The Four Emirs

The Four Emirs
Curhatan Emak-emak



Mariana dan Ayrton masih menunggu Zinnia keluar dari ruang kelasnya sedangkan Travis memilih ke kantor cabang Blair and Blair Advocate Association di Singapura. Keluarga Travis memang membuka cabang kantor pengacara di berbagai belahan dunia tapi pusatnya memang di Jakarta dan London.


"Ton, apa si Dennis itu bakalan ganggu aku atau Zee nggak ya?" tanya Mariana.


"Jadi kamu sekarang sudah menganggap aku sebagai tunangan kamu?" Ayrton berbalik bertanya.


"Lho kok? Aku tanya apa malah dijawab apa?" kekeh Mariana.


"Tapi beneran kan May? Aku tunangan kamu?" cengir Ayrton.


"Iyaaa. Kan semalam sudah dipastikan." Mariana tersenyum. Ayrton memang lebih muda darinya tapi sikapnya melebihi usianya yang baru 24 tahun dan Mariana merasa beruntung dicintai pria seperti Ayrton.


"Kalau si banci itu berani datang dan ganggu kamu sama Zee, jangan harap bisa melihat matahari besok pagi!"


Meskipun terkadang pola pikirnya dewasa tapi panasannya nggak hilang juga - batin Mariana.


"Mamaa! Oom Ayrton!" seru Zinnia saat melihat kedua orang yang sedang mengobrol itu.


"Halo Zee sayang. Tadi belajar apa?" tanya Mariana sambil memeluk putrinya.


"Tadi buat origami tapi Zee cuma dapat bintang empat" adunya sambil manyun.


"Kenapa dapat empat?" tanya Ayrton.


Zinnia mengambil origami hasil karyanya. "Ini, ada yang sobek" adunya sambil manyun.


Ayrton tertawa. "Nanti bikin lagi yang baru ya."


"Tapi nanti tidak dapat bintang lima, nggak jadi ke Dubai dong" rengek Zinnia.


"Ini kan baru latihan. Nanti di rumah, belajar lagi sama mama ya, biar kalau bikin origaminya nggak sobek." Mariana membujuk Zinnia.


Sebenarnya tanpa harus ada bintang lima di buku raport nya, Mariana dan Ayrton tetap mengajak Zinnia ke Dubai. Hanya saja, Mariana ingin mendidik putrinya harus berusaha dulu sampai benar-benar mendapatkan apa yang diinginkan.


"Tadi Ricky ganggu kamu nggak?" tanya Ayrton.


"Nggak Oom. Ricky tadi dijemput mamanya."


Mariana dan Ayrton saling berpandangan.


"Yuk kita makan siang. Zinnia mau makan apa?" ajak Ayrton sambil menggandeng gadis cilik itu berdampingan dengan Mariana. Semua orang yang disana melihat bagaikan keluarga kecil bahagia.


"Sushi!"


Mariana hanya menghela nafas panjang. "Sushi lagi?"


"Ayo kita makan sushi!" ajak Ayrton.


Mariana tersenyum melihat wajah berbinar Zinnia dan tampak tidak ada bekas-bekas trauma atau depresi akibat kasus kemarin. Mungkin karena ada Ayrton ya jadi Zee merasa ada sosok ayah yang melindungi dan memanjakan.


Mariana sendiri belum terlalu mencintai Ayrton seperti halnya pria itu yang terang-terangan menyatakan perasaannya tapi melihat bagaimana Ayrton nekad terbang dari Dubai ke Singapura hanya untuk menemani dirinya dan Zinnia, membuat Mariana lebih memikirkan perasaan putrinya.


Sepanjang jalan menuju restauran Jepang favorit Zinnia di Singapura, gadis cilik itu tak henti-hentinya bercerita macam-macam ke Ayrton yang ditanggapi pria itu sama excitednya.


Mariana tersenyum mendengar percakapan keduanya yang seolah seperti ayah dan anak kandung sendiri. Sosok pria inilah yang dicarinya, lebih menyayangi Zee terlebih dahulu.


***


Zinnia dan Ayrton langsung semangat memesan sushi sedangkan Mariana memilih hanya ikut icip-icip pesanan mereka.


"Kamu nggak pesan apa gitu May? Ramen? Gyoza? Udon?" tanya Ayrton.


"Nggak lah, kalian sudah pada khilaf pesannya jadi aku ikut kalian saja. Sayang kalau tidak habis, kan eman-Eman" ucap Mariana sambil tersenyum.


"Emak-emak memang gitu ya?" kekeh Ayrton.


"Makanya jangan salahkan kalau emak-emak itu badannya pada menggemuk setelah punya anak, ya karena itu. Bagian tong sampah menghabiskan makanan anak-anaknya yang tidak habis" balas Mariana.


"Tapi badan kamu tidak gemuk?" Ayrton menatap tubuh langsing Mariana.


"Aku nge-gym seminggu dua kali Ton. Kalau tidak, mbedah aku" kekeh Mariana.


"Tapi kalau kamu besok hamil, tambah seksih kok" komentar Ayrton.


"Hah?" Wajah Mariana memerah. "Kok bisa?"


"Karena kamu mau hamil anakku. Bukankah itu seksih?" bisik Ayrton di sisi telinga gadis yang duduk di sebelahnya.


Mariana mengeplak bahu Ayrton. "Ih! Apaan sih!" sungutnya dengan wajah memerah.


Ayrton terbahak.


***


"Makanya kalau pesan itu jangan serakah, jadinya gini kan? Mama juga yang menghabiskan?" omel Mariana sambil memakan sushi yang tinggal sedikit itu.


Ayrton dan Zinnia hanya memasang wajah manyun seolah sedih dimarahi oleh Mariana. Tak urung gadis itu tertawa melihat wajah keduanya.


"Oh ya Allah kalian berdua itu! Kompak sangat berdrama."


Ayrton berbisik ke Zinnia yang berada di sisi kanannya dan gadis cilik itu langsung heboh.


"Iya! Zee mau Oom!" serunya. "Kapan?"


Mariana menatap curiga ke Ayrton. "Kamu bilang apa sama Zee?"


"Kapan mama dan Oom Ayrton menikah?" tanya Zinnia heboh. "Zee gak sabar manggil Oom Ayrton papa."


Mariana melongo. "Ayrtoooonnn!"


"Apa sayang? Kan daripada kelamaan tho?" cengir pria berdarah Jerman, Arab, Jepang, Jawa itu.


***


Usai makan sushi, ketiganya pun memilih berjalan-jalan di sebuah taman kota dan Ayrton menggandeng tangan Mariana layaknya pasangan kekasih sambil mengawasi Zinnia yang berjalan di depan mereka.


"Pengawal mu masih ada saja ya" bisik Mariana yang melihat beberapa orang berdarah timur tengah dengan baju santai.


"Seperti biasa. Hanya saja aku minta hanya tiga orang yang ikut biar Opa dan Oom Reyhan tidak spanneng."


"Daddy kamu malah nggak panik kirim pengawal juga?"


Ayrton menggelengkan kepalanya. "Mommy dan Daddy adalah orang paling santai soal anaknya. Karena tahu, aku bisa menjaga diri sendiri."


"Mommy mu tampaknya wanita yang kalem ya" komentar Mariana yang sudah melihat foto Sabine dan Karl.


Gadis itu cukup terkejut melihat bagaimana tattoo milik ayah Ayrton itu begitu banyak di lengan dan tubuhnya. Pria itu menunjukkan foto liburan mereka bertiga saat di Dubai dan Ayrton bersama Karl sama-sama hanya memakai celana pendek untuk berenang.


Ayrton terbahak. "My mom is the second savage lady in my family."


"Hah?"


"Apakah kamu percaya kalau mommyku bisa mengendarai tank, menembakan bazoka, menjadi sniper berhari-hari saat ikut latihan militer dengan pasukan militer Uni Emirat Arab?"


Mariana melongo. "Your mom?"


"My mom!" seyum Ayrton dengan bangga dan sayang menjadi satu tampak di wajahnya.


"Serius?"


"Serius. Tapi mom masih kalah dengan Tante Kaia kalau soal savage."


"Memang Tante Kaia kenapa?"


"Bunuh orang dengan menembakkan pelurunya ke mobil yang sedang berjalan hingga meledak. Kalau istilah di keluarga kami, tukang gosongin orang."


"Oh astagfirullah! Kenapa Tante Kaia seperti itu?"


"Karena orang yang dihajar itu sudah membunuh Opa buyut Edward Blair dan Oma buyut Yuna Pratomo Blair."


Mariana memegang pelipisnya. "Astaghfirullah! Kalian itu menyeramkan!"


"Selama elu kagak senggol gue, gue cool man tapi kalau elu macem-macem, ya gue beli dah! Kasarannya begitu" senyum Ayrton.


"Mamaaaa! Papaaa!"


Suara Zinnia membuat keduanya menoleh dan tampak Zinnia berlari ke arah mereka sedangkan pengawal Ayrton pun bergerak mendekati sang Emir.


"Ada apa Zee?" tanya Mariana sambil memeluk tubuh Zinnia yang gemetaran.


"Itu ada Oom Oom jahat!" ucapnya tanpa mau menoleh ke belakang.


Ayrton pun melihat Dennis Sanders datang bersama beberapa orang bersamanya.


Beneran minta dihajar nih banci!


***


Yuhuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️