The Four Emirs

The Four Emirs
Akhirnya...



Istana Al Jordan Dubai UAE


Usai makan malam bersama dengan seluruh keluarga Al Jordan, Mariana mengantarkan Zinnia ke kamarnya untuk memberikan dongeng sebelum tidur. Zinnia sudah terbiasa tidur mendengar cerita dari sang mama jadi sudah kebiasaan rutin.


Ayrton sendiri memilih masuk kamar sambil memeriksa pekerjaannya yang masih menumpuk. Proses pembangunan instalasi listrik tenaga Surya ini memang proyek terbesar yang AJ Corp dan Al Azzam dapatkan, membuat Ayrton, Direndra dan Alaric bekerja siang malam agar tidak terjadi kesalahan sedikit pun.


Tak lama pintu kamar Ayrton terbuka dan tampak Mariana masuk. Masih mengenakan gaun rumah, Mariana tersenyum melihat suaminya masih bekerja di depan MacBooknya.


"Ton, aku buatkan hot choco atau teh wasgitel?" tawar Mariana.


"Hot choco saja, sayang."


Mariana membuatkan hot choco dari pantry yang memang tersedia di kamar lengkap dengan termos listrik, mesin kopi dan berbagai macam minuman disana.



"Hot choco nya... mas" ucap Mariana malu-malu.


Ayrton menatap wajah istrinya. "Hah? Apa May?"


"Kamu keberatan kalau aku panggil 'mas' meskipun aku lebih tua?"


Ayrton menggelengkan kepalanya. "Aku malah senang" senyumnya sambil menerima mug berisi hot choco buatan istrinya. "Terima kasih May."


"Sama-sama. Aku bersih - bersih dulu." Mariana pun berjalan menuju walk in closet Dan mengambil baju tidur kebangsaan para kaum emak, daster. Kemarin tantenya Danisha menghubungi dirinya minta kado pernikahan apa. Mengetahui suami Danisha, Iwan, adalah salah satu pengusaha batik, Mariana dengan malu - malu minta diberikan kado daster.


"Yakin kamu minta daster saja?" tanya Danisha saat melakukan panggilan video seminggu sebelum pernikahan.


"Iya Tante. Dubai itu seperti Jakarta dan Singapura meskipun kalau malam terkadang dingin. Lagipula aku lebih suka batik daripada kain satin atau silk kalau tidur."


Danisha tertawa. "Kamu tuh mirip sama Anjani menantu Tante yang demennya batik sampai-sampai Ega bilang duitnya nggak laku buat lingerie."


"Daster is the best Tante" senyum Mariana.


Dan kini dirinya memilih memakai daster tali spaghetti yang sebatas paha. Siapa bilang baju haram hanya lingerie? Daster batik pun bisa deh!


Mariana keluar dari walk in closet namun dirinya terkejut karena Ayrton tidak ada di tempat tidur. Dilihatnya MacBook milik suaminya sudah berada di meja kopi yang ada di kamar dan mug berisi hot Choco juga sudah licin tandas.


Wanita itu lalu naik ke tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Tak berapa lama keluarlah Ayrton dengan kemeja sudah tidak terkancing dan wajahnya tampak tegang.


"Ton? Kenapa?" tanya Mariana. "Apa kamu sembelit?"



Ape lu Kate May?


Ayrton melongo. Siapa yang sembelit?


"Apa May? Sembelit?" tanyanya sambil melepaskan kemejanya dan celana panjangnya meninggalkan boxer Calvin Klein warna hitam disana.


"Bukannya kalau keluar dari kamar mandi, muka tegang gitu ... akibat sembelit ya? Soalnya aku pernah gitu saat beberapa hari tidak ketemu sayur" gumam Mariana dengan wajah polos.


"Astaghfirullah May! Kamu tuh..." Ayrton tertawa terbahak-bahak. Lalu pria itu naik ke atas tempat tidur dan mendekati istrinya. "Aku tuh tegang karena mau unboxing kamu."


Wajah Mariana memerah mendengar ucapan suaminya. "Memangnya kamu yakin bisa unboxing sekarang?" goda Mariana.


"Lha yang tadi sholat berjamaah siapa ya? Penampakan?" balas Ayrton sambil menempelkan hidungnya ke hidung Mariana dan setelahnya bibirnya bertemu dengan bibir istrinya.


Mariana mengalungkan tangannya ke leher kokoh suaminya yang mulai mencum*Bu dirinya. Ayrton menciumi seluruh wajah Mariana lalu menuju ceruk lehernya yang harum Miss Dior. Dan perlahan menurunkan tali dasternya.


"May..." panggilnya dengan suara serak.


"Ya?"


"Baju haramnya kenapa daster batik sih?"


"Aku wong Jowo Ton... anti-mainstream dikit lah unboxing pakai daster batik... " Mariana menurunkan talinya lagi dan menunjukkan dua belah asetnya yang tampak membusung, menantang Ayrton untuk menikmatinya.


"Lagian..." suara Mariana terdengar mulai tersengal ketika lidah pria itu mulai bermain di pucuk asetnya. "Toh bakalan...kamu lepas...juga... Ayrton!" pekik Mariana ketika pria itu menggigit pelan asetnya.


"Apa? Nggak enak?" tanya Ayrton bingung mendengar istrinya terpekik.


Ayrton tersenyum smirk. "Aku suka asetmu... Kenyal dan kencang."


Ayrton melepaskan semua pakaian yang masih melekat di tubuh keduanya dan dirinya menciumi tubuh istrinya seperti menghapal tanda tubuh yang ada.


"Ternyata di perut kamu ada tahi lalatnya ya" senyum Ayrton sambil mencium perut rata Mariana lalu turun ke bawah. Rasanya semua yang ada di pikiran Mariana berantakan ketika Ayrton mulai memainkan inti tubuhnya dan disaat dirinya merasa sudah tidak kuat, Ayrton mendesakkan miliknya yang membuatnya sedikit meringis.


"Maaf May... tahan ya?"


Mariana hanya bisa mengangguk dan setelah dua kali mencoba akhirnya Ayrton berhasil membobol gawang Peter Schmeichel eh...Mariana.


Dan malam itu, setelah seminggu puasa, Ayrton berhasil melakukan unboxing. Hingga subuh menjelang keduanya baru mengakhiri kegiatan suami istri itu. Beruntung besok adalah hari Minggu hingga mereka tidak ada yang harus berangkat kerja dan bisa istirahat setelah kegiatan yang melelahkan tapi sangat nikmat.


***


Istana Al Azzam Dubai UAE


Alaric masih berkutat dengan laporan RR'S Meal yang merupakan tanggungjawab nya dari sang Daddy, Aidan Blair, ketika suara ponselnya berbunyi. Pria tampan itu mengangkat ponselnya ketika tahu siapa yang menelpon.



Yang bahagia ditelpon Benben


"Assalamualaikum Benben" sapanya lembut.


"Wa'alaikum salam Al-al. Lagi ngapain?" tanya Nura.


"Nunggu subuh sambil kerja. Kenapa Benben? Disana jam sembilan malam ya?"


"Kamu nggak tidur Al?" tanya Nura.


"Tidur cuma tadi kebangun saja."


"Untung besok Minggu ya Al jadi kamu bisa istirahat siangnya."


"Kamu sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Alaric.


"Sudah dan hari ini Bang Joey habis menghajar orang."


Alaric melongo. "Apalagi sih itu mafia berkedok dokter ?! Siapa yang bikin perkara?"


"Salah seorang petugas lalu lintas NYPD membuat kesalahan fatal yang nyaris merenggut nyawa korban kecelakaan dan bang Joey yang berhasil melakukan operasi rumit dibantu aku. Tapi setelahnya, bang Joey ngamuk ke petugas itu dan nyaris baku hantam kalau tidak dilerai sama kami."


"Let me guess, bang Joey dituntut?" kekeh Alaric yang tidak heran jika kakaknya satu itu panasan. Dasar pria Italia keturunan mafia Korea ya gini ini! Alaric tersenyum.


"Iyalah, Al. Tapi bang Joey ya bang Joey. Katanya 'kalau mau tuntut, tuntut sajalah! Biar nanti di pengadilan pada tahu yang tolol siapa!' gitu katanya."


Alaric terbahak. "Kalau bukan gitu bukan bang Joey. Sejak jaman kuliah di Tokyo University saja sudah bikin Opa Joshua darting apalagi sekarang disaat dia punya power dan kemampuan. Makin menjadi deh arogannya."


"Tapi bang Joey memang benar kok Al. Petugasnya itu yang salah" eyel Nura.


"Kalau besok bang Joey dipanggil polisi, kamu yang sabar ya. Dia mah biasa kayak gitu, anggap saja kantor polisi dan kamar mayat itu rumah singgah dia."


"Apa maksudmu dengan kamar mayat Al?" tanya Nura bingung.


"Apa kamu tahu, bang Joey jaman kuliah pernah bermasalah dengan hukum meskipun tujuannya benar tapi caranya ngawur? Dan hukumannya harus membersihkan kamar mayat selama 90 hari."


"Astaghfirullah!" Nura tertawa terbahak-bahak.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf harusnya semalam cuma aku ngantuk banget tolong dimaafkan ya gaeesss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️