The Four Emirs

The Four Emirs
Ulah Para Generasi Kelima



Kediaman Keluarga Hamilton Hamptons New York


Malam ini Chris benar-benar tidak bisa bertemu dengan Alea karena usai resepsi, para iparnya sudah menyeretnya pergi dari kediaman Ezra dan Keia Hamilton. Para generasi keempat hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kerusuhan generasi kelima itu.


"Sing sabar Yo, Lea. Jenenge wae tradisi ( Yang sabar ya Lea, namanya juga tradisi )" goda Arum ke keponakannya.


"Mau gimana Tante Gendhis, wong sudah diplanning jauh-jauh hari" senyum Alea yang tidak heran dengan kerusuhan semua kakak lelakinya.


"Lagian lebih enak unboxing kalau mereka pria durjana sudah puas gagalin. Nggak bakalan rusuhin kamu. Soalnya bakalan kita jewer mereka!" ucap Emi tegas.


"Mbak Emi, jangan dikeluarkan dong aura Yakuzanya. Syerem tahu!" kekeh Faranisa.


"Terus ini cewek-cewek ngapain enaknya? Anak-anak dah pada tidur, suami pada ngilang..." gumam Arimbi.


"Shopping yuk! Kan mall milik keluarga Hamilton ada yang buka 24 jam!" seru Rahajeng.


"Yuuuukkk! Kita habiskan limit kartu kredit suami kita masing-masing!" ajak Freya semangat.


"Salah siapa minggat!" kekeh Georgina.


"Ini nggak papa?" tanya Georgi Al Jordan, istri Enzo. Jujur dirinya tampak cemas kalau harus ikutan khilaf belanja mengikuti jejak para iparnya meskipun Enzo memberikan kartu platinum nya karena Georgi menolak black card.


"Santai saja Georgi. Yakin, duit mereka kurang juga nggak tahu!" seringai Rina.


Akhirnya dengan menggunakan lima mobil mewah milik keluarga New York, para wanita cantik itu pergi ke Manhattan untuk berbelanja di mall milik keluarga Alea dan bebe yang open 24 jam untuk menyambut sale menjelang Natal.


***


Gedung Latihan McGregor dan Blair


Chris menatap tidak percaya jika para iparnya membawa dirinya ke gedung tempat latihan rombongan sirkus. Terakhir Chris kemari adalah dua tahun lalu saat memeriksa laporan terjadi huru hara perkelahian dengan orang Korea Selatan. ( Baca Love and Revenge of Mr Mafia ).


"Ngapain kita kesini?" tanya Chris sambil mengikuti para pria-pria paripurna itu.


"Have fun lah!" sahut Abi cuek.


"Jin, amunisi sudah kamu siapkan?" tanya Joey ke asistennya Hideo.


"Sudah Mr Bianchi. Silahkan berpuas-puas gentlemen" seringai Jin.


Chris melihat ada meja panjang yang tersedia banyak makanan dan minuman disana. Benar-benar mereka sudah persiapan. Ya Allah, pada mau ngapain sih?


"Boys, lepas jas dan kemeja kalian! Baju santai sudah aku siapkan" ucap Abi yang menunjukkan deretan paper bag dengan merk terkenal.


"Lha? Kok Tommy Hilfiger? Kenapa nggak Calvin Klein atau Prada atau Gucci?" protes Hoshi.


"Beli sendiri cumiii! Tinggal pakai saja cerewet lu!" hardik Abi sebal dengan sepupunya yang sering komplain tidak jelas.


Chris hanya menggelengkan kepalanya. Dasar Sultan!


Usai berganti pakaian yang jauh lebih santai, sweater dan celana jeans, Abi mengajak Chris masuk ke sebuah ruangan luas yang membuat pengantin baru itu melongo.






"Astaghfirullah!" Chris menatap ke ruangan yang memuat berbagai macam senjata disana. "This is so insane!"


"Welcome to our lair, Chris. Karena kamu sudah menjadi bagian dari keluarga, maka kamu berhak masuk sini. Nanti kamu mendapatkan hak untuk masuk dengan password dan sidik jari sendiri" ucap Abi.


"Jadi kita..."


"Kalian gila!" ujar David. "Ini senjata aku yang belum pernah pegang!"


"Soalnya tidak boleh keluar Amerika itu, tapi kita memilikinya" seringai Abi saat melihat David memegang sebuah machine gun.


"This is awesome!" David tampak lebih antusias dengan koleksi milik keluarga Pratomo. "Pantas Didit dengan santainya menembak si Teddy tanpa berkedip! ( Baca Mu Boyfriend is Not A Transgender ) Wong keluarga nya mengerikan begini koleksi nya!"


"Dah, kamu milih yang mana?" Joey bertanya pada David.


"Yang aku belum pernah pegang lah!" cengir David.


***


Suara tembakan dan bau mesiu serta asap rokok terasa sangat kental di ruang latihan menembak yang memang disetting kedap suara agar tidak mengganggu sekitarnya. Lokasi tempat latihan itu terletak di pinggiran sungai Hudson area Poughkeepsie dan memang sengaja jauh dari area penduduk.


"Ternyata Chris lebih persisi menembaknya" komentar Aji ke Hoshi.


"David kalah" kekeh Hoshi.


"Ini kita semalaman disini?" tanya Patrick yang kemudian mengambil ponselnya. "What? Para istri belanja ke Manhattan?"


Tak lama semua ponsel para pria berbunyi dan isinya sama, notifikasi kartu kredit yang dipegang oleh para istri.


"Astaghfirullah! Ngapain si cewek Arab beli sepatu dan tas banyak begini?" teriak Hoshi yang melihat daftar belanja Rina.


"Jeng Rimbi kok belinya aneh-aneh sih?" Bima memperlihatkan daftar belanja Arimbi yang menunjukkan koper Louis Vuitton, jam tangan Rolex dan Patek Philippe.


"Kayaknya pada balas dendam ditinggal jadi pada kalap belanja" gelak Direndra yang melihat daftar belanja istrinya Raana.


"Biarin saja, membuat istri senang itu rejekinya banyak" komentar Joey. "Apaaa??? Georgina beli Hermès Birkin tiga biji!"


Semua pria disana hanya tertawa melihat wajah manyun Joey. Tidak ada raut wajah marah di para pria paripurna itu karena tahu istri mereka termasuk jarang belanja barang branded banyak dan karena ini banyak sale natal, yang dibeli pun barang diskon.


Chris hanya tersenyum mendengar keributan pria Sultan itu dan tidak ada rasa iri disana karena tahu dirinya tidak sekaya mereka.


"Don't worry, mereka biasa seperti itu" ucap David. "Tahu sama tahu saja, gaji polisi itu berapa sih? Kalau kita dapat istri anak orang kaya, itu nilai tambah tapi kita tahu kan yang kita lihat adalah diri istri kita sendiri."


"You're right, David. Aku jatuh cinta pada Alea saat pertama kali bertemu dan semakin cinta setelah melihat dia menghajar penjambret itu. Apalagi dia bukan tipe cewek anak orang kaya yang show off bahkan cenderung humble."


"Begitu juga dengan Didit. Dia itu cewek smart dan low profile padahal tahu kan keluarga Ramadhan itu siapa. Apalagi Adrian, sekarang sudah menjabat manager Koenigsegg Swedia." David menatap ke Chris. "Bukankah kita sangat beruntung mendapatkan wanita idaman yang sangat kita cintai dan akan menjadi istri dan ibu yang baik."


"Setuju. Dan aku sangat senang bisa menjadi bagian keluarga besar Pratomo."


"Untung aku belum menikah, jadi tidak diributkan hal-hal seperti ini" kekeh Fathir.


"Tunggu sampai waktu itu datang" cengir Adrian.


"Kalian berdua tidak usah khawatir. Akan ada masanya mendapatkan wanita yang sesuai dengan keluarga kita" sahut Luca yang masih tidak percaya istrinya membeli sepatu lagi padahal koleksinya sudah satu kamar.


"Maksudnya bar-bar dan punya prinsip?" Fathir menoleh ke Luca.


"Bingo!"


Fathir dan Adrian hanya saling berpandangan.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️