
Kolkata ( Calcutta sebelumnya ) India
Nura mendapatkan tugas untuk bekerja di sebuah kota yang termasuk riweuh dan padat apalagi dikenal dengan nama Mother Teresa yang memang membantu kemiskinan disana saat itu.
Meskipun jaman sekarang sudah tidak seperti jaman Mother Teresa, tapi kemiskinan tetap menjadi momok di masyarakat Kolkata. Seperti biasa, Nura selalu dikawal oleh dua pengawal kiriman Alaric, Farah dan Parvani yang berdarah India.
Mengetahui kekasihnya dikirim ke India, Alaric langsung mengganti salah satu pengawal Nura menjadi pengawal berdarah India agar memudahkan komunikasi disana. Meskipun Nura merasa Alaric terlalu posesif tapi dia bisa memahami bagaimana khawatir nya tunangannya saat dirinya berada di kota yang dia belum paham seluk beluk nya.
Nura mendapatkan sebuah rumah yang sebelumnya dipakai oleh salah seorang rekannya. Kontrak Nura adalah selama enam bulan dan setelah ini, Alaric akan melamar nya resmi ke ibunya.
"Nona Benazir Nura Jaziri. Apa ada yang harus kita bereskan lagi?" tanya Parvani yang sedang membersihkan rumah bersamanya dan Farah.
"Sepertinya cukup deh Parvani." Nura melihat sekelilingnya yang sangat khas India. Bahkan hidungnya pun mulai terbiasa dengan bau dupa dan sebagainya karena di Bangladesh pun dia mengalami hal yang sama.
Nura menatap pemandangan dari balkon rumahnya dan tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Gadis itu tersenyum melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum Al-al" sapa Nura.
"Wa'alaikum salam cantikku. Sudah sampai di rumah sewa?" tanya Alaric
"Sudah... Kok tumben kamu brewokan?" Nura menatap wajah tunangannya.
Mana nih cukuran
"Aku lagi di proyek Benben. Belum sempat cukuran soalnya menggantikan Mas Rendra dan Bang Ayrton. Damian lagi kena campak, mbak Mariana lagi hamil dan nggak mau jauh-jauh dari bang Ayrton jadinya aku yang handle sama paman Iqbal."
Nura tersenyum manis. "Aku suka kalau priaku menjadi pria dewasa dan bertanggung jawab."
"Berarti aku boleh brewokan?" cengir Alaric.
"Tentu tidak! Aku tidak suka pria brewokan! Kamu nggak pantas!" jawab Nura sambil manyun.
Alaric terbahak. "Padahal sepupuku banyak yang brewok..."
"Siapa? Kayaknya cuma bang Joey, Fathir sama mas Rama doang deh! Lainnya mulus. Awas kalau kamu brewokan!" ancam Nura judes.
"Memang kenapa Benben?"
"Aku siap-siap Gillette atau Philips!"
Alaric semakin terbahak.
***
New York
Malam ini ada acara makan malam syukuran bahwa Hideo dan Fayza sudah melakukan ijab qobul yang sempat tertunda meskipun mereka sudah menikah secara negara tapi Ashley tetap meminta mereka melakukan ijab qobul agar sah secara agama. Meskipun ijab sudah dilakukan dua bulan lalu, tapi Ashley baru mengadakan sekarang setelah Shinichi kuat.
Para keluarga di New York pun datang ke rumah besar milik Ashley Sky yang memang hanya mengundang keluarga dan sahabat dekat termasuk klan Chen, Diazo dan Jang.
Para sepupu Fayza pun melihat bagaimana interaksi Benji dan Geun-moon yang semakin dekat satu sama lain membuat mereka usil menggoda si bontot.
"Jadi beneran nih kalian pacaran?" goda Joey ke Benji.
"Moon, kamu yakin mau sama Benji? Yang di otaknya dia itu cuma malak dan cuan lhooo" timpal Abi.
"Apaan sih kalian?" sungut Benji.
"Lho Ben, sebelum kalian menuju ke hal yang super serius, sudah seharusnya Moon tahu yang jelek-jelek soal kamu." Joey menatap serius ke Geun-moon yang hanya bisa tersenyum simpul tidak berani komentar.
"Benji itu gembeng Moon" kekeh Rajendra.
"Masa sih Oppa? Benji waktu dihajar nggak nangis kok..." bela Geun-moon.
"Kamu nggak tahu saja. Dia nangis-nangis minta dibantuin buatin skripsinya" gelak Abi.
"Mas Abiiiii... Aib aku itu" rengek Benji.
"Nggak ding! Mas Abi pitenah ah!"
"Yang pitenah juga siapa? Mau aku kasih lihat rekaman nya ?" kerling Abi durjana.
"Oh my God!" Benji memegang pelipisnya. Sontak para kakak sepupunya tertawa terbahak-bahak.
"Geun-moon, kalau sama Benji, siap-siap saja ya melihat kami semua tidak yang laki maupun perempuan, durjana semua kalau kumpul" ucap Rama.
"Kalau itu aku sudah tahu Rama Oppa. Soalnya Benji sering cerita" cengir Geun-moon.
"Moon!" panggil Reana membuat gadis berdarah Korea itu menoleh.
"Iya eonni?"
"Kumpul sama kita-kita saja, biarkan Benji dirusuhi sama kakak-kakaknya" kekeh Reana.
"Ben, aku ke kakakmu dulu ya. Mari semua." Geun-moon pun mengangguk lalu berjalan menuju ke semua sepupu Benji yang perempuan.
"Alaric rencana enam bulan lagi menikah dengan Nura, habis itu siapa? Kamu atau Alea yang mau nikah Ben?" tanya Pandu.
"Belum tahu mas Pandu. Soalnya aku sama GM kan masih sama-sama muda. Aku sih mungkin hayuk aja nikah muda seperti mas Rajendra dan mbak Aruna tapi kan semua tergantung GM, mau apa nggak. Paling yang nikah duluan nanti Alea. Kan Chris juga sudah mapan" jawab Benji.
"Aku rasa habis Alaric itu pasti Alea. Chris tampaknya sudah tidak sabar buat halalin si bontot" gumam Abi.
"Bersyukur kita semua sudah dapat jodohnya. Yang belum berarti Adrian, Anarghya, Amaranggana, Anandhita, Natasha dan Tristan ya?" Joey mengabsen adik-adiknya yang masih jomblo.
"Hideo!" panggil Abi ke arah Hideo yang berjalan hendak mengambil minum. Pria berdarah Korea Jepang itu pun menghampiri para iparnya setelah tadi asyik mengobrol dengan Jang Geun-yong dan klan Chen membahas bisnis.
"Apa mas?" tanya Hideo.
"Kamu berurusan dengan Silver Shinning lagi?" selidik Abi.
"Oh nggak, aku hanya mengobrol bisnis perhiasan yang sekarang aku geluti. Tenang mas Abi, aku tidak berurusan dengan Silver Shining karena semua sudah diambil alih oleh Lee Chan" senyum Hideo.
"Eh aku mau tanya. Jadi ibumu menikah dengan Oom Takeshi?" tanya Joey.
"Katanya jadi sepulang dari sini kan sekalian aku bersama Fayza dan Shinichi pulang ke Tokyo."
"Aku tidak bisa menguraikan hubungan antara Tante Fumiko dan Oom Takeshi di keluarga kita. Besan tapi jadi ipar terus gimana itu?" kekeh Abi.
"Nggak usah dipikirkan yang penting menjadi anggota keluarga. Itu saja!" senyum Rajendra.
"Ohya mas Rama, gimana hasil pemeriksaan Deya?" tanya Benji.
"Deya sama dengan Astuti" jawab Rama tenang.
"Benarkah?" seru para pria disana.
"Iya, Tante Siera sudah memeriksanya dan kondisi Savrinadeya sama dengan mamanya" senyum Rama.
"Mbak Astuti gimana?" tanya Benji lagi.
"Ya nggak gimana - gimana Ben, kan kita sudah mengantisipasi bahwa ada kemungkinan besar Deya mengalami hal yang sama dengan Astuti dan kita sudah mempersiapkan jauh-jauh hari. Toh sekarang jaman semakin canggih dan hearing aid juga semakin bagus. Jadi kenapa harus bingung? Semua anak itu spesial, tidak ada anak yang tidak spesial."
"Untungnya dik Rama sudah menguasai bahasa Morse kalau Hoshi bilang jadi komunikasi nanti dengan Deya bisa lancar." Rajendra memeluk bahu adiknya.
"Tapi aku yakin, Deya pasti akan tumbuh jadi wanita cantik macam Astuti tapi versi bule" ucap Pandu yakin.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️