The Four Emirs

The Four Emirs
Ayrton ke Singapura



Reyhan melongo mendengar keponakannya minta ijin untuk pergi ke Singapura. Baru pulang dah kabur lagi nih bocah!


"Memangnya ada apa kamu ke Singapura?" tanya Reyhan.


"Zinnia berantem dan bibirnya sobek."


Reyhan melongo. "Anak umur empat tahun berantem? Sampai bibir sobek? Brutal sekali! Yang hajar Zinnia siapa? Cowok atau cewek?"


"Cowok, namanya Ricky."


"Bapaknya banci karena ngajarin anaknya banci berani sama anak perempuan!" umpat Reyhan.


"Makanya aku mau kesana, kasih pelajaran ke orang tuanya!" ucap Ayrton geram.


"Pakai saja pesawat Al Jordan, jangab pakai pesawat komersial. Bantu Mariana dan kalau perlu, panggil Travis."


Ayrton tersenyum smirk. "Bang Travis pasti dapat mood booster ini. Dia kan paling sebal pembullyan."


***


"Siapa nama orang tuanya bang?" tanya Benjiro yang sedang berada di New York.


"Dennis Sanders, istrinya bernama Inka."


"Sanders? Memang ada hubungannya dengan perusahaan ekspor impor Golden Ekspor?" Benjiro langsung mengetik keyboard nya.


"Golden Ekspor? Kok sampai kesana Ben?"


"Anaknya yang bernama Christian kan hampir gelut sama mas Hoshi waktu nikahan nya duo F. Mas Rama, mas Jendra dan bang Travis sampai melerai si bon cabe." Benjiro terbahak. "Mampus! Bakalan dihajar bang Travis lagi! Nggak kakak nggak adik sama-sama minta dihajar mulutnya!"


"Banyak aibnya Ben?" tanya Ayrton penasaran melihat wajah licik Benji.


"Buanyaaakkk! Dan mas, tolong kalau sudah baca, jaga emosi kamu ya." Benjiro menatap kakak sepupunya.


"Memang kenapa?"


"Karena ini ada sangkutannya sama Mariana."


Minta di double kill bener tuh kampret!


***


"Jadi calon anak tirimu dibully sama si Dennis?" tanya Travis yang berada di Jakarta.


"Lu bisa ke Singapura kan bang?" pinta Ayrton.


"Bisa banget! Gue gedheg sama orang tua yang nggak punya otak! Doktrin anaknya dengan ucapan sontoloyo gitu!" Travis mengeraskan rahangnya. "Besok gue terbang ke Singapura. Gue mau ngobrol dengan Mariana dan Zinnia dulu."


"Iya bang. Aku juga berangkat subuh habis sholat subuh."


Travis mengangguk. "Hati-hati Ay."


***


Mariana terbengong-bengong melihat Travis Blair sudah datang ke butiknya jam sebelas siang. Sepupu Ayrton itu tersenyum melihat gadis cantik yang masih bingung.



"Apa kabar Mariana?" sapa Travis ramah. "Bagaimana Zinnia?"


"Alhamdulillah Zee sudah mau masuk sekolah tapi aku minta pengawasan ketat sama gurunya. Mas Travis ada apa kemari?" Mariana merasa bingung pengacara kondang itu main datang ke Singapura.


"Bantu kamu atas permintaan Ayrton."


"Oh ya Allah, nggak usah mas. Aku sudah urus di sekolah."


"Oh tidak bisa Mariana. Orangtuanya harus kena hajar mulutnya dan otaknya karena mendoktrin anaknya seperti itu. Kami sekeluarga tidak ada yang menyukai pembullyan kecuali antar keluarga sendiri."


Mariana melongo. "Antar keluarga sendiri?"


"Ohya. Keluarga kami kalau tidak saling bully tidak afdol!" cengir Travis.


***


"Jadi Dennis Sanders pernah mendekati kamu?" Travis dan Mariana kini berada di Starbucks untuk menyusun prosea menuntut orang tua Ricky Sanders.


"Iya tapi saya tidak menanggapi karena tahu dia memiliki istri dan ternyata dia tidak terima."


"Kapan itu?" tanya Travis lagi.


"Sekitar enam bulan lalu."


"Lalu?"


"Saya memilih mengacuhkan jika dia datang ke butik dan teman saya yang melayani."


"Apakah dia selalu membeli baju CH setiap ke butik?"


"Kamu pernah melaporkan ke polisi saat dia mabuk datang ke butik ya?"


"Betul dan kemungkinan dia dilarang masuk Singapura setelah ditangkap makanya dia berhenti mengganggu saya. Harusnya dia dibanned hampir setahun tapi dia kok bisa masuk sini lagi ya dengan waktu empat bulan." Mariana tampak bingung.


"Akan aku cari tahu nanti. Oh nanti malam Ayrton sampai disini dan kemungkinan langsung ke apartemen kamu. Sampai ketemu besok di sekolahnya Zinnia."


***


Malam harinya Ayrton benar-benar berdiri di depan pintu apartemen Mariana dengan wajah sumringah.



"Hai. Boleh aku masuk?" tanya Ayrton yang membuat Mariana melongo.


Masyaallah! Tidak bertemu kurang dari dua bulan saja kok makin ganteng nih Emir satu.


"Eh? Oh, Monggo Ton. Mari masuk. Zee pasti..."


"Oom Ayrtoooonnn!" seru Zinnia langsung menghambur ke pelukan Ayrton. "Flynn Rider nya Zee!"


"Untung bukan Maximus ya Zee!" kekeh Ayrton sembari mencium pipi gadis cilik itu.


"Oom Ayrton bobok sini kan?" Zinnia menatap penuh harap.


"Oom Ayrton akan menemani Zee sampai bobok."


***


Ayrton memenuhi janjinya untuk menemani Zinnia sampai terlelap setelah pria itu membacakan buku cerita bergambar dari Sanrio tentang si kembar Kiki dan Lala.


Mariana sudah membuatkan secangkir hot choco untuk Ayrton di meja makan mungil miliknya.


"Minum dulu Ton. Pasti capek dongengi Zee." Mariana meletakkan sebuah cake coklat di sebelah cangkir hot choconya.


"Lebih capek Direndra" kekeh Ayrton.


"Lho memang kenapa?"


Ayrton menceritakan tentang misi Direndra dan membuat Mariana tertawa saat Raana tidak peka sama sekali.


"Kasihan Direndra. Raana juga gitu sih" kekeh Mariana.


"Sama kan sama wanita yang ada di hadapan aku." Ayrton tersenyum manis.


Mariana melongo. "Hah?"


"Iya, May. Aku sudah suka dan mungkin jatuh cinta sama kamu sejak pertama ketemu di acara akadnya Hoshi dan Safira. Dan Bagas pun sudah ngobrol banyak denganku, begitu juga kedua orangtuaku. Semuanya menyerahkan keputusan padaku dan aku sudah memikirkan lama bahwa aku ingin menjadi bagian dari hidupmu dan hidup Zee."


"Ton..."


"Ya?"


Mariana menatap Ayrton serius. "Ini bukan lamaran kan?"



Ayrton terbahak. "Kalau semi gimana?"


"Astaghfirullah. Kamu serius? Ayrton, aku tuh lebih tua dari kamu, punya anak dan ..."


"Memang masalah?" potong Ayrton. "Kedua orangtuaku hanya berpesan padaku, jika memang aku serius lanjutkan. Jika tidak, lepaskan dan aku tidak bisa melepaskan kalian berdua. Jadi Mariana, maukah kamu menjadi kekasihku... Sementara sampai kasus Zee selesai, aku akan bawa orangtuaku menemui orang tuamu."


"Astaghfirullah! Apa kamu tidak terlalu cepat Ton?" Mariana benar-benar terkejut mendapatkan kejutan dari Emir Dubai satu ini.


"Karena kalau begini, aku akan lebih bisa melindungi kalian terutama Zee. Anak seumur dia itu akan mendapatkan trauma tersendiri jika ada orang yang mengatai dia macam-macam. Aku akan menyesal seumur hidup jika tidak bisa melindungi kalian berdua dari orang-orang minus akhlak itu."


Wajah Ayrton menunjukkan kesungguhan dan keseriusan yang membuat hati Mariana menghangat.


"Terimakasih, Ayrton. Aku tidak menyangka bahwa kamu begitu besar rasa kasih sayangmu ke Zee."


Ayrton cemberut. "Nggak cuma Zee aja kali May. Sama ibunya juga!"


Mariana terbahak. "Ya ampun, kamu tuh kalau cemberut gemesiiinnn!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️