The Four Emirs

The Four Emirs
Masa Lalu Hadir Kembali



Istana Al Azzam


Direndra dan Alaric yang sedang berada di ruang kerja bersama dengan Hasyim, Iqbal dan Fahd hanya tersenyum melihat jumpa pers yang dilakukan keluarga Al Jordan. Mereka semua sudah tahu siapa Mariana dan Zinnia, sangat mendukung keluarga Al Jordan membuat semua orang bungkam.


"Kasihan Zinnia. Selalu dianggap anak..." Hasyim menghela nafas panjang karena tidak tega melanjutkan.


"Makanya Opa Senna ngamuk saat pers dan kolom gosip bilang Zee anak di luar nikah dan Ayrton serta Mariana sudah tinggal bareng sebelumnya" ucap Direndra.


"Mereka itu seperti tidak tahu keluarga ayahmu saja, boys. Bagaimana keluarga kalian sangat menjunjung tinggi martabat dan tidak mungkin Ayrton akan berbuat macam-macam karena pasti akan digantung oleh Senna" kekeh Hasyim.


"Karena keluarga Daddy dikenal bersih, makanya sekali ada celah gosip, langsung ramai" timpal Alaric.


"Mariana resmi pindah ke Dubai?" tanya Hasyim.


"Resmi, eyang. Semalam kan kita main kesana dan memang Mariana resmi pindah begitu juga Zee yang pindah sekolah disini" jawab Direndra.


"Baru seminggu disini sudah heboh ya" gumam Alaric.


"Karena Ayrton dikenal banyak pacarnya dulu jadi wajar kalau Mariana dikira sebagai salah satu pacarnya" timpal Direndra. Dan itu memang tidak salah karena dibandingkan dengan ketiga saudaranya, Ayrton memang hobi gonta ganti pacar dari jaman SMP.


Alaric tersenyum. "Dia memang playboy seperti Oom Karl."


"Tapi sekalinya playboy tobat, dia benar-benar memilih calon istrinya yang diluar ekspektasi kita semua" senyum Direndra.


***


Istana Al Jordan


Zinnia heboh berlarian bersama dengan chibi, anjing Pomeranian milik Tamara. Sejak Zinnia tinggal di istana, anjing mungil itu memilih tidur di kamar gadis cilik itu bersama Mariana. Terkadang Tamara suka bergurau kalau Chibi merasa senang bertemu dengan yang sama-sama mungil.


"Omaaa... Omaaaa" teriak Zinnia yang membuat pengasuhnya harus ikut berlari bersama nona kecilnya.


"Ada apa sayang?" teriak Fatimah dan Tamara dari dalam dapur istana. Meskipun keduanya sudah berusia lanjut, masuk ke dalam dapur itu seperti obat hati mereka walau tidak setiap hari.


"Zee gambar ini!" Zinnia menunjukkan selembar kertas yang digambarnya.


Tamara yang sedang duduk mengupas telur rebus dan Fatimah yang membuat mashed potatoes melihat gambar yang dibuat cicitnya.


"Gambar apa itu sayang?" tanya Tamara.


"Ini Zee gambar Oma Fatimah, Opa Senna, Oma Tamara, Opa Kai dan Zee bareng chibi, rag dan Karupin" ucap Zee sambil menerangkan siapa saja yang digambarnya.


"Wah Zee, gambarnya bagus banget!" puji Fatimah. "Mau bantuin Oma?"


"Zee bantu apa Oma?"


"Parut keju, mau?" tanya Fatimah.


"Mau!" Zinnia lalu memberikan kertasnya ke pengasuhnya. "Bibi Lia, tolong dipegang dulu ya. Zee mau masak."


"Baik nona kecil" senyum Bibi Lia yang senang menjadi pengasuh anak tiri Ayrton karena Zinnia sangat menggemaskan. Meskipun pada awalnya banyak bisik-bisik miring di kalangan para pelayan tapi makin lama mereka tahu bahwa Zee adalah anak angkat Mariana, calon istri Ayrton. Ditambah jumpa pers yang barusan dilakukan oleh keluarga Al Jordan, membuat mereka simpati pada Zinnia yang orang tua kandungnya sudah meninggal dunia.


Dan kini, Zinnia asyik membantu kedua omanya di dapur dengan ditemani chibi yang tidur di bawah kursinya.


***


Seminggu usai jumpa pers. Butik Carolina Herrera Crescent Drive


Mariana bersyukur usai jumpa pers yang dilakukan oleh keluarga calon suaminya membuat kehidupannya menjadi tenang. Seperti biasa, Ayrton selalu mengantarkan dirinya terlebih dahulu baru ke gedung AJ Corp.


Ritme kerja yang dia lakukan di Singapore, dia terapkan juga disini. Para pegawai di sana pada awalnya merasa jengah mengetahui Mariana adalah tunangan Emir Al Jordan Schumacher dan menganggap karena kekasihnya bisa mendapatkan posisi di butik itu tapi semakin lama mereka mengakui bahwa Mariana diterima karena bakat dan kemampuannya.


"Assalamualaikum" sapa Mariana setiap pagi datang ke butik. Meskipun butik baru buka jam 10 pagi, tapi jam 8 Mariana dan para pegawainya sudah datang untuk setiap hari mengganti manequin dengan koleksi terbaru.


"Kemarin kan sudah hijau, bagaimana kalau hari ini dua warna tapi yang cerah."


"Merah dan emas?" usul pegawainya yang lain.


"Boleh tuh! Yuk kita mulai mengganti layout dan dress manequin nya."


Mariana bersama tiga pegawainya pun segera bekerja sampai ponsel gadis itu berbunyi. Wajahnya langsung berubah dari ceria bersama dengan pegawainya menjadi mendung.


"Assalamualaikum Tante" sapa Mariana.


"Wa'alaikum salam. Mariana, apa benar cucu Tante hendak diadopsi resmi oleh keluarga Dubai?" Rupanya yang menelpon adalah Santi, ibu almarhum Indrawan mantan kekasih Mariana dan suami almarhum Mareta, kakaknya.


"Iya benar Tante. Kenapa Tante baru menanyakan Zee?" Mariana merasa bakalan ada sesuatu karena setelah sekian purnama, keluarga ayah Zinnia tidak mau ikut campur dan lepas tangan dari gadis cilik itu karena menganggap hanyalah anak yang tidak diinginkan oleh mereka.


"Ingat ya Mariana, anak itu masih ada darah Indra jadi keluarga kami ada hak untuk mengakui anak itu sebagai bagian keluarga Priyatna."


"Nama anak itu adalah Zinnia. Oh, sekarang Tante mengakui kalau Zee adalah cucu keluarga Priyatna? Kemana kalian semua saat Zinnia lahir? Kemana kalian semua saat bayi masih merah itu harus menjadi yatim-piatu?"


"Heh, Mariana! Kamu dan mamamu kan yang bergaya mau mengasuh anak itu!"


"Iya, karena saya tidak tega melihat Zinnia menjadi unwanted child hanya karena keegoisan anak Tante dan kakak saya!"


Ketiga pegawai butik disana hanya melongo melihat Mariana tampak emosi dengan bahasa yang mereka tidak ketahui.


"Aaliyah, tolong kamu telpon asistennya pangeran Ayrton. Tampaknya ada yang mengganggu Miss M" ucap salah seorang pegawai ke rekannya yang bernama Aaliyah.


Aaliyah sendiri langsung menelpon asisten Ayrton untuk menyampaikan bahwa bossnya ada yang mengganggu.


"Kalian jangan seenaknya main klaim anak itu dengan nama keluarga calon suami kamu! Dia masih ada darah Priyatna!" balas Santi.


"Ohya? Disaat kalian semua menolak Zee, detik itu juga saya mencoret nama 'Priyatna' sebagai nama belakang Zee. Lagipula, Indrawan sudah meninggal dan Ayrton bersedia menjadi ayah sambung Zee jadi disaat nanti Zee menikah, kami tidak memerlukan keluarga Priyatna karena kalian sendiri yang sudah menolaknya!" Dalam hati dirinya bersyukur tidak berjodoh dengan Indrawan karena ternyata aslinya mereka seperti ini.


"Heh! Dengar ya kamu Mariana! Tetap saja anak itu masih membawa darah Priyatna sampai kapanpun!"


"Hanya sekedar gen DNA dan darah tapi apa kalian pernah ikut dalam tumbuh kembang Zee? Tentu saja tidak! Sekarang mau Tante apa? Aku rasa Tante pasti minta kompensasi kan?" sindir Mariana yang bisa meraba mantan calon mertuanya yang super matre.


"Tentu saja harus ada kompensasinya untuk melepaskan nama Priyatna dari anak itu!" ucap Santi tanpa malu. "Kan calon suami kamu kaya!"


"Stop panggil 'Anak itu' berulang yang hanya Tante jadikan eksploitasi untuk mendapatkan keuntungan keluarga Tante. Saya peringatkan ya Tante, jangan sekali-kali mengusik calon suami saya jika tidak mau Tante dipermalukan! Oh jangan lupa, semua berkas-berkas hukum dan legalitas adopsi Zee lengkap semua termasuk surat pernyataan Oom Denny dan Tante Santi yang menolak mengakui Zinnia sebagai anak Indra! Jadi sebelum Tante maju perang, kasarannya Tante sudah kalah duluan!" ucap Mariana judes.


"Kamu! Untung kamu tidak jadi menantu saya!"


"Dan saya bersyukur akan hal itu! Assalamualaikum!" Mariana langsung mematikan ponselnya dan berbalik. Dirinya merasa terkejut melihat Ayrton sudah berdiri disana.


"Are you okay?" tanya Ayrton. Mariana menggelengkan kepalanya.


"I'm so pissed!" jawab Mariana. Ayrton lalu membawa tubuh gadis itu dalam pelukannya.


"Siapa yang membuat kamu dan Zee bersedih, akan aku hajar!" desis Ayrton.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️