
Dusun Al Shiba, UAE
Direndra melongo mendengar cerita dari Reyhan kalau Alaric berani mencium Nura di hadapan dirinya dan Dina.
"Astaghfirullah, yang benar Oom?" seru Direndra tidak percaya adiknya melakukan hal itu ke sahabatnya. "Nura gimana?"
"Yaaa, Al ditampar lah!"
"Memang sudah sepatutnya!" geram Direndra.
"Nura kan malam ini ke New York bersama Enzo yang ada acara juga di Harvard dan Alaric marah saat dirinya tidak mengetahui akan hal itu."
"Nura berangkat dengan Enzo malam ini?" tanya Direndra.
"Ya, Rendra dan sekarang adikmu ngambek."
Direndra hanya bisa memegang pelipisnya. "Biasanya kalau Al ngambek, dia bakalan kabur dengan Ducati nya."
"Makanya Ndra, kamu bisa nggak pulang sebentar untuk mengurus pekerjaan disini karena Oom yakin, Al pasti ngambek."
"Dasar bontot! Ya sudah Oom, besok aku kembali ke AJ Corp. Biar aku handle semuanya."
Reyhan bernafas lega karena Ayrton sendiri masih terkena tahanan kota oleh polisi Singapura hingga Rabu depan.
***
Istana Al Azzam, Dubai
Alaric membanting pintu kamarnya yang sebenarnya cukup berat tapi karena emosi, dirinya kuat mendorongnya.
Brengsek Benben!
Suara ponsel berbunyi membuat Alaric mengambilnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Assalamualaikum" sapanya dengan nada galak.
"Wa'alaikum salam. Kamu ngambek?"
"Nggak! Cuma jengkel saja!" jawab Alaric.
"Dik, yang namanya perempuan itu tidak bisa main paksa. Ada step by step nya" ucap Direndra.
"Kalau model kayak mas Rendra, ya kelamaan" balas Alaric.
"Tapi malah bikin bete kan?"
Alaric terdiam.
"Dik, Nura bukan tipe langsung jatuh cinta karena fisik. Dia tipenya slow, kasih perhatian, ajak bercanda seperti biasanya atau kamu tuh datang ke Harvard kadang-kadang. Perhatian kecil itu membuat wanita lama-lama akan luluh."
"Raana sampai sekarang juga belum sama mas Rendra."
"Karena Raana juga mirip dengan Nura, harus meyakinkan diri dulu." Direndra berusaha menerangkan dengan sabar.
"Aku sudah berusaha meyakinkan Benben mas, tapi dia masih tidak percaya."
"Dik, sudah coba doa sepertiga malam? Coba deh. Apakah Nura jodoh kamu atau tidak."
"Mas Rendra memang sholat sepertitga malam?" tanya Alaric tak percaya.
"Alhamdulillah sholat dan Raana adalah jodohku."
Alaric terdiam.
***
Singapura, Singapore
Fatimah langsung jatuh cinta melihat Zinnia, gadis cilik yang langsung diaku-aku Senna sebagai cicitnya dan sekarang Oma cantik itu yang langsung heboh.
"Ya ampun, cicit Oma cantik sekali. Duh gemesiiinnn" ucap Fatimah heboh.
"Maklum, Oma anak ceweknya bar-bar, cucunya laki semua. Ya Wassalam deh" sahut Benji yang langsung mendapat pelototan Senna dan Fatimah. "Eh? Benar kan?"
"Lambe you itu memang kudu dipertanyakan!" sahut Senna.
"Opa, nggak ada lambe you!" sahut Ayrton. "Opa tuh habis kumpul sama Opa Eiji ketularan deh kacaunya."
"Lho Opa tuh malah kagum sama otaknya Eiji. Ada aja idenya tapi mungkin karena seniman ya?" gumam Senna.
Ayrton dan Benji hanya melengos.
"Opa Eiji itu yang mana?" tanya Mariana.
Ayrton lalu menunjukkan video saat Hoshi sungkem hendak siraman dan Mariana tertawa melihat kacaunya opa dan cucu itu.
"Mereka itu selalu saling memanggil satu sama lain Toyib?" tanya Mariana.
"Iyalah! Sampai-sampai mbak Rina bilang harusnya nama belakang mereka diganti 'Toyib' jadi Toyib family bukan Reeves family" kekeh Benji.
"Oh Astaga!" gelak Mariana.
"Ayrton!" panggil Senna judes.
"Mati aku!" ucap Ayrton.
Benji langsung terbahak. "Mateng kau bang!"
"Ini kenapa kamu rekam Opa dimarahi Oma? Kan jatuh harga diri Opa sebagai singa gurun?" sungut Senna.
"Mereka semua cuma bilang 'Senasib bro.' Kan konyol!"
Ayrton dan Benji terbahak. "Berarti Opa tidak sendirian yang mengalami."
"Ini Eiji malah bilang 'Welcome to the club Bro! Nasib punya istri galak tuh ya begini tapi tetap cinta!' Yaaaa, kan gedubrak!" omel Senna.
Fatimah tertawa mendengar Omelan suaminya.
"Makanya tho Opa, kalau dibilangin Oma itu manut!" ucap Fatimah sambil mencium pipi Senna, kebiasaan yang selalu dilakukannya setiap selesai ribut.
Mariana tersentuh melihat bagaimana kedua opa dan Oma itu masih saling mesra meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
"Nggak usah Meri. Nanti kita bakalan kayak gitu kok" bisik Ayrton di sisi telinga Mariana yang langsung memerah wajahnya.
"Apaan sih Ton" desis Mariana.
"Apaan ya May" sahut Ayrton dengan wajah menggoda.
"Iiissshhh Ayrton nyebelin!" Mariana mengeplak bahu pria keturunan Jerman Arab Jepang Jawa itu.
"Belum apa-apa sudah KDRT ih May tuh!" gerutu Ayrton.
"KDRT itu apa Oom?" celetuk Zinnia yang membuat Ayrton kicep.
"Duh apaan ya?" gumam Ayrton sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Senna dan Fatimah tertawa melihat cucunya bingung.
***
Al Shiba, UAE
Pagi ini Direndra berpamitan kepada semua orang karena harus kembali ke Dubai untuk menyelesaikan pekerjaan. Raana dan para muridnya merasa kehilangan tapi bisa memahami bahwa pria dihadapannya adalah seorang Emir bukan guru biasa.
"Apakah anda akan lama, pangeran?" tanya Raana saat Direndra menunggu helikopter menjemputnya.
"Kemungkinan sampai kalian pindah ke dusun yang baru, Raana" jawab Direndra.
"Apakah... anda akan kesini kadang-kadang?" tanya Raana lagi dan Direndra bisa melihat gadis itu menatap penuh harap.
"Kenapa Raana?" tanya Direndra dengan nada menggoda.
"Saya... ingin mendengar cerita anda lagi" senyum Raana malu-malu.
Direndra tertawa. "Jika kamu mau hidup bersamaku, setiap hari aku akan bercerita tentang apa saja." Direndra berbisik di telinga Raana.
Wajah Raana tampak memerah.
"Pikirkan baik-baik Raana karena aku serius." Direndra tersenyum.
Suara helikopter pun terdengar dan tampak kendaraan kerajaan Al Azzam itu tiba untuk menjemput Emir Al Azzam dan sang Patih Iqbal.
Raana mengangguk sambil tersenyum saat Direndra memberikan finger heart.
Tentu saja Raana mendapatkan teriakan heboh dari para muridnya. Jangan ditanya wajah Raana yang seperti kepiting rebus.
Ammar Badawi yang melihat ulah cucu Hasyim Al Azzam itu hanya tersenyum. Pangeran Direndra rupanya serius suka pada Raana. Diam-diam Ammar berdoa semoga keduanya jodoh.
***
Alaric bersiap-siap untuk menggeber ducatinya bahkan sudah siap dengan baju touringnya. Aisyah yang melihat cucunya tampak kusut hanya mengelus kepalanya saat Alaric duduk di kursi makan.
"Sayang, kalau memang belum bisa memiliki kekasih sekarang, jangan kecewa. Kita tidak tahu apa rencana Allah SWT" ucap Aisyah lembut.
"Tapi eyang, aku sudah menunggu enam tahun untuk mengungkapkan perasaan aku" jawab Alaric sendu.
"Al sayang, mungkin Nura terlalu terkejut dengan pernyataan kamu yang tiba-tiba jadi dia membutuhkan waktu. Percaya sama eyang, jika jodoh tidak akan lari kemana. Sekarang kamu makan dulu, baru boleh jalan-jalan biar kamu nggak suntuk." Aisyah mencium pucuk kepala cucu tampannya.
Usai sarapan, Alaric melihat kakaknya datang dan Direndra menghampirinya lalu memeluknya.
"Have fun dik. Biar mas Rendra yang menyelesaikan pekerjaan kita." Direndra menepuk bahu adiknya.
"Thanks mas. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Alaric memakai helm full face nya dan menaiki Ducati nya lalu keluar dari halaman istana.
Dua buah motor pun mengikuti pangeran Al Azzam itu setelah Alaric pergi.
Setidaknya kamu ada pengawal yang menemani kamu.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️