The Four Emirs

The Four Emirs
Zinnia dan Sean Pertama Kali Bertemu



Istana Al Azzam, Dubai


Direndra mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya yang memang seharusnya menjadi tanggung jawab nya tapi karena dia memilih menyamar jadinya diserahkan kepada Alaric dan Ayrton.


Laporan para pengawal Alaric yang mengatakan bahwa adiknya bertamu ke perkebunan kurma milik Al Baraka, membuat Direndra menyelidiki siapa itu.


"Ada apa pangeran?" tanya Iqbal yang sekarang membantu Direndra karena Fadh mengurus pekerjaan Eyangnya.


"Alaric nyasar ke perkebunan kurma milik Al Baraka" jawab Direndra sembari memeriksa hasil penyelidikannya.


"Al Baraka?" beo Iqbal.


"Iya paman. Dasar Alaric !" umpat Direndra sambil tersenyum.


"Kenapa memangnya pangeran?"


"Raina Al Baraka, pemilik kebun itu memiliki seorang cucu bernama Naadhira dan sempat ingin menjodohkan aku dengannya tapi aku tidak tertarik karena dia bukan tipe aku."


"Pangeran sukanya yang menggemaskan macam nona Raana" kekeh Iqbal.


"Raana memang menggemaskan." Direndra tersenyum membayangkan gadis itu. "Duh jadi kangen."


Iqbal hanya tersenyum mendengar ucapan Direndra. "Pangeran, banyak kerjaan lho!"


Direndra menatap judes ke arah Patih sang eyang. "Paman Iqbal nyebelin!"


Iqbal tertawa.


***


Singapura, Singapore


Benji dan Zinnia asyik di sebuah area permainan ketika serombongan orang berpakaian hitam-hitam datang dan mengawal seorang bocah tampan yang mungkin tiga tahun diatas usianya Zinnia.


"Siapa itu Oom Benji?" tanya Zinnia.


"Mana Oom tahu." Benji hanya mengangkat bahunya.


"Maaf tuan" seorang pria dengan kacamata hitam dan earpiece di telinganya. "Bisakah anda menyingkir sebentar dengan anak anda..."


"Ini Oom saya!" balas Zinnia galak.


"Oh maaf. Tapi saya mohon anda dan keponakan anda menyingkir terlebih dahulu sekitar satu jam? Karena tuanku pangeran Léopold hendak bermain disini. Nanti kami akan memberikan kompensasinya."


"Prinz Leopold aus Belgien ( Pangeran Sean Léopold dari Belgia )?" tanya Benji dengan bahasa Jerman.


"Jawohl ( Iya ). Ich bitte Sie, für einen Moment zu gehen ( saya minta anda pergi sebentar )" ucap pengawal itu.


"Baiklah. Yuk Zee, kita cari makan." Benji menggandeng tangan Zinnia.


"Sir, darf ich Ihren Namen erfahren? ( tuan, boleh saya tahu nama anda ?)" pinta pengawal itu.


"Für was? ( buat apa )" tanya Benji.


"Untuk menggantikan kompensasi bermain keponakan anda."


Benji memberikan kartu namanya yang tergabung di MB Enterprise. Jabatan Benji memang kepala IT di perusahaan milik Duncan McGregor dan Edward Blair itu.


"Gut. Danke herr schmidt ( Baik, terimakasih Mr Smith )." Pengawal itu mengangguk sopan.


Benji mengangguk. "Yuk Zee. Kita makan ke RR's Meal."


Zinnia mengangguk dan ikut Benji. Gadis cilik itu memandang bocah tampan yang berwajah dingin dan tampak sombong.


"Oom Benji" panggil Zinnia.


"Apa Zee?" tanya Benji yang posisi mereka hendak melewati rombongan keluarga kerajaan Belgia itu.


"Rasanya Oom Ayrton juga pangeran tapi kok tidak sombong ya?" bisik Zinnia dengan tatapan takut-takut melirik ke arah pangeran Sean Léopold.


Benji tersenyum. "Beda negara beda sifat, Zinnia sayang. Yuk makan, Oom lapar ini."


Keduanya pun berjalan dengan diawasi penuh oleh para pengawal pangeran Léopold itu.


Zinnia? Zee? Bocah laki-laki itu melirik ke arah gadis cilik yang digandeng Benji pergi keluar dari arena bermain itu.


"Yang mulia, tempat bermain sudah stejril." Seorang pengawal menghampiri Sean.


"Siapa nama pria yang bersama anak perempuan itu?" tanya Sean.


Pengawal itu memberikan kartu nama Benji.


"MB Enterprise? Perusahaan apa itu?" tanya Sean.


"Perusahaan yang menguasai banyak bidang bisnis tapi memang utamanya adalah sekarang IT." Seorang pengawal membacakan company profile perusahaan milik Duncan Blair itu.


"Siapa pemiliknya?"


"Mr Duncan Blair. MB Enterprise juga bermerger dengan PRC group dan Giandra Otomotif Co."


"Kalau Benji Smith? Apa hubungannya selain kepala teknisi IT MB Enterprise."


"Benji Smith adalah cucu keponakan Duncan Blair, putra Bryan Smith, konsultan FBI, NSA, NYPD dan interpol."


Sean mengangguk. "Lalu, anak perempuan itu siapa? Anaknya?"


Sean hanya menatap datar ke arah Benji dan Zinnia yang sudah menjauh dengan dua pengawal di belakangnya.


Kenapa pengawalnya berdarah timur tengah?


***


"Ih padahal Zee lagi asyik-asyiknya main, eh malah diusir sama pangeran antah berantah!" gerutu Zinnia sambil makan steaknya.


"Sabar Zee. Kan hari ini kita seharian boleh main sama mama, mumpung libur nasional." Benji mengutak-atik ponselnya untuk mencari tahu jadwal keluarga kerajaan Belgia.


Rupanya ada pertemuan bilateral antara pemerintah Singapura dan kerajaan Belgia. Pantas si pangeran manja main tutup area permainan.


Benji hanya tersenyum. Kadang keluarga aku juga seenaknya sendiri.


"Oom Benji."


"Yes Zee."


"Apakah mama akan menikah dengan Oom Ayrton?" Zinnia menatap wajah Benji.


"Kenapa Zee? Kamu tidak setuju?" Benji membalas bertanya ke arah gadis cilik itu.


"Zee suka kalau Oom Ayrton jadi papa Zee."


"Tapi?"


"Apakah Zee akan menjadi putri?" tanya Zinnia dengan mata hitamnya yang membulat dan Benji merasa gemas melihat calon keponakannya itu ( meskipun sudah masuk keponakannya karena Zinnia keponakan Bagas suami Safira ).


"Memangnya Zee tidak mau jadi Putri?"


Zinnia tertawa. "Nanti jadi Rapunzel dong!"


Benji tertawa. "Kamu ingin jadi siapa? Rapunzel? Aurora? Cinderella? Merida?"


Zinnia tergelak. "Oom, rambut Zee hitam, nggak oranye keriting kayak Merida."


"Tapi Zee, nanti kalau jadi anaknya Oom Ayrton, harus mau lho belajar panah kayak Merida." Benji menatap serius ke Zinnia.


"Boleh nggak belajar pukul pakai penggorengan?" cengir Zinnia.


"Astaga! Memangnya kamu Rapunzel?" Zinnia tertawa terbahak-bahak sedangkan Benji hanya memicingkan matanya gemas.


***


Rumah Kediaman Al Baraka


Alaric pun memutuskan untuk berpamitan karena hari sudah mulai senja dan dia harus kembali ke istana Al Azzam setelah mendapatkan perintah dari sang eyang untuk pulang.


"Terima kasih atas jamuannya Mrs Al Baraka tapi saya harus kembali ke rumah karena yang mulia permaisuri meminta saya harus pulang." Alaric pun berdiri setelah menikmati acara makan siang bersama Raina Al Baraka dan Naadhira.


"Baik pangeran Alaric. Terimakasih atas kunjungan anda meskipun dengan tidak sengaja" senyum Raina Al Baraka sambil berdiri.


Alaric mengambil jaket kulitnya dan mengenakannya.


"Saya permisi dulu, Mrs Al Baraka" pamit Alaric sambil mencium punggung tangan Raina.


"Hati-hati di jalan pangeran Alaric" ucap Raina.


Alaric mengangguk. "Terimakasih. Bye Naadhira. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam" balas Raina dan Naadhira.


Alaric pun menghampiri motor Ducatinya dan melihat pengawalnya pun sudah siap.


"Kalian sudah makan?" tanya Alaric.


"Sudah pangeran."


Alaric pun menjalankan GPS nya di motornya dan tak lama mereka bertiga pun keluar dari rumah besar itu.


"Kamu harus bisa mendapatkan Alaric, Dhira" bisik Raina setelah tiga motor itu menghilang.


"Iya nenek. Aku kan ingin menjadi permaisuri di istana Al Azzam" seringai Naadhira.


"Kalau bisa, kamu singkirkan saja Direndra, kakak Alaric, agar dia menjadi penguasa tunggal disana dan kekayaan Al Azzam bisa menjadi milik kita."


Naadhira tersenyum smirk.


***



Bonus Visual Zee dan Sean dewasa


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️