The Four Emirs

The Four Emirs
Menanggapi Dengan Santai



Setelah acara jumpa pers di Jakarta itu, perilaku Santi Priyatna semakin menjadi hingga membuat Ayu Hadiyanto, ibu Mariana merasa jengah hingga akhirnya dia menghubungi putrinya.


"Riana, apa yang terjadi? Pakdhe Kresna sampai meminta mama tinggal di rumahnya karena banyak wartawan yang menunggu di depan rumah kita" ucap Ayu bingung.


"Biasa Bu, mantan besan ibu itu ngadi-ngadi. Kan ibu tahu tho?" jawab Mariana. Keduanya sedang melakukan panggilan video. Mariana saat ini sedang berada di tempat kerjanya.


"Kan dia sendiri yang menolak Zee. Kenapa malah sekarang memutar balikkan fakta dan hendak menuntut Ayrton?" gumam Ayu. "Astaghfirullah! Cuan ya?"


Mariana tersenyum smirk. "Leres, Bu."


Ayu menggelengkan kepalanya. "Riana, kamu tahu nggak, pakdhemu sudah mau menuntut wong gendeng Kuwi tapi calon mertua mu, Pak Karl menelpon pakdhemu. Ojo mbok takon Bagas ( jangan kamu tanya soal Bagas ), hawane Wis pengen uncal nenek gayung Kuwi Ning kolam ikan piranha duwek e nak Luca ( hawanya pengen lempar nenek gayung itu ke kolam piranha milik Luca )" gelak Ayu yang disambut gelak Mariana.


"Nggak usah Bagas, Tante Sabine itu lho Bu, sudah pengen dor si nenek gayung itu pakai baby-nya."


"Hah? Piye ( gimana ), ibu nggak mudeng ( paham)."


"Ibu tahu nggak, Tante Sabine itu mantan anggota militer non resmi di angkatan bersenjata UAE waktu mudanya dulu dan dia adalah sniper posisinya."


"Sniper? Penembak jitu? Sing Ning film-film nembak Seko adoh ( dari jauh )?" seru Ayu terkejut tidak percaya mendengar calon besannya yang ini adalah wanita badass.


"Iya Bu. Untung Ayrton bisa ngerem mamanya, bisa bahaya dan untungnya lagi kita beda negara. Bisa berabe!" gelak Mariana.


"Terus rencana kalian piye? Arep meneng wae ( mau diam saja )? Ora patekhen urus wong kucluk Kuwi ( tidak terlalu urus orang aneh itu )?"


Mariana pun menceritakan rencana keluarga besar Ayrton dan wajah Ayu pun langsung sumringah.


"Gue suka gaya calon besan!" gelak Ayu durjana.


"Jadi ibu dan Pakdhe Kresna sabar ya." Mariana tersenyum ke arah ibunya.


***


Tokyo, Jepang


"Rasanya pengen aku lempar itu keluarga sinting ke kolam piranha kamu bang!" ucap pria sedang mondar-mandir di depan seorang pria keturunan Italia yang menatapnya santai.


"Jangan, nanti piranha aku terkontaminasi sintingnya" sahut pria Italia itu.


"Bang, memang ikan piranha punya otak untuk berpikir?" Seorang pria berwajah khas Indonesia itu memicingkan matanya ke arah pria bermata coklat terang di hadapannya.


"Punya otak lah! Kalau tidak punya otak, gimana bisa memerintahkan untuk berenang? Bagas, kamu masuk kelas biologi nggak sih dulu!" omel pria tampan ayah dua anak itu sambil tertawa.


"Nggak! Aku madol waktu itu!" sarkasme Bagas Hadiyanto, sepupu Mariana. Bagas sendiri sedang berada di Tokyo untuk urusan bisnis dan usai menyelesaikan meetingnya, dia mampir ke kantor AJ Corp untuk menemui sepupu iparnya, Luca Bianchi.


Luca terbahak. "Payah deh lakinya Safira. Gas, sudah, tidak usah muring-muring. Kamu tahu, ternyata Oom Karl dan Tante Sabine punya rencana yang sama dengan Travis dan Benji. Jadi kamu tenang saja, karena siapa yang akan menangis kehilangan segalanya, jelas bukan Mariana atau Zee."


"Beneran deh! Gara-gara si Mareta sialan itu jadi ramai!"


"Gas, justru karena itulah kalian bisa mengetahui sifat asli mertua urungnya Mariana. Aku tidak terbayang kalau sepupumu itu jadi menikah dengan Indrawan terlepas Mareta tidak ada acara main rebut laki orang, yakin aku pasti Mariana mengalami tekanan batin melihat si nenek gayung seperti itu. Bahkan dia juga tega dengan adik kandungnya sendiri, makan uang yang bukan haknya. Apa kamu tidak lebih emosi?"


Bagas menatap Luca dengan wajah sebal. "Malah aku sendiri yang akan menghabisi keluarga itu!"


"Dan membuat adikku jadi sendirian? No way José! Mau kamu Safira jadi janda karena kamu dipenjara?" pendelik Luca.


Bagas pun manyun. Enak saja ninggal si Clumsy sendirian. Bisa ramai nanti.


***


Jakarta, Indonesia


Travis dan Rahajeng yang sedang main ke rumah Ghani dan Alexandra, langsung dicecar oleh seluruh penghuni mansion Giandra.


"Ya ampun, Vis. Oom jeléh ( muak ) lihat si nenek gayung berseliweran memainkan dramanya!" omel Bara di ruang tengah bersama dengan keluarga besarnya sembari mengawasi Nelson yang sedang senang-senangnya merangkak bermain dengan Arka, putra Bima dan Arimbi di karpet tebal.


"Oom jeléh, apalagi Ayrton. Benji saja sampai ngamuk saban telepon aku" kekeh Travis.


"Jadi, kalian akan melakukan tindakan seperti yang Sabine sampaikan di grup?" tanya Arum.


"Iya Tante Gendhis. Tante Sabine ternyata satu server dengan aku dan Benji. Malah rencananya mau pakai uang aku dan Benji baru nanti diganti Ayrton."


"Aku tuh heran, apa sih yang dicari si nenek gayung? Wong duit juga tidak dibawa mati" gerutu Ghani.


"Ya, orang kan mindsetnya beda-beda Opa. Jadi baginya no money meaning kiamat" kekeh Travis.


"Bukan depan jadi Ayrton menikah dengan Mariana?" tanya Alexandra ke cucunya.


"Kabarnya begitu Oma. Sampai-sampai Direndra mengalah mundur rencana pernikahannya dengan Raana ke bulan Juni" jawab Rahajeng.


"Kenapa nggak doubel wedding lagi saja?" celetuk Bima.


"Bosen ah Bim! Kan itu dua Emir dari istana berbeda jadi ada aturannya sendiri kecuali terjadi merger macam AJ Corp dan perusahaan Al Azzam, tapi ini kan masing - masing menikah dengan berbeda orang."


"Mas Daniswara, kenapa aku jadi terbayang saat kita gegeran pas pernikahannya Karl dan Sabine ya?" kekeh Alexandra.


"Oh yang dihukum jewer dan membersihkan mansion Al Jordan itu? Gara-gara balapan?" cengir Ghani.


"Balapan? Balapan apa?" tanya Travis dan Bima kepo.


"Ooohh ramai itu!" gelak Bara yang teringat Rusuhnya istana Al Jordan akibat para generasi ketiga dan keempat dimarahi oleh para kaum wanita generasi ketiga dan keempat. ( Baca My Cold Chef chapter Hukuman Keduakalinya ).


"Bim, besok kita ke Dubai, balapan yuk!" ajak Travis.


"Yuk! Siapa takut?" ucap Bima antusias. "Kan ada Enzo disana.


"TIDAK BOLEH!" seru Ghani, Bara dan Alexandra bersamaan.


"Idiiihhh papa mertua dan Opa mertua nggak asyik! Nggak fair lah! Kalian bisa seenaknya dulu tapi kita nggak boleh! Aturan macam apa ini? Hidup macam apa ini? Kenapa tidak fair? Sungguh tidak adil ya Tuhan...." omel Bima dengan sikap dramatis.


"Ya Allah..." Ghani dan Bara memegang pelipisnya.


"Assalamualaikum" sapa Hoshi dan Rina yang datang. "Kalian kenapa?"


"Wa'alaikum salam. Eh muka cewek, kasih tahu nih sama papa mertua dan Opa mertua aku, betapa kita kan pengen balapan di Dubai besok kalau Ayrton nikah sama Mariana" ucap Bima mencari dukungan.


"Siapa yang mau balapan? Wong aku tidak bakalan datang karena Rina diperkirakan akan melahirkan bulan depan. Kamu sendiri saja yang merayu Oom Bara dan Opa Ghani. Bukankah mereka mertua dan Opa mertua kamu, Werkudara?" balas Hoshi dengan sinis.


Bima menatap Hoshi kesal. "Dasar cabe setan!"


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️