
Kazuo's Bed and Breakfast Silverstone Northamptonshire Inggris
Reyhan dan Paradina menatap bangunan dua lantai bewarna putih yang tampak asri dan rapih. Kedua orang tua Enzo itu ikut mengantarkan Georgina hingga ke penginapan miliknya. Awalnya Georgina menolak untuk diantarkan tapi Paradina memaksa karena dia ingin tahu seperti apa penginapan milik gadis itu.
Paradina sudah menyukai Georgina yang lebih memilih mengurus penginapan warisan kedua orangtuanya daripada dia pergi ke London mencari kerja padahal banyak yang tahu daerah pedesaan Inggris ramai jika ada event.
"Wah, Georgi. Bagus banget penginapannya" puji Paradina tulus.
"Terima kasih Tante. Mari masuk" ajak Georgina sambil berjalan menuju lobby.
Reyhan melihat ada beberapa mobil disana dan salah satunya adalah milik Rama. Reyhan tahu karena keluarga Pratomo ada kode tersendiri di plat nomor.
"Waaahhh ini sih campuran antara style Inggris, Jepang dan Melayu" puji Paradina lagi. "Wanita blasteran Jawa - Belanda itu sangat suka arsitektur dan interior design meskipun bisnisnya adalah barang antik dan seni.
"Terima kasih." Georgina memperkenalkan para pegawainya ke Reyhan dan Paradina membuat ibu cantik itu berterima kasih telah menerima putranya menginap disini.
Enzo mengajak Reyhan ke halaman belakang dan pewaris Emir Al Jordan itu menatap kagum dengan penataan taman disana.
"Georgina punya jiwa seni yang bagus, Zo. Daddy bisa merasakan bahwa semua cinta dia tuangkan disini."
"Ini tempat favorit aku, Dad kalau sore acara minum teh. Biasanya aku sama Georgi ngobrol disini..."
"Macam pasangan sudah menikah saja kamu" potong Reyhan sambil tertawa.
"Hahahaha... maunya" ucap Enzo malu-malu.
"Zo, kamu baru 24 tahun. Apa yakin?" tanya Reyhan sebab dulu dia menikah dengan Paradina, usianya 28 tahun.
"Mas Rajendra menikah muda dan baik-baik saja. Bang Luca seumuran aku sudah nikah sama mbak Emi. Bang Joey juga sama mbak Gina."
"Maksud Daddy, apa kamu yakin Georgina adalah pasangan yang kamu cari selama ini?" Reyhan menatap putranya yang tinggi. Enzo memang seperti Opanya Kai yang tinggi sebab Reyhan tingginya hanya 178cm.
"Daddy, kan Daddy tahu kehidupan pembalap seperti apa. Aku mengenali mana perempuan baik atau nggak sejak masuk ke formula satu dan aku tidak polos-polos banget. Wanita itu begitu tahu pria di hadapannya punya tampang dan duit, langsung nempel macam tahi tapi tidak ada niat tulus disana, yang ada gimana caranya morotin." Enzo menatap Reyhan serius. "Tidak Georgina. Dia wanita sederhana dan bahkan dia tidak mau memakai mobil mas Rama meskipun mas Rama tidak masalah."
Reyhan tersenyum. "Kamu tahu kan beberapa cewek yang berusaha mendekati kamu apalagi siapa si model bikini itu, berusaha mendekati mommymu tapi seperti biasa mommymu dengan anggun tidak memberikan celah menjadi calon menantu karena pertanyaan yang sama selalu ditanya oleh mommy dan jawaban senada selalu dijawab sama cewek-cewek itu."
"Apakah pertanyaannya 'Apa yang kamu suka dari anakku' kan?" Enzo sudah hapal taktik Paradina.
"Yup, dan kamu tahu jawaban Georgina?"
"Humble dan childish. Aku sudah tahu dari Georgina sendiri."
"Dan itu jawaban di luar ekspektasi mommymu. Humble, kita semua tahu kita harus humble dengan siapa saja. Tapi kata-kata childish, hanya orang yang tahu bagaimana kamu aslinya. Dan Georgina yang notabene baru dua kali bertemu denganmu saja bisa menilai kamu seperti apa."
Enzo terdiam sambil menyimak ayahnya.
"Zo, Georgina tidak silau harta dan bahkan dia tidak tahu kekayaan kamu berapa dan seperti apa. Dia malah bertanya pada mommymu 'Memang kekayaan Enzo dari balapan banyak ya Tante?' dan entah gadis itu polos atau memang tidak paham kamu itu siapa tapi mommymu langsung suka."
Enzo melongo. "Astagaaa! Dikira sebagai Emir itu apa gadha duit? Lha balapan dari sponsor saja sudah berapa? Belum iklan? Endorse macam-macam."
"Itulah yang membuat mommymu suka. Sedangkan cewek - cewek sebelumnya sudah menghitung berapa kekayaan kamu."
Enzo tertawa geli membayangkan wajah polos Georgina saat menanyakan ke mommynya apakah dia pria kaya raya.
"Georgi memang sudah sibuk bekerja sejak orang tuanya meninggal jadi dia tidak sempat mencari tahu soal aku, Dad."
"Bisa jadi..."
Paradina duduk bersama dengan kedua pria favoritnya. "Pantas bocah satu ini betah disini, rupanya disini nyaman banget! Mas Rey, kita nginap semalam disini yuk. Besok baru balik ke London terus langsung ke Heathrow, gimana?"
"Bilang sama Alaric dulu. Biar dia juga kumpul sama Aidan dan Thara sebelum ke Dubai. Anak itu kan juga lama nggak pulang ke rumah kan?" Reyhan menatap istrinya lembut.
"Aku bilang sama Al, biar dia nggak nungguin kita." Enzo mengambil ponselnya.
***
Menjelang acara makan siang, Paradina tanpa segan ikut membantu Georgina menyiapkan makanan bahkan para tamu yang datang untuk makan langsung heboh melihat Enzo disana bersama dengan orangtuanya.
Para pengunjung yang penasaran dengan kejadian di Catalunya pun meminta Enzo menceritakan kejadiannya dan pembalap favorit itu pun dengan santai memenuhi permintaan mereka.
Acara makan siang pun menjadi ramai saat Jimmy datang dan langsung memeluk Enzo yang membuatnya menang taruhan.
"Harusnya aku menaikkan taruhan ya Zo, jadi aku bisa mendapatkan £10,000" gelak Jimmy durjana yang mendapatkan tatapan tajam dari para pengunjung.
"Sudah jangan suka taruhan. Suatu keberuntungan kamu bisa mendapatkan uang segitu tapi biasanya kesempatan tidak datang dua kali" kekeh Enzo.
"Tentu saja kesempatan tidak datang dua kali Zo sebab Minggu depan kamu kan tidak balapan jadi aku tidak memasang taruhan!" ucap Jimmy tanpa beban membuat orang-orang disana tertawa dan melengos sebal.
Reyhan tampak tenang menikmati keriuhan disana dan dalam hatinya sangat mengagumi kemampuan Enzo dalam menempatkan diri. Disini orang melihat Enzo sebagai pembalap yang juga teman mereka. Enzo memang bukan tipikal anak kaya yang manja dari kecil.
"Ayo dicoba ini dessert nya. Buatan ibunya Enzo lho" ucap Georgina sambil membawakan banyak mangkuk kecil berisikan bubur lembut putih yang diberikan gula merah cair.
"Apa ini nyonya?" tanya salah satu pengunjung.
"Itu resep keluarga saya di Jogjakarta Indonesia. Namanya bubur sumsum. Coba dulu dan bagaimana komentarnya?"
Para pengunjung mencoba makanan itu dan semua memujinya.
"Nyonya Al Jordan, apa benar anda membuatnya sendiri?" tanya Jimmy.
"Kamu jangan menghinaku ya! Memangnya aku tidak bisa masak!" pendelik Paradina dengan sok galak tapi matanya mengerjap jenaka membuat orang-orang disana meledek Jimmy.
"Jangan menghina ibuku, Jimmy. Dia bahkan bisa memasak dirimu jika perlu" timpal Enzo sembari nyengir.
"Jangan nyonya, daging saya tidak enak!" kekeh Jimmy.
Siang menjelang sore itu para tamu pun menikmati acara makan siang sambil mengobrol dengan tamu tuan rumah.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa Gaeesss
Sorry telat
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️