The Four Emirs

The Four Emirs
Si Tukang Kabur



Dubai UAE


Kedua pangeran tampan itu pulang ke istana Al Azzam dengan kulit tan terbakar matahari bahkan Direndra yang kulitnya mirip sang Oma Rhea, tampak memerah gosong. Kulit putih Rhea memang diwariskan ke Direndra karena Duncan dan Aidan kulitnya tidak terlalu putih untuk ukuran bule. Sebaliknya Alaric mewarisi kulit sedikit Tan seperti sang mommy, Thara.


"Sudah acara ke lautnya?" tanya Hasyim yang sedang membaca buku di ruang tengah bersama dengan Aisyah yang asyik membuat rajutan.


"Sampun eyang. Nih kulit Rendra sampai gosong" senyum Direndra.


"Lho kalian tidak pakai sunblock?" tanya Aisyah menghentikan acara merajutnya.


"Pakai eyang tapi kan memang dasar kulitku ikut Oma Rhea jadinya gampang gosong deh. Beda sama Alaric yang kulitnya ikut mommy."


"Eyang, Alaric besok pinjam pesawat pribadi ya" rayu Alaric ke Hasyim.


"Mau kemana?" tanya Hasyim menatap cucu tampannya.


"Cambridge."


"Inggris? Kamu ambil kuliah lagi?" Hasyim menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan Eyang, Cambridge Massachusetts."


"Harvard?" tanya Aisyah. "Nyusul Nura?"


"Bukan. Mau ngomeli bang Joey."


***


Cambridge, Massachusetts


Alaric tiba di sebuah rumah milik Eiji Reeves yang dulunya dipakai tempat tinggal Hoshi, Rama, Ega dan Arimbi jaman kuliah di Harvard dan MIT. ( Baca Hoshi, My Tiger dan Bara dan Arum Bochap Bima Ke Massachusetts )


Rumah yang sekarang kosong itu hanya rutin dibersihkan seminggu dua kali dan Alaric sudah meminta ijin pada Opa Eiji dan Oom Levi untuk tinggal disana sementara waktu.


"Kalau kamu mau tinggal disana, bersih-bersih lho Al. Jangan berantakan macam abangmu Rama yang males banget beberes" ucap Eiji ketika Alaric menelponnya untuk meminta ijin.


"Ih Opa jangan samain aku sama mas Rama dong! Aku tuh anaknya pembersih lah!" jawab Alaric sambil manyun.


"Kan opa hanya ingatin" kekeh Eiji yang masih betah stay di Jakarta.


Dan kini Alaric memilih menginap di kamar bekas Hoshi yang nuansanya abu-abu putih hitam. Alaric tersenyum ketika melihat foto sepupunya berempat disana dengan pose jelek.


Pose jelek saja kalau pada dasarnya cakep dan cantik, ya tetap saja masih oke.


Pria itu pun mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Kamu dimana?"


***


Singapura, Singapore


Hari Minggu seperti ini, Senna dan Fatimah kedatangan tamu Kapten Raja yang hendak melaporkan hasil penyelidikan Benji yang disinkronkan dengan whistleblower dari pihak pemerintahan.


"Jadi tengah malam tadi kalian menangkap Hendery Wong sekeluarga di Changi sebelum mereka kabur ke Swiss?" tanya Senna.


"Betul Emir Al Jordan. Mereka sudah tahu kebobrokannya terbongkar jadi hendak melarikan diri ke Swiss karena sulit untuk dideportasi. Yang membuat kami geram adalah, istri Hendery Wong memamerkan paspor Swiss miliknya dan ingin terbang kensana sendirian meninggalkan Hendery Wong dan keluarganya."


"Astaghfirullah Al Adzim. Tega ya ada istri seperti itu?" Fatimah mengelus dadanya. "Tapi kalau disini ada suami yang tega meninggalkan istrinya karena takut dijewer."


Senna melirik sambil nyengir ke Fatimah. "Beda cerita sayang."


"Sebenarnya itu salah satu rencana mereka agar uang yang mereka korupsi tetap aman di bank Swiss. Dan pemegang kuasanya kan suami istri itu jadi salah satu ada di Swiss, aman uangnya." Kapten Raja menjelaskan.


"Tapi dia tidak bisa berangkat ke Swiss kan?" tanya Fatimah.


"Tidak bisa nyonya Karena dia pun terbukti menerima gratifikasi."


"Baguslah!" ucap Senna.


"Jadi pangeran Ayrton sudah kami hapuskan tahanan kotanya karena Dennis Sanders pun kami tahan kasus yang sama. Jadi uang gratifikasi itu pun mengalir di rekening menantunya itu. Bukti yang kami dapatkan bahkan dari asisten pribadinya."


Senna dan Fatimah tersenyum lega karena cucu mereka bisa pulang ke Dubai.


***


"Serius banget kamu belajar bahasa Jermannya, Zee?" goda Ayrton melihat calon anaknya asyik belajar bahasa Jerman bersama Benji.


"Gara-gara kemarin mau ketemu dengan yang mulia raja Belgia, aku jadi belajar Oom. Ternyata hampir mirip bahasa Inggris."


Ayrton tersenyum bangga melihat Zinnia adalah murid cerdas. "Oom bangga sama Zee. Cerdas banget."


"Padahal waktu itu aku cuma ngajarin sebentar lho bang tapi memang pada dasarnya Zee pintar anaknya tapi ya habis itu pakai bahasa Inggris lagi soalnya baru itu yang dipelajari Zee" senyu. Benji yang menatap kagum ke keponakannya.


"Bagaimana pertemuan kemarin? Kok pada nggak cerita?" tanya Mariana.


Keempatnya sekarang sedang menikmati jalan-jalan di Singapore Botanic Gardens. Zee memang meminta untuk kesana.



"Lho memang Zee tidak cerita sama kamu saat pulang dari makan siang kemarin?" Ayrton menatap Mariana bingung.


"Nggak tuh Ton. Kemarin pulang diantar sama Benji, langsung minta mandi, sholat bareng habis itu masuk kamar buat bobok" balas Mariana.


"Memangnya kenapa Zee? Benji, apa yang terjadi?" tanya Ayrton.


"Zee ribut sama putra mahkota" kekeh Benji.


"Kenapa kamu ribut sama putra mahkota?" tanya Mariana lembut.


"Zee dibilang centil!" sungut bocah cantik itu.


Ayrton dan Mariana melongo. "Centil? Lha kan memang Zee cantik dan centil" kekeh Ayrton. "Tapi tetap pintar dan menggemaskan." Lanjutnya setelah mendapatkan pelototan calon putrinya.


"Zee nggak centil, Oom!" cebiknya. "Kan kalau anak cewek kan begini. Ya kan Oom Benji?"


"Yoooiiii!" balas Benji.


"Ya sudah, jangan cemberut. Mungkin putra mahkota lagi PMS" timpal Ayrton asal.


"Ayrton!" tegur Mariana sambil menggelengkan kepalanya. "Yang benar saja!"


Benji terbahak. "Tapi memang kok, si Sean itu songongnya amit-amit! Mas Hoshi saja kalah songong."


"Hah? Ada ya yang lebih songong dari si mulut cabe itu?" tanya Ayrton tidak percaya sebab tidak ada yang bisa mengalahkan songongnya Hoshi di generasi kelima klan Pratomo meskipun songongnya sumbut sih.


"Buktinya ada tuh!"


Mariana hanya tersenyum. "Ya sudah Zee, nggak usah dipikirkan. Lagipula kalian cuma ketemu ini saja. Tidak mungkin ketemu lagi kan?"


Zinnia mengangguk.


***


Harvard Square Clinic, Cambridge Massachusetts


Joey tidak heran jika adiknya yang keturunan Emir itu akan datang ke Harvard demi mengomeli dirinya. Alaric memang mirip Hoshi, kalau sudah punya karep tanpa pikir panjang langsung dilaksanakan.


Dasar salah panutan!


"Jadi? Kamu beneran mau ngomeli Abang?" tanya Joey saat keduanya berada di kantin luar rumah sakit.



Joey Bianchi


"Beneran lah!" sahut Alaric.


"Kamu tuh kacau deh Al. Main terbang dari Dubai hanya mau ngomeli Abang?" Joey memang sedang berada di Harvard karena sebelumnya ada panggilan darurat untuk mengoperasi pasiennya.


"Habis Abang tuh main pegang hpnya Benben!" sungut Alaric sambil manyun.



Bocah ngambek. Ya nggak Al?


"Perasaan yang bontot Benji kenapa jadi kamu yang kolokan?" kekeh Joey.


"Hei, aku kan anak bontot di keluarga Blair!" sahut Alaric.


"Astagaaa Alaric!" gelak Joey yang gemas dengan si ganteng yang suka seenaknya sendiri. "Al, kamu itu benar jatuh cinta dengan Benazir tapi cewek mu itu sudah dewasa, bukan anak ABG. Dan sudah resiko dia masuk ke spesialis bedah dengan konsulen Abang. Coba, tanya semua orang yang pernah satu ruangan sama Abang kalau operasi tidak ada yang tidak kena semprot Abang kalau tidak cekatan karena kita itu berjibaku dengan nyawa seseorang."


"Iya, Al tahu cuma kan Abang kalau sudah ngamuk serem."


"Abang kan marah karena ada pasal. Kalau nggak, Abang tuh baiiiikkkk banget! Coba tanya mbak mu."


Alaric mendecih sebal mendengar bagaimana bucinnya Joey ke Georgina O'Grady, istrinya.


"Lho beneran Alaric? Ngapain kamu kesini Al-al?"


Alaric langsung sumringah. "Hai Benben."


Joey melongo. "Al-al? Benben? Nama macam apa itu?"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


Maaf terlambat