The Four Emirs

The Four Emirs
Benben dan Al-Al



Dubai, UAE


"Benben, apa kabar?" tanya Alaric sumringah. Dirinya benar-benar mendapatkan mood boster dari gadis yang sudah mencuri hatinya.


"Kamu dimana?" bukannya menjawab Nura malah bertanya balik.


Alaric mengubah panggilan Nura menjadi video.


"Kamu di Yacht? Punya siapa?" seru Nura tanpa memperhatikan Alaric yang tidak mengancingkan pakaiannya.


"Punya Opa Kai, kita pinjam lah!" jawab Alaric. "Kamu dimana?"


"Di Harvard Square Clinic. Aku dapat konsulen dengan Abang kamu. Gualaknya jadi senior!" sungut Nura sambil manyun.


"Bang Joey?" Alaric terbahak. "Masa bang Joey galak sih?"


"Ish, kamu nggak tahu saja kalau kita lagi di arena ( ruang operasi ). Aku barusan kena semprot dokter Bianchi karena salah jawab." Nura semakin memajukan bibirnya.


"Bang Joey kan maunya kamu tidak melakukan kesalahan, Benben." Alaric membayangkan abangnya yang berdarah Italia itu marah. Pasti sok Mafioso gitu. Joey Bianchi memang seorang dokter bedah yang mumpuni.


"Cuma ya itu. Gualak Al-Al" adu Nura.


"Baru segitu saja kamu udah jiper. Apa kabar kami kalau kena amuk sama para abang-abang. Kamu belum ketemu mas Abi ya. Asal kamu tahu ya, mas Abi itu kalau sudah ngamuk nggak peduli itu saudara sendiri. Mas Hoshi dan mas Bima tuh yang sering kena amuk" gelak Alaric.


"Alaric..."


"Ya?"


"Kok bajunya nggak dikancing?" Wajah Nura tampak memerah melihat perut kotak-kotak pria yang dua tahun lebih muda darinya.


"Kan cuma kamu yang boleh lihat selain keluargaku. Lagian ya Benben, aku tuh di laut, masa iya pakai jas?" goda Alaric yang gemas melihat wajah malu-malu gadis berhijab itu. "Kan kamu dokter, kok bisa malu-malu gitu sih lihat badan orang?"


"Hah?" Wajah Nura makin memerah.


"Kalau kita dah halal, boleh kok pegang" cengir Alaric durjana sembari perlahan membuka kemejanya hingga Shirtless.


"Al-Al Messhuuummm!" Nura langsung mematikan panggilannya.


"Lho? Kok dimatiin? Mau pamer body juga. Benben! Woi!" Alaric mencoba menelpon Nura balik tapi ponselnya tidak aktif. "Ya ampun Ben! Salahnya dimana sih? Kok dimatiin?" teriak Alaric di depan ponselnya.


"Apaan sih dik? Kok teriak-teriak?" tanya Direndra yang selesai windsurfing dengan badan basah kuyup.


"Benben! Curang! Lagi video call malah dimatiin!" adu Alaric dengan wajah dramatis.


"Nggak usah sok imut gitu! Norak!" cebik Direndra sebal melihat adiknya lebay.


"Ayo dong Benben, telpon lagi." Alaric menatap ponselnya sambil manyun.


***


Harvard Square Clinic, Cambridge, Massachusetts


"Apa-apaan sih si Alaric! Main strip*tease aja! Ya ampun otakku kan jadi traveling! Menyesal aku telpon anak itu!" omel Nura sambil menatap ponselnya yang sengaja dimatikan.


Panggilan untuk dokter Benazir Nura Jaziri, ditunggu dokter Bianchi di ruangannya.


Nura melongo mendengar panggilan dari resepsionis dan bergegas menuju ruang kerja Joey yang memang menjadi konsulen adik kelasnya di Harvard.


Setibanya di ruang kerja Joey, Nura mengetuk pintunya dan suara bariton pria itu terdengar mengijinkan masuk.


"Dokter Bianchi memanggil saya?" tanya Nura setelah masuk ke ruangan Joey.


"Dokter Jaziri! Kenapa ponsel anda off? Anda kan tahu sebagai dokter, ponsel dilarang keras offline! Nyalakan segera!" bentak Joey galak. Memang soal pekerjaan, Joey dikenal disiplin dan galak di kalangan rekan kerja dan junior nya tapi mereka mengakui kalau Joey kompeten di bidangnya.


Nura segera menyalakan ponselnya dan segera setelah online, berbagai notifikasi masuk termasuk banyaknya pesan dari Alaric dan Joey.


"Maaf dokter Bianchi, saya angkat..."


"Berikan ponselmu." Joey menatap dingin ke Nura yang kemudian dengan gemetar memberikan ponselnya.


Tampak nama 'Alaric Blair' di layar. Joey mengernyitkan dahinya dan menggeser tombol hijau.


"Benben! Kamu kok matiin sih? Kan belum selesai ngobrolnya! Curang kamu! Bukannya di Cambridge masuk jam makan siang ya? Memang bang Joey nggak kasih ijin kamu makan siang? Nanti aku omeli dia!" cerocos Alaric tanpa jeda.


"Sini kalau berani ngomeli aku, Al." Suara bariton Joey membuat Alaric melongo.


"Lho kok bisa ponsel Benben di Abang? Privacy bang! Balikin!" seru Alaric cuek.


"Alaric! Kamu minta Abang hajar kamu? Ini masih jam kerja! Jangan ganggu Benazir! Sudah sana!" omel Joey kesal dan langsung mematikan panggilan adik sepupunya tanpa perduli suara Alaric ngomel - ngomel.


Joey mengembalikan ponsel Nura dan menatap penuh ingin tahu.


"Jadi kamu, cewek yang dicium Alaric waktu Enzo menang balapan di Dubai." Joey tersenyum misterius. "Kamu ngadu apa saja soal saya ke Alaric?"


Wajah Nura langsung memucat.


***


Dubai, UAE


"Iiissshhh bang Joey galak banget sih! Nyebelin! Pengen gue tendang ke gunung Etna! Dasar Mafioso!" omel Alaric


"Kamu kenapa?" tanya Direndra yang sudah mandi dan pakai kaos polo dan celana pendek.


"Benben itu konsulen nya Bang Joey dan katanya galak banget!"


"Kan sudah jadi pilihannya Nura ambil bedah dan konsulen nya juga pas. Kita semua tahu kalau soal pekerjaan, bang Joey selalu serius dan tidak main-main karena urusannya nyawa" senyum Direndra.


"Iya tapi kan..."


"Dik, mas tahu kamu maunya Nura nggak dimarahi bang Joey tapi itu kamu mendidik Nura jadi manja. Baru ketemu sama bang Joey udah ngadu ke kamu..."


"Benben cerita, mas" potong Alaric.


"Sama aja cumiii! Jadi intinya, mas tahu kamu pengen lindungi Nura tapi Nura tidak melindungi dirinya sendiri jika ada masalah yang harus menjadi tanggung jawab nya. Semua itu ada konsekuensinya, ada sebab akibat, ada timbal balik. Setahu mas, Nura bukan gadis manja tapi kenapa bisa seperti itu sama kamu?"


Alaric tertegun. Iya ya, selama ini Benben selalu independen bahkan mandiri banget tapi tadi seperti bukan Benben.


"Apa Benben sudah nyaman sama aku mas?"


Direndra mengedikkan bahunya. "Mana mas tahu."


Alaric jadi penasaran.


"Aku ke Harvard besok!"


"Haaaiissshhh!" Direndra mendengus kesal.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️