The Four Emirs

The Four Emirs
Kedatangan Sinta Suganda



"ENAK SAJA! Kami tidak dapat sepeser pun!" teriak Irwan marah.


"Kami bisa saja menaikkan tuntutan ke anda. Apa mau kami naikkan menjadi $10 juta ?" ucap Hoshi dingin.


"Yakin kamu tidak bisa bayar! Tabungan yang dibekukan saja ada total 50M atas nama Indrawan dan itu harus dikembalikan ke negara. Tabungan atas Irwan total ada 70M, tabungan atas nama Santi Priyatna ada 20M, atas nama Denny Priyatna ada 30M. Ingat semua tabungan itu dibekukan oleh negara. Kalian sudah merampok uang negara nyaris 500M total selama lima tahun Denny Priyatna menjabat sebagai kepala tata pemerintahan dan kesejahteraan. Gila, setahun 100milyar kalian korupsi? Wow!" Benji menatap ipadnya.


"Apa masih menolak membayar? Okelah dari tuntutan $5 juta, kita naikkan ke $10 juta ..."


"Jangan... " ucap Santi lemah. Dia sudah kalah sekalah-kalahnya karena melawan keluarga yang salah. Bayangannya mendapatkan dana segar $2,5jt dari pemerasan ke Emir Al Jordan ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa. Malah hilang semuanya.


Travis mengeluarkan sebuah map berisikan berkas-berkas pengalihan kepemilikan sawah milik keluarga Suganda. "Silahkan anda tanda tangan." Travis memberikan pena mahalnya untuk ditandatangani oleh Santi Priyatna.


Wanita itu menatap pengacara dan notarisnya untuk meminta pertimbangan.


"Saya tidak bisa berbuat apa-apa nyonya Priyatna karena posisi anda lemah sekali" ucap pengacaranya.


"Maaf saya terlambat" sebuah suara terdengar di pintu kantor.


"Ah nyonya Sinta Becker, selamat datang." Travis pun berdiri menghampiri wanita yang wajahnya mirip dengan Santi Priyatna.


"Halo teh Santi. Alhamdulillah, karma itu menyebalkan ya?" seringai Sinta yang memang sudah lama ingin membalas kakak perempuannya yang serakah.


Santi menatap tajam ke arah adiknya yang datang bersama dengan suaminya Simon Becker.


"Mr Becker, apa kabar?" sapa Hoshi sambil mengulurkan tangannya yang disambut pria bule berambut blonde itu.


"Mr Reeves. Saya dan Sinta sejujurnya tidak menyangka akan kembali ke Indonesia dengan situasi seperti ini." Simon tersenyum ke Hoshi.


"Bagaimana...kalian bisa kenal?" tanya Irwan yang bingung bibinya kenal dengan keluarga Al Jordan.


"Tentu saja kami kenal. Sebab Oom kamu itu adalah salah satu teknisi tim Scuderia Ferrari tempat sepupu kami Enzo Al Jordan jadi pembalapnya." Hoshi menatap sinis ke Irwan. "Dunia sempit bukan ?"


"So, nyonya Sinta. Bagaimana dengan sawah ayah anda?" tanya Travis karena untuk pengalihan hak kepemilikan sawah tersisa milik almarhum Suganda harus ada tanda tangan kedua orang putrinya sebab di sertifikat masih ada nama Sinta Suganda disana.


"Saya serahkan kepada Zinnia semuanya setelah pengalihan hak sebab saya sendiri juga sudah hidup berkecukupan bersama suami saya. Kami memang tidak memiliki anak jadi bagi saya, Zinnia berhak karena masih ada darah Suganda" Sinta menatap kakaknya. "Dia memang tidak diakui sebagai keturunan Priyatna tapi dia masih ada darah Suganda, teteh!"


"Saya dan Sinta sudah berunding sejak Nak Travis menghubungi kami dan bagi kami, Zinnia saja yang mengelola sawah ini dengan pengawasan keluarga Al Jordan." Simon Becker tersenyum. "Toh kami lebih banyak tinggal di luar negeri."


"Kalau begitu, semua clear ya. Sawah ini dialihkan ke atas nama Zinnia Aida Hadiyanto Al Jordan Schumacher" ucap Travis. Santi dan Sinta saling menandatangani semua berkas yang telah disiapkan.


Dan siang itu sawah milik Suganda, sudah menjadi milik Zinnia, gadis cilik yang tiba-tiba menjadi jutawan. Travis sendiri menyatakan Sinta akan tetap mendapatkan bagi hasil dari sawah itu tapi tidak dengan Santi karena dianggap sudah mengambil haknya terlebih dahulu tanpa memikirkan adiknya yang juga memiliki hak yang sama.


Keputusan untuk tetap memberikan bagi hasil sawah kepada Sinta Suganda adalah keputusan Ayrton karena tahu selama ini Sinta hanya mendapatkan satu persen dari pendapatan sawah. Ayrton dan Mariana tidak mau serakah karena mereka tahu hak Sinta yang diacuhkan oleh Santi.


"Nak Travis, soal bagi hasil itu perkiraan mendapatkan berapa?" tanya Sinta setelah keluarga Priyatna pergi dengan kawalan polisi kembali ke Bandung untuk melanjutkan penyelidikan kasus korupsi yang dilakukannya.


Travis menyebutkan nominalnya. Sinta hanya tersenyum. "Tolong nak Travis, dikirim hanya 50% saja, sisanya berikan pada mesjid, panti jompo, panti asuhan atau badan-badan sosial lainnya. Saya dan Simon sudah lebih dari cukup."


"Iya nak Quinn, saya melihat bagaimana teteh saya serakahnya bukan main tapi apa yang dia dapat di masa tua? Tidak ada. Hanya dalam sekejap semuanya lenyap tak tersisa. Saya tidak mau amalan saya jadi rusak karena saya serakah seperti dia" ucap wanita berhijab itu. "Oh nak Travis, bisa dibuatkan surat wasiat saya dan Simon?"


"Isinya apa Bu Sinta?"


"Saya ingin menyerahkan harta kami 50% kepada Zinnia. Dan tolong dikelola dengan pengawasan firma hukum anda sedangkan yang 50% akan kami serahkan ke badan sosial dan pembangunan mesjid di berbagai tempat di Jawa Barat hingga Jawa Timur."


Travis, Benji dan Hoshi melongo. Beruntungnya Zinnia. Rejeki anak yatim piatu yang tidak diakui oleh kakek dan neneknya sendiri.


"Anda yakin Bu Sinta?" tanya Travis.


"Iya nak Travis. Mumpung kita bertemu disini. Keluarga Suganda tinggal Zinnia saja karena Irwan sampai sekarang belum menikah dan saya tidak ingin keturunan kakak saya yang mengelola peninggalan ayah saya." Sinta menatap Travis serius.


"Baik, sekarang kita buat draftnya dulu." Travis mengambil selembar kertas dan mulai membuat surat wasiat dengan Sinta Becker.


***


Istana Al Jordan, Dubai UAE


Semua anggota keluarga Al Jordan Schumacher yang diberitahukan bagaimana pertemuan mereka tadi. Mereka pun bersyukur Sinta begitu bijaksana dalam menghadapi semuanya dan keluarga di Dubai terkejut mendengar Zinnia menjadi jutawan cilik dadakan.


"Masyaallah... Rejekinya Zee itu" ucap Fatimah penuh syukur. "Ay, kamu harus mengawasi siapa yang bakalan jadi calon Zee masa depan."


"Bener itu Ay. Oma tidak mau Zee mendapatkan calon suami yang salah. Kita harus belajar dari Christina Onassis, Putri Stephanie dari Monaco dan banyak keluarga lainnya yang salah mencari suami. Cari itu yang benar-benar mencintai Zee apa adanya bukan adanya apa" timpal Tamara.


"Soal itu, aku dan Ayrton sudah rundingan Oma. Kami tidak akan memberitahukan Zee bahwa dia memiliki banyak uang sebelum usianya 25 tahun. Kami berasumsi di usia itu, Zee sudah bisa memilah dan menyeleksi siapa saja pria yang dekat dengannya tadi. Jadi untuk sementara, aku minta kita semua tutup mulut. Aku tidak mau saat remaja Zee tahu punya uang pribadi yang banyak, membuat dirinya khilaf." Mariana menatap keluarga Ayrton dan ibunya Ayu yang sudah datang ke Dubai.


"Riana benar Tante Tamara, Tante Fatimah. Saya juga tidak mau Zee akan merasa mentang-mentang punya uang banyak lalu bisa seenaknya" sambung Ayu. "Zee punya ayah Ayrton saja sudah menjadi anak kaya apalagi jika dia tahu dia punya kekayaan pribadi di usia muda, dimana kondisi psikologis anak remaja yang masih labil akan membuat didikan kita berantakan."


"Betul. Sebaiknya dari awal kita mempersiapkan Zee agar saat waktunya dia mendapatkan dana itu, Zee tidak kaget dan sudah terbiasa hidup secukupnya bukan langsung menghamburkan uangnya" sambung Fatimah.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Duh editorku... mbok diloloskan