
Dubai UAE
Direndra mengikis jarak dengan gadis cantik yang memerah wajahnya dan menatapnya lembut. "Siapa yang rindu dengan guru Abi?" bisiknya di depan wajah cantik itu.
"An.. anak-anak... kelas... Anda... pangeran" cicit Raana tidak berani membalas tatapan Direndra.
"Hhmmm...iyakah? Sampai-sampai guru Raana datang jauh-jauh kemari. Tadi naik apakah?" tanya Direndra mengingat perjalanan darat dari Al Shiba menuju istananya membutuhkan waktu sekitar tiga jam.
"Aku tadi diantar kakek dan pak Ahmad yang hendak ke kota membeli sesuatu." Raana mengangkat sedikit wajahnya.
Direndra mengangguk. "Umar!"
Pria yang menghandle Hurricane pun datang. "Ya yang mulia?"
"Tolong bawa Hurricane ke kandangnya, aku akan kembali ke istana."
"Baik yang mulia. Ayo, Hurricane." Direndra menepuk wajah kuda itu pelan dengan sayang.
"Hurricane, ikut pak Umar ya."
Kuda hitam tinggi besar itu pun menurut jalan bersama dengan pengasuhnya.
Direndra melepaskan helm nya lalu menyerahkannya dan tongkat cambuk kuda yang dipegangnya ke arah pengawalnya. Direndra memang jarang memakai tongkat cambuk itu tapi demi estetika, dia tetap membawanya.
"Kamu tunggu situ, aku akan keluar dan berjalan memutar." Direndra pun menuju pintu pagar yang berada ujung kiri.
Raana menatap sekitarnya dan betapa dirinya merasa kecil dibandingkan Direndra. Siapa lah aku. Hanya anak yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya dan bukan keturunan bangsawan langsung.
Direndra melihat bagaimana Raana tampak galau melihat sekelilingnya langsung memegang tangan gadis itu yang tersentak melihat tangan besar itu menggenggam tangannya. Rasa hangat terasa oleh Raana.
"Jangan insecure, Raana. Ada aku disini, bersamamu." Direndra berbisik pelan dengan sedikit menunduk karena Raana sangat mungil jika dibandingkan dirinya.
Wajah Raana semakin memerah.
"Yuk, pulang. Paman Iqbal, paman nyetir sendiri ya, biar Raana sama aku" ucap Direndra kepada patihnya.
"Baik pangeran." Iqbal pun naik golf car nya sendirian sedangkan Direndra mengajak Raana naik golf car miliknya.
"Kamu beneran tadi datang karena anak-anak mencari aku?" tanya Direndra sembari menyetir golf car.
"I.. iya" jawab Raana.
Direndra menoleh. "Kamu kenapa? Kok muka kamu pucat? Kamu sakit?"
Raana menggelengkan kepalanya. "Nggak... nggak papa kok"
Tangan kiri Direndra reflek memegang dahi Raana. "Ya Allah, badan kamu panas. Kamu sakit ya?"
"Nggak pangeran... Saya ... "
Direndra segera memacu golf car nya secepat yang dia bisa. Sesampainya di istana, pria itu langsung menggendong Raana tanpa meminta ijin dan langsung berteriak minta dicarikan dokter Ghauth.
Raana hanya pasrah karena memang kepala dan badannya terasa panas. Pria itu langsung membawa Raana masuk ke dalam kamarnya yang dulu.
***
"Typhus?" pelotot Direndra. "Raana sakit typhus?"
"Iya yang mulia, nona Raana terkena sakit typhus endemic dan harus istirahat total" ucap Dokter Ghauth.
"Tapi saya ... harus pulang..." bisik Raana sebelum pusing melandanya lagi.
"Kamu disini! Tidak ada bantahan! Disana siapa yang akan merawat kamu?" ucap Direndra galak yang membuat Raana terdiam.
"Saya kasih infus ya nona dan obat-obatan agar nona sehat kembali dan saya sarankan anda tinggal disini karena memang anda harus bedrest."
"Dengarkan itu, Raana. Sudah kamu disini. Nanti kalau kamu butuh sesuatu bisa panggil aku atau pelayan." Direndra mengusap kepala Raana. "Aku ngobrol dulu dengan dokter Ghauth."
Raana mengangguk dan entah karena faktor obat yang dimasukkan kedalam infusnya, lama-lama gadis itu tertidur.
***
"Yang mulia, anda juga harus menjaga tubuh anda. Karena anda akan bertanding besok Sabtu..." Dokter Ghauth memperingatkan Direndra. "Pola makan, vitamin jangan lupa dijaga dan dimakan."
"Tampaknya nona Raana terkena baketri salmonella thipi dan memang harus istirahat total. Tuanku, jika bisa nona Raana disendirikan alat makannya dan kalau perlu direndam air panas setelah digunakan. Karena bisa menular meskipun sebenarnya yang lebih cepat jika menggunakan kamar mandi yang sama karena disana bakteri berkembang."
"Jadi maksud mu, kamar mandi yang nantinya dipakai Raana harus dibersihkan sehari dua kali dengan cairan disinfektan?"
"Iya dan pelayan yang membersihkan juga harus memakai masker dan sarung tangan untuk mencegah penularan."
Direndra mengangguk.
***
"Haaaaahhh? Raana kena typhus?" seru Alaric yang sekarang sedang berada di rumah sakit menunggu Nura dan Joey selesai melakukan operasi. Keduanya kini sedang melakukan panggilan video dan Alaric tahu kakaknya sedang berada di dalam Range Rover nya dengan disopiri oleh sopirnya.
"Iya, jadi aku memberikan perawat untuk nya karena aku harus menghadiri rapat siang ini. Kamu gimana dengan Nura?"
"Yang penting Raana di istana jadi banyak yang mengawasi dan makanan juga terjamin. Aku sama Benben? Alhamdulillah kami sudah jadian" senyum Alaric.
Direndra tersenyum bahagia melihat wajah adiknya yang sumringah. "Mas ikut senang dik."
"Eh mas. Aku tuh bolak balik ditelpon oleh Naadhira Baraka."
"Mau apa dia?" tanya Direndra dengan wajah curiga.
"Ngajak aku ngopi dan langsung aku tolak. Tapi herannya kok bisa tahu nomor pribadi aku ya? Padahal nomor ini kan hanya keluarga dan orang terdekat yang tahu."
"Apa kamu sempat bertukaran nomor ponsel dengan dia?" tanya Direndra.
"Sama sekali tidak mas. Kan kamu tahu sendiri kalau dengan orang baru, aku selalu memberikan nomor bisnis dan yang mengurus semua Maliq. Jika ada yang mencari aku, Maliq pasti ngabarin aku."
"Apa Maliq yang memberikan nomor mu?" tanya Direndra lagi.
"Aku sudah tanya Maliq dan tidak ada yang mencari aku seorangpun diluar bisnis. Bahkan teman touring aku juga tidak menelpon Maliq. Kan kamu tahu, teman sekolah sampai kuliah, touring, hiking semua aku berikan nomor bisnis dan tidak pernah nomor ini."
Direndra menatap adiknya dengan tatapan bingung. "Besok Ayrton, Benji bersama Opa Senna dan Oma Fatimah akan pulang ke Dubai. Kamu bisa minta tolong Benjiro untuk mencari tahu siapa yang memberikan nomor ponsel mu. Sementara kamu blokir saja nomor - nomor tidak dikenal itu."
"Sudah aku setting lah mas. Lho bang Ayrton sudah lepas dari tahanan kota?"
"Sudah resmi bebas karena orang yang dihajarnya masuk hotel prodeo."
"Bagus lah!" Alaric tersenyum puas.
"Kapan kamu pulang ke Dubai?" tanya Direndra.
"Besok subuh aku pulang. Ini mau berpamitan dengan Benben dan bang Joey."
"Ya sudah. Sampai ketemu besok. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam mas." Alaric mematikan panggilannya.
Tampak Nura dan Joey berjalan ke arahnya. Keduanya tampak serius membahas sesuatu dan Alaric sedikit cemburu dengan abangnya yang bisa membuat Nura tampak begitu kompeten.
Harusnya aku kemarin kuliah di kedokteran biar bisa sama Benben!
"Lho Al? Sudah lama?" tanya Joey yang memang tidak tahu kalau adiknya datang. Nura tadi pagi yang mengabari akan ada jadwal operasi jadi Alaric memutuskan untuk datang ke rumah sakit menunggu gadisnya.
"Udah lumutan ini!" sungut Alaric.
"Kasihaaaannn..." senyum Nura.
"Kamu tanggung jawab!" pendelik Alaric sok galak.
"Idih kalian berdua tuh!" Joey terkekeh.
Suara ponsel Alaric berbunyi dan tampak nama 'Maliq' di layar.
"Ya Maliq?"
"Yang mulia... Ini ada pesan masuk ke nomor saya."
"Apa isi pesannya?" tanya Alaric yang merasa bahwa Naadhira akan ke nomor bisnis nya.
"Calon istri pangeran menunggu anda di Burj Khalifa besok untuk makan siang."
Alaric melongo.
Calon istri dari Grand Canyon! Dasar cewek gila!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️