah Alaric yang sudah berjalan menuju motornya yang terparkir.


"Hei! Pangeran abal-abal! Kamu dipanggil oleh Nenek aku!" teriaknya yang membuat Alaric semakin manyun.


"Apa kamu bilang?" tanya Alaric sambil berbalik kedua kalinya.


Gadis itu pun berjalan mendekati Alaric. "Kamu ditunggu nenek aku. Oh nama aku Naadhira ngomong-ngomong."


"Aku nggak nanya!" balas Alaric judes.


"Aku laporan!" balas Naadhira cuek. "Ayo ikut aku!" Gadis itu berjalan mendahului Alaric yang memberikan kode kepada kedua pengawalnya untuk berjaga-jaga.


"Pengawal kamu ikut masuk saja. Rumah kami agak jauh."


"Lalu kamu naik apa kemari?" tanya Alaric. "Kalau memang jauh, kamu aku bonceng saja."


"Kamu naik saja Ducati kamu, aku biar naik Saki aku." Naadhira pun menuju ke sebuah motor hitam yang terparkir tak jauh dari Ducati Alaric. Gadis itu pun memakai helm full face nya. "Ikuti aku!"



Alaric melongo tapi langsung memakai helm dan menstater Ducati hitamnya lalu mengikuti gadis itu. Dua pengawalnya pun dengan setia mengikuti pangerannya.


***



Mereka pun masuk dan tampak ada beberapa orang disana yang sedang bekerja lalu lalang membersihkan rumah besar yang lagi-lagi nuansa Mediterania.



Alaric bersama dengan dua pengawalnya pun memarkirkan motor-motor mereka dekat di bawah pohon palem.


"Pangeran, apa pangeran tidak apa-apa ke tempat yang belum pernah kita lewati?" bisik Ahmed salah satu pengawalnya.


"Tenang saja Ahmed. Jika memang berbahaya, kamu tinggal hubungi paman Iqbal dan paman Fahd" balas Alaric sambil berbisik juga.


"Ayo masuk" ajak Naadhira. Gadis itu sudah melepaskan helmnya. "Assalamualaikum" sapanya di dalam rumah.


"Wa'alaikum salam cucu nenek. Sudah dibawa pangeran Alaric nya?" sapa suara wanita dengan lembut.


"Hah? Jadi dia beneran pangeran?" tanya Naadhira bengong.


"Iyalah sayangku. Sudah sana ganti baju! Biar nenek yang menyambut." Wanita yang masih cantik meskipun sudah berumur menyambut Alaric yang berdiri di depan pintu. "Selamat datang pangeran Alaric Al Azzam Blair. Perkenalkan saya Raina Al Baraka, saya nenek Naadhira dan pemilik perkebunan kurma yang pangeran lihat-lihat tadi."


Alaric pun mencium punggung tangan Raina Al Baraka seperti kebiasaannya ke semua orang yang lebih tua darinya. Wanita berhijab itu pun tersenyum bagaimana adab pangeran ini memang tidak tercela.


"Maaf jika tadi saya melihat-lihat perkebunan anda, Mrs Al Baraka" senyum Alaric. "Tapi bagaimana nyonya tahu?"


"Ayo masuk dulu pangeran. Kita ngobrol di dalam" ajak Raina.


Keduanya pun masuk ke ruang tamu yang semuanya bernuansa putih dan coklat.



"Silahkan duduk pangeran Al Azzam." Raina pun duduk di sofa empuk dan tiba-tiba Alaric dikejutkan kedatangan seekor kucing british longhair yang langsung meminta pangku pria itu.


"Oh maafkan Theodore, pangeran. Tapi dia biasanya tidak seperti itu" kekeh Raina.


"Tidak apa-apa Mrs Al Baraka, mungkin karena saya juga bau kucing karena eyang saya juga memiliki beberapa kucing Persia di Rumah" ucap Alaric sambil mengelus kucing berbulu putih itu. "Wah matamu flip flop ya?" Alaric menggendong kucing itu sambil menatap kagum dengan matanya yang berbeda warna.



"Iya pangeran, mata Theodore satu biru satunya hijau kuning tidak jelas" kekeh Raina.


"Lho kok si Theo bisa dekat sama pangeran abal-abal?" celetuk Naadhira yang sudah berganti hijab dengan warna coklat, kaus rajutan putih dan jaket maroon.


"Dhira, ini bukan pangeran abal-abal tapi beneran pangeran Alaric" tegur Raina gemas.


"Habis, tidak kelihatan kalau dia pangeran" ucap Naadhira sambil duduk di sebelah neneknya.


Alaric hanya memicingkan matanya ke arah Naadhira yang dibalas sama oleh gadis itu.


"Bagaimana Mrs Al Baraka tahu saya disana ?" tanya Alaric penasaran.


"Jaman semakin canggih, pangeran. Terimakasih dengan CCTV dan drone." Raina tertawa.


"Oh pantesan!" gelak Alaric.


***



Pangeran abal-abal



Yang manggil pangeran Abal-abal


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️