
Cambridge Massachusetts USA
Alaric melongo mendengar ucapan asistennya, Maliq. Mata hazelnya melirik ke arah Nura yang bingung menatap ekspresi dirinya.
"Yang mulia..." suara Maliq membuat Alaric tergagap.
"Siapa yang mengaku - ngaku menjadi calon istri saya?" tanya Alaric gusar. Calon istri gue disini! Di sebelah gue!
"Calon istri Al?" tanya Joey bingung karena setahu dirinya, Alaric bukan tipe playboy mengumbar sana sini.
"Namanya Naadhira Baraka."
"HAAAAHH?" teriak Alaric kesal. "Dasar cewek gila! Brengseeekkk! Minta gue tendang ke Kilimanjaro!"
"Siapa Al?" tanya Nura bingung. Cewek mana lagi itu?
"Bilang sama cewek gila itu... Saya pindah ke Jupiter!" Alaric lalu mematikan panggilannya Maliq. Hatinya benar-benar kesal luar biasa.
"Siapa Al?" Nura mengulang pertanyaannya.
Alaric memberikan kode untuk Nura diam karena dia membutuhkan sesuatu membuang emosinya.
"Bang, disini ada samsak nggak atau gym atau apalah?"
Joey menggelengkan kepalanya. "Adanya tempat terapi tapi kan kamu tidak mungkin kesana."
"Berantem yuk bang!" Alaric membuka jaketnya dan menyisakan kaus birunya.
Si bontot Blair ngajak gelut
"Kamu gila Al! Apa kata pasienku!" hardik Joey jengkel.
"Habis aku kesaaaallll!" rengeknya.
Nura hanya melongo melihat Alaric antara marah, jengkel dan gemas jadi satu.
"Tunggu ... tunggu. Ada apa sih Al? Siapa cewek yang bilang calon istri kamu?" tanya Nura bingung.
"Dia cuma cewek gila, Benben. Ngaku-ngaku! Cuma kamu yang calon istri aku!" Alaric menatap Nura dengan wajah serius.
"Kalau gitu, ceritakan pada Abang dan dokter Jaziri. Sebenarnya apa yang terjadi?" Joey pun duduk di kursi taman rumah sakit sambil menatap Alaric.
Babang Joey diajak gelut sama Al
***
"Jadi begitu ceritanya?" tanya Joey. "Kok bisa ya ngaku - ngaku calon bini lu."
"Makanya gue heran. Kata mas Rendra, memang dulu sempat bilang sama eyang buat dijodohkan ke mas Rendra tapi kakakku satu itu sukanya cewek mungil menggemaskan macam Raana."
Nura memegang tangan Alaric. "Apa besok kamu mau menemui dia?"
Alaric menoleh ke arah gadis yang menatapnya penuh tanya. "Ogah lah! Ngelunjak!"
Joey tampak berpikir. "Tapi beneran Al, kok bisa tahu nomor ponsel kamu yang pribadi dan itu aneh mengingat semua teman-teman kamu hanya mendapatkan nomor bisnis dan semua harus melalui Maliq."
"Makanya aku menunggu Benji pulang. Sebelum dia terbang ke New York, aku akan suruh dia ke Dubai dulu."
"Iya, Sabtu aku harus main polo. Lagipula, si Gundala putra petir sudah lama tidak aku ajak jalan-jalan" cengir Alaric.
Joey memegang pelipisnya. "Nama kuda kok ya aneh - aneh tho Al."
"Suka-suka gue lah!"
Si Gundala putra petir, kudanya Alaric
***
Singapura, Singapore
Senna dan Fatimah bersiap-siap untuk pulang ke Dubai sedangkan Mariana dan Zinnia memilih untuk mengantarkan keluarga Al Jordan itu. Senna sengaja meminta pilotnya untuk terbang sore hari bertepatan Zinnia pulang sekolah agar bisa mengantarkan opa dan omanya.
Dan kini para keluarga Sultan sudah berada di ruang VIP sambil menunggu pesawat pribadi mereka siap.
Zinnia sangat antusias melihat pesawat pribadi milik keluarga Al Jordan yang terdapat logo disana. Benji yang mengajak melihat pesawat itu dari balik jendela ruang tunggu, dengan sabar menerangkan pesawat yang mampu menampung 19 orang itu.
Ayrton tampak duduk berdua dengan Mariana di sebuah sofa dan tangan pria itu merangkul pundak gadis manis yang menyandarkan kepalanya di bahu pangeran tampannya.
"Bakalan kangen sama kamu, Ton. Biasanya ada yang datang tiba - tiba terus ajak makan siang atau ajak jalan bertiga dengan Zee."
Ayrton mencium pucuk kepala Mariana. Semenjak keduanya resmi berpacaran, Ayrton tidak sungkan menunjukkan mengekspresikan perasaannya ke Mariana.
"Kan nanti Desember kamu akan ke Dubai."
"Iya sih. Zee sudah tidak sabar untuk melihat istana" senyum Mariana.
Tiba-tiba sebuah rombongan ikutan masuk ke dalam ruang tunggu VIP itu dan tampak Raja Maximilian dan Ratu Elisabeth hadir disana. Rombongan keluarga kerajaan Belgia itu masuk dengan dandanan casual. Raja Maximilian yang melihat Senna mengenakan pakaian resmi Emir itu menatap tidak percaya ruang VIP besar itu harus berbagi.
"Maaf tapi sepertinya ada kesalahan ya" ucap Raja Maximilian sambil tersenyum.
"Sepertinya tidak. Silahkan anda di ruangan sebelah sana karena pesawat kami akan berangkat dari gate yang ini" balas Senna sambil tersenyum.
"Anda Emir Saudi Arabia atau Uni Emirat Arab?" tanya Raja Maximilian yang sore itu memakai baju casual, begitu juga dengan ratu Elisabeth.
"Saya dari Uni Emirat Arab, nama saya Senna Al Jordan." Senna mengulurkan tangannya ke arah Raja Maximilian.
"Al Jordan? Apakah anda Opanya Zinnia?" tanya Raja Maximilian.
"Maaf anda?" Senna memang belum pernah bertemu dengan raja Maximilian.
"Maximilian, king of Belgium."
Senna terkejut.
***
Yuhuuuu Up Malam
Lanjut besok Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️