
Dubai, UAE
Alaric menatap gadis mungil di hadapannya dengan melirik menggoda ke kakaknya yang sedang manyun. Menurut Alaric, Raana itu jauh dari tipe sang kakak yang biasanya mencari yang model tinggi ala sepupu mereka Faranisa atau Fayza atau Arimbi dengan tinggi minimal 170 cm.
Tumben dia seneng cewek mungil dan pendek. Dokter Benben saja tingginya 172cm.
"Raana Lamira Badawi? Tinggi kamu berapa?" tanya Alaric tanpa beban.
"Saya? Sekitar 162-163 cm, pangeran Alaric" jawab Raana polos. "Memang kenapa?"
Alaric menyeringai. "Tumben suka yang mungil sekarang. Biasanya tinggi semampai."
"Shut up Al!" Direndra menatap judes ke Alaric.
"Asal kamu tahu ya Raana, kakakku satu ini sengaja menyamar untuk mengajak secara halus kalian semua pindah dari dusun kalian ke tempat yang lebih bagus. Kamu sudah lihat kan?" Alaric menatap Raana serius. "Sampai-sampai menyamar pakai nama opa buyut kami."
Raana menatap Direndra dengan tatapan kecewa. "Apakah benar itu pangeran Direndra?"
"Awalnya begitu tapi...akhirnya kalian lihat sendiri kan? Maksud aku, tak kenal maka tak tahu..."
"Tak kenal maka tak sayang kaleee mas" potong Alaric semakin durjana. "Dia itu sudah jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama dan berniat menikung kamu begitu kamu ada hubungan dengan si Veer. Eh, belum kejadian aneh-aneh udah ketahuan saja."
Raana menoleh ke Alaric. "Apa?"
"Iyaaa, kakakku satu ini sudah love at first sight sama kamu saat kamu ke rumah sewa membawakan makanan." Alaric tertawa kecil. "Hei, paman Iqbal yang cerita."
Direndra menyurengkan matanya.
"Kamu mau sampai kapan durjana begini?" tanya Direndra.
"Sampai aku bosan tapi kayaknya nggak bakalan bosan deh!" gelaknya.
Direndra hanya bisa memegang pangkal hidungnya.
"Tuanku yang mulia pangeran Direndra, pangeran Alaric dan nona Raana, diminta yang mulia permaisuri untuk datang ke ruang makan untuk makan malam." Seorang pelayan datang menghampiri ketiganya.
"Kita makan dulu biar Raana bisa segera beristirahat." Direndra mengajak Raana berdiri dengan mengulurkan tangannya dan gadis itu tampak memerah wajahnya.
"Ya Allah mas, pelan-pelan. Kasihan tuh Raana mukanya kayak kepiting rebus" gelak Alaric.
"Tidak usah, pangeran Direndra. Saya bisa sendiri..." ucap Raana pelan karena baginya berpegangan tangan itu sangat berarti sudah sangat pribadi.
Direndra agak kecewa sebenarnya Raana menolak tangannya tapi dia menghormati sikap Raana karena bersama Veer juga Raana mengambil jarak dalam berjalan bersama.
"Yuk makan malam dulu." Direndra akhirnya berjalan beriringan dengan Raana.
***
Hasyim Al Azzam melihat dengan tatapan intens ke Raana dan tampak tersenyum samar.
"Jadi kamu cucunya Ammar Badawi ya?" tanya Hisyam.
"I... iya yang mulia" jawab Raana.
"Gimana ceritanya tadi Rendra, sampai dibawa kemari dan Nura tergopoh-gopoh datang padahal dia baru saja pulang" tanya Hisyam. "Kamu juga tidak mau pakai dokter Ghauth."
"Dokter Ghauth kan dokternya eyang jadi khusus untuk eyang. Apa gunanya ada Nura disini yang khusus memeriksa para penghuni istana yang wanita?" balas Direndra.
"Dih, mentang-mentang Nura sama kamu sobitan ya" cebik Alaric.
"Kan memang aku sama Nura sobatan. Jadi eyang, tadi itu Raana pingsan karena kaget aku itu Direndra. Eh pas aku mau bawa Raana ke rumah sakit, Paman Fadh datang dengan dua helikopter. Ya sudah aku langsung bawa Raana kemari."
Raana melotot tidak percaya. "Jadi aku kamu ... eh... aku tadi digotong ... "
Raana tampak shock mendengar cerita Direndra yang seolah hal yang biasa.
"Raana, jangan terlalu kaget. Kami memang sukanya heboh" kekeh Alaric.
Raana hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berkomentar apa.
***
Singapura, Singapura.
Pagi ini Ayrton dan Senna kedatangan kapten Raja dan beberapa anak buahnya untuk melaporkan bahwa mereka sudah membangun kasus dan pihak kejaksaan Singapura pun sudah menerima Hari ini dilakukan penggrebekan di kantor dan rumah pribadi Hendery Wong dan apartemen di Marina Bay.
"Karena posisi apartment ada dua lantai di bawah penthouse anda, kami mempir ke tempat anda, Tuan Al Jordan." Kapten Raja menatap hormat ke pria dengan jenggot putih itu.
"Saya bukan orang suci kapten, begitu juga dengan keluarga saya tapi kami tidak pernah merugikan orang lain. Kami hanya bertindak jika memang sudah keterlaluan." Senna tersenyum ke Kapten Raja. "Saya tahu kamu orang baik, Raja. Tapi sebagai pria yang bernama 'raja' yang berarti penguasa, harusnya kamu malu dengan nama yang diberikan orang tuamu."
Kapten Raja hanya tertunduk.
"Raja itu harus adil, tegas, dan berwibawa, tidak berpihak dan tidak lembek. Semoga kasus ini membuat kamu dan semua orang di kepolisian Singapura menjadi lebih baik. Instrospeksi lah kalian semua. Semua akan terlihat mana yang bathil dan mana yang Haq jika kamu mau bersikap obyektif" sambung Senna. "Jabatan itu amanah, gunakan sebaik baiknya karena nanti saat kamu dipanggil pulang, apa yang kamu lakukan di dunia, harus kamu pertanggungjawabkan termasuk saat kamu menjabat sebagai kapten polisi apakah kamu sudah berbuat sesuai dengan tugasmu?"
Ayrton menatap wajah opanya yang tampak seperti seorang kakek yang menasehati bukan sebagai Emir Al Jordan, salah satu penguasa Dubai.
Kapten Raja memandang Senna dengan mata memerah. "Terimakasih Emir Al Jordan. Saya tahu saya salah dan ucapan anda tentang kasus ini yang mengalami adalah cucu anda dan bagaimana dengan orang biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan seperti anda, membuat saya berpikir bahwa saya tidak bersikap adil karena tekanan dari atas."
"Raja, jabatan itu memang amanah tapi juga titipan, ada tanggyng jawab besar disana. Jika kamu takut tekanan dari atas dan takut akan kehilangan jabatan kamu, berarti kamu tidak mampu mengemban jabatan yang dititipkan oleh Allah SWT. Kamu diberikan jabatan itu karena Allah menguji kamu, apakah kamu mampu atau tidak. Kenapa kamu harus takut jika kamu benar?" Senna tersenyum ke Raja dan beberapa anak buahnya. "Dan itu berlaku untuk kita semua termasuk saya, kalian bahkan keluarga saya sendiri."
Setelah berbincang-bincang sebentar, rombongan Kapten Raja pun mengundurkan diri dan meminta agar Ayrton tinggal di Singapura seminggu lagi hingga kasus dirinya dan Dennis Sanders selesai.
"Opa..." panggil Ayrton.
"Yes, Ay?" jawab Senna sembari menikmati croissant nya.
"Kalau memang Opa benar, kenapa Opa takut sama Oma?" goda Ayrton.
"Opa takut? Sama Oma? Nggak lah!" sanggah Senna.
"Tapi, kan beli Yacht itu kan benar juga karena opa dan opa Kai hobinya jalan-jalan di laut. Bukannya kalian beli menggunakan uang kalian sendiri?" Ayrton semakin menggoda Opanya.
"Sebenarnya Oma mu tidak akan marah kalau Opa beli yacht..."
"Lha terus?"
"Kalau belinya cuma satu..." sambung Senna.
"Memang Opa beli berapa?" Ayrton menggelengkan kepalanya.
Senna hanya menaikkan tiga jarinya.
Ayrton melongo. "Ya Wassalam kalau begitu, opaaaa!"
"Selain Allah, Opa tuh sebenarnya juga takut sama Omamu" bisik Senna.
Ayrton terbahak.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️