The Four Emirs

The Four Emirs
Keputusan Mariana



Dubai UAE, istana Al Jordan dua hari kemudian ...


Para keluarga klan Pratomo berkumpul semua di mansion sebelum akan pulang keesokan harinya. Para ayah dan ibu tahu kalau para putra dan menantunya balapan di Autodrome dan Benji mengalami kecelakaan akibat terlalu mengepot hingga mobil Alaric lumayan remuk di bemper sisi kanannya.


Tentu saja semua pria generasi kelima kena omel panjang kali lebar kali tinggi.


"Untung Benji masih selamat! Coba kalau ada apa-apa gimana!" bentak Sabine kesal.


"Mobilku yang remuk..." sungut Alaric.


"Itu resikonya Al! Jangan sok nyesel!" hardik Thara.


Alaric pun manyun.


Javier, Duncan, Ghani, Senna dan Kai hanya tersenyum geli mengingat saat Aidan dan Thara serta Sabine dan Karl menikah, mereka juga melakukan hal yang sama.


"Kayaknya kalau ke Dubai nggak balapan nggak seru ya" kekeh Ghani. "Sayang refleks aku sudah mulai menurun padahal aku ingin nyetir lagi."


"Wis G, kita tuh sudah tua, Wis wayahe disopiri" gelak Duncan.


"Emang kalian punya koleksi berapa mobil sih?" tanya Javier ke Senna dan Kai.


"Anak empat itu punya satu bangunan dua lantai yang isinya koleksi mobil-mobil mereka dan itu diluar koleksi yang ada di garasi sini dan di Al Azzam. Total yang di garasi mereka ada sekitar 20 mobil, empat Harley, empat Ducati dan belasan motor sport lainnya" ucap Senna. "Kalau Opanya sih mainannya Yacht saja."


Para opa generasi ketiga hanya melengos mendengar penjelasan Senna yang kesannya tidak menyombongkan tapi kok terdengar pamer.


"Kabarnya Yacht kamu tinggal satu ya Sen?" ledek Duncan.


"Iya... daripada kena omel Fatimah setiap hari..." jawab Senna sambil menunduk yang membuat sepupunya terbahak.


Dan semua opa sedang menikmati drama Omelan kaum emak-emak ke putra - putra dan menantu tampannya.


***


"Benji disuruh bang Al kasih Ducati nya Benji buat jaminan kerusakan mobilnya" adu si bontot itu dramatis ke Thara dengan wajah dibuat nyaris menangis membuat semua kakak sepupunya melongo.


"Drama amat lu Ben!" sungut Alaric.


"Apa benar begitu Al?" Thara menatap tajam ke putra bontotnya.


"Kan wajar mom... Dia yang rusakin, Al minta ganti. Lagian duit dia juga banyak kok" jawab Alaric manyun.


"Kan tadi mommy sudah bilang kalau itu resiko kalian! Sudah, jangan diminta Ducati yang kamu kasih ke Benji!" Wajah Benji berubah bahagia. "Dan kamu Benji, ganti biaya perawatan mobilnya bang Al. Belajar bertanggung jawab!" Bahu Benji pun melorot lagi.


"Mbak Emi..." bisik Mariana.


"Mereka biasa dimarahi begini?" tanya Mariana.


"Biasa ini, Na. Nanti seiring berjalannya waktu, kamu akan sering melihat adegan kekerasan ibu ke anak. Jadi jangan kaget ya soalnya rata-rata mommy kita-kita itu bisa bela diri semua yang ternyata dipakai untuk menghajar anak-anaknya" kekeh Emi.


Mariana melongo.


***


Kini sudah seminggu Ayrton dan Mariana menjadi pasangan suami istri dan atas permintaan Senna, mereka tetap tinggal di istana Al Jordan.


"Kamar segini banyak, ngapain kalian ke Burj Khalifa? Sudah sini saja biar enak" ucap Senna waktu itu. Memang semua keluarga Al Jordan tinggal di tempat yang sama dan hanya Enzo yang jarang pulang ke mansion selama musim balapan masih berlangsung. Enzo baru pulang jika musim panas saat balapan libur.


"Bilang saja Opa tidak mau jauh dari cicitnya" ledek Fatimah.


"Sayangku tahu saja" ucap Senna genit yang mendapatkan cubitan dari istrinya.


Zinnia sendiri lebih suka tinggal di istana karena banyak teman meskipun orang dewasa tapi setidaknya tidak kesepian. Gadis cilik itu tanpa sungkan ikut membantu para pelayan memasak dan membersihkan kamarnya. Oleh Senna, Zinnia memang diberikan kamar sendiri dan setiap malam tidur ditemani teman-teman berbulunya.


Ayrton sendiri bersama Direndra dan Alaric makin sibuk dengan proyek listrik tenaga Surya mereka bahkan Alaric sampai harus bisa membagi waktu antara Al Azzam dan pengawasan RR's Meal di UAE dan Saudi Arabia meskipun sudah dihandle oleh Abraham, manajer RR's Meal Dubai.


Mariana masih bekerja di butik Carolina Herrera dan dia sudah melakukan perjanjian jika dirinya nanti hamil anak pertama maka dia akan mundur dari perusahaan yang sudah sekian tahun memakai jasanya. Mariana ingin menikmati indahnya menjadi ibu dan orang tua.


Ayrton dan Mariana sudah sepakat dan pria itu selalu memberikan kebebasan pada istrinya tentang langkah apa yang hendak diambilnya.


"Aku tidak melarang kamu bekerja May. Bukankah memang impianmu menjadi desainer?" tanya Ayrton saat malam tiba.


"Tapi Ton, aku sudah memikirkan lama dan aku juga banyak berdiskusi dengan Oma Fatimah dan Oma Tamara serta ibu dan mama. Mereka setuju jika aku memutuskan menjadi ibu rumah tangga nanti jika aku hamil anak pertama. Bagaimana pun Zee juga sudah mulai besar dan aku mau dari dini aku mendidik agar dia tetap humble meskipun menjadi putri seorang Emir dan memiliki banyak uang. Ingat Ton, waktu itu berjalan cepat dan aku tidak mau Zee nanti kaget jika waktunya kita memberikan sawah itu." Mariana menatap wajah suaminya.


"Aku dukung keputusanmu, May. Dan aku yakin jika kamu pasti mengambil langkah yang terbaik untuk kita dan Zee."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Unboxing nya agak maleman yaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️