The Four Emirs

The Four Emirs
Enzo Al Jordan



Mariana tersenyum melihat Zinnia datang bersama dengan Oom Benji-nya. Hari ini Murad tidak mengawal dirinya tapi ada Ahmed yang mengawalnya. Murad harus ikut Ayrton menjemput Oma Fatimah.


"Assalamualaikum mama" sapa Zinnia sambil menghambur untuk memeluk sang mama.


"Wa'alaikum salam anak mama" balas Mariana sambil memeluk erat putrinya.


"Tuan Smith" sapa Ahmed.


"Ahmed. Aman kah?" tanya Benji.


"Alhamdulillah aman, tuan."


"Kalian mau makan siang dimana?" tawar Mariana sambil menggandeng Zinnia menghampiri Benji dan Ahmed.


"Sudah masuk jam makan siang ya?" Benji melihat jam Fossil nya. "Pantas perutku lapar."


"Saya ikut saja, nyonya Mariana." Ahmed mengangguk ke Mariana.


"Kita makan masakan Melayu yuk! Aku ingin nasi lemak!" ucap Benji antusias.


"Ayo!" seru Zinnia ikutan heboh dengan Oom Benji-nya.


Keempatnya pun menuju ke sebuah restauran Melayu dan Benji langsung memesan dua porsi nasi lemak.


***


Fatimah menatap Senna yang masih menunduk sambil melirik ke arah istrinya yang sudah menemani dirinya lebih dari 50 tahun. Senna dan Fatimah dulu memang dijodohkan karena perjanjian Akira Al Jordan dan ayah Fatimah.


Meskipun mereka dijodohkan, Senna duluan lah yang menyukai gadis blasteran Arab Inggris itu. Fatimah yang seorang psikolog ternyata sangat savage. Dia bisa mengendarai motor gede dan jago ngebut mengingat Senna juga seorang pembalap F1.


Senna bersyukur tentang perjodohan yang dibuat oleh Opanya sehingga mendapatkan istri yang menurutnya sangat sempurna...dan sangat sempurna galaknya kalau marah.


"Sayang ku Fatimah, aku akan menjual dua Yacht nya. Kai sudah mendapatkan pembelinya" ucap Senna yang mendapatkan tawa durjana dari adiknya saat meminta bantuan untuk menjual lagi Yacht yang belum dipakainya sama sekali.


"Bagus! Buang-buang uang saja!" ucap Fatimah judes. "Kamu dan Kai beli tiga itu buat siapa?"


"Aku satu, Kai satu... satunya buat siapa yang mau."


Fatimah menoleh ke arah cucunya yang asyik bermain ponsel. "Ay? Kamu mau yacht?"


Ayrton menggelengkan kepalanya. "Ay mending dibelikan Muscle car dan Harley Davidson."


"Tuh dengar! Cucu mu sendiri tidak mau!" ucap Fatimah dengan wajah penuh kemenangan.


Senna menatap sebal ke cucunya yang 11-12 dengan Karl kalau sudah kumat cueknya sedangkan Ayrton hanya tersenyum manis. Tanpa diketahui oleh kedua opa dan omanya, Ayrton merekam pertengkaran keduanya dan langsung mengirimkan ke grup keluarga besar.


***


Benji nyaris tersedak ketika melihat namanya disebut oleh Senna sebagai pelaku yang memberitahukan kepada Fatimah.


"Dasar Opa embyeerrr!" gerutunya.


"Kenapa Ben?" tanya Mariana yang kaget mendengar ucapan si bontot dari keluarga Pratomo itu.


"Biasa Opa Senna bikin heboh!" jawab Benji.


"Eh Ben, Ayrton masih harus menunggu ya kasusnya?"


"Iya mbak. Tapi tenang saja, kapten Raja sudah mulai menangkap antek-antek si Wong."


"Alhamdulillah. Biar opa Senna nggak kepikiran soal Ayrton. Kasihan beliau sudah sepuh sampai harus datang kemari."


Benji menaikkan sebelah alisnya. "Mbak, kamu tuh ketipu tampang dan misinya Opa kemari."


"Hah? Gimana?"


"Opa Senna kesini itu karena kabur dari Oma Fatimah, biar tidak kena marah dan jewer" kekeh Benji.


"Lho memang Opa ngapain kok sampai Oma Fatimah mau marahin?" tanya Mariana.


"Opa Senna beli yacht, mbak Mariana."


"Iya nggak masalah, kalau cuma satu. Tapi masalahnya Opa Senna dan Opa Kai belinya tiga! Padahal paling yang dipakai cuma satu, lainnya nyaris nggak pernah dipakai. Makanya Oma Fatimah pasti bakalan ngamuk karena Opa boros."


Mariana melongo. "Kalian itu Sultan lho Ben."


Benji terbahak. "Memang kami Sultan tapi para kaum ibu di keluarga kami adalah tipe wanita anti boros. Buat apa beli barang yang toh cuma jadi pajangan, kan mubazir."


"Serius Ben?"


"Serius. Kami itu lebih suka beramal daripada membeli barang mubazir macam Opa Senna itu. Kami memang barang-barangnya branded semua tapi kami juga tidak alergi beli barang yang murah seperti baju. Tahu nggak mbak, sepupu Perempuanku hobinya pakai daster batik kalau di rumah." Benji tersenyum.


"Aku kira kalian itu baju tidurnya kalau tidak Victoria Secret atau nggak piyama Louis Vuitton atau Gucci." Mariana tidak habis pikir bagaimana keluarga Ayrton ternyata begitu humble.


"Hah? Kami para pria seringnya tidur pakai celana pendek tanpa kaos alias Shirtless. Besok deh kalau mbak Mariana dah halal sama bang Ayrton, tahu deh!" gelak Benji. "Oh, perutnya bang Ayrton roti sobek lho."


Wajah Mariana memerah. m


***


Dubai, UAE


Alaric tiba di kantor AJ Corp dengan wajah kusut dan langsung menuju ruangannya tanpa menyapa para pegawai yang menyapanya. Hatinya seperti mendapatkan tinju dari mas Abi sejak mendengar ucapan Nura yang akan ke Harvard.


Kuliah profesi itu sekitar dua tahun. Lama amat Benben!


Alaric tahu bahwa sebenarnya dia sudah menyukai gadis berhijab itu sejak sang kakak memperkenalkan Nura ke kedua eyangnya. Eyang Aisyah memang merasa kehilangan dokter sebelumnya yang ikut pindah bersama suaminya yang pegawai kedutaan Amerika Serikat. Kedatangan Nura membuat Aisyah senang dan langsung cocok dengan dokter baru itu.


Nura sendiri adalah anak yatim dan ibunya bekerja di sebuah bank, ayahnya sudah meninggal saat Nura berusia 17 tahun. Ibu Nura campuran Jawa - Arab yang sudah menjadi warga negara UAE. Sang ibu merasa beruntung Nura bersahabat baik dengan Direndra, salah seorang Emir dan terhormat karena Nura terpilih menjadi dokter pribadi Permaisuri Al Azzam.


Selama Alaric di Dubai, dia memang suka menggoda gadis cantik yang tidak ada takutnya dengan dirinya. Memang dirinya lebih muda dari Nura, tapi melihat Ayrton bisa dibilang pacaran dengan Mariana yang lebih tua lima tahun dan memiliki anak, membuat Alaric merasa tidak masalah jika suatu saat nanti dia bersama Nura.


Alaric memang banyak yang naksir saat jaman sekolah tapi dirinya adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta dan sekarang sekalinya suka dengan seseorang, malah ditinggal pergi lagi.


Pria itu lalu mulai membuka laptopnya untuk memulai bekerja proses pemindahan para penduduk dusun Al Shiba dan proses jadwal ground breaking pembangkit listrik tata surya dilakukan.


"Kamu kenapa tidak menyapa para pegawai? Kusut nampak!" sebuah suara membuat Alaric mendongakkan wajahnya.


Tampak di pintu ruang kerjanya seorang pria tampan dengan santainya bersender di kusen.



"Pulang juga lu tukang ngebut!" sungut Alaric yang kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Pulanglah! Kan aku balapan besok disini" kekeh pria itu sambil menghampiri Alaric dan duduk di hadapannya.


"Apa elu juara dunia lagi tahun ini?" Alaric menatap pria di hadapannya.


"Insyaallah tapi saingan aku juga mesinnya semakin bagus."


"Zo, berhenti balap deh! Bantuin bokap lu!" sungut Alaric.


"Bilang saja lu mau gantian biar bisa ngelayap pakai Ducati lu!" gelak pria yang dipanggil 'Zo' itu.


"Kayaknya Oom Reyhan dan Tante Dina salah kasih nama 'Enzo' ke elu. Hanya gara-gara suka Ferrari, elu dikasih nama itu!" cebik Alaric.


Enzo terbahak.


***


Sekilas tentang Enzo Ferrari, dia adalah seorang pembalap, pembuat dan pendiri perusahaan mobil Ferrari.


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️