The Four Emirs

The Four Emirs
Antara Raana dan Mariana



Raana menatap para rekan gurunya yang juga penduduk dusun Al Shiba karena tak banyak guru dari kota yang mau bergabung dengan sekolahnya karena memang sudah jelek. Satu-satunya guru yang bersedia bekerja di sekolahnya dengan gaji secukupnya hanyalah Veer, seorang pemuda India yang mencari pekerjaan di Uni Emirat Arab tapi akhirnya menyasar di Al Shiba.


Kehadiran Veer membuat Raana tertarik dengan pria yang tipenya bekerja keras. Cara Veer menghadapi para muridnya membuat dirinya yakin dia merupakan guru yang baik. Raana suka melihat kesabaran dalam humoris dalam diri Veer.


Hingga kedatangan Abi Akbar bersama pamannya Iqbal. Hanya dari kerusakan mobil, malah mereka berdua kini tinggal di dusun Al Shiba. Raana tersenyum saat pertama bertemu, wajah pria itu terbengong-bengong melihat dirinya. Pertemuan kedua, Raana dengan santainya menarik dirinya untuk menjadi guru pengganti Veer yang sedang ijin.


Ternyata Direndra memiliki approach yang berbeda dengan Veer tapi mampu membuat para siswanya langsung jatuh hati dengannya. Wajah Direndra yang terkadang cool sedikit jutek rupanya berbanding terbalik dengan sikapnya yang hangat dan jago dongeng.


Raana belum pernah mendengar cerita-cerita yang didongengkan ke murid-muridnya apalagi cara Direndra menggabungkan cerita dengan bahasa Inggris dan Arab membuat banyak anak tanpa disadari belajar kosakata yang langsung diterjemahkan.


Abi Akbar. Pria tinggi yang membuat Raana mendongakkan kepalanya lumayan karena dengan tinggi hanya 163 cm sedangkan Direndra 187 cm, benar-benar perbedaan yang sangat mencolok. Membuatnya pegal leher tapi Direndra tak jarang sedikit menekuk lututnya saat keduanya sedang bercakap-cakap berhadapan.


"Guru Raana? Guru Raana" sebuah suara membuat lamunan Raana buyar. Sedikit tergagap Raana menatap wajah Direndra sembari mengerjapkan matanya.


"I..iya guru Abi. Ada apa?" tanya Raana gugup.


"Guru Raana tidak masuk kelas?" tanya Direndra.


"Eh? Ini jam berapa?"


"Sudah hampir jam sembilan pagi. Apa guru Raana tidak ada jadwal mengajar hari ini?" Direndra mengambil sebuah novel Harry Potter untuk dibawanya ke kelas. Kardus berisi buku yang dikirim oleh Ayrton memang disimpan di ruang guru.


"Eh? Astaghfirullah! Saya melamun tadi" ucap Raana yang membuat Direndra melongo.


"Memang melamunkan apa atau siapa, guru Raana?" tanya Direndra datar. Semoga kamu melamun soal aku.


"Ra...ha...si..a" kerling Raana yang membuat Direndra gemas tapi dia sembunyikan ekspresinya. Sebagai seorang pangeran, Emir Al Azzam Blair, terbiasa bersikap datar.



Hiiihhhh... awas ya nih cewek! Gemesin banget! Direndra menatap Raana dengan wajah tersenyum.


"Saya permisi dulu, guru Raana." Direndra mengangguk.



Raana membalas anggukan Direndra dengan anggukan dan senyuman.


"Guru Abi!" panggil Raana.


"Ya guru Raana." Direndra berbalik.


"Apakah guru Abi akan membacakan Harry Potter?" tanya Raana.


"Apakah guru Raana ada usul?" Direndra berbalik bertanya.


"Saya ingin dengar tentang klething kuning. Kan guru Abi pernah bilang. Saya merasa itu namanya lebih aneh dari shallot dan garlic " senyum Raana.


Direndra tersenyum lebar. "Boleh. Nanti saya ceritakan."


***


"Kenapa Zee? Bertengkar dengan temannya?" tanya Ayrton pada saat Mariana menelponnya. Boleh dibilang Mariana Hadiyanto sangat jarang menelponnya, lebih sering dirinya yang menghubungi gadis itu.


"Iya Ton, Zee lagi ngambek di kamar. Ini aku sampai harus ijin tidak masuk kerja satu hari karena putriku ngambek berat."


"Coba pindah ke panggilan video, aku mau lihat si gadis ngambek" senyum Ayrton.


Mariana mengubah panggilannya menjadi panggilan video dan tampak keduanya saling memandang satu sama lain. Mariana memang jarang mau menerima panggilan video Ayrton karena tidak nyaman dan Ayrton juga tidak meributkan karena dia ingin gadis itu nyaman.


"Hai" sapa Ayrton sambil tersenyum.


"Hai. Oh Astaghfirullah... kamu benar-benar tinggal di istana?" seru Mariana melihat bagaimana ruang kerja Ayrton.



"Kamu kira aku bohong, May?" kekeh Ayrton.


"Wah, aku bakalan jadi wong ndeso kalau ke Dubai apalagi ke rumahmu" senyum Mariana.


"Lho justru yang ndeso itu yang gemesin" gelak Ayrton yang membuat Mariana melongo.


"Adalah! Kebayang kamu datang dengan mulut menganga, matamu yang bulat menatap tidak percaya istana Al Jordan... tapi itu baru Al Jordan belum Al Azzam. Pemanasan sebelum ke Burj Khalifa" gelak Ayrton geli membayangkan wajah Mariana yang terbengong-bengong.


"Hah? Nggak lah Ton! Aku nggak melongo nanti kalau kesana" sanggah Mariana dengan wajah memerah.


"Taruhan?" kekeh Ayrton.


"Iiissshhh nyebelin!" sungut Mariana. "Eh mau kasih lihat Zee, kok malah bahas soal istana eh rumah kamu."


Mariana membuka kamar tidur Zinnia yang khas anak perempuan. Penuh dengan pernak pernik Sanrio disana apalagi Ayrton memanjakan dengan mengirimkan berbagai macam karakter Sanrio langsung dari Jepang setiap Minggu.


"Assalamualaikum Zee. Mana nih princess nya Oom Ayrton? Kok ngambek?" goda Ayrton ke arah gadis cilik itu yang masih bergelung selimut.


"Zee, Oom Ayrton tuh. Kamu belum lihat kan kantornya Oom Ayrton. Bagus lho" bujuk Mariana ke arah putrinya.


Perlahan gadis cilik itu menurunkan selimutnya dan Ayrton terkesiap melihat bibir Zinnia membiru.


"Ada apa May? Sudah dibawa ke dokter?" tanya Ayrton panik.


"Sudah Ton, makanya aku berani telpon kamu setelah kami pulang dari dokter dan meminta visum karena keluarga sana hendak menuntut kami. Tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Anaknya duluan yang memulai..."


"Oom Ayrton... pulaaaannggg. Zee kangeeennn" seru Zinnia sembari menangis.


Hati Ayrton mencelos melihat wajah Zinnia yang memelas. Mariana memeluk putrinya.


"Mereka bertengkar soal apa? Kamu belum cerita padaku." Ayrton menatap Mariana penasaran.


"Zee diledek temannya karena tidak mempunyai ayah dan entah orang tua mana yang bilang dia anak haram."


Rahang Ayrton mengeras. Ya betul Zee lahir dari keegoisan orang tuanya tapi dia tidak bersalah.


"Siapa nama anak dan orangtuanya?" geram Ayrton. "Itu mulut orang tuanya perlu disikat pakai sikat WC plus karbol!"


Zee tiba-tiba tertawa mendengar ucapan Ayrton. "Oom, sikat WC nggak cukup di mulut."


Wajah pria itu melembut mendengar Zinnia bisa tertawa. "Lalu bagaimana?"


"Iya, Zee marah dan tidak terima lalu bilang aku bekerja di Carolina Herrera dan ayahnya bekerja di Dubai."


Ayrton melongo.


"Maaf ya Ton, Zee membawa namamu." Wajah Mariana tampak tidak enak.


Tidak apa sayang, beneran! Sumpah aku bahagia banget!


"Tidak apa May. Lalu kenapa sampai bibir Zee bengkak?"


"Anak itu bilang Zee bohong tapi Zee tetap bersikeras tidak bohong hanya saja anak TK kan tidak boleh membawa ponsel jadi tidak bisa membuktikannya. Lama-lama Zee jengkel dibilang 'unwanted child'."


"Wait. Itu anak umur berapa tahun? Seumuran Zee? Anak seumur itu tidak mungkin berkata demikian jika tidak diajari orangtuanya! Mana mudeng istilah seperti itu kalau bukan seumuran kita-kita." Ayrton menatap Mariana dan Zinnia bergantian.


"Iya sih Ton. Aku pun tidak percaya anak seumur gitu bisa bilang seperti itu. So, Zee memukul anak itu dan dibalas lalu mereka berkelahi." Mariana mengusap kepala putrinya yang tiduran di pangkuannya.


"Padahal Singapura negaranya lebih open minded tapi kenapa jadi picik begitu sih?" gerutu Ayrton kesal.


"Anak yang meledek Zee, anak Indonesia."


Ayrton tertawa sinis. "Oh pantas! Julid! Aku besok ke Singapura dan kita akan bawa ke ranah hukum karena anak seperti itu yang salah adalah orang tuanya. Dan aku tidak segan-segan menghajar orang yang mulutnya tidak pernah sekolah!"


***


Yuhuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️